
Rama pasrah dengan apa yang terjadi. Kejujurannya tak mungkin bisa diterima oleh kedua orangtuanya Gita. Ia sadar, semua ini bermula karena kesalahannya. Gita hamil karena Rama, Gita pergi karena Rama, Gita pendarahan, sesak nafas, semua karena ulah Rama. Rama sadar, dirinya memang benalu di hidup Gita. Gilvan memang pantas menjadi pendamping hidup Gita. Dia lelaki yang baik, tidak seperti Rama.
Ayah Rama benar-benar emosi. Ia tak habis pikir kalau anaknya bisa diperlakukan tidak adil seperti ini. Dia sangat marah, dia sangat emosi. Sesegera mungkin Ayahnya ingin Gita segera sadar, hatinya sangat sakit.
Rama tahu Ayah Gita sangat marah. Rama tahu, tak mudah bagi beliau memaafkan kesalahan terbesarnya ini. Rama bersimpuh dihadapan Ayah Gita, Rama memohon.
"Om, saya memang tak tahu diri. Maafkan saya, apapun yang akan om lakukan pada saya, saya rela! Tapi, saya mohon, jangan kau jauhkan saya dengan putri kecil saya. Bagaimanapun juga dia adalah darah daging saya. Saya mohon, Om!" Rama memegang kaki Ayah Rama
"Nak, Rama! Sudah, bangunlah!" Ibu tetap lemah lembut
"Kau memang tak tahu diri. Kau pergi saja sejauh mungkin, kau bukan siapa-siapa anakku! Cucuku akan menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Tak ada urusan denganmu!" Ucap Ayah Rama
Kakek Prima, Ayah, Ibu Rama, serta Raina datang melihat kejadian antara Rama dan Ayahnya Gita.
"Tidak bisa semudah itu! Kalau memang buyut ku ada disini, ini urusanku!" Ucap kakek Rama keras
"Siapa kau kakek tua?" Tanya Ayah Gita
"Aku adalah Prima Hanggara, pemilik perusahaan Angkasa Group yang merupakan kakek dari anak yang sedang bersimpuh di hadapanmu! Bangunlah, Ram!" Ucap kakek Prima
Mereka semua duduk bersama di ruangan tertutup. Mereka mulai membicarakan masalah serius yang tengah terjadi.
***
Di ruangan ICU, Gilvan sendirian. Dia enggan ikut campur urusan keluarga Gita dan Rama. Melihat Gita dari luar ruangan. Gita dalam keadaan tak sadarkan diri. Dia masih diperiksa oleh beberapa dokter. Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Gilvan ingin Gita segera sadar.
Tak lama, dokter keluar ruangan dan memberikan keterangan lebih lanjut kepada Gilvan, selaku suami Gita.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" Tanya Gilvan
"Nyonya Gita mengalami pendarahan hebat, ia lemas tak sadarkan diri, tapi setelah transfusi darah dari Bapak, kondisinya sedikit membaik. Hanya saja, diagnosa Dokter Spesialis dalam mengatakan Nyonya Gita mengalami kardiomiopati postpartum. Dimana kondisi jantung melemah, atau bisa disebut juga gagal jantung. Ini terjadi karena selama hamil kinerja otot jantung bekerja lebih keras dari biasanya, Ibu hamil yang banyak pikiran dan stres memicu hal ini terjadi setelah melahirkan bayinya. Penyakit ini akan membuat otot jantung melemah dan menyebabkan jantung menjadi membesar. Akibatnya, jantung tidak dapat bekerja dengan optimal dalam memompa darah ke seluruh tubuh." Ucap Dokter spesialis kandungan tersebut
"Lalu, penanganannya bagaimana Dok?" Gilvan cemas
"Kita masih observasi. Kalau otot jantungnya tidak mengalami kerusakan cukup parah, ini tidak menjadi masalah, kita hanya perlu perawatan intensif. Namun, jika jantungnya mengalami kerusakan yang fatal, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Selain, ada yang berbaik hati memberi transplantasi jantung kepada Nyonya Gita." Ucap dokter tersebut
"Saya bersedia dok, jika memang itu bisa menyelamatkan istri saya!" Ucap Gilvan sekuat hati
__ADS_1
"Anda yakin?" Ucap dokter itu
"Saya yakin. Tapi, saya mohon jangan beritahukan penyakit ini kepada keluarga saya. Saya tak mau mereka khawatir. Saya mohon, Dok!" Ujar Gilvan
"Baiklah. Saya hanya akan memberi tahu anda!" Dokter itu berlalu.
Gilvan menangis. Separah itukah kondisi Gita saat ini? Kenapa ia tak menyadarinya? Beban yang Gita pikul semakin berat saat ia hamil, ditambah lagi menikah dengannya. Itu pasti membuat hati dan pikirannya kacau. Gita pasti menyimpan beban itu sendirian.
Maafkan aku, Gita. Aku menambah beban pikiranmu selama ini. Aku membuat semuanya jadi kacau. Maafkan aku! Kini, kau sedang terbaring lemah disana. Aku harus membuatmu seperti sedia kala, aku akan melakukan apapun untukmu meskipun nyawaku taruhannya. -Gilvan dalam hati-
***
Perbincangan antar keluarga itu sangat serius. Muka amarah penuh emosi Ayah Gita perlahan membaik karena mendengar penjelasan dari Ibunya Rama.
"Maafkan kalau saya sangat lancang. Anak saya sangat menderita ketika mendengar Gita pergi. Dia teganya membohongi kami semua, dia memberikan kami testpack palsu, padahal dia memang hamil. Saya sangat terluka kala itu, saya berharap Gita hamil dan Rama akan menikahinya. Saya akan secara langsung meminta maaf kepada kalian selaku orang tua Gita, atas perlakuan bejad anak saya. Anak saya sengaja melakukan itu agar Gita tetap disisinya, ia ingin memiliki Gita sepenuhnya, tetapi Gita malah menghindar. Anakku sungguh kacau saat itu. Kumohon, aku ingin kalian mengerti..." Ibu Rama menangis
"Mami..." Rama tak tega melihat Ibunya
"Rama sudah tak memiliki kesempatan bersama Gita. Gita sudah menikah dengan Gilvan. Apa kalian tak tahu?" Ucap Ayah Gita
"Biarlah mereka tak bisa bersama. Tapi, ku mohon cucuku. Aku ingin membawa keturunan Rama di rumahku!" Ucap kakek Prima
"Buyut ku tetaplah buyut ku. Ia harus ada di sampingku! HARUS!" Ucap Kakek Rama
"Baiklah. Jalan tengahnya kau biarkan putraku menikah dengan putramu!" Ayah Rama berbicara
"Bagaimana dengan suami anakku?" Ucap Ayah Rama
"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang, kau boleh mengurusnya. Aku ingin bertemu cucuku sekarang!" Pinta Ayah Rama
"Baik, mari ikut denganku!" Ucap Ibu Gita
Rama tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Ia hanya bisa melihat Gita dari kejauhan. Ia benar-benar bingung memikirkan keadaannya saat ini. Apalagi melihat Gita yang terbaring lemah seperti ini. Rama lupa dengan Gilvan. Kemana dia pergi? Gilvan pasti sakit hati karena semua ini. Ia seperti merasa tak dianggap sebagai suami Gita.
Rama pergi keluar mencari keberadaan Gilvan. Ia harus meminta maaf pada Gilvan atas sikap kurang baiknya. Ternyata, Gilvan sedang duduk dikursi taman Rumah sakit. Rama mendekatinya.
"Lo lagi ngapain disini?" Tanya Rama
__ADS_1
"Lagi liatin bunga yang bermekaran. Cantik sekali." Ucap Gilvan
"Maafin gue!" Rama mendekat
"Minta maaf buat apa, Ram?" Tanya Gilvan
"Maaf, karena kehadiran gue lo serasa gak dianggap disini. Padahal lo jelas-jelas suami Gita." Ucap Rama
"Mungkin kapasitas ku hanya sampai disini. Ram, aku akan bertanya. Apa kau benar-benar menyayangi Gita?" Tanya Gilvan
"Gue sangat menyayanginya. Kenapa lu berkata begitu?" Tanya Rama
"Apa aku bisa mempercayakan Gita padamu?" Tanya Gilvan lagi
"Maksud lo apa sih, Van?" Tanya Rama heran
"Aku menyukai Gita, karena dia mirip sekali dengan kekasihku yang dulu. Aku mencoba untuk membuka hatiku untuknya, karena memang aku harus kembali move on. Berbulan-bulan aku hidup dengan Gita, dia tak pernah menunjukkan rasa cintanya padaku, hanya sikap sopan santun dan menghargai ku saja yang kudapat darinya." Gilvan menjelaskan
"Lalu?" Rama mendengarkan
"Dia tetap mencintaimu. Selama hamil, dia mengalami masa-masa sulit, dia depresi dan stres. Yang terlihat sekarang ini. Terjadi dampaknya setelah melahirkan, ia terlalu banyak beban. Terlalu banyak pikiran. Mungkin, kalau dia hidup denganmu tak akan seperti ini." Ucap Gilvan
"Lu mau mundur, begitu?" Tanya Rama
"Sepertinya begitu. Aku tahu, kebahagiaan Gita hanya hidup bersamamu. Aku tahu, tak mudah bagi diriku untuk bisa menaklukannya! Aku akan mengalah, kuharap kau bisa menjaga Gita dengan baik." Ucap Gilvan tegar.
"Tapi, lo gak bisa pergi gitu aja. Sekarang, Gita sedang dalam masa kritis. Lo harus tunggu sampai dia sadar. Biarkan dia memilih. Gue memang sangat mencintai Gita, tapi kalau untuk pilihan hatinya, gue gak mau memaksakan kehendak. Biarkan Gita memilih, lo jangan pergi sebelum Gita sadar. Lo harus bertemu dia dulu." Ucap Rama
"Aku tak perlu mendengar pilihannya. Kalau aku muncul lagi, dia akan berat hati. Dia sangat menghargai ku, aku tak mau pilihannya goyah, aku jelas tahu dia sangat mencintaimu. Jadi, ku serahkan Gita untukmu!" Gilvan jujur
"Ini akan menyakitkan buat lo!“ Rama tak tega
"Tidak apa-apa. Aku bahagia melihat kalian bahagia. Hanya satu lagi tugasku untuk membuat Gita bahagia, semoga aku berhasil. Kumohon, lindungi dan sayangi Gita setulus hatimu." Gilvan berdiri dan menepuk pundak Rama, lalu ia pergi berlalu
"Van, kita belum selesai. Lo mau kemana?" Rama berdiri
Apakah Cinta harus sesakit ini? Apakah pengorbanan ini akan membahagiakan bagi mereka semua? Cintaku terbang tinggi sekali, aku tak bisa menggapainya sama sekali. Ketika cinta lain datang, namun ia hanya singgah, bukan menetap. Tentunya, ia akan pergi lagi dan mencari tempat menetap yang sesungguhnya,aku hnaya disinggahi, bukan menetap selamanya.
__ADS_1
*Bersambung*