Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ke restoran Fadli.


__ADS_3

Fadli sudah sampai di restoran Givi's chicken. Seperti biasa, ia harus membuka restoran dan mempersiapkan segalanya. Kini, Gilvan mempunyai security, karena Fadli dan dirinya tak lagi menginap di lantai atas restoran.


"Pagi, Pak Ujang." Sapa Fadli pada security, Pak Ujang namanya.


"Pak, Den Fadli. Sumringah bener deh, hehehe." tawa Pak Ujang.


"Ah, Bapak. Enggak kok, biasa aja. Saya masuk dulu ya, Pak." ucap Fadli.


"Baik Den, silahkan."


Fadli masuk kedalam restoran dan mulai membersihkan kursi tamu serta meja. Beberapa karyawan lain mulai berdatangan, termasuk Wildan, si anak alay.


"Halo, Fad. Pagi yang cerah ya!" sapanya.


"Iya, Dan. Cerah, secerah hatiku." Fadli gombal.


"Eh, Fadli, kamu ada angin apa? Sumringah banget sih? Ciye, kamu abis dapet jatah ya semalem?" goda Wildan.


"Apaan sih kamu, sembarangan aja kalau ngomong. Udah, udah, beresin piring dan gelas sana!" perintah Fadli.


Fadli sedang membersihkan meja, kemudian seseorang mengagetkannya.


"Dorrrr!!!" suara Ara memenuhi ruangan di restoran.


"Loh, ARA? Kamu kok udah pulang sih? Harusnya, besok kamu pulangnya kan?" Fadli kaget.


"Emang iya, tapi kemarin sore aku maksa pulang, aku udah baikan kok, aku pengen kerja lagi, Fad. Aku malu sama Pak Gilvan. Tenang aja, aku udah sehat kok." jawab Ara.


"Kamu itu ya, gak bisa dibilangin, padahal istirahat nanti, aku berniat membesuk mu ke Rumah sakit, Ra!"


"Gak apa-apa, Fad. Aku udah baikan kok, asal aku minum obat teratur dan jaga pola makan ku." ucap Ara.


"Baiklah, Ra. Pokoknya, kamu jangan bekerja terlalu keras hari ini, biar aku saja yang handle, kamu cukup diam saja dan menerima pesanan dari aku. Oke?"


"Baik, Fadli. Siap laksanakan!" Ara tertawa.


"Kamu itu harusnya gak maksain diri, kamu masih belum fit, Ra. Kalau kamu pusing atau gak kuat, bilang aku ya, biar aku antar kamu pulang, kamu itu harusnya istirahat dulu, bukan kerja. Kalo kamu kenapa-napa, gimana coba? Nakal ya kamu, Ra."


Seperti biasa, Fadli selalu memberikan perhatian penuh pada Ara. Hal itulah yang kini membuat Ara sedih. Kenyataan bahwa Fadli telah menikah dengan wanita lain, membuatnya kecewa dengan semua perhatian yang Fadli berikan padanya.


Ara dan Fadli bekerja seperti biasa, mereka melayani pelanggan dan mengelola restoran dengan baik. Pukul sepuluh, Gilvan datang. Ia membawa Givia yang lucu ke restorannya. Gilvan telah menjemput Givia dari sekolahnya.


"Hai, Om Fadli. Aku datang kesini, aku mau makan ayam!" ucap Givia.


"Halo, sayang. Om Fadli kangen banget sama Givia, udah lama gak ketemu nih." Fadli memeluk Givia.


"Tentu saja, Om. Givi juga kangen sama Om sama Anteu Ara. Anteu nya mana?"


"Lagi bantuin yang lain di dapur, Givi." jawab Fadli.


Gilvan kaget, "Fad? Ara masuk?" tanya Fadli.


"Masuk, Pak. Dia bilang dia sehat, gak apa-apa katanya."


"Emang dasar Ara gak bisa dibilangin." Gilvan geleng-geleng kepala.


Fadli teringat, bahwa dirinya harus meminta izin pada Gilvan, perihal pulang lebih awal dan cuti di weekend nanti.


"Pak?" ucap Fadli.


"Ya, Fad?"


"Malam ini, saya dan keluarga Pak Rama akan ada acara makan malam keluarga. Apa saya boleh pulang lebih awal? Saya akan pulang pada pukul lima sore." ucap Fadli.


"Baiklah, Fad. Sekarang tugasmu tak terlalu banyak setelah ada Wildan. Kamu pulang saja, tante dan om mau ke Rusia ya?"


"Iya, Pak. Itung-itung makan malam perpisahan katanya." jawab Fadli.


"Baiklah, kamu pulang saja nanti, tak perlu sungkan padaku. Istriku pun setelah pulang kerja akan kesini, dia pasti membantu."


"Makasih, Pak. Tapi, ada satu lagi sih sebenarnya.." Fadli ragu.

__ADS_1


"Apa Fad? Katakan saja!"


Fadli menghela nafas. Ia terlalu banyak merepotkan Gilvan. Ia malu, tapi karena pernikahan ini, banyak yang harus dia lakukan.


"Weekend nanti apa saya bisa izin untuk cuti selama tiga hari?"


"Boleh saja, Fad. Memangnya kamu mau kemana?" tanya Gilvan.


"Saya harus pulang kampung, Pak. Bibi saya meminta untuk pulang. Katanya, ada oleh-oleh yang harus saya bawa." ucap Fadli.


"Wah, bagus dong Fad. Pulang saja, dan jangan lupakan aku, beri aku oleh-olehnya." Gilvan tertawa.


"Siap, Pak. Tentu saja." Fadli ikut tertawa.


Fadli pun kembali bekerja. Ia membantu Wildan dan Ara. Gilvan tetap melihat-lihat kinerja karyawannya sambil menunggu Givia yang sedang memakan ayam kesukaannya.


***


Jam makan siang pun telah tiba, Raina dan Diska akan istirahat makan siang. Raina terlihat biasa saja pada Audrey, karena Raina ingin tahi, sejauh mana mereka berbuat.


"Rai, makan siang dimana?" tanya Diska.


"Mm, dimana ya?" Raina berpikir.


Rasanya, aku ingin makan ayam di restorannya Kak Gilvan deh, si Fadli rese itu kan kemarin gak bawain aku ayam geprek yang aku mau. Kayaknya, ide bagus untuk makan siang di Givi's chicken, sambil aku lihat, si Fadli kerjanya kayak apa. Batin Raina dalam hati.


"Di cafe tempat kita nongki aja deh!" usul Audrey.


Dasar cewek gatel! Cafe tempat nongki itu kan tempat lu selingkuh sama si Bayu! Hih, dasar murahan! Umpat Raina dalam hati.


"Enggak ah, kejauhan. Gue mau ke Givi's chicken aja. Gue mau ayam geprek. Kalian berdua mau ikut apa enggak?" tanya Raina.


"Aku ikut dong Rai, asyik juga siang-siang gini makan ayam. Gue mau fire chicken." ucap Diska.


"Yaudah deh, gue ikut kalian." ucap Adrey malas.


Raina naik mobil Diska. Mereka bertiga akan berangkat menuju restoran tempat Gilvan bekerja. Kini, Raina rasanya ingin terus dekat-dekat dengan Fadli, entah perasaan apa yang tumbuh pada diri Raina, sehingga ia ingin sekali makan d restoran itu.


***


Tiba-tiba, Wildan datang membawa bubuk kopi di cangkir. Wildan sepertinya akan me time dengan kopinya, karena ia akan istirahat. Ketika ia lewat dihadapan Ara dan Fadli, entah kenapa cangkir Wildan yang berisi bubuk kopi, tumpah, karena Wildan terlalu banyak gaya, sehingga beberapa serbuk kopi masuk ke mata Ara.


"Aaarrgghh, Wildan! Perih ini mataku kelilipan! Aduuuuuuh, kamu gimana sih Dan. Ah!" Ara mengucek-ngucek matanya karena perih.


"Aduh, Tuan puteri, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aduh, gimana dong nih Fad. Ada obat tetes mata gak, sumpah aku gak sengaja."


"Lah, aku mana bawa obat tetes mata ke tempat kerja. Sini, Ra, aku lihat." ucap Fadli.


Fadli mendekatkan wajahnya ke mata Ara, dan segera meniup mata Ara perlahan-lahan dengan lembut.


"Aw, perih, Fad."


"Baik-baik, diam ya, aku pelan-pelan niupnya."


Fadli terlihat romantis jika dilihat dari jauh. Ia mendekatkan tubuhnya pada Ara yang duduk didepan meja kasir. Tanpa Fadli sadari, Raina sudah berada di restoran tersebut.


Raina melihat Fadli yang memperlakukan Ara dengan aneh. Mata Raina terbelalak kaget. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dia lihat.


FADLI? DAN PELAYAN ITU? KALIAN BERDUA? ASTAGA!!! KENAPA RASANYA SAKIT SEKALI MELIHAT MEREKA SEPERTI ITU? Batin Raina dalam hati.


"Fad, Ra, ada pelanggan." Wildan mengagetkan Fadli.


Fadli refleks melihat pelanggan yang baru saja datang, dan ia benar-benar kaget dengan apa yang ia lihat.


RAINA? RAINA? Apakah dia melihatku? Gawat. Batin Fadli.


Wajah Raina benar-benar marah dan kecewa. Entah kenapa perasaan egois itu kini muncul pada Fadli. Raina tak suka Fadli terlalu dekat seperti itu dengan Ara.


"Guys, aku mau ke suatu tempat dulu. Kalian pesen aja dulu, nanti aku balik lagi. Oke?" pinta Raina.


"Oke, Rai." Diska dan Audrey segera mencari tempat duduk.

__ADS_1


Raina berlari keluar restoran. Ia kesal, ia ingin menenangkan dirinya, dan ia harus mengatur emosinya. Raina tak menyangka Fadli bisa seperti itu ketika di tempatnya bekerja.


"Raina!" Fadli berteriak memanggil Raina dari dalam restoran, namun Raina terlanjur lari.


Diska kaget. Diska ingat sekali, bahwa Fadli adalah supir Raina, tapi kenapa Fadli bisa ada disini? Diska mengernyitkan dahinya pertanda tak mengerti dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Kenapa lo?" tanya Audrey.


"Gak, heran aja gue. Bukannya yang barusan manggil si Raina itu supirnya dia ya?"


"Mana? Gue gak lihat wajahnya!" jawab Audrey.


"Dahlah, biarin aja. Kita pesen aja yuk, pesenin Raina ayam geprek juga." tambah Diska.


Raina berlari menahan kesal. Entah kenapa, ia marah dan kecewa melihat Fadli memperlakukan Ara seperti tadi. Padahal, Raina tahu, dia sangat acuh pada Fadli. Tapi, ketika melihat Fadli berperilaku romantis kepada orang lain, hatinya benar-benar marah dan kecewa.


Raina terdiam di pojokan ruko yang sedang tutup. Tempatnya kosong. Ia harus menenangkan diri dulu, sebelum kembali lagi ke restoran. Ia menarik nafasnya, perlahan-lahan, menenangkan dirinya yang sedang diambang amarah.


Raina kaget, ketika tangannya ada yang memegang. Ia refleks menoleh. FADLI, mata Raina terbelalak, ia tak menyangka Fadli melihatnya dan berada didekatnya saat ini. Lagi-lagi, Fadli memegang tangan Raina.


"Lepas!" Raina menghempaskan genggaman tangan Fadli.


"Yang kamu lihat, tak seperti apa yang kamu bayangkan, Raina. Aku bisa menjelaskannya." ucap Fadli tenang.


"Untuk apa kamu menjelaskannya, hah? Aku tak butuh penjelasan mu, Fadli."


Fadli menatap Raina, "Lalu, kenapa kamu harus berlari seperti ini? Maaf, aku tak bermaksud dekat-dekat dengannya, aku hanya meniup matanya yang kemasukan bubuk kopi." jelas Fadli.


"Memangnya aku peduli? Masa bodoh dengan apa yang kamu lakukan! Lepas!" Raina memaksa Fadli melepaskan genggaman tangannya.


Fadli merasa tak mengerti dengan sikap Raina. Ia menaikkan tangan Raina, dan menempelkannya di tembok. Kini tangan Raina terangkat di tembok, ditahan oleh tangan Fadli yang mencengkeram tangan Raina dengan kuat. Tubuh Raina dan Fadli saling berhadapan, dekat sekali.


"Kalau kamu tak peduli padaku, kenapa kamu harus berlari? Kamu marah kan? Kamu kecewa padaku? Kumohon, jujur saja Raina, aku akan menentukan sikap atas kejujuran mu." jelas Fadli.


"Aku sudah jujur. Aku tak peduli apa yang kamu lakukan, aku hanya pergi mencari pedagang es yang lewat, jangan geer kamu Fad!" Raina melawan.


"Oke, akan ku buktikan padamu, apakah perlakuan ini akan membuatmu tak peduli, dan tetap masa bodoh padaku, akan ku buktikan sekarang. Aku penasaran, sampai kapan kau akan seperti ini terus padaku." ucap Fadli


"Lepas, Fadli, lepas!"


Fadli tak menjawab perkataan Raina, dengan cepat ia meraup bibir sexy Raina yang terlihat menggemaskan. Fadli mengecup lembut bibir itu, hingga Raina benar-benar kaget dan tak menyangka Fadli se-berani itu.


Bibir Fadli dan Raina saling beradu. Fadli hanya mengecupnya, tak memainkan lidahnya. Ia hanya ingin tahu, perasaan Raina yang sesungguhnya pada dirinya.


Perlahan, Fadli melepaskan kecupannya. Ia benar-benar tak kuasa menahannya. Raina terlalu berisik, hingga Fadli harus melakukan jurus jitunya. Raina terdiam, jantungnya benar-benar berdebar kencang. Ia shock menerima ciuman dari Fadli.


Tubuhnya bergetar hebat. Ia merasakan ciuman yang lembut dan mesra. Anehnya, ia menerima kecupan lembut itu. Raina merasa bahagia, ia tak marah sedikitpun, hanya ekspresi kaget dan tak percaya, Fadli berani mencium dirinya.


"Bagaimana? Apa perlakuan ini masih membuatmu masa bodoh dan tak peduli padaku?"


Raina tak menjawab. Ia terdiam, ia bingung harus menjawab apa.


"Yang ku lakukan pada Ara, tak mungkin membuatmu tak peduli juga, kamu pasti marah dan cemburu. Perlakuanku saat ini, tak mungkin juga kamu bisa tak peduli, kamu pasti merasakan kehangatan itu. Percayalah, aku hanya membantu Ara meniup matanya, tak ada maksud lain. Dan yang ku lakukan padamu adalah, mencium mu, mengecup lembut bibir istriku yang cemburu padaku. Aku tulus mencium mu, agar kamu tak marah dsn cemburu lagi padaku." jelas Fadli.


"Sudah kubilang, aku tak cemburu padamu!" Raina tetap keras kepala.


"Tapi, tubuhmu bilang, kamu cemburu padaku. Mau sampai kapan kamu terus-terusan menghindar dariku? Jika kamu mencintaiku, mari kita lakukan pernikahan ini dengan cinta. Aku akan dengan senang hati melakukannya. Jujur, aku baru pertama kali melihat wanita yang polos tanpa mengenakan apapun, itu hanya kamu. Aku hanya pernah melihatmu. Dan aku tertarik padamu, karena kamu istriku. Aku sudah bilang, jika pernikahan ini memang terpaksa kita lakukan, cinta bisa kita dapatkan seiring berjalannya waktu. Kamu tak perlu terus-terusan mengelak, Raina." Fadli meyakinkan Raina.


"Sudah, jangan bicara lagi. Teman-temanku sedang menungguku, aku akan kembali pada mereka!"


Raina meninggalkan Fadli, dengan perasaan yang membuncah tak dapat diartikan dengan kata-kata. Raina bingung dengan dirinya sendiri. Ia tak bisa menentukan sikap. Ia memang masih kekanak-kanakan.


"Akan kutunggu saatnya nanti, ketika kamu telah siap mencintaiku. Aku sudah meyakinkan diriku, tinggal aku meyakinkan dirimu, Raina. Tunggu saja waktunya tiba."


Fadli mengikuti Raina dari belakang dengan bibir gemetar. Ia juga tak menyangka berani mencium Raina. Semenjak kejadian handuk Raina melorot, Fadli jadi refleks berani melakukan hal-hal seperti itu. Tubuh Raina ternyata memberikan dampak yang signifikan pada diri Fadli.


*BERSAMBUNG*


Jangan lupa LIKE KOMENTAR dan VOTE.


Makasih ya😍

__ADS_1


__ADS_2