Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Menjelang..


__ADS_3

"Kamu kenapa, Rai?" tanya Gita melihat adiknya ngedumel sendiri.


"Eh, eng-enggak kok, Kak. Udah yuk, antar aku beli makanan ringan." ajak Raina, tak mau jika Gita tahu, bahwa Fadli pun sedang ada di Mall ini.


Gita sengaja mengajak Raina jalan bersama, karena Gita merasa, adiknya ini sekarang kurang di perhatikan, padahal di saat semester akhir?masa kuliahnya, ia butuh dukungan dari orang tua dan kakak-kakaknya.


Gita mengajak Raina membeli apapun yang dia inginkan. Gita ingin, Raina bahagia dan senang, Gita tak ingin, Raina merasa tertekan akan perjodohan ini, karena Gita tahu, rasanya dijodohkan itu pasti membuat Raina sedih, dan sakit hati.


Alasan Gita mengajak Raina jalan-jalan adalah, agar Raina senang, karena sebentar lagi Rama akan memberitahukan kapan pernikahan Raina dan Fadli akan dilaksanakan. Kedua orang tua Rama akan menetap di Moskow, dan mereka ingin surat waisat Kakek Prima segera dilaksanakan. Karena, jika Raina telah menikah, kedua orang tuanya tak perlu terlalu khawatir akan anak bungsunya tersebut.


Setelah selesai, Gita mengajak Raina pulang. Raina terlihat bahagia sekali, bagaimana tidak, dalam beberapa jam saja, Raina telah menghabiskan uang hampir 30 juta. Itu hanya membeli beberapa koleksi pakaian dan tas saja. Raina sungguh tak bisa berhenti jika diajak belanja seperti ini. Untungnya, Gita telah membawa kartu sakit milik Rama, berapapun mereka akan belanja, pasti bisa dibayar hanya dengan sekali klik.


"Udah, belanjanya?" tanya Gita.


"Udah, Kak. Makasih ya, Kak Gita emang baik banget deh! Beda banget sama Kak Rama. Gak pernah mengerti wanita." ucap Raina.


"Iya, iya. Udah, ayo kita pulang. Kamu jangan marah-marah terus, Rai. Kamu itu cantik, coba kamu sering senyum, ramah, jangan ditekuk terus mukanya. Pasti kamu benar-benar terlihat sangat cantik." Gita tersenyum pada Raina.


"Semua ini kan gara-gara Kak Rama. Aku marah sejadi-jadinya, karena perjodohan ini." ucap Raina.


"Sudah, tak perlu marah. Berontak sekalipun, tak akan merubah keputusan Kaka dan Papi. Iyakan?" tanya Gita.


"Iya, sih. Tapi, aku juga gak bisa diem aja. Aku harus tetep marah dan kecewa." ucap Raina.


"Biar apa coba? Bikin cape diri sendiri aja sih kamu!" ucap Gita.


"Biar Kak Rama pusing, dan semoga aja perjodohannya dibatalkan begitu saja. Kan bagus!" Raina tersenyum senang.


"Mau kamu marah, mau kamu berontak, mau kamu kesel, Kakakmu pasti akan tetap menjodohkan mu, sekalipun lelaki itu memiliki seorang kekasih!" jelas Gita.


DEG. Hati Raina serasa diremas hebat. Sekalipun ia memiliki kekasih? Tadinya, Raina akan memberikan bukti pada Rama, bahwa Fadli memiliki kekasih. Tapi, setelah mendengar Gita berkata begitu, berbicara pada Rama tentunya akan sia-sia saja.


Dengan hati yang bingung dan penuh tanda tanya, akhirnya Raina terdiam seribu bahasa ketika ia didalam perjalanan menuju rumahnya. Gita tahu, Raina sedang memikirkan sesuatu. Gita diam saja, karena tak mau mengganggu adiknya yabg sedang jatuh dalam lamunan.


Gita tetap berharap, semoga Fadli akan menjadi lelaki yang pantas untuk Raina. Semoga Fadli dan Raina akan saling mencintai nantinya. Semoga perjodohan ini tak akan salah.


..._______________________...


Beberapa hari kemudian.


Pernikahan Vina dan Gilvan akan digelar dua hari lagi. Semua persiapan telah dilaksanakan Gilvan dan Vina. Semua keluarga Gilvan telah berada di Bandung. Keluarga Gilvan menginap di apartemen Rama, karena Rama memaksa.


Kini, di gedung serbaguna, sedang riuh-riuh banyak orang yang sedang mendekorasi gedung dan menyiapkan beberapa hal yang diperlukan. Vina dan Gilvan tak boleh bersama lagi, karena pasangan yang akan menikah, sesuai tradisi harus dipingit dahulu. Atau mereka tak boleh bersama menjelang pernikahan.


Restoran mulai tutup. Karena, fokus untuk resepsi pernikahan nanti. Fadli sedang mengatur karyawan lain yang sedang fokus menyiapkan ayam untuk acara resepsi nanti.


Gilvan sedang mengingat-ingat, dan melihat di social medianya, rekan-rekan yang belum ia undang, menjaga agar tak ada yang terlewat. Tiba-tiba, handphonenya berdering. Rama memanggilnya.


[Halo, Ram. Ada apa?]


[Van, aku membeli merchandise tambahan untuk resepsi pernikahan mu. Barangnya terlambat datang, tapi untunglah datang sebelum resepsi. Ini barangnya import. Aku sengaja membelinya, karena aku lihat bagus sekali. Aku membelinya banyak. Hampir 2000 pasang. Ini kerajinan bentuk hati, ada namamu dan nama Vina. Kalau bisa, karyawan mu suruh membawa ini ke rumahku. Karena aku tak sempat mengantarkannya padamu.]


[Baiklah. Karyawan ku sibuk semua. Biar aku saja yang ke sana, Ram.]


[Eh, jangan. Kamu gak tahu apa? Calon pengantin itu gak boleh kemana-mana. Kalau kata orang sunda kan pamali, takut terjadi apa-apa. Lu mah diem aja, Van. Apa si Fadli ada? Suruh dia aja, ada hal yang ingin aku katakan juga padanya.]


[Wah, maklum lah Ram. Belum pernah menikah, hehehe. Fadli ada, yasudah akan ku suruh dia mengambil merchandise-nya ke rumahmu sekarang.]


[Baik, Van. Aku tunggu. Oh ya, ku sarankan Fadli membawa mobil saja ya, karena barangnya berat dan banyak.]


[Siap, Ram.]

__ADS_1


Telepon pun ditutup. Gilvan segera memanggil Fadli, dan menyuruh Fadli untuk segera pergi ke rumah Rama. Fadli tak pernah berburuk sangka pada siapapun. Ia selalu menuruti perintah Gilvan tanpa mengeluh sedikitpun.


Fadli menggunakan mobil Vina yang lama. Kini, mobil itu jadi milik restoran ini. Karena, Vina menggunakan mobil yang dibelikan Gilvan tempo hari. Fadli tahu, jika ia pergi ke rumah Rama, urusannya akan panjang. Fadli tak akan mudah pulang kembali. Rama pasti mengajaknya berbincang, namuj Fadli tetap akan menjalani semuanya. Tak ada kemarahan ataupun kebencian yang tersimpan didalam hatinya.


Tak lama, Fadli sampai di rumah Rama. Rumah yang mewah dan sangat luas. Untuk yang kedua kalinya, Fadli menginjakan kakinya di rumah Rama. Tak menunggu lama, satpam di rumah Rama segera membukakan pintu gerbangnya dan mempersilahkan Fadli masuk.


Seperti mendapatkan mimpi buruk di siang bolong, Fadli harus melihat Raina yang sedang duduk di taman halaman depan rumahnya. Fadli serba salah, jika tak menyapa Raina, akan dikatai sombong, namun jika Fadli menyapa wanita itu, arogannya sang Raina, pasti keluar.


Pak Rama, kenapa adikmu harus berada di taman ini? Kenapa harus selalu berpapasan dengannya? Jujur saja, aku tak mau berurusan dengan Raina, dia itu wanita yang berisik. Kalau aku menyapanya, dia pasti mengira aku inilah, itulah. Tapi, jika aku tak menyapanya, akan salah lagi dimatanya. Harus bagaimana aku sekarang? Fadli, tetaplah bersikap normal dan sewajarnya. Ingatlah pepatah, yang waras yang mengalah. Karena aku waras, aku harus bersikap biasa saja, aku harus mengalah pada Raina. Jika Raina marah-marah, anggap saja dia sedang tidak waras. Se-simpel itu Fad rumusnya, Keep calm and stay cool! Batin Fadli dalam hati, ketika melihat Raina.


"Siang, Raina. Aku kesini untuk bertemu Pak Rama." sapa Fadli terlihat ramah.


"Siang. Gue gak nanya!" balas Raina simpel.


Heh? Kenapa dia gak marah-marah dan gak nuduh-nuduh gue? Biasanya, dia nuduh gue kan? Biasanya, dia nuduh dan nyangka gue ngejar-ngejar dia lagi. Ah, baguslah. Mungkin saja kali ini dia sedang waras. Batin Fadli lagi.


"Baiklah, aku permisi dulu ya." Fadli membungkukkan badannya.


Raina tak menjawab. Ia sedang asyik membaca novel kesayangannya. Fadli langsung saja masuk kedalam rumah Rama, karena tak ada respon dari Raina.


Rama sedang duduk di kursi pintu utama. Fadli menyapanya dan kemudian duduk di depan Rama.


"Kamu tahu kan, kenapa aku menyuruhmu kesini?" tanya Rama.


"Tentu saja, Pak. Untuk mengambil merchandise resepsi pernikahan Pak Gilvan." Fadli tersenyum ramah.


"Bukan hanya itu, Fad." jelas Rama.


"Lalu, apalagi Pak?" Fadli sedikit bingung.


Rama mengeluarkan beberapa pouch kecil yang cantik dan lucu. Ia memperlihatkannya pada Fadli.


"Ini apa, Pak?" tanya Fadli.


"Hah? Kenapa harus sekarang?" Fadli kaget.


"Bagaimana menurutmu, bagus tidak?" tanya Rama lagi.


"Ba-bagus Pak. Yang tak bagus itu kenapa Bapak membahas merchandise saya? Bukannya untuk Pak Gilvan?" tanya Fadli.


"Begini, semalam Raina dan istriku pergi belanja. Raina tertarik dengan pouch ini. Aku berpikir, untuk memberi cenderamata berupa pouch ini dengan tulisan nama kamu dan Raina, bagus bukan? Karena tamu undangan kalian nanti kebanyakan perempuan, yaitu teman dari adik-adikku." ucap Rama.


"Pak? Kenapa Pak Rama membicarakan ini? Saya tak mengerti maksudnya sama sekali." jelas Fadli.


"Begini, Fad. Setelah Vina dan Gilvan menikah, kamu dan Raina juga harus segera menikah. Aku ingin kalian cepat-cepat menikah, karena sebentar lagi kedua orang tuaku akan pindah ke Moskow, jadi orang tuaku ingin perjodohan ini segera dilangsungkan." jelas Rama.


"Ta-tapi, Pak? Keluarga saya belum tahu mengenai hal ini. Saya tak siap sama sekali." Fadli kaget dan benar-benar bingung.


"Kamu tak usah khawatir. Setelah pernikahan Gilvan, pulanglah ke kampung halamanmu, aku akan mengantarmu menemui keluargamu. Tenang saja, aku akan bertanggung jawab mengenai ucapan ku." jelas Rama.


"Eh, Pak, tak usah repot-repot. Biar saya saja, biar saya yang pulang sendiri." Fadli kikuk.


"Yang terpenting keluargamu tahu, bahwa kamu akan segera menikah, Fadli." Rama tersenyum.


Fadli benar-benar bingung dan shock. Fadli tak menyangka, secepat inikah perjodohan itu berlangsung? Fadli harus meminta izin pada siapa? Kedua orang tuanya telah tiada, keluarganya hanya tersisa adik-adik dari almarhum Ayahnya saja. Tapi, keinginan Rama tak bisa dibantah.


"Bik, Bik! Tolong panggilkan Raina. Suruh dia masuk kedalam sekarang juga." perintah Rama.


"Baik, Tuan." jelas Bik Ning, pembantu Rama.


Raina dengan tatapan kesal masuk kedalam rumah. Raina tahu, apa yang akan Kakaknya bicarakan. Malas sekali rasanya, melihat Fadli berada didepannya.

__ADS_1


"Apalagi? Aku sudah bilang terserah Kakak kan?" Raina kesal.


"Dengarkan aku dulu sebelum kamu terus-terusan berceloteh!" Rama sedikit meninggikan suaranya.


"Iya, iya. Apa?" Raina mendelik kan matanya.


"Kamu dan Fadli akan menikah dua minggu lagi." ucap Rama.


"APA? Kenapa mendadak seperti ini? Kenapa tak bertanya padaku? Kenapa Kakak memutuskannya seenak jidat saja? Memangnya Kakak siapa? Kenapa Kakak sok berkuasa seperti ini sih? Aku benar-benar tak suka pada Kak Rama!!!" Raina marah.


"Memangnya, kapan lagi? Mami dan Papi bulan depan akan pergi ke Moskow, mereka memintaku untuk segera menikahkan kamu dengan Fadli. Aku hanya mengikuti perintah Mami dan Papi. Kamu bilang terserah! Ya sudah, cukup jalani saja dan jangan berisik!" bentak Rama.


"Tapi ini gak adil buat aku! Aku merasa terintimidasi akan perjodohan ini." Raina kesal.


"Kalau terlalu lama, aku takut kalian malah mempermainkan perjodohan ini. Aku takut kalian malah mempunyai pasangan masing-masing. Sebelum ada hati yang akan tersakiti, lebih baik secepatnya kalian menikah! Bukankah, baik Fadli ataupun kamu, kalian sama-sama belum memiliki kekasih. Benarkan?" Rama bertanya.


"Siapa bilang diantara kita sama-sama belum memiliki kekasih? Aku memang tak mempunyai pacar, tapi lelaki itu, dia sudah mempunyai pacar. Harusnya, sebelum Kak Rama menjodohkan aku dengannya, tanya dia dulu! Apakah dia mempunyai pacar atau tidak? Jelas-jelas dia telah memiliki kekasih. Kak Rama masih saja bersikeras menjodohkan aku dengannya." jelas Raina panjang.


"Benar begitu, Fadli?" selidik Rama.


"Ti-tidak, Pak. Saya tak mempunyai kekasih. Saya masih sendiri." Fadli takut disalahkan.


"Kenapa Raina berkata begitu padamu?" Rama benar-benar heran.


"Kakak, dia memang ingin harta kita! Makanya, dia bilang tak punya pacar. Dia ingin uangmu, harusnya kau paham itu. Jelas-jelas semalam aku melihatnya bersama wanita di toko kecantikan. Dia memilihkan lipstik untuk kekasihnya, masih saja bisa berkilah! Dasar laki-laki buaya!!!" umpat Raina.


"Eh, jangan sembarangan kalau bicara! Siapa yang ingin uang keluargamu? Aku juga bisa mencari uang. Lagipula, siapa yang bilang itu kekasihku? Dia adalah teman sesama pelayan di restoran Pak Gilvan. Dia temanku, kenapa bisa-bisanya kamu menganggap dia adalah pacarku?" Fadli mulai kesal.


"Karena kamu terlihat mesra dengan wanita itu!!!" Raina memojokkan Fadli.


Rama yang mendengar percekcokan itu hanya bisa tersenyum dan tertawa. Rama melihat, ada tarikan tersendiri ketika mereka saling membela diri.


"Aku mengerti permasalahan kalian. Sudah, sudah! Jangan bertengkar lagi, aku tak ingin mendengar kalian ribut lagi." Rama melerai.


"Maafkan saya, Pak. Saya sedikit emosi, karena adik Bapak selalu saja memojokkan saya. Saya benar-benar minta maaf." Fadli merasa bersalah.


"Kamu tidak salah, Fadli. Raina, Kakak tak suka, kalau kamu terus menjelek-jelekkan Fadli. Kamu harus bersikap sopan padanya. Jangan terus menuduh yang tidak-tidak pada Fadli. Apalagi tuduhan yang kamu layangkan itu tidak benar!" Rama menasihati Raina.


"Iya, iya. Maaf!" Raina tak ikhlas.


"Aku punya solusi untuk kalian." Rama tersenyum


"Maksud Pak Rama?"


"Solusi? Maksud Kakak?"


"Kalian ini cocok, hanya saja kalian belum saling mengenal satu sama lain, kalian hanya masih asing. Saran ku, Fadli, kumohon kamu dekati adikku, agar kamu mengenalnya lebih dekat sebelum pernikahan nanti. Dan kamu, Raina, kamu jangan jual mahal pada Fadli. Kamu harus sedikit ramah padanya. Kamu harus mulai membuka hatimu untuk Raina. Agar kalian bisa saling mencintai juga saling menyayangi nantinya. Hanya turunkan ego masing-masing, agar kalian bisa bersatu." jelas Rama.


"Apa?"


"Apa?"


Raina dan Fadli sama-sama kaget mendengar ucapan Rama. Raina berniat untuk bersandiwara dalam pernikahannya. Tapi kenapa? Kakaknya seakan-akan tahu maksud Raina, sehingga Rama mengantisipasi kejadian yang akan Raina perbuat? Haruskah Raina dan Fadli benar-benar menjalani kisah perjodohan ini? Ataukah Raina dan Fadli akan tetap pada perjanjian mereka?


*Bersambung*


SELAMAT MALAM YA SEMUANYA..


Jangan lupa LIKE dan KOMENTAR bagi yang telah membaca. Beri dukungan juga berupa VOTE untuk cerita ini.


Oh iya, sehari ini hanya UP satu episode ya. Karena, ini sudah lebih dari dua ribu kata.

__ADS_1


Makasih 😍😍😍


__ADS_2