Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
POV 2 Couple


__ADS_3

Vina memakai kembali bajunya yang berserakan. Tak ada penyesalan dan kekecewaan didalam hatinya. Vina tahu, dirinya memang hina dan sudah tak waras. Tetapi, tubuhnya selalu merespon Gilvan. Tubuhnya meminta lagi dan lagi.


Gilvan terdiam. Ia mengikuti perkataan Vina. Ia merenung. Memikirkan, bertanya pada hatinya. Hatinya sangat berdebar ketika melakukan hal itu dengan Vina. Gilvan serasa menemukan kembali jiwanya yang hilang.


Hatinya tak menolak sama sekali, Gilvan terbawa suasana. Tetapi, otak dan pikirannya menolak perbuatan Vina. Gilvan tak mengerti, perasaan macam apa ini. Hati dan pikirannya sungguh tak sejalan.


Mendadak, tiba-tiba kepala Gilvan seperti berputar, Gilvan merasakan pusing yang hebat. Gilvan kesakitan, ia memegang kepalanya, sakit, rasa sakitnya tak bisa Gilvan tahan. Vina yang melihatnya, segera berlari menuju Gilvan.


"Van, kamu kenapa? Kepalamu sakit lagi? Ayo, aku bawa ke tempat tidurmu. Jangan disini, ayo ku bantu!"


Vina mengajak Gilvan berdiri dan memapahnya perlahan. Vina mendadak memanggil nama Gilvan, bukan Tuan. Karena Vina benar-benar kaget bukan main. Gilvan sudah berada di ranjangnya.


Vina membawa peralatan medis seadanya. Vina menyelimuti Gilvan. Lebih baik Gilvan istirahat, karena dia sudah terlalu banyak berpikir, otaknya masih belum berfungsi secara stabil.


"Maafkan aku, kamu tak perlu memikirkan hal-hal yang membuatmu pusing, Van. Istirahatlah, tidurlah. Lupakan ucapan ku yang memberatkanmu." ucap Vina


"Sakit, kepalaku rasanya berputar. Kumohon, pijat kepalaku perlahan. Mungkin, rasa sakitnya akan hilang." pinta Gilvan


"Tentu saja, akan kucoba."


Vina duduk di ranjang, ia duduk di samping Gilvan. Dengan hati bersedih, Vina memijat-mijat kepala Gilvan perlahan-lahan. Tak terasa, air mata Vina mengalir, menetes membahasi pipi Gilvan. Gilvan tersadar, ia menoleh kearah Vina.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Gilvan walaupun kepalanya masih sakit


"Tidak, Tuan. Tidak apa-apa." jawab Vina sambil menyeka air matanya


"Sebenarnya, kamu ini kenapa? Banyak hal aneh pada dirimu!"


"Tuan, kepala anda sedang sakit dan pusing, istirahatlah." Vina mengalihkan pembicaraan


"Sebenarnya, kamu ini siapa? Kamu pembantu, tapi tiba-tiba berkata non formal padaku, bahkan menyebut namaku dengan santai. Apa kamu memang sangat mengenalku?" ucap Gilvan


"Aku akan menjawab perkataan itu ketika nanti kita berada di New York." jawab Vina


"Kenapa harus nanti? Kepalaku sudah tak terlalu pusing, katakanlah sekarang." ucap Gilvan


"Belum waktunya, istirahatlah. Kepalamu harus tenang, jangan biarkan ia berpikir keras." ujar Vina


"Baiklah."


Vina berdiri, akan kembali ke kamarnya. Tetapi, tangan Gilvan menahannya. Vina kaget, menoleh kearah Gilvan.


"Ada apa?" tanya Vina gugup


"Aku memang baru mengenal dan dekat denganmu, tetapi entah mengapa aku merasa nyaman. Kemari lah! Tidur di sampingku, dan dekap aku sehangat mungkin." ucap Gilvan


Gilvan menarik tangan Vina hingga Vina terjatuh ke ranjang tersebut. Vina kaget, ia tak menyangka Gilvan bisa seperti ini lagi. Vina benar-benar tak siap dengan keadaan ini. Jantungnya membuncah, serasa ingin meledak saja.

__ADS_1


Gilvan dan Vina padahal telah berhubungan, tetapi entah mengapa beda rasanya ketika mereka sedang berhubungan dan berdekapan seperti ini. Berhubungan dengan nafsu, berbeda rasanya ketika berpelukan dengan seluruh hati yang tulus, rasanya lebih indah walaupun hanya berpelukan saja.


"Tidurlah, ini hangat." ucap Gilvan


Vina tak bisa menjawab. Ia hanya menerima pelukan hangat dari pujaan hatinya tersebut. Hangat, akan sentuhan itu. Hatinya bergetar, merasakan pelukan Gilvan yang lembut. Jiwanya melayang, darahnya mengalir lebih cepat. Vina merasakan, baru ini ketulusan Gilvan padanya selama ia lupa ingatan.


***


-Jakarta, Indonesia-


Mia dan Rey telah sampai mengantarkan Ibu dan Kakak Gilvan. Ibu Gilvan menyerahkan satu buah koper besar yang berisikan perlengkapan Gilvan dan sejumlah uang serta tabungan Gilvan yang selama ini ia kumpulkan.


"Sekretaris Rey, saya ucapkan terima kasih karena telah mengantar saya dan anak sulung saya pulang. Saya titip anak bungsu saya, saya mohon kalian jaga Gilvan. Kalau ada apa-apa cepat segera hubungi saya." ucap Ibu Gilvan


"Saya percaya pada Rama dan kalian semua. Maafkan keterbatasan kami yang tidak bisa mengurus Gilvan sendiri. Ucapkan terima kasih saya pada Rama dan Gita. Tanpa mereka, Gilvan pasti terpuruk." ucap Kakak Gilvan


"Tentu, tante dan juga Kakak! Saya pasti menyampaikan hal itu pada Tuan Rama. Saya ucapkan terima kasih juga telah mengizinkan kami merawan Tuan Gilvan." ucap Rey sopan


"Iya, sama-sama. Semoga secepatnya kami mendengar kabar baik ya, sekretaris Rey." ucap Ibu Gilvan


"Kami doakan yang terbaik untuk kesembuhan Tuan Rey, kalau begitu saya dan Mia pamit dulu. Terima kasih atas semuanya. Kami permisi."


"Hati-hati dijalan sekretaris Rey."


Mia dan Rey membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada yang lebih tua. Mereka segera masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan melambaikan tangannya pada keluarga Gilvan.


"Mia, kita mau kemana sekarang?" tanya Rey


"Kemana lagi? Ya kita pulang lah Rey." jawab Mia


"Kok pulang sih? Jam sebelas aja belum?" Rey sedikit kecewa


"Nanti dimarahin Nona Gita, aku kan janjinya gak akan lama."


"Mi, tenang aja. Nona sudah bilang padaku untuk kita jalan-jalan dulu. Kamu mau kemana? Ayo, kita habiskan waktu di Jakarta ini."


Mia berpikir. Sebenarnya, ia ingin sekali mengunjungi Dufan. Selama hidupnya sampai berusia 25 tahun, Nia belum pernah sekalipun mengunjungi Dufan.


"Sebenarnya, aku ingin sekali pergi ke Dufan." jawab Mia


"Dufan? Oke, berangkat!" Rey melajukan mobilnya sedikit lebih cepat.


Perjalanan menuju Dufan hanya memakan waktu satu jam, itupun karena sepanjang perjalanan terjebak macet, karena ini weekend. Kalau jalanan lancar dan normal, setengah jam pun pasti sudah sampai di Dufan.


Rey dan Mia menikmati pemandangan indah Dufan. Rey mengajak Vina naik beberapa wahana, dari yang santai hingga yang menegangkan. Rey membuat Mia bahagia, meskipun mereka hanya sebatas kenal biasa saja.


Wahana demi wahana telah Mia jelajahi. Mia seperti anak kecil yang bahagia diajak liburan oleh orang tuanya. Rey mengajak Mia untuk makan siang, karena mereka memang lapar, karena terlalu sibuk naik wahana di dufan.

__ADS_1


Rey memilih food court yang tidak terlalu ramai pengunjung. Rey memesan Ketoprak dan kerak telor khas Jakarta, sedangkan Mia memesan soto mie betawi. Mereka makan bersama, sambil mengenal satu sama lain.


Perkenalan singkat ini membuat Rey nyaman. Meskipun status Mia yang kurang berkenan dihatinya, tetapi ternyata Mia adalah wanita yang polos.


Selesai makan, Rey mengajak Mia masuk ke Ocean Dream Samudra, untuk melihat atraksi-atraksi penguin dan piranha. Mia sangat antusias sekali. Mereka pun membelit tiket dan segera duduk di tempat yang telah disediakan.


Atraksi demi atraksi, telah di pertontonkan. Mia sangat senang, begitupun juga Rey. Mereka duduk berdampingan, Rey melihat tangan Mia, perlahan Rey ingin memegang tangan Mia, tetapi Rey terlalu takut. Ia memundurkan kembali tangannya, tak jadi memegang tangan Mia.


Atraksi pun telah selesai, Mia dan Rey berjalan-jalan disekitar Dufan. Rey mengajak Mia duduk di bangku taman yang telah disediakan. Betapa bahagianya Mia saat ini, bisa jalan-jalan, dengan bebas dan tanpa mengeluarkan biaya, meskipun ia bukan bersama kekasih atau orang yang didambakannya.


"Mia?" tanya Rey


"Ya, Rey?"


"Apa kamu merasa nyaman jalan bareng aku?" tanya Rey pelan


"Nyaman, Rey. Nyaman sekali." Mia tersenyum


"Jangan bohong, Mi." ucap Rey


"Aku serius." jawab Mia


"Aku juga serius sama kamu." ucap Rey


"Maksud kamu?" Mia menoleh Rey


"Iya, aku serius sama kamu. Apa kamu bisa mempertimbangkan keseriusanku ini?"


"Apaan sih kamu Rey? Ucapan kamu itu ngelantur banget deh!" Mia tertawa


"Lihat aku! Aku nyaman denganmu, aku bahagia dekat denganmu. Bolehkah aku menganggap pertemuan kita saat ini untuk menuju jenjang yang lebih serius?"


Rey mencoba memegang tangan Mia perlahan namun pasti.


"Kamu serius?" Mia menggigit bibirnya


"Apa kamu melihat aku sedang bercanda?" tanya Rey


"Tidak, aku hanya tak mengerti kenapa kamu harus mengatakan hal itu." ujar Mia


"Hanya tinggal jawab saja, Mi." ucap Rey


"Jawab apa?" Mia kikuk


"Jawab saja, apa kamu mau menuju jenjang yang serius denganku?"


"Aku bingung... Aku tak tahu harus menjawab apa. Rasanya aku masih ragu untuk memulai lagi."

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2