
Aku memang bukan pria yang sempurna, aku hanya pria biasa yang berharap pada cinta. Salahkah jika aku mencintai? Apakah aku tak berhak mendapatkan cinta? Kenapa cinta selalu saja berpaling dari hidupku? Tuhan, ini tak adil untukku. -Gilvan-
...Cinta memang tak selama nya bisa indah...
...Cinta juga bisa berubah menjadi sakit...
...Begitu yang kurasakan kini...
...Perih hatiku tinggal kehancuran...
...Tak pernah terbayangkan...
...Dan tak pernah terpikirkan...
...Cintamu dan cintaku akan berpisah...
...Namun harus kurelakan itu...
...Untuk hidupmu agar lebih baik...
...Maafkan aku...
...Setulus hatimu...
...Kepergian diriku itu bukan keinginanku...
...Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu...
...Jangan bersedih dengan keadaan ini...
...Jika kamu menangis...
...Aku juga ikut menangis...
...Terima saja semua ini kulakukan...
...Untukmu...
...Maafkan aku...
...Setulus hatimu...
...Kepergian diriku itu bukan keinginanku...
...Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu...
...Oh jangan bersedih dengan keadaan ini...
...Jika kamu menangis...
...Aku juga ikut menangis...
...Terima saja semua ini kulakukan...
...Demi kebaikanmu...
Sore ini, pelanggan cafe tak terlalu ramai seperti tadi siang. Gilvan bisa sedikit bersantai. Ia melihat ruangan restorannya, ia memiliki restoran ini untuk hidup bersama Vina, karena Gilvan sadar, dia bukan berasa dari keluarga darah biru seperti Rama.
Ia harus berjuang sendiri untuk melanjutkan hidupnya. Mungkin, perjuangan Gilvan pada saat itu terlalu lama, sehingga Vina pun terlalu lelah menunggu Gilvan yang tak kunjung tiba.
"Pak, sekarang kita bisa sedikit bersantai." ucap Fadli
"Iya, Fad. Alhamdulillah, hari ini cafe sangat ramai pengunjung." ucap Gilvan
"Iya, Pak. Semangat untuk Bapak, terima kasih telah percaya pada saya." ucap Fadli
"Iya, terima kasih juga sudah memberikan yang terbaik untuk restoran kecil ini."
"Pak?"
"Ya Fad?"
"Apa bapak punya seorang kekasih?" tanya Fadli
"Nggak. Kenapa kamu nanya itu?"
"Gimana sih rasanya jatuh cinta? Kenapa saya sulit sekali rasanya untuk jatuh cinta pada wanita." Fadli mengutarakan isi hatinya
"Aku pernah jatuh dalam cinta sebanyak 3 kali. Dan kamu tahu, semuanya tak ada yang berhasil. Kamu harus hati-hati dengan cinta. Cinta itu tak semudah kau kira, Fad. Aku sudah mengalami semua pahitnya jatuh cinta."
"Wah, kandas ya Pak? Hehehe!"
__ADS_1
"Dasar lu!"
"Serius-serius, kenapa bisa gagal semua Pak? Apa Bapak terlalu baik? Apa ceweknya punya selingkuhan?" Fadli ingin tahu
"Yang pertama, tunangan ku, dia sakit dan meninggalkan gue selama-lamanya. Yang kedua, gue udah nikahin dia, tapi gue tak pernah berhubungan dengannya, gue hanya selir di hatinya. Dia mencintai orang lain, cinta mereka sejak dulu, gue hanya jadi pelampiasan saja. Yang ketiga, dia bukan siapa-siapa gue, tapi dia sangat berkesan di hidup gue, Fad. Namun, kisah gue sama dia juga amat rumit. Akhirnya, kita gak bisa bersatu." Gilvan menjelaskan
"Pak? Anda super sekali. Gimana rasa sakitnya semua itu Pak?"
"Jangan lu tanya sakitnya kayak gimana, mungkin gue termasuk orang yang kuat." ucap Gilvan
"Apa Pak Gilvan berniat mencari pengganti?" tanya Fadli
"Nggak, rasanya hati gue udah mati, Fad. Gue gak bisa jatuh cinta lagi ke orang lain."
"Aku juga ingin merasakan jatuh cinta, Pak." ucap Fadl
"Kalo lu siap jatuh cinta, lu harus siap sakit hati juga."
"Apa setiap kita jatuh cinta, kita harus merasakan sakit hati, Pak?"
"Karena tak ada cinta sejati yang instan. Cinta membutuhkan perjuangan, Fad. Contohnya, mantan istriku dan sahabatku, cinta mereka begitu rumit dan menyesakkan. Hingga aku terbawa dalam kisah mereka. Suka duka, pahit manis, mereka lalui bersama, hingga ada hati yang terluka dan tersakiti, itulah cinta. Dia berkorban, juga dia sakit hati. Cinta akan menemukan jalannya sendiri."
"Apa aku bisa jatuh cinta, Pak?" tanya Fadli
"Gue tanya sama lo, apa lo udah nemuin wanita yang bisa membuat lo jatuh cinta?" tanya Gilvan
"Belum, Pak. Sampai saat ini, sulit sekali menemukan wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta."
"Cari dong, kalo lu pengen ngerasain jatuh cinta."
"Gak semudah itu, Pak. Memangnya, ada wanita yang mau sama saya, hanya sebagai pelayan restoran." ucap Fadli
"Jangan patah semangat, cari wanita yang tulus mencintai lo, gak akan pernah mandang fisik lu, mau lo pelayan, atau apapun. Carilah wanita yang benar-benar menerima lo apa adanya." ucap Gilvan
"Gimana caranya Pak? Menurut saya, itu sulit sekali."
"Kalo gak sulit, mungkin sekarang gue udah bahagia sama wanita yang tulus mencintai gue. Jelas-jelas mencari sosok wanita yang kita inginkan itu sulit sekali."
"Yah, Pak Gilvan. Aku kira, Bapak tahu solusinya."
"Denger ya Fad, kalau gue tahu, gue pasti udah punya istri sekarang."
"Pak Gilvan ini emang ya, pinter bicara." Fadli tertawa.
***
"Vin, makasih ya."
"Untuk?"
"Hari-hariku lebih berwarna karena kehadiran kamu dan Givia."
"Kamu bisa aja, Ndra."
"Aku semangat kalo ada kamu, Vin."
"Makasih, Ndra. Jangan sanjung terus, aku jadi malu." Vina tersenyum tipis
"Lelaki yang menjadi suamimu pasti bahagia memilikimu."
"Hmm, begitu ya." Vina gugup
"Kamu sangat cantik, Vina. Makasih, udah beri aku kesempatan untuk dekat denganmu."
"Iya, Ndra." Vina gugup
Karena keasyikan ngobrol, Vina dan Andra telah sampai di bengkel mobil tersebut. Vina akan membayar biaya service mobilnya.
"Tunggu, Vin. Biar aku yang bayar."
"Eh, Ndra. Gak usah."
"Udah, biar aja. Pak, berapa semuanya?" tanya Andra
"Semuanya 1,300,000 Pak."
"Baik, tunggu sebentar."
Andra mengeluarkan uang pecahan seratus ribu 13 lembar. Vina malu sekali, namun apa boleh dikata, ternyata Andra baik sekali.
"Andra, maaf aku ngerepotin kamu. Makasih banyak ya." ucap Vina
__ADS_1
"Sama-sama, Vin. Kamu mau aku anter pulang lagi? Biar aku ngikutin mobil kamu dari belakang." usul Andra
"Nggak usah, Ndra. Aku bisa sendiri kok. Kasihan, kamu pasti lelah, jalan-jalan bersamaku seharian ini."
"Baiklah, kalau begitu. Kamu hati-hati dijalan ya." ucap Andra
"Iya, Ndra. Makasih banyak. Kamu juga hati-hati."
Vina segera masuk kedalam mobilnya. Ia berlalu meninggalkan Andra dan melambaikan tangannya tanda perpisahan. Andrs masih berdiam diri di bengkel tersebut. Tiba-tiba, handphone Andra berbunyi. Andra segera mengangkat teleponnya yang berdering.
"Halo, ada apa?"
"(........)"
"Iya, sayang. Aku segera ke rumahmu. See u!"
***
Vina melajukan mobilnya dengan cepat. Ia harus segera menemui Gilvan. Vina ingin mengambil isi surat dalam amplop yang saat itu ia berikan lagi pada Gilvan.
Tak lama, Vina telah sampai di restoran Givi's Chicken milik Gilvan. Ia segera masuk kedalam restoran tersebut, ia melihat-lihat sekeliling, namun tak melihat keberadaan Gilvan.
Vina memesan minuman pada pelayan. Ia bertanya mengenai keberadaan Gilvan, namun pelayan itu menjawab tak tahu. Vina kesal sekali.
Lima belas menit Vina menunggu Gilvan, namun Gilvan tak kunjung terlihat. Hanya ada lelaki, yang membawa belanjaan keluar dari mobil.
"Maaf, apa Pak Gilvan ada disini?" tanya Vina
"Eh, Mbak cantik yang tadi ya? Saya ingat sekali wajahnya."
Itu adalah Fadli, ia baru selesai belanja di pabrik ayam potong.
"Loh, kamu kenal saya?" tanya Vina heran
"Saya nggak kenal sama Mbak-nya, tapi tadi Pak Gilvan, eh.. e a-anu, Tidak apa-apa, kok Mbak. Mbak cari Pak Gilvan?" tanya Fadli
"Gilvan kenapa? Iya, saya cari dia. Apa dia ada?" tanya Vina
"Pak Gilvan lagi tidur sepertinya, Mbak. Apa mau saya bangunin?" ucap Fadli
"Tidurnya dimana?"
"Di lantai atas Mbak.".
" Ya sudah, biar saya yang keatas membangunkannya."
"Apa? Apa Mbak mengenal Pak Gilvan?" Fadli sedikit kaget
"Iya, saya mengenalnya. Memang kenapa?"
"Ti-tidak, Mbak. Mari, saya antar ke kamar Pak Gilvan."
Vina naik ke lantai atas bersama Fadli. Didalam hatinya, Fadli berbicara sendiri. Ia heran, ada hubungan apa Bos nya dengan wanita yang dibelakangnya.
Apa mungkin wanita dibelakang ini, salah satu wanita yang disebutkan oleh Pak Gilvan tadi ya? Apa ini wanita yang dicintai Pak Gilvan? Batin Fadli.
"Ini kamarnya, Mbak. Biar saya bangunkan." ucap Fadli
"Biar gue yang masuk, lu kebawah lagi aja."
"Oh, baiklah kalau begitu Mbak."
Fadli menuruti permintaan Vina. Ia segera turun lagi kebawah, karena memang Fadli banyak sekali pekerjaan.
Vina masuk ke kamar Gilvan. Dilihatnya, Gilvan sedang tertidur pulas. Mungkin ia kelelahan. Vina mendekatinya. Melihat wajahnya, wajah yang sangat Vina rindukan selama ini, namun juga sangat Vina benci.
Kamu, kenapa kamu egois sekali? Kenapa kamu memberi nama Givi pada restoran mu? Givi adalah nama anakku, jangan gunakan nama itu lagi. Apa aku harus mengganti nama anakku? Agar tak sama dengan nama restoran ini. Batin Vina.
Perlahan, Gilvan membuka matanya. Ia merasa bermimpi, melihat Vina ada di sampingnya.
"Vina...."
Vina kaget, ia tak menyadari bahwa Gilvan telah bangun.
"Mimpiku indah sekali, aku bisa melihatmu berada di sampingku. Tetaplah, disini, aku tak mau membuka mataku, ini mimpi yang sangat indah."
Gilvan memegang tangan Vina, Vina kaget, Gilvan ternyata menyangka bahwa dirinya sedang bermimpi.
"Eh, bangunlah! Ini nyata, bukan mimpi."
*Bersambung*
__ADS_1
Selamat membaca..
Jangan lupa Like, komen dan Vote juga yaaaa. 💓💓💓