Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Pelayan baru


__ADS_3

Pagi ini, suasana hati Gilvan sedang tak enak. Ia juga merasa tubuhnya benar-benar kelelahan, karena setiap dini hari, ia membuat racikan dan bumbu rahasia untuk ayam gorengnya.


Fadli terlihat sedang membersihkan beberapa meja, bersama dua pelayan lain. Gilvan mendekati Fadli. Gilvan lupa bertanya, apa yang Rama bicarakan semalam padanya.


"Fad, sudah selesai?" tanya Gilvan


"Sedikit lagi, Pak? Ada apa?"


"Duduklah dulu!" perintah Gilvan


Fadli duduk di kursi tamu, berhadapan dengan Gilvan. Fadli heran, sepertinya ada yang ingin Gilvan bicarakan.


"Fad, apa yang Rama bicarakan semalam?"


"Pak Rama memintaku untuk dekat dengan Adiknya, tapi saya menolak."


"Kenapa?" tanya Gilvan


"Karena saya tak mau, saya juga tak mungkin mau dekat dengan orang yang berasal dari keluarga darah biru. Itu tentu saja jauh dengan saya, yang hanya sebagai butiran debu bagi mereka."


Gilvan menghela nafas. Ia tersenyum, ia hafal betul bagaimana perasaan Fadli saat ini.


"Rama memang keturunan bangsawan, keluarganya sudah kaya dari dulu. Tapi, kamu tahu istrinya kan? Gita itu sama seperti kita, Rama tak pernah melihat seseorang dari status dan jabatannya, Rama memilih Gita, karena ketulusan Gita. Sama hal nya ketika dia memilihmu, dia memilihmu karena kamu tulus menolong Kakeknya pada saat itu. Bahkan, kamu tak menghubunginya kan? Kamu malah meminta pihak rumah sakit yang menghubungi keluarganya, dan kamu tak mau dibawa-bawa dalam masalah keluarga mereka. Rama tahu hal itu, Fad. Karena itulah, dia menyetujui perjodohan ini. Kakek Rama lah yang meminta kamu dekat dengan Raina." jelas Gilvan


"Pak Gilvan tahu semuanya?" Fadli malu


"Kemarin-kemarin, Rama bercerita padaku. Jadi, kumohon kamu jangan menolak, kamu harus memikirkannya baik-baik. Karena, ini adalah surat wasiat mendiang Kakek Prima, sosok yang pada saat itu kamu selamatkan. Beliau mempercayai kamu. Awalnya, Rama tak ingin mencari kamu, tapi kelakuan Raina semakin menjadi, ia bergonta-ganti pasangan, dan Raina juga sudah terjerumus pergaulan bebas. Makanya, dia ingin menjodohkan mu dengan Adiknya. Rama yakin, kamu bisa membawa Raina kejalan yang benar."


Fadli berpikir, apa mungkin ia harus menerima permintaan Rama? Ucapan Gilvan ada benarnya juga. Tak mungkin, tanpa alasan jika Rama ingin menjodohkannya dengan Adiknya, semuanya pasti ada alasannya. Dan alasannya benar-benar masuk akal.


Tiba-tiba, ketika Gilvan dan Fadli sedang berbincang, datang seorang wanita seumuran dengan Fadli, yang ternyata itu adalah teman Fadli.


"Selamat pagi..." sapa wanita itu


"Pagi.." ucap Gilvan


"Pagi, eh Giara. Masuk Ra."


Fadli lupa memberi tahu pada Gilvan, bahwa Fadli meminta temannya untuk bekerja di restoran Gilvan, karena mereka kekurangan pelayan. Dua pelayan sebelumnya ditarik menjadi chef di dapur.


"Pak, ini pelayan pengganti Mbak Laras. Saya lupa, belum memberi tahu Pak Gilvan perihal Ara yang akan bekerja disini."

__ADS_1


"Menurutmu, dia cocok bekerja disini?" tanya Gilvan


"Ara itu teman kontrakan saya waktu itu, dia sebelumnya bekerja di cafe, sebagai bartender, tapi karena sebuah alasan dia berhenti, dan saya masih berhubungan via WhatsApp dengannya, jadi saya menawari pekerjaan untuknya menjadi pelayan disini. Pak Gilvan bisa meng-interview Ara dahulu, Pak." saran Fadli


"Tak perlu, bekerja dengan baik saja, jangan sampai mengecewakan saya dan rekan yang lainnya. Kenalkan, saya Gilvan." Gilvan mengangkat tangannya


"Nama saya Giara, Pak. Panggil saja Ara. Saya pasti bekerja dengan baik, Pak. Terima kasih atas kepercayaannya."


Gilvan naik keatas kamarnya lagi. Karena merasa restoran telah tertata dengan rapi, dan Gilvan pun memiliki pelayan baru, ia jadi bisa sedikit lebih bersantai.


Kamar Gilvan sangat berantakan. Ia malas membersihkan kamarnya. Karena Gilvan teringat pada Ara, sang pelayan baru, Gilvan meminta Fadli agar menyuruh Ara ke kamarnya sekarang juga. Gilvan ingin Ara membersihkan kamarnya yang berantakan.


Ara pun menuruti perintah Gilvan untuk membersihkan kamar Bosnya. Ara segera naik ke lantai atas, dan mengetuk pintu kamar Gilvan perlahan.


"Masuk!" perintah Gilvan


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ara sopan


"Kamarku berantakan. Beberapa hari ini, aku masih belum mood untuk membereskannya. Tolong kamu bereskan kamar saya, bersihkan semua sampah-sampahnya. Ya." ucap Gilvan


"Baik, Pak."


"Sementara kamu membersihkan kamar saya, saya akan membantu Fadli dibawah."


Gilvan telah turun kebawah, dan Ara segera membersihkan kamar Bos nya tersebut. Ara memang tipe orang yang suka berbicara. Ia ngedumel, karena Gilvan menyuruhnya membersihkan kamarnya, padahal ini baru hari pertama ia bekerja, dan ia malah dijadikan office girl.


Pak Gilvan itu memang lelaki yang ganteng ya? Xixixi, tapi dia menyebalkan. Kenapa aku harus membersihkan kamarnya? Huft. Padahal, dibawah juga aku baru belajar menjadi pelayan. Aku tak mau kalau seterusnya aku harus membersihkan kamarnya.


Mulai dari ranjang dan kasurnya, Ara membersihkan semuanya. Ara menyapu lantai dan mengepelnya hingga bersih. Satu lagi yang Ara lupakan, yaitu meja kerja pak Gilvan. Ara segera menghampiri meja kerja Bosnya.


Meja kerja Gilvan memang berantakan. Apalagi, banyak gumpalan-gumpalan kertas yang sepertinya layak untuk dibuang dan sudah tak digunakan. Ara segera membersihkan semuanya.


Tatapan Ara tertuju pada kertas kecil yang dilipat menjadi bentuk amplop, dan kertasnya sudah lusuh, seperti sudah lama. Tanpa pikir panjang, Ara segera membuang amplop tersebut, karena terlihat sudah usang, dan Ara yakin, Pak Gilvan lupa membuangnya.


Setelah selesai, Ara segera membawa sapu, lap pel dan juga sampah untuk segera dibuang. Kini, kamar Gilvan telah rapi dan bersih kembali berkat Ara yang telah membersihkannya.


***


Gilvan sedang membantu Fadli melayani para pembeli. Restoran Gilvan memang selalu ramai, karena selain rasanya yang enak, Gilvan juga sering memberikan diskon dan cashback pada pembi. Sehingga, mereka tak bosan untuk terus datang kembali ke restoran Gilvan.


"Bos, resto nya benar-benar berkembang pesat. Kita patut bersyukur atas pencapaian ini." ucap Fadli di meja kasir

__ADS_1


"Iya, Fad. Tapi, sepertinya aku juga butuh koki untuk di dapur sekitar dua orang lagi. Tiga orang di dapur juga kalau sedang ramai selalu keteteran kan?"


"Iya, Pak. Kita cari saja dari sekarang."


"Ya, aku percaya padamu. Tolong carikan koki yang berpengalaman di bidangnya."


"Baik, Pak. Tentu saja."


Fadli teringat sesuatu. Karena kesibukannya, ia rasanya melupakan sesuatu yang berkaitan dengan Gilvan.


"Pak, rasanya ada yang harus saya ucapkan pada Pak Gilvan. Apa ya? Saya lupa."


"Apaan emangnya?"


"Bentar-bentar, saya lupa." Fadli mencoba mengingat-ingat apa yang harus ia katakan


"Apaan sih Fad? Kenapa bisa lupa gitu? Baru sibuk segini aja, bisa sampe lupa kamu!"


Fadli berpikir, ia mengingat-ingat tentang apa yang harus ia katakan pada Gilvan. Lama-lama, pikirannya mulai tenang, dan ia ingat apa yang harus ia sampaikan pada Gilvan.


"Pak, saya ingat."


"Apa Fad?"


"Apa Bapak sudah melihat surat yang tersimpan di meja kerja bapak? Saya lupa memberi tahu Bapak, bahwa semalam ada Ibu-ibu mengantarkan surat lusuh itu untuk Pak Gilvan."


"Surat lusuh apa maksud kamu. Saya nggak ngerti. Saya juga nggak nemuin surat di meja kerja. Dari pagi, say belum duduk di meja kerja." jawab Gilvan


"Semalam, ada Ibu-ibu dari yayasan, yang mengembalikan surat pada saya. Dia berkata, amplop berisi uang yang pada saat itu Pak Gilvan berikan, didalamnya seperti ada surat penting. Jadi, dia mengembalikannya pada Pak Gilvan, namun dia baru kemarin bisa mengembalikannya."


"Surat dari amplop uang yang ku berikan? Amplop uang itu berasal dari Vina. Aku tidak membuat surat didalamnya. Apa Vina menulis surat? Bentar, bentar Fad! Saat itu, Vina datang lagi padaku, dan meminta amplop itu lagi. Aku jadi berpikir, bahwa, memang ada hal penting didalam amplop itu, sehingga pada waktu itu Vina ingin mengambil amplop itu lagi. Ternyata, ada surat didalamnya? Dimana surat itu Fad? Katakan padaku!!" Gilvan antusias penasaran


"Di meja kerja Pak Gilvan. Saya lupa memberi tahu Bapak."


"Waduh, kamarku tadi sudah dibersihkan oleh Ara, tapi aku harus segera mengambil surat itu. Yasudah, aku keatas dulu Fad, aku akan mengambil suratnya. Sepertinya, itu adalah masa depanku yang tertunda."


Gilvan berlalu dengan semangat meninggalkan Fadli seorang diri. Ia bergegas dengan cepat pergi ke kamarnya.


*Bersambung*


Sabar ya, tahan emosi. Jangan marah 🤣

__ADS_1


Mau crazy up? Tulis di komentar. Sampe 50 komentar aja, aku langsung tulis lanjutannya..


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN.. Dukung ya cerita ini, karena bayarannya itu gak seberapa dibanding kerja kerasku berpikir ehehhee


__ADS_2