
Hati Gita hancur berantakan, ditinggalkan Rama yang selama ini sangat ia rindukan. Rama tak pernah seperti ini dulu, Gita kira Rama akan sangat senang bisa bertemu dengannya ditempat yang tak diduga-duga.
Kak Rama, kenapa kau pergi begitu saja? Apa kau tak merindukan aku sedikitpun? Apa kau telah benar-benar melupakan aku? Kenapa hatiku amat sakit? Padahal, aku sudah memiliki Gilvan, tapi rasanya hatiku benar-benar patah ketika ia acuh padaku. Kenapa dia bisa berada dirumah sakit? Apakah dia sedang sakit? Apakah kekasihnya bekerja disini? Oh tidak, kenapa aku
mencemaskan nya lagi? -Gita dalam hati-
Gita terdiam ditempat ia bertemu Rama. Entah kenapa rasanya enggan sekali untuk beranjak. Hingga Gilvan datang membuat lamunan Gita tersadar.
"Kamu kenapa melamun?" Tanya Gilvan
"Eh.. Kamu sejak kapan ada disini?" Gita kaget
"Baru aja! Kamu lagi ngapain disini?" Ucap Gilvan santai
"Eng..gak kok! Aku lagi liat pemandangan sekitar RS aja, Mas!" Gita berbohong
*Apa dia liat Rama barusan? Tapi, dia tidak membahas Rama, Apa dia tidak melihatnya? Semoga saja dia tidak melihat aku dan Rama bertemu! -Gita dalam hati-
Kenapa kau tak jujur padaku? Kau bertemu dengannya. Tetapi, kau menyembunyikannya dariku. -Gilvan dalam hati*-
Gita dan Gilvan segera pulang menuju kediaman Orangtua Gita. Gita tak berbicara apapun ketika didalam mobil. Hatinya sangat kacau, pertemuannya dengan Rama membuat ia tak berkonsentrasi. Gilvan sesekali melihat kearah Gita, ia tahu hati istrinya sedang kacau. Ia tak mau menambah beban pikiran kepada istrinya. Lebih baik Gilvan diam saja.
"Assalamualaikum Bu!" Ucap Gita dan Gilvan setelah sampai dirumah
"Waalaikumsalam, kalian sudah datang. Mari makan siang bersama!" Ucap Ibu Gita
"Baik, Bu!"
Gita akan tinggal dirumah Ibunya selama beberapa hari, sementara Gilvan harus kembali ke Jakarta, ada beberapa hal yang harus ia urus. Ia akan mengembangkan bisnis Ayahnya. Tetapi, Gilvan tak memaksa Gita untuk ikut dengannya. Gilvan mengizinkan Gita sementara tinggal bersama Ibunya.
"Kamu jaga diri baik-baik ya, Mas!" Ucap Gita
"Iya, kamu juga. Jaga bayi kita. Kamu jangan terlalu sering main ya. Harus banyak istirahat, jangan lupa makan, jangan lupa minun vitamin juga. Ya sayang?" Gilvan mengelus rambut Gita
"Tentu. Terimakasih atas perhatianmu!" Ucap Gita
Gilvan pergi ke Bandung dengan berat hati. Kalau saja ia tak ada urusan di Jakarta, ia ingin berlama-lama dengan istrinya disini.
Gilvan tak ingin memaksa Gita untuk ikut dengannya. Ia tak mau menyakiti hati Gita, apapun yang Gita inginkan, dia akan mengabulkan permintaannya. Meskipun harus mengorbankan hati dan perasaannya.
***
-Kantor Angkasa Putra-
Rama duduk termenung diruangannya. Ia sangat tak menyangka bisa bertemu Gita dirumah sakit. Rasanya seperti mimpi, tetapi itu sungguh nyata. Hati yang sudah ia bangun kokoh lagi, hancur berkeping-keping ketika melihat Gita. Dia sangat berusaha untuk melupakan Gita, dengan pergi ke psikolog untuk konsultasi masalah pribadinya. Tetapi, ketika Gita datang, rasanya semua menjadi percuma.
Jadwal makan siang telah tiba, Rama mengajak Dimas untuk makan siang bersama. Suasana hatinya sedang kacau, ia butuh teman untuk meredakan kesedihannya.
Dimas ternyata mengajak Intan juga, Rama tak masalah dengan Intan karena mereka bertiga kini telah akrab.
"Kenapa muka lo kusut?" Tanya Dimas
"Gue ketemu Gita pagi ini." Ucap Rama dingin
"HAHHHHH?" Jawab Dimas dan Intan serentak
"Serius lo?" Tanya Dimas
"Ketemu dimana?" Tanya Intan
"Dirumah sakit, ketika gue sedang konsul ke dokter pribadi gue!" Ucap Rama
__ADS_1
"Terus gimana?" Tanya Dimas
"Ya nggak gimana-gimana. Dia sedang USG, bersama suaminya." Ucap Rama
"HAH? Lakinya ada disitu?" Tanya Intan
"Ada, cuma ketika dia ada gue pergi." Ucap Rama
"Lo ngobrol apa aja sama Gita? Kita harus segera bertemu dengannya!" Ucap Dimas
"Gue cuma minta anak gue ketika nanti dia sudah lahir." Ucap Rama
"Lo harus perjuangin cinta lo sama dia Pak!" Ucap Intan
"Gak perlu, semua sudah berakhir. Gue cuma minta anak yang dia kandung aja. Itu jelas anak gue." Ucap Rama
"Gak bisa gitu dong, Ram! Itu kan ibu dari anak elo! Lo harus bisa perjuangin Gita dan anak lo." Ucap Dimas
"Gue hanya akan memperjuangkan anak gue. Gita sudah bersuami. Sudah cukup!" Rama sedikit meninggi
"Ram.." Cegah Dimas
"Gue pergi.." Rama meninggalkan Intan dan Dimas
Diman dan Intan sangat kecewa dengan sikap Rama yang menyerah seperti ini. Tak biasanya Rama begini, Dulu ia berjuang mati-matian mencari Gita kemanapun Gita berada. Kini, Gita datang padanya tapi ia tak menggubrisnya, ia sangat tak peduli dengan kehadiran Gita.
"Kita harus gimana?" Ucap Intan
"Gue punya ide!" Kata Dimas
"Apaan?" Tanya Intan
Dimas dan Intan mengajak Rama berjalan-jalan sepulang kerja. Dimas meminta kepada Rama agar ia yang mengemudikan mobilnya, takut Rama tak akan berkonsentrasi. Rama menyetujuinya, Rama tak mempunyai firasat buruk terhadap Intan dan Dimas.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, itu tandanya seluruh karyawan diperbolehkan pulang. Intan dan Dimas segera ke parkiran untuk menunggu Rama. Sepuluh menit menunggu, akhirnya Rama pun tiba.
"Udah standby aja lo berdua!" Ucap Rama
"Udah dong, sini kuncinya gue yang make!" Ucap Dimas
"Gue dibelakang deh, lo didepan aja sama si Dimas!" Ucap Rama kepada Intan
"Ba..baik Pak!" Jawab Intan
Rama tak mengetahui arah tujuan kemana Dimas akan pergi. Ia hanya duduk sambil memainkan handphonenya. Lama-lama, ia tersadar akan jalan yang dilewatinya. Jalan yang sering ia lewati dan lalui. Ya, ini adalah jalan menuju rumah Gita.Rama terperanjat kaget, apa maksud Dimas dan Intan?
"Heh! Lo berdua! Mau bawa gue kemana?" Tanya Rama
"Kita kerumah Gita, Bos! Udah lama kita gak ketemu, iya kan? Tenang aja, suaminya si Gita gak ada kok!" Ucap Intan
"Bukan masalah begitu! Gue gak mau ketemu dia, apalagi kerumahnya. Mau ngapain? Lu turunin gue sekarang juga! CEPETAN!" Rama mulai kesal
"Lu gak usah marah-marah Bos! Kita cuma temu kangen aja kok! Ibunya Gita juga nyuruh lu datang kesana. Kalau lu gak bisa bersama Gita, seenggaknya kalau kalian berteman gak masalah dong, Ram?" Sanggah Dimas
"Terserah lu berdua ajalah!" Ucap Rama ketus.
Rama tak suka. Seakan Intan dan Dimas menjebaknya begitu saja. Kalau mereka ingin bertemu Gita, kenapa harus mengajak Rama? Kenapa mereka tidak pergi berdua saja? Rama kesal. Tapi apa boleh buat, Dimas yang mengendarai, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya, mereka telah sampai dirumah Gita. Gita sudah mengetahui bahwa Dimas dan Intan akan berkunjung kerumahnya. Tetapi, Gita tak tahu kalau Rama juga akan datang. Mereka tak memberi tahu Gita.
Tokk..tok..tok..
__ADS_1
"Selamat sore!" Ucap Dimas dan Intan.
Gita membuka pintu rumahnya. Dia senang Dimas dan Intan berkunjung kerumahnya, tetapi ia sungguh kaget melihat Rama berdiri dibelakang Dimas. Gita melotot tak percaya.
"Haiiiii.. Kalian sudah datang!" Ucap Gita tak menunjukan rasa kagetnya.
"Iyaaaa, Git! Gue kangen banget sama lu!" Jawab Intan sambil memeluk Gita.
"Yasudah, ayo kita masuk! Ibu sudah masak untuk kalian semua." Ujar Gita.
Gita dan Rama sama-sama canggung. Kini, dunia mereka telah berbeda. Gita telah bersuami, Rama tak sampai hati untuk bersikap seperti dahulu.
"Kalian sudah datang ternyata. Walaaah, ternyata pak Direktur juga datang. Sungguh Ibu tak percaya, terimakasih kau telah berkenan datang ke rumah kecil kami." Ucap Ibu Gita
"Eh, Iya Bu! Saya punya sedikit waktu luang." Ucap Rama.
"Yasudah, silahkan diminum ya." Ibu Gita meninggalkan mereka semua dan kembali ke belakang.
Semuanya tampak canggung. Gita dan Rama tak bersuara sama sekali. Sungguh, Rama rasanya ingin sekali memotong gaji Intan dan Dimas karena kelakuan menyebalkan nya ini. Rama merasa tak nyaman, ia segera berasalan ingin pergi ke toilet.
"Git, sorry. Gue izin ke toilet sebentar!" Ucap Rama
"Eh.. Iya, Silahkan!" Gita gugup
Rama tak ingin pergi ke toilet, ia hanya tak nyaman saja berada di dekat Gita. Ia bingung harus apa karena Dimas dan Intan sepertinya sengaja membuat Rama berada disini. Rama melihat pintu belakang terbuka, ia melihat taman kecil yang indah, ia pun menuju keluar rumah Gita.
Rama melihat pepohonan kecil dan bunga-bunga yang sangat cantik, sungguh pemandangan yang indah. Tanpa Gita sadari, ternyata di sana ada Ibu Gita. Rama pun terlihat sangat canggung.
"Nak, Rama! Sedang apa disini?" Tanya Ibu Ramah.
"Eh, Ibu! Maaf, saya barusan izin ke toilet, terus saya lihat taman kecil ini, indah sekali." Jawab Rama gugup.
"Ini taman kecil yang Gita inginkan sejak dulu. Dia selalu merawatnya. Sini, duduk disini." Pinta Ibu Gita.
Rama tambah gugup, untuk apa Ibunya menyuruhnya duduk bersama seperti ini.
"Nak Rama! Kamu tahu kan Gita sudah menikah? Bahkan kini ia tengah hamil?" Tanya Ibu.
"I..iya Bu! Saya tahu kok!" Ucap Rama.
"Sebenarnya ada apa diantara kalian? Kenapa hubungan kalian menjadi berantakan seperti ini? Ibu sangat berharap penuh padamu, tetapi Gita lebih memilih menikah dengan Gilvan. Ibu rasa, ada masalah besar diantara kalian. Jujurlah pada Ibu, nak!" Ucap Ibu Gita lembut.
"Ma..maaf Bu! Kami tak ada masalah apapun. Hanya tidak ada kecocokan saja diantara kita!" Rama berbohong.
"Ceritakan lah pada Ibu, anggap Ibu seperti ibumu! Kau tak perlu sungkan denganku." Ujar Ibu.
"Maafkan saya, Bu! Saya yang salah. Saya memiliki tunangan ketika mencintai Gita." Rama tertunduk.
"Oh begitu. Lalu, kau telah menikah dengan tunangan mu?" Tanya Ibu
"Tidak, Bu! Saya telah berpisah dengannya, tetapi ketika saya datang kembali menjemput Gita, dia malah sudah menikah dengan pria lain." Rama terlihat sedih
"Begitu ya? Ibu sangat menyayangimu. Maafkan Ibu tak bisa membantumu. Gita sangat tertutup sekali. Ia tak mau menceritakannya pada Ibu. Kau pasti sangat terluka!" Ucap Ibu.
"Tidak, Bu! Tidak apa-apa. Aku senang kalau Gita bahagia." Jawab Rama
"Apa kamu masih menyayanginya? Apa kamu ingin mengulang kisah mu dengannya?" Tanya Ibu serius.
"Hah? maksud ibu?" Rama tak mengerti.
*bersambung*
__ADS_1