
...Parau suaraku...
...Perlahan aku menatap dengan suram...
...Kenyataan yang menampakkan dirinya...
...Mungkinkah aku bermimpi?...
...Mengapa cinta harus bertemu...
...Dalam keadaan yang menyakitkan...
...Melirik jiwa yang sepi...
...Kini, kau telah bertemu bahagia itu...
Vina, jantungku benar-benar shock, melihat dirimu di hadapanku sedang duduk bahagia bersama keluarga kecilmu. Aku, lelaki yang melayani mu saat ini, menatap sendu melihat kebahagiaan itu. Andai tinggal lah andai, andai aku yang sedang bersama mu saat ini, mungkin aku akan jadi lelaki paling bahagia. Aku harus bagaimana sekarang? Aku tak mungkin mengganggu kebahagiaan keluargamu. Batin Gilvan
"Selamat siang. Silahkan, pesan! Ada hot promo, beli dua gratis 1, ada juga merchandise gratis dengan pembelian minimal 250 ribu. Silahkan, dilihat-lihat." ucap Gilvan
GILVAN?
Dia lelaki yang ingin aku dan anakku hindari. Tapi kenapa, dia berada di restoran ini, menjadi pelayan yang melayani aku dan anakku. Di restoran dengan nama GIVI's Chicken. Kenapa harus ada dia? Apa mungkin ini restoran Gilvan? Tapi, kalau ini memang restorannya, kenapa harus memberi nama GIVI? Kenapa namanya harus sama dengan nama anakku? Apa arti dari semua ini? Gumam Vina dalam hati.
Gilvan mencoba tetap tenang, ia tak memperlihatkan sesuatu yang aneh pada Vina. Gilvan tak mau terjadi sesuatu antara Vina dan suaminya. Gilvan terlihat baik-baik saja, sebagai pelayan yang tak mengenal pelanggannya.
"Mau pesan apa, Tuan dan Nyonya? Biar langsung saya tulis, dan dipesankan." ucap Gilvan karena melihat Vina hanya terdiam membisu
"Ayo, kamu mau pesan apa?" tanya Andra
"A-aku, a-ku mau fire chicken aja, kamu mau apa Nak?" tanya Vina dengan gugup tanpa menyebut nama Givia
"Aku mau chicken dan kentang goreng aja Bunda." ucap Givia
"Kalo kamu, mau apa?" tanya Vina pada Andra
"Aku mau samain aja kayak kamu, fire chicken. Mas, jadi fire chicken nya 2, chicken original 1 sama kentang goreng ya, minumannya cola aja sama air mineral." ucap Andra
"Baik, pesanan telah saya tulis. Mohon menunggu dengan sabar. Terima kasih atas perhatiannya."
Gilvan berlalu. Dengan kondisi hati yang tak menentu. Gilvan benar-benar kacau. Hatinya sakit sekali, melihat Vina bersama anak dan suaminya. Gilvan tak ingin semua ini terjadi. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ia tak bisa semudah itu membuat Vina kembali padanya.
Sudah tak ada lagi harapan, Vina telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Vina tak mungkin lagi bisa bersama Gilvan. Pupus sudah Restoran impian Gilvan bersama Vina. Gilvan sengaja memberi nama GIVI, yang berarti Gilvan Vina, namun kini nama itu tinggal lah kenangan semata.
Gilvan kesal pada Fadli yang memintanya membantu melayani pelanggan. Ternyata, Gilvan malah membuat hatinya terluka karena melayani pelanggan yang sangat ia tunggu-tunggu selama ini.
"Fad, lu kenapa malah nyuruh gue layanin pelanggan sih? Gue gak mau ya, jadi pelayan lagi. Gue bantu-bantu di dapur aja. Lu yang bawa makanan ke meja tamu." perintah Gilvan pada Fadli
"Iya, Pak. Maaf. Sepertinya bapak tak biasa melayani pelanggan ya, maaf ya."
"Bukan begitu, Fad. Hanya saja, ada hal yang bikin gue sakit hati, sakit banget Fad. Ini semua gara-gara lu."
"Maksud bapak apa? Saya nggak ngerti." Fadli bingung
"Udah gak usah banyak nanya, antar ini ke meja no 10 di ujung sana ya." ucap Gilvan
"Baik, Pak."
Fadli tak mengerti dengan apa yang Bos nya katakan. Fadli segera berlalu. Gilvan memperhatikan Vina dari jauh, dengan tatapan sendu, hatinya rapuh melihat keceriaan di wajah Vina.
Vina terlihat tertawa bahagia, dengan anak dan suaminya. Gilvan benar-benar sudah tak sanggup melihat momen itu, namun ia benar-benar sangat merindukan Vina, ia ingin terus menatap wajah itu Wajah yang selalu terngiang didalam benaknya.
Apa benar sudah tak ada kesempatan lagi untukku? Kenapa kisah cintaku selalu menyakitkan begini? Apa salahku? Hingga aku tak pernah bahagia?
Gita, adalah kesalahanku. Dan aku ikhlas melepaskannya, aku memberikan Gita untuk orang yang tepat. Tapi, untuk kamu Vina, aku tak sanggup. Aku tak mungkin membiarkanmu lepas begitu saja dari pandanganku. Aku masih sangat mencintainya, rasanya aku tak bisa lagi mencintai wanita lain selain Vina, yang telah terpatri di hatiku.
Fadli melihat Bosnya sedang memperhatikan seorang wanita yang duduk di meja paling ujung. Sepertinya, Bos tertarik pada kecantikan Ibu satu anak itu, batin Fadli.
"Bos!" Fadli membuyarkan lamunan Gilvan
__ADS_1
"Apaan sih Fad? Ngagetin aja."
"Bos kenapa? Bos tertarik ya sama cewek di ujung sana? Dari tadi, saya perhatiin kok pandangan Bos tertuju kesitu terus sih?" tanya Fadli
"Nggak, jangan sok tahu deh lu, Fad!" ucap Gilvan
"Gak usah pura-pura Pak, kelihatan kok dari tatapan Pak Gilvan. Wanita itu memang sangat cantik, meskipun telah memiliki suami dan seorang anak. Bahagianya yang menjadi suaminya." ucap Fadli
"Lebih bahagia gue yang pernah tidur bareng dia dengan penuh cinta." Gilvan berlalu, kembali menuju pantry restoran.
"Dih, Pak Gilvan ngimpi kali ya, ngomongnya ngelantur kemana-mana aja. Aneh!" seru Fadli
Gilvan sangat sibuk, hingga ia bisa sedikit melupakan Vina. Berbeda dengan Vina, Vina terus memikirkan cara agar bisa bertemu Gilvan lagi. Kini, Vina tahu keberadaan Gilvan. Vina tak akan sulit mencari Gilvan kemana-mana lagi.
Handphone Vina berdering, tanda panggilan masuk. Ada telepon dari nomor yang tak ia kenal. Vina segera mengangkatnya.
"Halo? Siapa ini?" sapa Vina
"Nona Vina, service mobil dan perawatan telah selesai. Sekarang boleh diambil, ke bengkel kami"
"Oh iya, nanti sore saya ambil. Terima kasih informasinya."
Vina memberi tahu Andra, bahwa mobilnya telah selesai diperbaiki. Setelah selesai makan di restoran Givi's Chicken ini, Andra akan mengantar Vina dan Givi pulang, setelah itu, Vina akan ikut kembali dengan Andra untuk mengambil mobilnya.
"Vin, makanan di restoran ini sangat enak. Sepertinya aku akan jadi langganan restoran ini." ucap Andra
"Ah? Ah, iya, Ndra. Aku juga berpikir begitu." ucap Vina gugup
"Bunda, Givi mau gantungan kunci itu. Kan bagus banget tuh!" Givia menunjuk gantungan kunci merchandise.
"Giv, itu harus ada syarat dan ketentuannya. Tak mungkin, kalau bisa mendapatkannya secara gratis." ucap Vina
"Bundaaaaaa, pokoknya Givi mau itu!" Givia kekeh
"Vin, udah kita beli aja. Kasihan Givi, dia ingin sekali gantungan kunci itu. Sama seperti namanya." ucap Andra
"Tapi, Ndra. Itu harus ada minimal pembelian. Makanan kita gak akan nyampe 250 ribu kan!" keluh Vina
"Ya iya, makanya aku sarankan untuk beli aja gantungan kunci nya. Ayo kita ke sana. Kita tanyakan pada pelayannya." ajak Andra
"Yeeee, Ayah Andra memang baik."
"Givia, kamu ya."
Andra ditemani Givia mendekati tempat merchandise gantungan kunci tersebut. Vina mengikuti mereka dari belakang. Andra meminta untuk membeli gantungan kunci tersebut, namun pelayan tak tahu, karena pemilik restoran belum menentukan harga jika ingin ada yang membeli gantungan kuncinya.
Pelayan itu pergi sebentar dan memanggil Gilvan sang pemilik restoran untuk membantunya. Lagi-lagi, Gilvan dan Vina harus saling berhadapan, padahal Gilvan sengaja menghindari Vina, karena rasa sakitnya yang amat tak tertahankan jika Gilvan melihat Vina.
Tuh kan, Gilvan memang pemilik restoran ini. Sial, gue harus berurusan lagi dengannya. Semua ini karena Givia, kenapa sih, Givia sangat menyebalkan akhir-akhir ini? Apa mungkin, karena ada Ayah kandungnya, dia jadi seperti ini? Batin Vina.
Ada apalagi dia ini? Aku sudah tak ingin melihat mereka lagi, tapi kenapa, aku harus selalu saja berurusan lagi dengan mereka. Vina, pergilah. Tak tahukah, kau? Bahwa hatiku sangat sakit, aku ini sedang menahan rindu dan rasa sakit ku yang selama ini tertahan. Batin Gilvan.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gilvan
"Ini, Pak. saya belanja kurang dari 250 rb, tapi anak ini ingin gantungan kuncinya. Apa saya bisa membelinya?" tanya Andra
"Boleh saja, jika membeli, harga satuannya 30 ribu."
"Baiklah, saya beli 3 ya. Giv, ayo pilih mana saja yang kamu mau." ucap Andra
Vina gelisah. Dalam hatinya ia berharap, agar Gilvan tak menyadari nama anaknya. Vina benar-benar tak bisa berpikir jernih saat ini. Ia ingin segera pergi, dari restoran ini.
"Yang ini Ayah. Aku pilih 3 warna ya. Bagus kan?" ucap Givi
"Wah, pilihan yang cantik, secantik orangnya." ucap Andra
"Makasih Ayah, udah beliin aku gantungan cantik ini."
AYAH? Kenapa mendengar anak Vina berkata Ayah, hatiku sangat sakit sekali? Kenapa perasaanku tak nyaman seperti ini? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku merasa, kata Ayah itu sangat menyakitkan? Ada apa ini?
__ADS_1
Hancur hatiku ...,
Mengenang dikau,
menjadi keping-keping setelah kau pergi,
Hancur hatiku mengenang dikau
Menjadi keping-keping setelah kau pergi
Tinggalkan kasih sayang
Yang pernah singgah antara kita
Masihkah ada sayang itu?
Luka membekas, cinta tak bertuah. Rasa sakit yang Gilvan alami, tak main-main. Menyesakkan dada, sungguh menyesakkan dada. Hanya bisa meratapi kesedihan, sambil berharap jika Tuhan akan membantu Gilvan menyelesaikan semua masalah ini.
Apakah dia Ayahnya? Apakah benar mereka telah menikah? Kenapa hatiku terasa begitu sakit sekali? Perasaan aneh macam apa ini? Lantas kenapa aku begitu terluka melihat kebersamaan mereka? Izinkan aku bahagia Tuhan, aku juga ingin bahagia, walau tak bersamanya ...
Kenapa kebetulan ini terus terjadi? Kenapa aku harus sering dipertemukan dengannya? Kenapa? Kenapa Tuhan? Jika bisa meminta, aku ingin dia menghilang dari pandanganku, dan aku melupakan dia untuk selama-lamanya. Tapi kenapa, rasanya itu sangat menyulitkan sekali? Aku tak sanggup melupakannya, dia selalu terbayang-bayang dalam hatiku ...
Masihkah mungkin aku dan dia?
...Jika memang diriku...
...Bukan lah menjadi pilihan hatimu...
...Mungkin sudah takdirnya...
...Kau dan aku takkan mesti bersatu...
...Harus slalu kau tau...
...Kumencintamu disepanjang waktuku...
...Harus slalu kau tau...
...Semua abadi untuk slamanya...
...Karena kuyakin cinta dalam hatiku...
...Hanya milikmu sampai akhir hidupku...
...Karena kuyakin disetiap hembus nafasku...
...Hanya dirimu satu yang slalu kurindu...
...Harus slalu kau tau...
...Kumencintamu disepanjang waktuku...
...Harus slalu kau tau...
...Semua abadi untuk slamanya...
...Karena kuyakin cinta dalam hatiku...
...Hanya milikmu sampai akhir hidupku...
...Karena kuyakin disetiap hembus nafasku...
...Hanya dirimu satu yang slalu kurindu...
...Jika memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu...
*Bersambung*
jangan lupa like, vote dan komennya ya kak. bantu, dukung cerita ini, gratis kok.❤
__ADS_1