Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Tentang Siska


__ADS_3

Dua minggu kemudian


Part Of View Siska (POV Siska)


Sudah berbagai cara Siska lakukan agar ia bisa menggugurkan bayinya. Tetapi, hasilnya nihil. Janninnya tetap sehat. Beberapa kali pun Siska minum obat aborsi, ramuan jamu tetap tak berhasil. Ia tak mau melakukan aborsi ilegal, karena ia takut nyawanya terancam juga.


Kehamilannya kini telah berusia sembilan bulan. Sebentar lagi ia akan melahirkan. Tetapi, keluarganya seperti tak peduli pada Siska. Siska di acuhkan. Ia hidup serasa mati. Jordy pun, tak pernah mau mengangkat telepon Siska. Jordy selalu menghindari Siska.


Siska tak tahan. Ia sungguh ingin meminta pertanggung jawaban Jordy. Walau ini memang kemauannya, tetapi Jordy tetaplah ayah dari bayi yang dikandungnya. Siska memutuskan untuk nekad pergi ke rumah Jordy. Biarpun dia harus bertemu dengan istrinya ataupun keluarganya. Ia akan mengaku dan memaksa Jordy menikahinya. Siska naik taksi menuju rumah Jordy. Siska sudah tak diberi fasilitas apapun oleh Ayahnya. Diberikan tempat untuk tidur pun ia sudah bersyukur. Siska seperti telah dibuang oleh keluarganya. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Ia akan memaksa Jordy untuk menerimanya.


Siska sampai di rumah Jordy. Siska mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tak ada yang membukanya. Siska terus mengetuk pintu, karena Siska yakin ada orang didalamnya. Tak lama, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun membuka pintu.


"Tante cali siapa ya?" Tanya anak itu


"Papa Jordymu ada?" Tanya Siska


"Sebental ya, aku panggilkan duyu." Ucap anak itu


Anak laki-laki itu masuk kedalam rumah. Terdengar suaranya dengan lantang memanggil-manggil Papanya. Mungkin, Jordy sedang tidur.


Tak lama, Jordy keluar. Melihat siapa yang datang. Jordy kaget ternyata itu adalah Siska. Ia sungguh takut ketahuan istrinya. Untuk apa Siska kemari dengan perut yang besar. Jordy sangat marah karena Siska ada didepan rumahnya dengan perut buncit sambil menangis. Jordy takut anak dan istrinya mengetahui tentang Siska.


"Mau apa kau kesini, HAH? Pergi kau!" Bentak Jordy


"Jo, aku butuh kamu. Kumohon, anak ini butuh pengakuan mu. Hiduplah bersamaku!"


"Dasar wanita tak tahu diri. Pergi kau! Jangan sampai istriku melihatmu!"


"Kumohon, akuilah aku dan anak yang sedang aku kandung. Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Kumohon, Jo!" Siska bersimpuh dilutut Jordy


"Kau wanita jal*ng yang sudah tidur dengan banyak pria! Itu pasti bukan anakku!" Jawab Jordy marah


"Ini anakmu. Setelah haidku selesai, aku hanya berhubungan denganmu! Dan aku tak memakai pengaman. Kumohon, percayalah padaku!" Siska terlihat sungguh menyedihkan.

__ADS_1


Jordy menendang Siska sampai tersungkur. Perutnya sakit, tetapi tak ia rasa. Ia hanya ingin bayinya diakui oleh Ayahnya, ia merasa berdosa kepada anak yang ia kandung, ia selalu mencoba untuk membunuhnya, tetapi bayi itu tetap kuat, ia ingin tetap hidup.


Siska menangis, tak kuasa menahan tangisannya, ia menjerit sekuat tenaganya. Jordy khawatir, takut tetangganya mengetahui perbuatan Siska. Ia membawa Siska masuk kedalam mobil.


"Verrel, kau tunggu di rumah. Jangan kemana-mana. Kalau nanti Ibumu pulang, bilang padanya Ayah mengantar tante ini dulu, tantenya tersesat, salah masuk rumah. Kasihan dia. Tunggu sebentar ya!" Ucap Jordy


"Baik, Ayah." Ucap anak Jordy


Jordy menutup pintu rumahnya. Kemudian, ia masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya dengan cepat. Entah akan kemana Jordy membawa Gita pergi.


"Kau! Sudah aku bilang kan? Aku tak akan ada hubungannya dengan semua ini. Kenapa tiba-tiba sekarang kau malah meminta tanggung jawabku, HAH?" Jordy marah sambil melajukan mobilnya.


"Rama mengetahui semuanya. Aku tak bisa kembali padanya. Keluargaku sudah terlalu malu, aku pun sudah sering menggugurkan bayi ini, tetapi dia tetap hidup. Aku tak punya pilihan lain selain kau, kau adalah Ayah dari bayi yang ku kandung." Jelas Siska sambil memegangi perutnya yang sakit


"Itu urusanmu! Kau sudah berjanji padaku tak akan membawaku masuk dalam kebodohanmu itu!" Ujar Jordy


"Tapi, kini aku menyesal! Aku menyesal telah melakukan semua ini. Aku ingin hidupku bahagia, aku ingin denganmu. Kumohon, Jo! Hiduplah denganku!" Siska terus memohon


"Tidak bisa! Hidupku sudah bahagia! Aku mempunyai istri dan anak yang menyayangiku!" Tegas Jordy


"Istriku memang memiliki kekurangan. Tetapi, dia tulus padaku! Dia tak sepertimu yang selalu bergonta-ganti pasangan! Kau adalah wanita yang menjijikkan!" Tegas Jordy


"Kau jahat, Jo! Kau tak mau mengakui ku, iya? Anakmu sebentar lagi akan lahir. Kenapa kau harus sejahat ini padaku?" Siska masih terus menangis


Jordy menghentikan mobilnya ditempat yang sepi.


"Aku tak peduli. Itu urusanmu! Sekarang, lebih baik kau turun dari mobilku, dan jangan temui aku lagi. Aku tak sudi mengenalmu lagi." Ancam Jordy


Jordy keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil sebelah, ia memaksa Siska untuk keluar. Siska tak mau turun, tetapi Jordy tetap memaksanya sekuat tenaga. Sampai pada akhirnya Siska jatuh. Ia meringis kesakitan. Jordy tidak peduli, ia masuk kembali kedalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Meninggalkan Siska dengan perut besarnya.


Siska menangis, menahan rasa sakit yang hebat akibat diturunkan paksa oleh Jordy sampai ia terjatuh. Siska tak tahu harus kemana dan bagaimana. Ayah dan Ibunya pun sudah tak peduli dengan keadaannya. Siska merasa dirinya telah dibuang.


Siska menangis. Menahan sakit yang amat menyakitkan didalam perutnya. Perutnya sakit, rasanya seperti kontraksi. Mungkinkah ia akan segera melahirkan?

__ADS_1


Perutnya melilit, ia merintih kesakitan. Tak terasa, ada darah yang mengalir ke kakinya. Siska terus menangis, tetapi tak ada siapapun di sana. Ia berteriak minta tolong, tetapi tak ada yang menolongnya. Siska menjerit tak tertahan, rasanya seperti akan melahirkan. Bayi didalam kandungannya memaksa ingin segera keluar.


Tak ada orang yang menolongnya. Mungkin, takdirnya harus sampai disini. Mungkin, ia akan mati mengenaskan. Ia sudah siap menerima semuanya. Ia rela kalau ia akan meninggal disini, tapi ia sangat ingin anaknya tetap selamat dan bisa tetap hidup.


Kali ini ia baru merasa bahwa selama ini ia melakukan hal yang sia-sia. Melakukan hal yang tak berguna. Ia merasa bersalah kepada Rama. Mungkin ini semua adalah karma dari Rama. Ia menyadari kesalahannya.


Darah yang mengalir semakin banyak, tetapi tak ada satupun orang yang lewat. Badannya sudah lemas, ia sudah tak bisa melihat dengan jelas. Suaranya mulai serak dan mengecil, ia tak bisa berteriak, ia ingin meminta tolong, tetapi suaranya tak bisa keras, kesadarannya menurun, kepalanya berputar, ia sangat pusing, ia berjalan tertatih, dan Bruggggg, badannya jatuh ke rerumputan dipinggir aspal. Ia sudah tak sadarkan diri.


Tak lama, ada mobil yang lewat kearah tersebut. Mobil itu melihat wanita yang tergeletak dipinggir jalan. Mereka kaget, kemudian mereka turun dari mobil dan segera membawanya ke Rumah Sakit.


Nadinya diperiksa, dia masih hidup. Sesegera mungkin orang itu membawa mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tak mau nyawa Siska melayang. Semoga bayi yang dikandungnya pun bisa selamat.


Nasib buruk membawa Siska pada kematian. Kalau tak ada yang menolongnya saat ini, mungkin Siska sudah tak bernyawa. Beruntungnya, ada yang menyelematkan Siska dari kejadian yang menimpanya saat ini.


Siska tetap tak sadarkan diri. Team Dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Kedua orang itu menyetujuinya, karena demi menyelamatkan bayi yang berada didalam kandungannya.


Team dokter segera melakukan anestesi kepada Siska. Proses operasi memakan waktu yang sangat lama. Mereka tetap menunggu Siska sambil sesekali menelepon beberapa kerabat atau keluarga Siska.


Ya, mereka adalah orang yang mengenal Siska. Itu adalah Ayah dan Ibu Rama. Mereka tak sengaja lewat dijalan itu, dan melihat seseorang tergeletak. Mereka kira itu orang yang tak dikenal, tapi ternyata itu Siska.


Semarah apapun mereka pada Siska, tetapi pada saat nyawanya terancam seperti ini, mereka berdua pun tak tega. Mereka segera menghubungi pihak keluarga Siska. Tetapi, tak ada yang mengangkatnya. Ibunya Rama menghubungi Gita, Gita pun segera memberitahu Rama perihal kejadian yang menimpa Siska.


Gita dan Rama bergegas pergi ke Rumah Sakit. Gita khawatir dengan kondisi Siska, karena ia pun mengalami masa sulitnya ketika melahirkan. Tak ada rasa cemburu sedikitpun, Gita menganggap ini merupakan sebuah musibah, ia sebagai manusia harus menolongnya.


*Bersambung*


Author lupa bahas Siska. Dari kemaren fokus bahas Gita, Rama dan Gilvan 😀🙈


Terimakasih yang sudah membaca ❤💋


Jangan lupa Like, komen dan Vote cerita ini ya❤💋


Yang hanya baca aja sering sering komen juga dong dikomentar, jadi aku tahu kalian mengikuti juga hehe maksa dikit yaaa🙏😀😄

__ADS_1


Salam kenal ya semuanya dari aku, Aku ucapkan banyak-banyak terimakasih atas vote dan like dari kalian..🤗🤗🤗


__ADS_2