
Tanpa sepengetahuan keluarga Gita dan keluarganya, Gilvan diam-diam menemui Dokter bedah yang bekerja di Rumah sakit tersebut, dia bernegosiasi habis-habisan dengan dokter tersebut. Memaksakan kehendaknya agar memberikan jantungnya untuk Gita.
"Ini demi kesembuhan Istri saya, Dok! Saya mohon." Ucap Gilvan
"Tapi, kita tak bisa membiarkan nyawa anda terancam. Banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan." Ucap sang Dokter
"Apalagi yang harus Dokter pikirkan selain keselamatan pasien? Gita benar-benar butuh jantung yang sehat agar mudah pulih kembali." Gilvan menegaskan
"Memang benar, kondisinya sangat parah. Gagal jantung yang ia alami sebenarnya bisa saja sembuh, tetapi karena dia sangat kehabisan darah ketika melahirkan, jantungnya tak befungsi dengan baik karena tak bisa memompa darah keseluruh tubuhnya. Diperkirakan jantungnya hanya bisa bertahan selama 2-3 tahun saja." Ucap Dokter
"Saya rela bertukar jantung dengannya, asal ia bisa sehat seperti semula, Dok!" Ucap Gilvan
"Anda yakin, hidup anda tergantung anda. Pilihan ada ditangan anda! Saya tidak bisa gegabah seperti ini." Ucap Dokter tersebut
"Tidak apa-apa. Saya yakin dengan pilihan saya. Dokter, saya mohon jadwalkan operasi untuk istri saya, dan beritahu apa yang harus saya lakukan sebelum operasi berlangsung. Mohon untuk bertanya kepada keluarganya perihal operasi transplantasi jantung, tapi jangan sampai anda menyebut nama saya. Rahasiakan saja identitas pendonornya." Ucap Gilvan
"Baiklah, tapi biayanya tentu tidaklah sedikit." Ucap sang Dokter
"Tidak masalah, saya sanggup membayarnya!" Tegas Gilvan
***
Sudah dua hari Gita terbaring di Rumah sakit, sampai sekarangpun ia masih belum sadarkan diri. Rama tak pernah pergi kemana-mana, ia selalu menemaninya. Orang tua Gita tak mempermasalahkan keadaan Rama disisi Gita, karena Gilvan telah berbicara serius kepada Ayah Gita bahwa pernikahannya dan Gita hanyalah pernikahan di atas kertas. Gilvan sesegera mungkin akan menceraikan Gita dan mengajukan sidang ke pengadilan.
Vina, sahabat Gita. Baru mengetahui kabar ini beberapa jam yang lalu. Ia diberi tahu oleh Dimas mengenai keadaan Gita sekarang. Vina sangat shock, ia benar-benar khawatir dengan apa yang menimpa sahabatnya itu. Ia segera memutuskan menemui Gita di Rumah sakit.
Vina bergegas berangkat ke Jakarta naik Bus. Untungnya perjalanan longgar, tak macet karena ini hari kerja.
Sesampainya di Rumah Sakit, Vina melihat Gilvan keluar dari ruang laboratorium. Ia segera berlari menemui Gilvan.
"Van, kenapa kamu gak bilang sih kalau Gita udah ngelahirin? Kenapa kamu tega gak ngasih tau aku!" Vina kesal
Gilvan terlihat lesu,
"Maaf, aku banyak urusan. Sekarang, kalau kamu mau tahu tentang Gita, hubungi Rama saja. Aku dan Gita sudah selesai." Ucap Gilvan
"Maksud kamu? Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana dengan hatimu? Mengapa kau biarkan Gita bersama Rama?" Timpal Vina kesal
"Sekarang semuanya sudah selesai. Rama sudah selesai dengan bekas tunangannya. Dan, Gita pun melahirkan anak Rama. Kenapa aku harus menghalangi mereka untuk bersama?" Jelas Gilvan
"Jangan selalu memikirkan perasaan orang lain. kamu berhak bahagia, Van!" Tegas Vina
"Aku bahagia, kok! Aku bahagia melihat Gita bahagia." Jawab Gilvan
"Gilvan!" Vina kesal
__ADS_1
"Vin, aku harus pergi. Nanti jika terjadi apa-aa dengan Gita, segera hubungi aku!" Gilvan meninggalkan Vina
Vina tak rela kalau Gilvan sangat tersakiti seperti ini, Gilvan adalah lelaki yang baik, lelaki yang tulus menyayangi Gita sepenuh hati. Meskipun Gilvan dan Gita baru saling kenal, tapi Gilvan sungguh-sungguh dengan perasaannya.
Vina masuk keruang ICU, ia melihat Rama sedang disamping Gita. Vina pun tersentuh. Ia bahagia, sahabatnya dikelilingi oleh orang yang mencintainya, baik Gilvan, maupun Rama, mereka berdua benar-benar mencintai Gita dengan tulus. Vina tersenyum, akhirnya Gita bisa bersama cintanya yang selama ini ia dambakan.
"Selamat siang, kak! Aku mau jenguk Gita." Ucap Vina kepada Rama
"Siang, Vin. Masuklah!" Jawab Rama
"Bagaimana kondisi Gita sekarang?" Tanya Vina duduk di seberang Rama
"Kondisinya semakin menurun, ia masih belum sadarkan diri. Dokter mengatakan ia terkena kardiomiopati postpartum yang sudah sangat parah. Dokter harus segera mengambil tindakan!" Jelas Rama
"Tindakan apa?" Tanya Vina
"Dia harus segera mendapat transplantasi jantung yang baru! Karena, kalau tidak kinerja jantungnya semakin lama akan semakin melemah. Ia tidak bisa disembuhkan dengan cepat, karena ia habis melahirkan, kalau ia tidak habis melahirkan, mungkin saja penanganannya pun tak akan seperti ini." tegas Rama
"Dimana kita akan menemukan orang yang nau mendonorkan jantungnya?" Tanya Vina khawatir
"Dokter bilang, ada donatur yang rela mendonorkan jantungnya, tapi dengan syarat ia tak mau identitasnya diketahui. Aku bahagia sekali. Dua hari lagi ia akan segera di operasi sesuai jadwal yang telah dijanjikan dokter." Ucap Rama
Vina terkejut. Separah itukah penyakit yang Gita alami? Tetapi, siapakah yang semudah itu bisa mendonorkan jantungnya?
Mungkinkah, Gilvan? Gilvan? Benar! Aku yakin itu Gilvan. Dia, sebesar apa cintanya pada Gita, sampai-sampai ia mau ambil resiko besar seperti ini? Kenapa? Gilvan, kenapa kau harus melalukannya? Aku harus segera menemuinya.
"Ada di ruang bayi, Vin! Dia ditunggu oleh Ibuku dan Ibunya Gita. Lihatlah kesana!" Ucap Rama
"Tapi, dia baik-baik saja kan?" Tanya Vina
"Bayiku baik-baik saja, dia sangat sehat. Hanya saja, Ibunya..." Rama menitikan air matanya.
"Kau harus sabar menerima semua ini, kak! Semoga kau kuat. Baiklah, aku akan pergi dulu ya. Nanti aku kesini lagi." Terang Vina
"Baiklah, terimakasih kau telah menyempatkan waktumu menjemput Gita." Rama tersenyum
Vina bergegas keluar mencari keberadaan Gilvan. Vina yakin, yang rela mengorbankan segalanya hanyalah Gilvan. Vina tak habis pikir, kenapa Gilvan harus nekad begini?
Gilvan tak ada. Vina pun mencoba meneleponnya.
"Halo, Van! Kamu dimana?" Tanya Vina
"Aku dirumah. Kenapa?" Tanya Gilvan
"Aku pengen ketemu sama kamu!" Vina memberanikan diri.
__ADS_1
"Ketemu dimana?" Tanya Gilvan
"Aku gak tahu daerah di Jakarta. Jemput aku di Rumah sakit!" Pinta Vina
"Baiklah. Tunggu aku!" Gilvan segera berangkat menggunakan motornya
Vina menunggu cukup lama, setengah jam lebih ia duduk di taman Rumah sakit menunggu kedatangan Gilvan. Sepertinya Gilvan tak menyadari kalau Vina mengetahui segalanya. Vina sengaja menyembunyikannya, karena ia ingin berbicara langsung kepada Gilvan.
Tak lama, Gilvan pun datang. Vina melambaikan tangannya kepada Gilvan. Gilvan segera menuju ketempat Vina berada.
"Sebenarnya ada apa sih, Vin?" Tanya Gilvan, lalu duduk disebelah Vina
"Aku pengen kamu jujur, Van!" Ucap Vina
"Jujur apa?" Gilvan bingung
"Kamu kan orang yang bersedia menjadi donor transplantasi jantung untuk Gita? Kamu akan bertukar jantung dengannya. Iya?" Tanya Vina serius
"Maksud kamu apa? Transplantasi apa? Aku nggak ngerti." Gilvan sok cuek
"Kamu gak bisa bohongin aku, Van!" Vina sedih
"Aku nggak bohongin kamu, Vin." Gilvan gugup
"Kenapa kamu harus melakukan hal ini? Kita kan bisa cari cara lain. Nggak harus kamu mengorbankan dirimu seperti ini." Vina menitikkan air matanya
"Kamu menangis?" Tanya Vina
"Kenapa kamu mau melakukan itu? Apa kamu tak berharap untuk melanjutkan hidupmu, HAH?" Tanya Vina sambil menangis
Gilvan menghela nafas. Vina telah mengetahuinya. Mungkin semua ini tebakannya. Tetapi, tebakannya memang benar. Ia harus jujur pada Vina.
"Hidupku selesai untuk Gita. Setelah aku ditinggalkan Hafiza, hatiku rapuh. Mencoba mencintai Gita, tetapi dia bukan cintaku. Mungkin, aku lebih baik menyusul Hafiza disana." Gilvan terlihat sedih
"Apa kau tak pernah melihatku sedikitpun, HAH? Bagaimana kalau kau tetap hidup untuk melihatku?" Vina menangis
"Maksudmu? Aku tak mengerti?"
"Kau tak boleh mendonorkan jantungmu untuk Gita! Aku ingin kau tetap hidup! Aku ingin kau hidup untuk melihatku, sekali saja!" Vina menutup mukanya
"Lalu aku harus bagaimana? Sudah tak ada cara lain untuk menyembuhkan Gita!" Ucap Gilvan
"Akan kucari orang yang telah meninggal dengan keadaan jantung yang masih baik-baik saja. Pamanku bekerja di bagian forensik, ia selalu bisa mendapatkan informasi mengenai seseorang yang meninggal karena batang otaknya tak berfungsi, tetapi jantungnya masih bisa berfungsi dengan bantuan alat. Aku akan menemukannya secepat mungkin. Aku akan menelepon pamanku!" Vina masih berlinang air mata
"Kenapa kau harus repot-repot melakukan hal ini untukku?" Tanya Gilvan
__ADS_1
"Kau masih tak paham juga? Aku ingin mengobati luka hatimu selama ini. Kalau kau selalu tersakiti sampai nyawamu tiada, akulah orang pertama yang akan menyesal seumur hidupku! Aku ingin kau melihatku, aku ingin melihat kau bahagia. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu, Van! Aku akan membantumu menemukannya, mungkinkah itu bersamaku?" Vina tersenyum tulus
*Bersambung*