
...🌼Walaupun terlihat tak indah,...
...Tapi aku akan tetap mencoba...
...Mengindahkan semuanya...
...Hatinya, yang keras...
...Membuat aku kesulitan....
...Namun teruslah tersenyum...
...Yakinlah suatu hari nanti...
...Kisah indah kan jua bersemi...
...Diantara dua insan...
...Memadu kasih sepanjang masa🌼...
Raina memang sedang bersama teman-temannya, Fadli bisa memastikan, saat Raina dan teman-temannya keluar dari mobil. Mereka bertiga, semuanya wanita. Fadli tersenyum, ternyata Raina tak membohonginya.
Fadli berniat untuk pulang ke rumah Raina, namun Fadli merasa perutnya belum terisi makanan sama sekali. Ia lapar, belum memakan apa-apa lagi, hanya sarapan saat akan mengantarkan Raina ke kampus.
Fadli akhirnya turun dari mobil, dan berniat mencari makanan di pinggiran jalan dekat cafe, agar tak terlihat oleh Raina. Fadli memutuskan untuk makan bakso malang.
"Mang, 1 porsi ya, campur aja."
"Siap, Den."
Fadli sedang menunggu, kemudian matanya tertuju pada lelaki yang sedang mengendarai motor menuju parkiran cafe. Sepertinya, Fadli mengenali lelaki itu. Dan benar saja, ketika lelaki itu turun dari motornya, bersama temannya yang menyusul dari belakang, akhirnya Fadli bisa melihat jelas, bahwa lelaki itu adalah lelaki yang Fadli temukan saat Raina di diskotik dalam keadaan mabuk.
Kenapa dia datang ke cafe ini? Apa mungkin dia kesini akan menemui Raina? Apa dia dan Raina masih memiliki hubungan yang spesial? Kenapa perasaanku jadi seperti ini? Ingatlah, Fadli! Pernikahanmu dan Raina hanya sebatas kertas yang menguatkannya, Raina tak menaruh cintanya padaku, dia masih berhubungan dengan lelaki itu. Biarlah, yang penting laki-laki itu tak berbuat macam-macam.
Fadli membiarkan mereka, karena baksonya sudah siap, ia memutuskan untuk makan dahulu sebelum memperhatikan mereka. Raina dan teman-temannya memang sengaja mengajak Bayu kesini. Apalagi Reno, teman Bayu adalah pacar barunya Diska, hanya Audrey yang belum mempunyai kekasih.
"Baby, udah datang kamu!" Raina sumringah ketika Bayu dan Reno datang.
"Of, course darling. Kamu udah nunggu lama?" tanya Bayu.
Bayu segera memeluk Raina. Audrey yang melihat pelukan itu, merasa tak nyaman sekali.
"Rai, malu-maluin tahu gak pelak-peluk didepan umum! Norak banget lu!" ucap Audrey.
"Yaelah, Dey! Namanya juga gue kangen sama Bayu, baper banget sih lu! Makanya, cari pacar dong!" balas Raina.
"Eh, eh, sudah jangan berisik. Aku lapar, ayo kita pesan saja. Dey, kamu jangan merasa tersisihkan ya karena kita couple-an, kamu juga tetep bagian dari kita kok!" Bayu membela Audrey.
Audrey tak menjawab. Raina dan yang lainnya segera memesan makanan, karena mereka memang akan makan malam bersama. Terdengar alunan live musik yang telah disediakan oleh cafe tersebut, membuat suasana romantis antara Raina dan Bayu makin kentara.
Mereka semua menikmati hidangan sambil sesekali bercanda dan berbincang bersama. Kembali lagi pada Fadli yang menunggu Raina diluar parkiran. Fadli melihat, mereka tak melakukan hal-hal yang aneh. Walaupun Fadli sangat ngantuk, ia tetap menunggu Raina.
Adzan Maghrib pun telah berkumandang, dengan sigap Fadli segera menuju mushola di cafe tersebut. Ia menunaikan kewajibannya sebagai muslim, untuk menghadap sang kuasa, bersujud di hadapanNya, dan meminta kepadanya.
Tak terasa, waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam, Fadli yang berada didalam mobil, segera menghubungi Raina. Fadli ingin, Raina segera pulang.
📱Istri Jutek-ku memanggil...
[Halo, siapa?]
Loh, kok siapa sih? Apa dia belum menyimpan nomorku? Batin Fadli.
[Ini aku, sekarang sudah hampir jam tujuh. Ayo kita pulang.]
[Nanti aja, jam 8 deh! Pergi kemana saja dulu kamu, nanti jam 8 balik lagi.]
Tut.. Tut.. Tut..
Raina menutup teleponnya, sebelum Fadli membalas ucapannya. Fadli menghela nafas, ia benar-benar kesal. Fadli memencet lagi nomor handphone Raina. Fadli akan terus menghubungi Raina.
Raina melihat handphonenya bergetar lagi. Kontak tak ada namanya, tapi Raina sadar, bahwa itu adalah Fadli.
"Siapa yang nelepon Baby?" tanya Bayu.
"I-itu, supir pribadi aku, bawel banget. Nyuruh pulang terus."
"Biarkan saja, kita kan masih seru disini."
"Iya, baby."
Fadli rese, ngapain neleponin terus. Kontaknya harus aku save, kalau aku gak save dia, nanti aku gak sadar malah diangkat lagi teleponnya.
Raina mengetik kontak Fadli dengan nama,
"Makhluk Rese"
Awas saja kalau dia nelepon lagi. Aku gak akan pernah mau angkat teleponnya. Dasar laki-laki bawel, udah kayak Kak Rama aja sifatnya dia! Batin Raina.
Fadli terus menghubungi Raina, namun tetap tak diangkat oleh Raina. Entah sudah berapa puluh kali Fadli meneleponnya, namun tetap tak ada respon dari Raina. Fadli melihat, Raina malah ketawa-ketawa bersama teman-temannya, sehingga telepon Fadli ia abaikan.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Raina masih saja mengabaikan telepon dari Fadli. Fadli sudah tak bisa mentoleransi lagi perbuatan Raina.
__ADS_1
Sebenarnya, terserah Raina saja dia mau melakukan apapun juga, tapi karena Fadli harus bertanggung jawab padanya, Fadli tak bisa membiarkan Raina begitu saja.
Terserah kamu saja, Raina. Aku tak peduli apapun yang kamu lakukan, aku hanya menjalankan tugasku sebagai suami yang bertanggung jawab pada istrinya.
Fadli melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya. Ia segera masuk kedalam cafe tersebut. Fadli tak peduli jika Raina harus marah-marah padanya didepan umum, karena yang Fadli pedulikan adalah tanggung jawabnya pada Raina. Fadli harus segera membawa Raina pulang ke rumah.
"Ini sudah jam delapan. Ayo kita pulang." ucap Fadli mengagetkan Raina.
"Eh, kamu kok lancang banget sih malah berani nyamperin aku kayak gini." Raina kaget bercampur kesal.
"Pak Rama sudah menunggu. Kamu harus segera pulang sekarang juga. Sudah tak ada lagi waktu untuk bermain-main, ini waktunya pulang."
Mata Raina melotot. Ia benar-benar marah. Tak menyangka Fadli akan se-berani ini padanya.
"Baby, ini memang sudah malam. Kakakmu pasti khawatir padamu. Pulanglah bersama supir mu, jangan buat kakakmu marah. Guys, kita juga pulang sekarang ya."
"Oke, Bro."
"Baik." ucap Diska.
"Baiklah kalau kalian juga mau pulang. Ya sudah, aku duluan ya. Baby, aku pulang sekarang, take care ya! I love u so much." Raina memeluk Bayu didepan Fadli.
Raina sengaja memeluk Bayu didepan Fadli, agar Fadli cemburu. Namun, Fadli tetap terlihat biasa saja. Masa bodoh dengan perilaku Raina, yang Fadli inginkan adalah Raina segera pulang ke rumahnya.
***
Didalam mobil.
"Kamu kenapa lancang banget sih HAH?"
"Aku sudah memberimu waktu satu jam. Tapi, kamu tetap saja kan berleha-leha dan santai. Ini sudah malam, aku harus beralasan apa pada keluargamu? Jangan buat aku bimbang Raina. Aku bertanggung jawab menjaga dan melindungi kamu, kalau terjadi sesuatu padamu, yang akan disalahkan siapa? Pastinya aku! Kumohon, kamu mengerti dan pahami aku." Fadli kesal.
"Terserahlah!" Raina malas.
Diperjalanan, Raina teringat, bahwa ia kehabisan masker matcha-nya. Ia tak akan bisa tidur kalau ia tak memakai maskernya.
"Fad, tolong jangan dulu pulang. Aku mau beli masker dulu. Aku lupa, masker ku habis. Ayo, antar aku ke Mall didekat sini." pinta Raina.
"Tuh kan, kalau saja pulangnya dari tadi, mungkin gak akan terlalu malam seperti ini." keluh Fadli.
"Kamu bawel banget sih jadi orang!"
"Aku bukannya bawel, aku cuma bingung harus jawab apa sama keluarga kamu!" Fadli kesal.
"Kamu kan sama aku sekarang, bilang aja kita lagi jalan-jalan. Apa susahnya sih!" ucap Raina.
"Cih, jalan-jalan?"
"Enggak, cuma lucu aja alasanmu."
Mereka sudah sampai di Mall. Fadli membelokkan mobilnya ke tempat parkir di area Mall.
"Jangan lama-lama, ini sudah malam." ucap Fadli.
"Kamu gak ikut turun?" tanya Raina.
"Enggak, buat apa. Aku tunggu disini saja." jawab Fadli.
Raina mendelik kan matanya pada Fadli.
"Kenapa?" tanya Fadli.
"Sama pelayan itu kamu mau mengantar dia ke toko kecantikan, sama istrimu sendiri, kamu malah acuh! Huh, masa bodoh lah."
Raina akan membuka pintu mobilnya, namun Fadli lagi-lagi menahan tangan Raina, hingga Raina kaget, sudah beberapa kali Fadli memegang tangannya.
"Apa sih? Lepas!" Raina kesal.
"Kalau kamu mau aku ikut turun, mintalah baik-baik, jangan jutek dan ketus terus seperti itu. Aku gak pernah ya marah-marah sama kamu, berbaik hatilah padaku, Raina." ucap Fadli.
"Mau ikut mau enggak, terserah. Aku gak peduli." ucap Raina.
Raina akan membuka pintu mobilnya kembali, namun Fadli masih menahan tangannya.
"Fadli, lepas! Kamu keterlaluan tahu enggak!"
"Tunggu dulu, jawab dulu pertanyaan ku." ucap Fadli.
"Ya lepas dulu! Sakit tahu. Apaan sih?"
Fadli melepaskan genggamannya pada tangan Raina. Ada satu hal yang Fadli tak mengerti.
"Kamu tahu darimana aku pernah mengantar Ara ke toko kecantikan? Seingatku, aku tak pernah membicarakan itu padamu." ucap Fadli.
Raina terdiam. Ia keceplosan, ia benar-benar lupa, bahwa Fadli tak tahu kehadirannya saat itu. Raina melihat Fadli, bahkan Fadli memilihkan lipstik untuk Ara. Raina benar-benar malu kalau sampai Fadli tahu, ia melihat Fadli di Mall kala itu.
"Ehm, eh, a-aku, aku gak tahu. Tahu, ah! Udah, katanya aku jangan lama-lama, tapi kamu sendiri malah banyak bicara. Aku pergi." Raina keluar dari mobil, saking gugup dan malu.
"Tunggu, aku ikut." Fadli tutur keluar dari mobil, dan berjalan mengikuti Raina dari belakang.
Fadli heran, kenapa Raina malah tahu bahwa dirinya pernah pergi ke toko kecantikan bersama Ara. Fadli berpikir, dan menerka-nerka, tentang kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
Apa mungkin saat itu dia melihatku? Apa mungkin selama ini dia memata-mataiku? Apa mungkin, dia memang tak sengaja kebetulan melihat aku? Kenapa dia tak menyapaku kalau dia melihatku? Dasar wanita aneh. Batin Fadli.
Raina memilih-milih masker favoritnya. Ia suka membeli masker sekali pakai, karena dingin dan lentur di kulitnya yang mulus.
Fadli memang orang yang paling menikmati. Dimana pun dan kapanpun ia berada, ia tak pernah kesal atau bosan. Ia melihat-lihat, matanya tertuju pada bando di atas etalase toko. Ia mengambil bando berwarna pink yang cantik. Ia memang suka memilihkan barang-barang untuk siapapun yang sedang jalan bersamanya.
"Bando ini, cocok untuk kamu. Apa kamu mau memakainya?" tanya Fadli
"Apa kamu memang suka memilihkan sesuatu untuk siapa saja?" ledek Raina.
"Daripada jenuh, lebih baik aku mencari-cari barang yang cocok untuk pasanganku." ucap Fadli.
"Pasanganmu?" Raina mengernyitkan dahinya.
"Maksudku orang yang sedang bersamaku, siapapun itu." jelas Fadli.
"Oh."
"Mau gak bando nya? Aku gak bisa belikan kamu barang yang mahal, menurutku ini bagus dan cocok untukmu."
"Aku mau, asalkan ada syaratnya." tegas Raina.
"Apa syaratnya?" tanya Fadli.
"Jangan memberikan barang pilihanmu pada orang lain lagi. Aku gak suka." ucap Raina pelan.
Terdengar nada cemburu, saat Raina mengucapkan hal itu. Ia memang cemburu, saat Fadli memberikan lipstik pada Raina, namun Raina tak bisa berbuat apa-apa. Ego pada dirinya, mengalahkan segalanya.
"Baiklah, aku hanya akan memilihkan untukmu. Bawalah ini, biar aku yang membayar semuanya." ucap Fadli.
"Aku juga mampu membayar semuanya. Aku anak orang kaya, jangan merendahkan aku. Kamu kira, aku gak bisa bayar apa?" Raina kesal.
"Bukan begitu. Kamu pasti mampu membayar semuanya. Aku, aku hanya berusaha bertanggung jawab sebagai laki-laki, sebagai suami, maaf jika aku lancang. Aku ibarat suami yang membiayai istrinya, walaupun ini terkesan lelucon, tapi terima saja, aku bisa membiayai kamu, kok." jelas Fadli.
"Terima kasih."
Hanya itu yang keluar dari mulut Raina. Raina tak bisa berkata apa-apa. Ternyata, Fadli orang yang hangat dan pengertian. Akhirnya, mereka pun selesai belanja. Fadli memutuskan untuk mengajak Raina pulang, karena hari sudah semakin larut.
Fadli dan Raina sudah berada didalam mobil. Ketika Fadli akan mengemudikan mobilnya, Raina menahannya.
"Tunggu!" ucap Raina.
"Kenapa?"
"Bukankah itu Bayu sama Audrey? Kenapa mereka turun dari motor berdua? Kenapa mereka terlihat romantis? Apa? Lihat itu! Ke-kenapa, kenapa Bayu melingkarkan tangannya di pinggang Audrey? Kenapa Bayu tiba-tiba mencium kening Audrey? Apa maksudnya semua ini?" air mata Raina mengalir dengan sendirinya,
Fadli menatap Raina. Ia kemudian melihat sosok laki-laki dan perempuan yang terlihat sangat mesra. Fadli ingat, laki-laki itu adalah pacar Raina, dan wanita itu adalah teman Raina yang tadi berada di cafe.
"Ada apa? Kenapa mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Bukannya itu pacar kamu?" tanya Fadli.
"Aku gak tahu, kenapa mereka terlihat romantis seperti itu. Aku harus memastikan ini pada Diska. Karena Diska bilang, ia akan pulang bersama Audrey."
Raina segera keluar dari mobil. Ia melihat Bayu dan Audrey masuk kedalam Mall dengan mesra. Terlihat, Bayu mengusap-usap rambut Audrey dan mengecupnya berkali-kali, layaknya pasangan kekasih.
Fadli yang sudah berada dibelakang Raina, telah memotret hal itu. Fadli iseng saja, bilamana nanti akan digunakan Raina. Fadli memotret Bayu dan Audrey dengan jelas, walau bisa memotret dari pinggir saja.
Raina membuka handphonenya, ia segera menelepon Diska. Raina harus memastikan hal ini. Ada apa sebenarnya antara Audrey dan Raina.
[Diska, kamu dimana?]
[Di rumah, emangnya kenapa?]
[Tadi, Udey pulang bareng kamu gak?]
[Awalnya mau pulang bareng aku, tapi tadi dia bilang, mau pulang bareng sama cowoknya. Kata dia, dia juga sebenarnya punya cowok, cuma belum mau mempublikasikan pada kita. Ya udah, aku tinggal pulang aja, setelah aku juga pamit pada Reno dan Bayu.]
[Apa kamu lihat, Bayu pergi?]
[Tadi, setelah aku masuk mobil, hanya Reno yang mengikuti aku dari belakang, Bayu sepertinya masih di cafe. Mungkin sekarang masih dijalan. Bayu gak ada ngabarin kamu apa?]
[Enggak, kok. Ya udah, thanks ya! Maaf sudah ganggu waktu kamu.]
[No problemo, honey.]
Raina menjatuhkan handphonenya dengan refleks. Fadli segera mengambil handphone Raina yang jatuh. Raina menangis. Ia menangis tersedu-sedu dan bersandar pada mobil Fadli. Raina hancur, ia ditusuk dari belakang oleh Audrey.
Walaupun kini Raina sudah menikah, tapi teman-temannya tak ada yang tahu, ia tetap berhubungan dengan Bayu, kekasihnya. Raina tak menyangka Bayu dan Audrey bermain api dibelakangnya.
Niat hati ingin serius pada Bayu, namun rasanya Raina kini menyerah. Hatinya hancur, sahabat dan kekasihnya benar-benar membuatnya terluka. Fadli yang melihat Raina menangis, jadi tak tega.
Bukan tak mau menenangkan Raina, namun Fadli juga bingung. Ia memang suaminya, tapi ia tak ada dihatinya. Fadli tak berhak marah pada perasaan Raina saat ini. Fadli mendekati Raina, ia menepuk-nepuk pundak Raina dengan lembut dan halus.
"Rain, sudah. Jangan ditangisi. Biarkan mereka, kini kamu tahu siapa mereka kan? Sini, jika kamu butuh sandaran untuk menangis, dadaku bisa menjadi solusinya. Menangis lah di dekatku, agar aku bisa meringankan beban mu."
Raina membalikan tubuhnya, ia memeluk Fadli tanpa sadar. Ia memang sedih, ia benar-benar terpuruk melihat kejadian yang menimpanya saat ini.
"Maaf, aku sangat sedih sekali. Maafkan aku memelukmu. Aku benar-benar butuh sandaran untuk meluapkan rasa sakit ku." Raina tetap menangis di pelukan Fadli.
"Kapanpun dan di manapun, aku bersedia menjadi sandaran untukmu. Menangis lah di pelukanku, luapkan semua rasa sakit mu. Jika menangis bisa membuatmu tenang, menangis lah sampai kamu tenang. Jika menyakiti aku, bisa membuat kamu lega, sakiti lah aku, aku rela, asalkan hatimu tak sakit lagi." Fadli mengusap lembut rambut Raina.
*Bersambung*
__ADS_1