Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Berdua denganmu


__ADS_3

Gita dan Rama terlihat kikuk ketika mereka bertemu. Akhirnya Gita mengajak Kak Rama duduk di bawah rindang pepohonan.


"Gak sangka saya bisa bertemu Pak Rama disini." Ujar Gita sambil menyeruput minumannya.


"Emang sekarang gue bos lu apa? Panggil gue Rama, ini kan bukan dikantor" Tanya Rama ketus.


"Maaf, tapi rasanya tidak sopan, Pak. Eh, Kak Rama." Ujar Gita.


"Lu kok sendirian? Dimas mana?" tanya Rama.


"E..ee.. itu Kak Dimas lagi gak enak badan katanya. Jadi aku olahraga sendiri. Kak Rama juga kenapa sendiri? Tunangan Kakak mana? Tanya Gita balik


" Siska gak mungkin mau gue ajak lari pagi. Jam segini dia pasti masih tidur. Makanya gue sendiri." Ucap Rama.


*Oh, jadi nama tunangannya kak Rama itu Siska. Nama yang cantik, begitupun orangnya.


"K*ak Rama beruntung banget. Selain Kak Siska itu cantik, dia juga terlihat pintar." Puji Gita


"Tahu darimana kalau dia pintar? Memangnya lu udah kenal sama dia? Sok tahu banget jadi orang." Rama kesal.


Salah lagi. Kenapa sih selalu saja serba salah menghadapinya? Bukannya senang tunangannya aku puji malah mengataiku sok tahu. huft. sabarrrrrrr...


"Memang kelihatan kok dari cara dia bicara, menurutku dia orang yang pintar. Kak Rama pasti sangat menyayanginya."Ucap Gita.


" Emang gak ada bahasan lain? Kenapa lu bahas dia terus sih?" geram Rama


"Eh, iya maaf kak. Aku bingung mau nanya apa hehe"


Kenapa dia sewot begitu sih kalau bahas tunangannya? lalu aku harus bahas apa? tahukah kau Kak, aku canggung berada didekatmu. Aku bingung harus membahas obrolan apa agar terlihat nyaman ketika bersamamu. Tak mungkin kan aku membahas perasaanku padanya. Bisa mati berdiri aku kalo Kak Rama tahu. Gumam Gita


"Kamu dulu kuliah dimana?" Tanya Rama


"Aku kuliah di UNPAR kak. Ambil jurusan akuntansi." Jelas Gita.


"Kenapa kamu bisa kerja di perusahaan Kakekku?" Tanya Rama (2)


"Aku mencari info loker di surat kabar. disitu tertulis kalau Angkasa Putra Grup sedang membutuhkan Staff Accounting, dan aku rasa bidang itu cocok dengan jurusanku. Aku mencoba saja melamar dan ternyata aku berhasil" Ungkap Gita senang


"Sejak kapan kamu sama Dimas pacaran?" Tanya Rama (3)


Kenapa dia bertanya hal gila macam ini. Aku harus jawab apa? Jelas-jelas aku dan Kak Dimas tak ada hubungan apa-apa. Tapi aku tak mau berbohong kepadanya. Kenapa Kak Dimas malah membuat semuanya jadi rumit sih.


"Belum lama kak" jawab Gita asal.


"Kamu sayang sama Dimas?" Tanya Rama (4)


"Mm, Kak.. Kenapa kita bahas hal kayak gini sih? Aku bingung jawabnya."


"Tinggal jawab aja kok repot."


"Aku gak tahu harus jawab apa. Kak, aku lapar. Kayaknya aku mau pulang aja deh. Perutku sudah berbunyi terus." Jawab Gita mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Yaudah, kalo begitu ayok. Ikut gue!" Pinta Ramba sambil beranjak dari duduknya.


"Maksudnya kak?"


"Lu lapar kan? Ayo kita makan!" Ajak Rama lagi.


*Dia mengajakku makan? Kenapa alasanku justru malah memperkeruh keadaan? Aku hanya ingin menyudahi pembicaraan ini.


"Tapi, kak. Aku harus..." cegah Gita*.


"Lu nolak ajakan gue lagi?" ancam Rama


"Maaf kak. Iya, aku mau" Jawab Gita pasrah.


Dia benar-benar orang yang kejam. Bisa-bisanya memaksaku begitu. Dasar laki-laki angkuh. Tapi kenapa melihat dia marah seperti itu membuatku tersipu? Aku merasa dia memperhatikanku. OhMyGod, gak mungkin banget Git, gak mungkin. Halu tuh jangan kejauhan napaaaa. gerutu Gita dalam hati.


Kukira dia berolahraga dengan jalan kaki. Ternyata dia menggunakan motor. Olahraga macam apa itu? Kalo naik motor, bukan olahraga namanya, tapi jalan-jalan. hiyaaaaa. Ledek Gita dalam hati.


Gita pun naik motor bersama Rama. Gita sangat gugup. Belum pernah ia dan Rama sedekat ini. Hatinya berdebar tak karuan. Ternyata Rama pun mengalami hal yang sama. Hatinya seperti mau meledak. Duduk berdua satu motor dengan Gita membuat perasaannya tak karuan. Tapi mereka saling menutupi perasaan masing-masing, mengapa ego lebih mengalahkan segalanya.


Rama mengajak Gita makan di warung nasi khas sunda. Gita pun menyukai tempat makan ini.


Untung kak Rama ngajak makan disini, harganya tak terlalu mahal. Aku bisa membeli nasi kuning atau nasi uduk. Gumam Gita.


"Ayo pesen. Lu mau makan apa?" Tanya Rama datar


"Aku mau nasi uduk pake telor balado aja kak. Menu sarapan yang simpel tapi tetep enak hehe" Pinta Gita.


"Yaudah. Mbak, nasi uduk telor balado nya dua ya!" Ucap Rama kepada pelayan.


"Enak gak?" Tanya Rama.


"Enak banget kak, aku pasti bakal ketagihan makan disini." Jawab Gita.


"Yaudah, nanti kita makan disini lagi." Ucap Rama santai.


What the? What is the meaning of "Yaudah, nanti kita makan disini lagi". KITA? Berarti aku dan Kamu dong. Maksudnya? Kak Rama bakal makan disini lagi sama aku, gitu? Apa aku bermimpi? Tolong bangunkan aku dari mimpi indah ini. Aku tak sanggup menghadapi kenyataan kalau ternyata ini hanya mimpi. Gita mencubit pipinya.


" Aww.. Sakit" Jerit Gita.


"Kamu kenapa?" Tanya Rama


"Gak apa-apa kok Pak, Ehh Kak, maksudku" Jawab Gita kikuk.


Gita tidak bermimpi. ini nyata, ini bukan khayalannya. Bersikap positiflah. Mungkin Rama berkata seperti itu hanya basa-basi saja. Jangan terlalu dibawa perasaan, terserah apapun yang akan dikatakan Kak Rama. Asalkan hatiku tidak goyah.


Gita dan Rama telah selesai makan. Gita mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribu dengan maksud untuk membayar makanan yang ia makan barusan.


"Mau ngapain?" Tanya Rama aneh.


"Mau bayar nasi uduk barusan kak"

__ADS_1


"Lu pikir gue gak mampu bayarin nasi uduk dua porsi? Lu ngerendahin gue banget ya!" Rama kesal.


"Bu..bukan begitu Kak. Tapi, aku malu, masa aku yang makan, tapi Kak Rama yang bayar."


"Aku yang mengajakmu makan, berarti aku yang akan membayar makananmu."


"Baiklah, kak. terimakasih"


*Ini orang satu kenapa sih kayak roller coaster? Sifatnya berubah-ubah. Kenapa juga dia marah? Aku kan hanya ingin membayar makananku. Tadi, dia sangat manis. Barusan, dia sewot lagi. Heran sekali aku dengan sikap Kak Rama.


"Terimakasih banyak ya kak. Berkat kak Rama olahraga pagi ku kali ini menyenangkan sekali."


"Lu seneng deket sama gue?" Selidik Rama.


"Ehhhhh, bukan begitu maksudnya kak. Aku jadi gak sendirian, jadi ada temen ngobrolnya gitu." Jawabku kikuk


*Kenapa setiap pertanyaan yang ia lontarkan padaku membuatku canggung? Kenapa dia senang sekali memberiku pertanyaan menggelitik seperti itu.


"Tapi gue seneng jalan sama lu." Ucap Rama*.


"Hahhh? maksud Kak Rama?" Tanya Gita tak percaya.


"Yaa, gue seneng jalan sama lu. Orangnya terlalu polos, gue jadi seneng ngerjain lu. hahahaaaa" Tertawa puas.


Cihh, sialan. Khayalanku sudah melayang kemana-mana. Ku pikir ia benar-benar senang jalan denganku, ternyata hanya senang mengerjaiku saja. Dasar lelaki tak berperasaan. Kalau aku yang mengerjaimu, apa kau akan sanggup?


"Terimakasih atas semuanya Kak. Kalau begitu, aku pamit pulang ya." Ujar Gita.


"Pulanglah bersamaku, aku akan mengantarmu!" Ucap Rama


"Terimakasih kak, tapi kurasa itu tidak perlu. Karena jarak rumahku tidak terlalu jauh dari sini." Mohon Gita dengan sangat


"Kau menolakku lagi?"


"Tidak kak, aku tidak menolak, aku hanya menjelaskan saja."


" Kalau begitu, naiklah ke motorku."


Tak ada pilihan lain selain mengalah. Berdebat dengan Rama tak akan pernah menang sekalipun. Akhirnya aku diantar lagi pulang olehnya.


"Pegang saja pinggangku, tidak apa-apa. Ini demi keamanan juga."


"Ba..baik Kak." Gita malu.


Seerrrrrrr.. Rasanya jantungku mau copot ketika aku memegang pinggangnya. Hangat dan sangat nyaman sekali. Sejujurnya, Inginku sandarkan kepalaku dibahu bidangnya itu. Tapi aku sadar, aku ini siapa? Mengapa aku sangat nyaman berada didekatnya? Aku telah lancang. Aku malu kalau tunangan Rama melihat kami berdua. Akan habis aku dimaki-maki. Kenapa aku begitu menikmatinya? Aku memang menyukainya, tetapi jika dia sudah bertunangan, aku bisa apa? Gita berfikir.


Gita mencoba melepaskan tanganya dengan perlahan dari pinggang Rama, karena ia mulai tidak nyaman. Tetapi.......


"Jangan dilepas, biarkan tanganmu disini saja. Aku sangat nyaman!" Ucap Rama sambil tangan kirinya memegang tangan Gita dan menempelkan lagi tangan Gita dipinggangnya.


*Bersambung*

__ADS_1


Jujur, rasanya kalau Author jadi Gita mau pingsan. Beneran deh. 🤣😋 Aku belum nemu visual yang cocok. semoga secepatnya aku nemuin visual untuk Gita dan Rama.


thanks.


__ADS_2