
Ketika adzan subuh berkumandang, Vina tersadar. Kepalanya pusing, tetapi matanya tak ingin terpejam lagi. Perlahan, ia membuka matanya. Vina menyadari, Bau medis dan hilir mudik suster disekitar tempat Vina terbaring.
Vina tersadar. Semalam ia sedang menunggu Gilvan, tetapi kenapa ia terbaring disini sekarang? Dan, Vina melihat tangannya sedang dipegang oleh Rey. Rey? Apa Rey yang menemaninya semalam?
Vina ingin bangun, tetapi badannya masih lemas. Rey tersadar, ada gerakan dari Vina. Rey terbangun melihat Vina.
"Kamu sudah sadar.." ucap Rey yang terlihat lelah
"Kenapa kamu harus melakukan hal ini? Kenapa kamu menungguku? Kalau kamu seperti ini, membuatku merasa jadi orang yang sangat jahat, TAU!" Vina menitikkan air matanya.
"Aku tidak berpikiran seperti itu. Aku hanya tak ingin kamu sendiri." ucap Rey
"Lebih baik kamu pulang, aku tahu hatimu pasti sakit melihat aku seperti ini. Maafkan aku..." Vina menangis
"Tidak, aku sadar diriku siapa. Aku hanya ingin menolong mu dan menjagamu. Ketika kamu telah membaik, aku akan pergi."
"Jangan buat aku seperti orang jahat. Kamu membuatku seperti itu, Rey!" Vina menutup matanya
Rey memegang bahu Vina dengan lembut.
"Vin, dengarkan aku. Jangan pedulikan aku! Aku tak apa. Percayalah! Kejar cintamu, aku mendukungmu. Aku menerima apapun keputusanmu."
"Rey.." hati Vina teriris mendengar ucapan Rey
"Aku tahu kamu terluka, maafkan aku membuatmu sakit hati. Aku tak berniat mempermainkan perasaanmu, aku yang salah memberikan harapan untukmu. Maaf, Rey!" Vina mengusap air matanya
"Kamu tak perlu meminta maaf, kamu tak salah. Ucapan mu benar, kita tak perlu ada ikatan. Untungnya, aku bisa mengerti akan hal itu. Jadi, ini tak terlalu menyakitkan bagiku. Sudah, jangan menangis." Rey membantu Vina mengusap air matanya.
"Kamu kecewa padaku?" tanya Vina
"Tidak, tidak sedikitpun. Aku bahagia, karena kamu telah sadar. Kamu bisa berbicara denganku, aku sudah senang mendengarnya." jawab Rey
"Rey, tolong! Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu, kamu memang terluka!" ucap Vina
"Lalu, apa yang bisa aku perbuat? Aku tak ingin menjadi lelaki yang egois. Aku ingin kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri, Vin.
"Rey.. Jangan katakan hal itu." Vina terisak
"Berdamai lah dengan hatimu, maafkan kesalahan Gilvan. Dia masih sangat mencintaimu. Berikan lagi hatimu padanya!" Rey tersenyum
"Tapi, bagaimana denganmu? Bukankah kamu telah memberikan hatimu padaku?"
Vina menggigit bibirnya, merasa bersalah pada lelaki yang berada dihadapannya.
"Tidak usah hiraukan aku. Aku bisa mengobati masalahku sendiri. Kamu, Vin! Kamu yang terpenting saat ini." ucap Rey
"Maafkan aku..." Vina terus meminta maaf
"Sudah kukatakan, ini bukan kesalahanmu. Tak perlu merasa bersalah di hadapanku. Karena, aku tak marah sedikitpun padamu! Aku bahagia kamu bisa merasakan cintamu yang sesungguhnya." ucap rey mengusap lembut rambut Vina
"Terima kasih, kamu telah mengerti. Aku malu padamu.." Vina masih sedih..
__ADS_1
"Kita makan dulu. Semalam aku memesan makanan untukmu, ini baru sekitar 4 jam, nasinya masih bagus. Aku akan menyuapi mu." ucap Rey
"Rey, kamu tak perlu melakukan ini. Ini sungguh membuatku merasa sangat bersalah." Vina menutup wajahnya
"Sudah, jangan berpikiran aneh-aneh. Ini demi kesembuhan mu, kamu harus makan. Duduklah, agar nasinya tak jatuh mengenai bajumu."
Rey dengan tulus menyuapi Vina. Sesuap demi suap, Rey melakukannya dengan tulus. Mau bagaimanapun, Vina tetaplah seorang wanita yang lemah, Rey tak boleh membuatnya lebih terluka lagi, meskipun hati Rey seperti sedang dicabik-cabik belati.
Rey seorang lelaki. Lelaki tak boleh putus asa, ia harus kuat. Tak boleh memperlihatkan sedikitpun kesedihannya, apalagi didepan seorang wanita yang sangat ia cintai.
Apa kamu mau melihat Gilvan sekarang?" ajak Rey
Vina mengangguk. Hatinya remuk, melihat betapa tulusnya Rey membantu dan menolongnya. Vina amat merasa bersalah karena hal ini.
Rey meminta kursi roda pada perawat, karena Vina masih lemas untuk berjalan. Rey membantu Vina duduk di kursi roda. Perlahan, ia melakukannya, dengan lembut.
Dengan hati seperti diremas-remas, Rey tetap berjalan mendorong kursi roda Vina menuju ruang tempat Gilvan pasca operasi.
Terlihat, kedua orang tua Gilvan sudah berada didalam ruangan Gilvan. Vina dan Rey mengetuk pintu, lalu masuk kedalam ruangan tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu Gilvan
"Saya sedikit pusing, tante." jawab Vina
"Kemari lah, Gilvan pasti menunggu kehadiranmu." ucap Ibu Gilvan
"Kenapa dia belum sadar juga, Bu?" tanya Vina
"Kamu pacarnya?" tanya Kakak Gilvan
"Bu, bukan. Saya teman dekatnya." ucap Vina gugup
Rey mendapat pesan dari Rama agar segera menjemputnya. Rama dan Gita akan pergi ke Rumah sakit. Rey meminta izin pada semua yang ada di sana.
"Permisi, tante, Kak dan kamu juga, Vin! Tuan Rama meminta saya menjemputnya. Saya akan pergi dulu." ucap Rey sopan
"Baiklah, kamu harus hati-hati ya dijalan!" ucap Ibu Gilvan
"Tentu, Bu. Oh iya, saya titip Vina ya! Mohon, jaga dia. Dia kurang darah dan juga kekurangan cairan, saya masih khawatir dengan kondisinya. Tolong Ibu jaga dia. Saya permisi dulu.."
Rey berlalu meninggalkan tanda tanya bagi Ibu dan kakaknya Gilvan. Kenapa terdengar seperti ada cinta segitiga diantara mereka?
***
Keadaan Nakka telah berangsur membaik, karena Dokter kepercayaan keluarga Rama bukan dokter biasa. Mereka Dokter yang hebat dan handal. Karena telah membaik, Gita dan Rama memutuskan untuk pergi ke Rumah sakit, menjenguk Gilvan.
Rama meminta Rey menjemputnya. Rama tahu, kejadian yang menimpa Vina semalam. Rey menceritakannya pada Rama, itulah alasannya Rey tak pulang malam itu dan memilih menunggu Vina di Rumah sakit.
"Aku kasihan pada Rey." ucap Rama
"Mau bagaimana lagi? Ternyata, cinta itu tak bisa dibohongi." jawab Gita
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyalahkan Vina, maupun Rey. Mereka terjebak cinta yang salah." jawab Rama
"Sakit memang, tetapi apa boleh buat! Dipaksakan pun hati akan tak sanggup. Semua tergantung Vina." Gita menatap dengan tatapan sendu
"Kenapa jatuh cinta itu sulit sekali?" tanya Rama
"Karena, cinta yang sesungguhnya butuh perjuangan. Cinta yang benar-benar kita inginkan tak semudah yang dibayangkan. Itulah mengapa cinta sulit bagi kita, karena cinta menguji diri, seberapa mampu kita bertahan akan cinta itu. Mampukah kita melewati setiap rintangan demi menuju puncak cinta? Jika kita mampu, cinta akan menepi pada kita. Namun, jika tidak.. Cinta akan pergi menjauh." Gita tersenyum
"Seperti itulah cinta kita. Cinta yang sarat akan makna dan perjuangan." Rama menjawab
"Kini, teman seperjuangan kita sedang mengalaminya. Siapa yang sanggup melaluinya, ia yang akan mendapatkan cintanya." ucapan Gita membuat Rama terkesima
Lamunan mereka tersadar ketika Rey membunyikan klaksonnya. Rey sudah datang. Rama dan Gita keluar dari rumah besar dan segera bergegas masuk ke mobil.
"Lu lelah, Rey?" tanya Rama ketika dalam perjalanan
"Tidak, Bos. Gue semalem sempat istirahat." jawab Rey
"Di samping Vina?" tanya Rama
"Iya..." Rey tak tahu harus menjawab apa lagi.
"Kamu lelaki yang hebat, Rey." ucap Gita
"Terima kasih, Nona!" ucap Rey tersenyum
Gita dan Rama tak sanggup melanjutkan perbincangan dengan Rey. Baik Gita maupun Rama, tahu persis hati Rey saat ini sedang hancur berantakan. Gita tak mau menambah beban yang Rey alami.
Rey mengemudikan mobil dengan hati-hati. Terlihat jelas, wajah Rey seperti sedang memikul beban yang amat berat. Gita merasa bersalah telah menyeret Rey dalam masalah percintaan antara Vina dan Gilvan.
Mereka kini, terlibat dalam cinta segitiga yang rumit. Entah apa yang akan terjadi nanti, yang pasti semua akan terjawab ketika Gilvan sudah sadar nanti. Semoga Gilvan cepat sadar dan hal yang ditakutkan tidak terjadi.
Rama dan Gita telah sampai di Rumah sakit, mereka segera menuju ruang pasca operasi. Rey mengikuti Bosnya dari belakang.
Sesampainya didepan pintu ruangan Gilvan, mereka mendengar suara. Sepertinya, Gilvan telah siuman, terdengar tangisan bahagia dari Ibunya Gilvan dan juga Vina.
Gita dan Rama berjalan pelan di belakang, berharap keajaiban terjadi pada diri Gilvan. Seketika saja, mereka mendengar Gilvan mengatakan sesuatu.
"Istriku, mana? Gita istriku ada dimana?"
suara pertama Gilvan membuat semua yang berada di ruangan itu kaget. Kenapa Gita? Apa mungkin Gilvan benar-benar amnesia? Apa mungkin amnesia yang Gilvan alami, hanya mengingat memori singkat yang amat membekas dihatinya. Bagaimana ini?
*Bersambung*
Please, setelah membaca klik like ya say..
Apalagi, kalau kalian bersedia komentar. Aku dengan senang hati membalasnya ❤
Hatiku sakit nulis kelanjutan cerita ini 😭😭😭
Tolong jangan pada ngambek atau ngamuk kalau jalan ceritanya tidak sesuai yang diharapkan ya. Aku masih buat terus jalan ceritanya sampai selesai kok.. Ini akan happy ending, tetap ikuti ya meski hati sakit 🙏😭
__ADS_1