
Semua masih menunggu didepan ruang operasi. Vina sempat tak sadarkan diri, tetapi ia tak mau mendapatkan perawatan. Ia hanya ingin Gilvan segera sadar.
Gita memeluk Vina erat. Gita pun sedih, sedih karena Gilvan selalu saja mengalami hal buruk. Dia belum pernah mendapatkan kebahagiaan yang semestinya ia dapatkan.
Rey tetap tenang. Rey harus tahu keadaan ini. Rey harus bisa memakluminya. Rey tak boleh membuat Vina tambah sedih. Rey tahu disini posisinya seperti apa.
Tujuh jam kemudian, operasi selesai. Dokter bedah saraf, dokter anestesi dan beberapa dokter lainnya keluar serta memberi keterangan kepada keluarga.
"Dokter, apa yang terjadi dengan anak saya?" ucap Ibu Gilvan
"Saudara Gilvan mengalami cedera otak yang amat parah, otaknya mengalami pembengkakan. Sepertinya dia mengalami benturan yang sangat keras saat kecelakaan. Pendarahannya tak kunjung berhenti karena pembuluh darahnya pecah. Kami team dokter melakukan operasi untuk memperbaiki pembuluh darah yang pecah, dan membersihkan darah di otak dengan harapan pendarahan dapat berhenti dan tekanan dalam rongga tengkorak berkurang sehingga kesadaran pasien dapat kembali lagi. Tapi, jika tidak berangsur membaik kemungkinan pasien mengalami gegar otak dan.." ucapan sang Dokter terpotong
"Dan apa Dok?" Ibu Gilvan tak sabar
"Jika tidak membuahkan hasil, berarti cedera pada otaknya amat parah, dan kemungkinan dia akan mengalami amnesia sementara atau amnesia anterograde." jelas dokter
"Apa kita bisa mengetahui cedera yang Gilvan alami apa menyebabkan amnesia atau tidak?" tanya Kakak Gilvan
"Untuk memastikan kondisi otak atau mendiagnosis kemungkinan amnesia, beberapa pemeriksaan penunjang meliputi tes darah, MRI, CT scan atau EEG perlu dilakukan. Setelah ini, kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi. Permisi." Semua dokter berlalu.
"HAH? APA? Berarti Gilvan akan kehilangan ingatannya? Iya? Tidakkkkkkk, itu tidak mungkin. Dokter itu mengada-ngada. Git, dokter itu berbohong kan? Iyakan? Jawab Git!!!“ Vina menangis histeris
" Vin, sabar. Tenangkan dirimu. Gilvan pasti akan baik-baik saja. Percaya padaku!" Gita memeluk Vina erat
"Gue gak rela kalau terjadi sesuatu sama Gilvan. Gue ingin Gilvan sadar dalam keadaan sehat! Gita, tolong Gilvan." Vina menjerit-jerit
"Vin, tenanglah! Kita semua pasti berharap yang terbaik untuk Gilvan!" Gita menenangkan Vina
Ibu Gilvan menangis. Air matanya tak bisa berhenti. Ia melihat betapa hancurnya wanita disebelah mantan istri Gilvan itu. Ibu Gilvan tahu, wanita yang ia lihat pasti sangat mencintai anaknya.
"Kita harus berdoa yang terbaik demi kesembuhan Gilvan." Kakak Gilvan angkat suara
"Tentu." jawab semua
__ADS_1
Vina menangis tiada henti. Begitu pun juga Gita. Hati mereka teriris mendengar kenyataan orang terdekatnya mengalami kejadian separah ini.
Hari sudah sangat larut, Ibu dan Kakak Gilvan harus beristirahat. Mereka jauh-jauh dari Jakarta, kasihan kalau harus menunggu Gilvan disini. Rama menyarankan agar Ibu dan Kakaknya tidur di apartemen milik Rama, tak jauh dari Rumah sakit ini. Rey kemudian mengantar mereka.
"Ibu dan Kakak besok pagi baru kesini. Ya? Kalian harus istirahat." ucap Gita
"Baiklah, kasihan Ibu sudah kelelahan. Kalian jaga diri baik-baik ya! Terima kasih atas tawarannya. Kami sangat menghargainya." ucap Kakak Gilvan
"Sama-sama. Jangan terlalu banyak pikiran, Bu! Hati Ibu tak boleh terlalu memikul beban berat. Istirahatlah." ucap Gita
"Baiklah, terima kasih! Ibu berangkat sekarang." Ibu Gilvan melambaikan tangannya pada Gita dan juga Rama
Vina enggan pulang, Vina ingin tetap menunggu sampai Gilvan sadar. Vina menunggu dari balik kaca. Vina tak mau meninggalkan Gilvan sedetik pun.
"Vin, kamu bisa sakit. Ayo, kita pulang! Menginap lah di rumahku!" ajak Gita
"Tidak, aku akan menunggunya sampai dia sadar. Kalian pulanglah, kalian harus beristirahat!" Vina menolak
"Nggak Kak, gue baik-baik aja. Gue gak kenapa-napa! Please, jangan paksa gue! Gue ingin tetap berada disini. Gue ingin ada buat Gilvan." Vina kekeh
Gita mendapat telepon dari baby sitternya bahwa Nakka mengalami panas tinggi. Nakka demam, dan harus segera dibawa ke dokter. Gita khawatir bukan main, di satu sisi sahabatnya sedang terpuruk, disisi lain anaknya sekarang sedang membutuhkannya.
"Sayang, Nakka demam tinggi. Bagaimana ini?" Gita terlihat khawatir
"Sejak kapan? Baik, akan ku telepon dokter keluargaku agar segera memeriksa Nakka. Ayo, kita pulang!" ucap Rama
"Tapi, Vina?" Gita menggigit bibirnya, tak tega kalau harus meninggalkan sahabatnya sendiri
"Vina bisa menjaga dirinya, anak kita lebih membutuhkan Ayah dan Mamanya. Ayo, pulang! Supir kita sebentar lagi sampai, aku telah memberitahunya agar menjemput kita." Rama terlihat memaksa
Rama dan Gita meminta izin pada Vina untuk pulang, Rama berkata bahwa Nakka demam. Vina mengerti, dan membiarkan mereka segera pulang.
Vina masih berdiri mematung melihat Gilvan yang terbaring lemah. Doa dalam hati selalu Vina ucapkan demi kesembuhan Gilvan. Vina benar-benar ingin bisa melihat Gilvan sehat kembali dan tersenyum padanya.
__ADS_1
Hatinya hancur, dirinya terluka. Penyesalan datang bertubi-tubi. Vina lelah, raganya kelelahan, Vina belum memasukkan sesuatu apapun kedalam mulutnya. Badan Vina lemas, kepalanya pusing kunang-kunang.
Hal ini sudah terjadi beberapa kali. Vina pusing, tangannya memegang kepalanya yang berat. Matanya tak bisa melihat dengan jelas. Pandangannya kosong dan semua bayangan terlihat gelap.
BRUUGGHHHH
Vina menjatuhkan dirinya ke lantai, namun disangga oleh Rey. Rey berlari seketika melihat Vina akan pingsan lagi. Untungnya, Rey datang tepat waktu.
Vina terkulai lemas tak berdaya di pangkuan Rey. Rey segera memanggil perawat agar Vina mendapatkan perawatan.
Kini, Gilvan sendiri. Vina tak bisa selalu disisinya, Vina meninggalkannya dalam keadaan tak sadarkan diri. Rey menunggu Vina, Vina dipasang alat infus oleh pihak dokter, karena Vina kekurangan cairan.
Rey yang berniat mengajak Vina pulang, terpaksa harus menunggu Vina hingga sadar. Rey tak tega meninggalkan Vina sendirian.
Kenapa? Kenapa kamu harus seperti ini? Kenapa kamu terlalu memikirkan Gilvan sehingga kamu lupa memikirkan dirimu sendiri? Kini, ketika kau terbaring lemah disini, Gilvan tak bisa menemanimu. Kau tahu, Vin? Siapa yang menolong mu? Jelas-jelas aku yang selalu menolong mu.
Hatiku sedikit teriris ketika kau berkata masih mencintai Gilvan. Lalu, kau anggap aku apa? Apa kau hanya ingin membuat Gilvan cemburu? Apa aku tak ada arti apa-apa bagimu? Apa aku hanya pion mu, yang bisa kau ombang-ambing sesuka hatimu?
Aku memiliki perasaan, Vin. Aku juga bisa sakit hati. Aku memang tahu, kalau Gilvan kecelakaan, dan itu juga membuatku sedih. Tetapi, aku lebih sedih lagi melihatmu betapa kau masih sangat mencintai Gilvan seperti itu. Aku cemburu, maafkan sifat egois ku ini. Rey berkata dalam hati.
Rey mengusap lembut pipi Vina. Rey tak bisa berbuat apa-apa. Rey tahu, dirinya bukan siapa-siapa di hati Vina. Ia hanya pengobat rasa sakit Vina, yang jika rasa sakitnya hilang ia pasti akan kembali ke pelukan Gilvan lagi.
Rey mengusap lembut rambut Vina, Rey tak tahan dengan manisnya bibir Vina. Perlahan, Rey memegang halus lembut bibir Vina. Rey mendekatkan wajahnya kepada wajah Vina.
Nafas Rey berderu, ia mengecup lembut bibir Vina. Ia menikmati bibirnya yang bersentuhan dengan bibir Vina. Meluapkan rasa kesal dan cemburu dihatinya. Rey melakukan dosa terbesar dalam hidupnya.
Vina, maafkan aku telah mencium mu. Ini ciuman pertama dan terakhirku untukmu. Aku takut, aku takut tak bisa mencium mu lagi jika Gilvan telah sadar. Aku menyadari kalau kisah kita mungkin hanya akan sampai disini. Kamu masih sangat mengharapkan Gilvan. Aku bahagia pernah mencium lembut bibirmu, aku takkan melupakan hal ini seumur hidupku. Batin Rey.
*Bersambung*
Guys, happy reading ya..
Jangan lupa like, vote dan komennya dong.. Biar author tambah semangat nih.. Ya ya.. selalu like setelah membaca, apalagi yang berkenan komentar. Ku ucapkan banyak-banyak terima kasih ❤
__ADS_1