Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Kesalahan terbesar


__ADS_3

Gita dan Rama tak menyadari kehadiran Gilvan ditengah-tengah acara mereka. Gilvan masih berada dibelakang bersama Vina. Gilvan duduk di meja paling belakang, sehingga tak terlihat jelas oleh yang berada di depan.


"Kamu mau nemuin Gita dan Rama?" tanya Vina


"Tidak akan, aku akan pulang sebentar lagi." jawab Gilvan


"Tapi kenapa?" tanya Vina


"Aku tak mau mengganggu keromantisan mereka. Kalau mereka melihatku, mereka akan canggung." ucap Gilvan


"Kamu memang lelaki yang pandai menjaga perasaanmu. Kamu sangat merindukan Gita kan?" tanya Vina


"Tidak." ucap Gilvan


"Lalu?" tanya Vina


"Aku kesini untuk menemanimu. Hanya itu." jawab Gilvan


"Kamu berangkat dari Malaysia?" tanya Vina


"Iya." jawab Gilvan dingin


"Kenapa kamu harus memaksakan datang kesini?" tanya Vina lagi


"Aku pun tak mengerti. Ketika kamu bilang akan datang kesini sendiri, hatiku memaksa untuk datang kemari menemanimu." ucap Vina


"Sepertinya kau hanya kasihan padaku." ucap Vina


"Tidak, tidak. Aku memang ingin bertemu denganmu." ucap Gilvan


"Iya, aku mengerti." jawab Vina datar


"Aku merindukanmu. Entah perasaan macam apa ini. Maafkan aku!" Gilvan tertunduk


"Kamu tak merindukanku. Sudahlah, jangan merasa tak enak seperti itu padaku. aku tidak apa-apa kok." ucap Vina


"Maafkan aku." Gilvan menunduk


"Tidak apa-apa, Van. Kita kan berteman, tidak usah merasa tak enak padaku." Vina tersenyum


"Aku tak mengerti. Perasaan macam apa yang ada pada diriku. Aku buang-buang waktu untuk menemui mu disini, tetapi setelah bertemu denganmu, aku canggung. Entah kenapa hatiku seperti ini. Maafkan aku, membuatmu bingung."


"Udah ah, lupain aja Van. Omongan kamu makin ngaco aja deh." ucap Vina


Aku tak mengerti kenapa perasaanku aneh seperti ini? Kenapa aku harus buang-buang waktu hanya untuk menemui Vina? Setelah aku bertemu dengannya, kenapa aku malah berkata merindukannya? Aku ini kenapa sih? Gumam Gilvan dalam hati.


Acara belum selesai. Gilvan dan Vina memutuskan untuk pergi lebih dulu. Gilvan akan pulang ke Jakarta, tetapi Vina tak mungkin meninggalkannya sendirian. Vina akan mengantar Gilvan ke depan.


"Kamu bawa mobil?" tanya Vina


"Aku naik bus. Tadi kelamaan kalau harus mengambil mobil di rumah." jawab Gilvan


"Sekarang udah malem, Van! Kamu jangan maksain diri pulang ke Jakarta." ucap Vina


"Terus aku harus kemana?" tanya Gilvan


"Aku gak mungkin bawa kamu nginep di rumahku. Kamu nginep di hotel aja dulu? Besok baru pulang ke Jakarta." Vina memberi saran

__ADS_1


"Aku tak mau sendiri." ujar Gilvan dingin


"Ya mau gimana lagi?" Vina bertanya


"Temani aku." jawab Gilvan datar


"Nggak mungkin, Van. Ngapain kita harus satu hotel berdua. Kalau misah kamar sih boleh aja. Tapi, uangku tak akan cukup untuk memesan kamar hotel."


"Yasudah, aku akan pulang malam ini ke rumahku." ucap Gilvan


"Jangan, Van. Ini sudah larut. Bis pun pasti jarang, bahkan tak ada!" Vina terlihat khawatir


"Tidak apa-apa. Aku laki-laki. Aku bukan wanita lemah sepertimu. Aku akan menunggu bis di ujung sana. Aku pergi ya!" ucap Gilvan


Gilvan akan melangkahkan kakinya, namun tangannya ditahan oleh Vina. Vina seakan tak rela kalau Gilvan harus pulang. Tetapi, ia pun takut kalau harus satu kamar dengan Gilvan. Ini sangat membingungkan untuk Vina.


"Baiklah, aku akan menemanimu." ucap Vina


"Kenapa berubah pikiran?" tanya Gilvan


"Kamu telah menemaniku di acara Gita, sebaliknya aku pun harus menemanimu malam ini." ucap Vina malu


"Kamu terpaksa?" tanya Gilvan


"Tidak, tidak. Dengan senang hati aku akan menemanimu!" ucap Vina.


Vina merasa tak enak pada Gilvan, Gilvan sudah jauh-jauh dari Malaysia datang untuk menemuinya, kalau Vina tak menuruti keinginan Gilvan, itu membuat Vina malu.


Vina dan Gilvan naik taksi online untuk sampai di hotel terdekat. Vina menyewa hotel yang harganya terjangkau. Vina tak mau memberatkan Gilvan.


Vina sangat gugup, ia bahkan tak berani menatap wajah Gilvan. Vina hanya fokus menatap lift dan sering menunduk.


Akhirnya mereka sampai di pintu kamar hotel. Rasanya sudah seperti pasangan suami istri saja masuk kamar hotel satu untuk berdua. Didalam kamar, baik Gilvan maupun Vina, dua-duanya sama-sama canggung.


"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Gilvan


"Iya, aku mau ganti baju pakai piyama hotel ini." ucap Vina


"Baiklah, jangan terlalu lama. Aku pun ingin membersihkan diriku." ucap Gilvan


"Baik!" jawab Vina


15 menit kemudian Vina telah selesai mengganti bajunya. Baju piyama hotel ini sangat tipis sekali. Sampai lekukan tubuh Vina terlihat jelas. Gilvan menelan ludah melihat tubuh seksi Vina.


Gilvan segera menuju ke kamar mandi, karena takut tak tahan jika lama-lama menatap tubuh seksi Vina. Vina pun sangat malu dengan baju yang ia pakai. Tetapi, kalau ia terus memakai dress, itu tentu saja sangat tidak nyaman.


Vina merebahkan tubuhnya di ranjang hotel. Hari ini ia sangat lelah sekali, pagi hari ia bekerja, sampai rumah sudah sore, sore hari langsung menuju ke acara Gita dan Rama.


Vina sedang asyik memainkan game PUBG miliknya, ketika itu ternyata Gita meneleponnya. Vina segera mengangkat, karena ia tadi tak sempat pamit kepada Gita.


"Hallo, Vin?" sapa Gita diseberang sana


"Hallo, Git. Ada apa? Maafkan aku ya tadi aku pulang duluan, kepalaku pusing sekali." Vina berbohong


"Pantas saja, aku cari kamu kemana-mana tapi kamu tidak ada. Tadi, aku tak sempat menelepon mu, aku sibuk. Sekarang aku sedang santai, aku bisa menelepon mu. Syukurlah kalau kau baik-baik saja." ucap Gita menjelaskan


"Makasih kamu sudah mengkhawatirkan aku, Git. Kamu kenapa malah nelepon aku sih? Kasihan tuh Kak Rama, pasti sudah menunggu kamu!" Vina tertawa

__ADS_1


"Nunggu apaan sih Vin? Kamu ada-ada aja." Gita kikuk


"Inikan malam pertama kalian yang tertunda. Kamu suka pura-pura gak tahu. Cepat sana, suamimu pasti sedang menunggumu. Apa ini alasan kamu meneleponku? Kamu ingin mengulur-ngulur waktu, iyakan? Kamu takut kan Git? Ayo ngaku! Hahahaa!" Vina tertawa puas.


"Vina apaan sih, malah begitu. Menyebalkan." Gita terdengar kesal


"Iya, iya sorry Gita cantik! Udah dulu gih, nanti Kak Rama marah sama gue, udah sana lu! Nikmatin malam pertama kalian ya!" Vina tertawa


"Eh, tapi Vin, aku masih belum..." sambungan terputus


tut..tut..tut..


Vina mematikan teleponnya. Karena Vina kaget, Gilvan keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan baju. Vina terpukau dengan badan Gilvan yang terlihat kekar. Tubuhnya sangat atletis, sepertinya Gilvan rajin berolahraga. Vina menelan ludah, ia segera memalingkan wajahnya dari tubuh Gilvan, ia takut ketahuan oleh Gilvan.


"Kamu bicara sama siapa?" tanya Gilvan


"Sama Gita." jawab Vina


"Oh, kamu gak bilang kalau aku ada disini kan?" tanya Vina


"Enggak kok. Van, pakai bajumu!" Vina semakin tak fokus ketika Gilvan mendekat kearahnya


"Sorry, tadi kukira bajunya sudah aku bawa, ternyata ketinggalan dimeja ini."


Vina bingung. Ranjang hotel hanya ada satu. Sedangkan sofanya kecil, tak bisa untuk bersandar. Vina berpikir, ia harus tidur dimana. Yang membayar hotel ini Gilvan, masa ia harus tidur di ranjang? Vina pun cukup tahu diri.


"Maaf, aku pakai ranjang mu sebentar. Aku akan tidur di kursi itu." Vina beranjak dari ranjangnya.


Gilvan menahan Vina. menjatuhkan Vina lagi si kasur, hingga posisinya duduk dan Gilvan berdiri.


"Tidur disini saja." ucap Gilvan


"Lalu, kamu tidur dimana? Yang membayar hotel ini kan kamu! Aku harus tahu diri." ucap Gilvan


"Aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu."


Gilvan menarik tubuh Vina ke ranjang. Kini, wajah dan badan mereka saling berhadapan. Hati Vina berdebar tak karuan. Gilvan pun merasakan hal yang sama. Entah, perasaan macam apa ini. Kenapa rasanya sangat menegangkan sekali. Batin mereka berdua.


"Ternyata kamu sangat cantik jika aku melihatmu dari dekat seperti ini." ucap Gilvan membelai rambut Vina


"Van, perasaanku tak karuan. Kumohon, jangan diteruskan." Vina sangat gugup sekali


"Bolehkah aku mencium mu?" tanya Gilvan


Gilvan terus mendekat dan hampir menempel di bibir Vina. Vina mencoba menghindar. Tetapi, perasaan dan nafsunya telah terangsang. Vina tak bisa mengendalikan diri. Ia menerima ciuman hangat dari Gilvan. Kini, mereka saling berciuman.


Vina mengaku, ini adalah dosa terbesar yang pernah ia lakukan, tetapi hasratnya tak bisa dibohongi. Tubuhnya menerima setiap apapun yang dilakukan Gilvan. Sampai pada akhirnya mereka mengerang panjang. Vina lupa, ia telah melakukan kesalahan besar. Ia sangat malu pada tubuhnya sendiri. Ia merasa sangat kotor. Ia menangis, mengapa nasibnya harus seperti ini?


"Maafkan aku, kau boleh marah padaku. Maafkan aku. Tapi, aku memakai pengaman. Akan ku pastikan kau takkan merasakan sakit. Sungguh, maafkan kesalahan fatalku." ucap Gilvan


"Kenapa kamu tega seperti ini padaku?" Vina menangis


"Aku sudah lama menahan hasrat ini. Aku belum pernah merasakannya. Bersamamu, aku sangat merasa hangat. Maafkan aku, kau boleh lakukan apapun padaku, aku mengaku bersalah. Maafkan aku, Vina! Sungguh, aku menyesal." Gilvan memohon


Vina terus menangis. Ia kini sudah tak suci lagi. Malam pertama Gita dan Rama sepertinya telah disalip oleh Vina dan Gilvan yang melakukan malam pertama lebih dulu.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2