Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Bayi Siska


__ADS_3

Siska telah pergi. Jasadnya telah di kebumikan. Keluarga Rama mengantarkan Gita menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Keluarga Rama benar-benar kaget, merasa tak


percaya. Lain hal dengan keluarga Siska, tak ada satupun yang bisa dihubungi. Biarlah, Siska tenang di sana. Semoga amal ibadahnya diterima disisiNya.


Keluarga Rama kembali pulang. Gita menyuruh baby sitter dan anak Siska menunggu di mobil. Bayi tak boleh memasuki pemakaman, kata orang tua dulu takut kena sawan, maybe yes maybe no.


Mereka menuju perjalanan pulang. Tak ada yang berbicara sepatah kata pun, Rama hanya diam. Dia bingung dengan kondisi hatinya saat ini. Kenapa harus ada bayi Siska di sini? Kenapa Gita malah membawa bayinya? Bagaimana kalau perhatian Gita kepada Nayya berkurang karena kehadiran bayi ini?


Gita memikirkan nasib bayi Siska. Akan bagaimana hidupnya kalau nanti sudah besar ia tahu bahwa Gita bukanlah Ibu kandungnya? Apa Gita harus menyembunyikan hal ini seumur hidupnya?


Semua telah sampai dirumah. Kakek Prima menyuruh mereka untuk berkumpul di Ruang keluarga. Sepertinya, kakek Prima akan membahas sesuatu yang penting terkait bayi laki-laki mendiang almarhum Siska.


"Seperti kalian ketahui, musibah baru saja terjadi. Dan kita tak bisa apa-apa. Ada bayi Siska yang harus kita rawat. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Kakek Prima


"Keluarganya tak bisa dihubungi sama sekali. Mereka sudah tahu Siska akan melahirkan sebentar lagi, sepertinya mereka sengaja kabur meninggalkan tanggung jawabnya." Ucap Papi Rama


"Tapi aku tidak setuju kalau bayi itu tinggal dirumah ini, apalagi dengan anak dan calon istriku!" Rama terlihat tak suka


"Lalu kau mau kemana kan bayi ini?" Tanya kakek


"Berikan saja ke panti asuhan, selesai kan?" Saran Rama


"Kak, kumohon! Aku diberi amanat oleh mendiang Siska untuk mengurus bayinya. Dia percaya padaku, dia memohon-mohon agar aku mau merawatnya. Aku tidak keberatan kok, karena aku juga dibantu oleh dua baby sitter, biarlah bayi ini tumbuh di keluarga kita, dia tidak berdoa, kamu tak harus membencinya, kak!" Gita memohon


"Gita benar, Rama! Dia bayi suci yang tak berdosa, kasihan kalau dia harus tinggal di panti asuhan." Mami Rama menambahkan


"Baiklah, tapi aku tak mau bayi itu mendapatkan perlakuan khusus di rumah ini. Anakku, Kanayya yang harus diutamakan!" Tegas Rama


"Tentu, Kanayya adalah penerus keluarga kita. Kamu tak perlu khawatir tentang hal itu." Ujar Mami Rama


"Semua terserah Gita, dia yang akan mengurus bayi itu. Aku serahkan semua padamu. Kau beri nama bayi itu. Setelah itu biar Rey yang mengurus surat-suratnya!" Perintah Kakek Prima


"Iya, kek. Aku akan segera memberikan nama pada bayi ini." Ucap Gita


"Kamu tidak perlu capek-capek mengurusnya. Serahkan saja pada baby sitter. Kanayya lebih membutuhkanmu, Git!" Ucap Mami Rama


"Aku pasti memprioritaskan Kanayya, Mi." Ucap Gita


"Tentu. Mami percaya padamu!" Mami tersenyum


Rama tak mau menerima anak Siska, karena anak itulah yang membuat Gita pergi jauh meninggalkannya. Rasa sakit masih membekas dihati Rama.


Gita sedang sibuk mengurus dua bayi sekaligus. Kalau dilihat, nantinya mereka akan seperti anak kembar. Karena, usianya hanya terpaut minggu. Rama masuk kedalam kamar Gita.


"Git!" Sapa Rama


"Eh, Kak Rama. Sini, kak!" Gita sedang mengajak bayinya mengobrol


"Memangnya kamu tak lelah? Biar baby sitter yang mengurus bayimu!" Pinta Rama

__ADS_1


"Tak apa, kak! Aku senang melakukannya. Bayi-bayi ini sangat lucu dan menggemaskan.


"Kamu menyayangi anak Siska?" Tanya Rama


"Kenapa tidak? Bayi ini tak bersalah. Hanya orang tuanya yang melakukan kesalahan. Dia hanya korban!" Ucap Gita


"Aku masih berat hati menerimanya! Maafkan aku." Rama tertunduk


"Tidak apa-apa kak! Perlahan, kau pasti bisa menerimanya." Gita tersenyum


"Dia laki-laki ya?" Tanya Rama


"Iya, kak! Baiknya kita beri nama siapa ya bayinya?" Tanya Gita


"Kalau laki-laki berawalan dari 'KA' apa ya? Nanti, bilang saja pada orang-orang kalau bayi kita itu kembar." Jelas Rama


"Benar juga, kak! Kasihan dia kalau tidak kita akui kan?" Tanya Gita


"Iya, aku akan menerimanya sebagai anakku. Kamu memang wanita berhati malaikat. Aku bangga padamu, kau wanita yang baik." Rasa mengusap rambut Gita


"Kak Rama, aku hanya kasihan kalau bayi ini harus terlantar." Jelas Gita


"Iya, aku mengerti. Kita beri nama dia apa, ya?" Tanya Rama


"Bagaimana kalau kita beri nama Kanakka?" Tanya Gita


"Nama yang bagus. Lalu, kepanjangannya apa?" Tanya Rama


"Bagaimana kalau dibalik saja? Jadi Gitara!" Usul Rama


"Ide yang bagus. Namanya Kanakka Gitara. Begitu?" Tanya Gita


"Iya, Kanayya Ragita dan Kanakka Gitara. Nama anak kembar kita." Jelas Rama


"Kamu mulai menerimanya. Terimakasih, kak!" Gita memeluk Rama


"Git?" Tanya Rama


Gita malu. Ia lupa, saking bahagianya malah memeluk Rama. Biasanya, ia tak seperti ini. Ia selalu menjaga jarak antara ia dengan Rama. Gita melepaskan pelukannya dengan kikuk.


"Eh, maaf kak!" Gita memerah


"Kamu mulai nakal. Kalau kamu begini, aku jadi gak sabar pengen cepat nikahin kamu!" Rama genit


"Kakak mulai deh!" Gita malu-malu


"Sini, peluk lagi aja. Aku malah seneng kok!" Rama membuka tangannya lebar-lebar.


"Kak Ramaaaa, apaan sih Udah ah, malu tuh diliatin Baby Sitter kita!" Gita melihat kearah baby sitter hang sedang mengurus bayi-bayi mereka

__ADS_1


"Biarkan saja. Toh, kamu kan calon istriku! Sini. aaaaaaaaaa" Rama memeluk Gita erat


"Kak Rama! Ih, lepasin. Kakak berat tau! aku gak bisa nafas nih. Pengap!!!" Gita mendorong Rama


"Habisnya kamu meluk aku duluan! Aku kan jadi terpancing, Git!" Rama terkekeh


"Alasan!!!" Gita cemberut


***


Hari ini jadwal Gita dan Rama pergi ke percetakan. Mereka akan memilih desain untuk kartu undangan. Gita tak mau dipilihkan oleh asistennya, Ia ingin memilih sendiri sesuai keinginannya.


Gita dan Rama melihat-lihat kartu undangan. Terkadang, ada perdebatan kecil diantara mereka. Mereka tak sepaham, Rama menginginkan ini, dan Gita menginginkan itu. Tetapi, Rama sebagai lelaki memang harus mengalah pada wanita. Akhirnya, Rama memutuskan untuk mengikuti keinginan Gita.


Hari ini Gita membawa Kanayya. Karena, setelah dari percetakan mereka akan pergi ke Rumah Ibu dan Ayah Gita. Ibu dan Ayah Gita sudah rindu pada Kanayya. Tadinya, mereka akan pergi kerunah Rama, tapi Gita melarangnya, kasihan kalau mereka harus pergi naik angkutan umum.


Rey melajukan mobilnya menuju rumah Gita. Rey belum pernah mengunjungi rumah Gita. Dulu, ia sangat sibuk di bagian analys. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Kanayya tertidur pulas. Gita dan Rama melihat bayi kecilnya. Bayi itu sangat cantik dan menggemaskan.


Sesampainya di rumah Gita, kedua orang Gita menyambutnya. Menyambuy bayi kecil yang sudah mereka rindukan selama hampir tiga minggu ini. Ibu Gita langsung menimang Kanayya.


"Lihat dia, Ayah! Cucu kita lucu sekali. Ia sangat menggemaskan!" Ucap Ibu Gita


"Tentu, dia adalah bayi yang sangat cantik." Jawab Ayah Gita


"Ibu, Ayah, Gita dan Rama akan menikah sebentar lagi. Kurang lebih sepuluh hari lagi. Kakek Rama sudah tak sabar, ingin segera Gita menikah." Ucap Gita


"Baiklah, daripada kalian satu rumah tetapi tidak jelas statusnya, lebih baik kalian segera menikah. Biarkan, kita anggap kau tak menikah dengan Gilvan. Karena, pernikahan mu dan dia hanya sebatas kepalsuan." Jawab Ayah Gita


"Terimakasih, Om telah mengizinkanku menikah dengan Gita. Tapi, sebelumnya ada yang ingin kita sampaikan, Om." Ucap Rama


"Apa itu?" Tanya Ayah Rama


"Ayah, Ibu, maafkan Gita sebelumnya. Kak Rama dulu mempunyai tunangan, yang menjebak kak Rama. Namanya Siska, ternyata Siska hamil diluar nikah oleh lelaki lain. Jordy namanya, tetapi Jordy tak mau tanggung jawab kepada Siska. Hingga akhirnya Siska melahirkan, dia dibuang oleh keluarganya, dan kita melihatnya dijalan. Kita membawanya ke Rumah sakit. Tetapi, nyawa Siska tak terselamatkan. Ia memintaku mengurus bayinya. Dan aku tak punya pilihan lain. Aku mengurus bayinya, kasihan dia." Ucap Gita


"Maksudmu, kau mengurus bayi dari dari mantan tunangannya Rama?" Tanya Ayah dengan ekspresi tidak suka


"Iya, Ayah. Tidak apa-apa kan?" Tanya Gita


"Apa kau yakin bayi itu bukan anak Rama? Bagaimana kalau ternyata itu memanglah bayi Rama? Aku tidak sudi." Ayah Gita terlihat marah


"Sungguh, Om! Dia bukan anakku! Kalau Om tidak percaya, kita bisa melakukan test DNA." Ucap Rama


"Baik, aku tak ingin anakku terluka untuk kedua kalinya! Tunda pernikahan kalian sampai aku yakin bayi itu bukanlah bayimu!" Tegas Ayah Gita


"Ayah, itu memang bukan bayi Kak Rama! Aku yakin!" Gita membela Rama


"Seyakin apa kamu? Memangnya kamu tahu apa? Tunda pernikahan kalian sampai hasil test DNA itu keluar. Aku tak ingin kau tersakiti, aku harus memastikan kebenarannya." Ayah Gita beranjak pergi


"Ayah......" Gita menitikan air matanya

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2