Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Cie, Vina.


__ADS_3

Rama telah masuk kedalam ruang kerjanya, karena ia mendapat telepon dari rekan bisnisnya. Ia telah mempersilahkan Fadli untuk pulang. Kini, hanya tersisa Fadli dan Raina yang sedang terduduk kaku di sofa ruang tamu tersebut.


"Eh, baiklah kalau begitu. Aku pamit, akan membawa souvenir ini. Aku permisi, Raina." ucap Fadli ramah.


"Ya." jawab Raina tanpa memperhatikan Fadli.


Fadli berjalan menuju pintu rumah Rama. Ia tak sadar Raina mengikutinya dari belakang, seakan Raina akan mengantarkan Fadli pulang ke depan rumahnya. Ketika membuka pintu, Fadli tersadar bahwa Raina ada dibelakangnya.


"Eh, Raina. Kamu mau nganterin aku ke depan?" tanya Fadli


"Hah? Eh! Apaan kamu bilang?" Raina kikuk.


Loh? Kok aku malah ngikutin dia sih? Idih, apaan, parah banget emang si Raina. Batin Raina.


"Kamu, kamu dibelakang aku kan? Mau nganterin aku ke depan?" tanya Fadli.


"Haish! Jangan geer deh kamu, Fad. Siapa juga yang mau nganterin kamu! Kamu tahu kan? Sebelum aku berbincang dengan kamu, aku duduk di teras depan. IYA KAN FADLI? So, jangan geer deh kamu!" Raina lega.


"Oh, iya juga ya. Aku lupa. Ya sudah, kalau begitu, aku pamit ya Rai, Assalamualaikum." ucap Fadli.


"Ya," jawab Raina.


Seketika, Fadli refleks terhenti. Tak melanjutkan langkahnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Raina.


"Raina, aku tadi mengucapkan salam kan sama kamu? Sebenci apapun kamu sama aku, kalau aku mengucapkan salam, kamu tetap harus menjawabnya, karena menjawab salam itu wajib bagi umat muslim kayak kita. Kamu boleh tak menganggap ku, tapi kamu tak boleh mengabaikan salam ku." jelas Fadli.


"Malah ceramah lagi. Iya, iya, Waalaikumsalam, Fadli. Silahkan, pintu terbuka lebar untukmu, silahkan segera pergi dan segera pulang. Ngapain masih disini aja? Udah, cepet pulang sana!!" Raina kesal.


"Baik, maafkan aku." Fadli berlalu.


Raina kesal dengan Fadli yang sok suci. Rasanya jengah sekali, jika Fadli setiap hari akan bersama Raina, pasti Fadli berceramah terus-menerus seperti tadi, dan itu tentu saja membuat Raina tak nyaman.


Wanita itu, kenapa kasar sekali? Wajahnya sangat cantik dan lucu, kenapa sifatnya tak secantik wajahnya? Sangat disayangkan, wanita seperti Raina harus seperti ini. Kasihan sekali Pak Rama dan Mbak Gita, pasti sering kesal pada Raina. Semoga saja, suatu hari nanti, aku bisa merubahnya. Gumam Fadli dalam hati.


...***...

__ADS_1


H-1 Pernikahan Vina & Gilvan.


Vina sedang di rumahnya bersama Gita. Vina telah mengambil cuti, dan Gita pun sengaja meliburkan diri untuk menemani Vina. Gita masih tak menyangka, Vina bisa menemukan cintanya bersama Gilvan.


"Aku seneng banget, Vin. Akhirnya kamu bersama Gilvan. Dua orang yang sama-sama berhati malaikat." Gita tersenyum.


"Makasih banyak, Git. Semua ini berkat kamu dan Rama juga. Karena kalian, aku bisa bersatu lagi dengan Gilvan. Kalian yang telah berjasa dan membuat aku sadar, bahwa aku harus kembali padanya. Terima kasih." Vina memeluk Gita.


"Oh, iya Vin? Andra gimana? Apa kabarnya dia?" tanya Gita penasaran.


"Aku gak tahu dia gimana sekarang, selagi kerja dia gak pernah ngobrol atau sekedar menyapa padaku. Mungkin dia marah sekaligus malu. Biarkan saja dia, yang penting dia tak mengganggu kebahagiaanku lagi." jelas Vina.


"Iya, lelaki mata keranjang seperti Andra memang harus dimusnahkan." ucap Gita.


"Tentu saja, untung saja aku belum terlalu jatuh padanya saat itu." imbuh Vina.


Gita mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Gita memberikannya pada Vina.


"Ini kado pernikahanmu, Vin. Dariku, untukmu." Gita tersenyum.


"Ya ampun, apa ini Git? Thank's banget! Padahal aku gak mengharapkannya sama sekali. Kamu sudah terlalu baik padaku." jawab Vina.


Vina membuka satu-satu hadiah yang diberikan Gita pada dirinya. Bukan barang murah, dan bukan barang lokal. Semuanya import, harganya pasti mencapai puluhan juta. Berlian untuk Vina dan Givia, masing-masing satu, dan jam tangan mewah yang diberikan untuk Gilvan.


"Ya ampun, kenapa harus semuanya dikasih sih Git? Kan satu aja cukup, kamu ngerepotin banget sih! Aku jadi malu sama kamu." ucap Vina.


"Gak apa-apa sayangku, ini kenang-kenangan dari aku untuk kamu. Pakai dihari pernikahan kalian ya. Pasti sangat indah dan cantik." jelas Gita.


"Pastinya, Git. Kapan lagi aku dapet hadiah mewah dan mahal kayak gini." Vina nyengir kuda.


"Itu gak seberapa kok, kamu terlalu berlebihan deh, Vin. Oh iya, Raina dan Fadli juga akan segera menikah. Karena Mama dan Papa mertuaku akan stay di Rusia, jadi mereka menginginkan agar Raina segera menikah. Agar mereka tak khawatir pada Raina, agar Raina ada yang melindunginya. Sepertinya, tak lama dari pernikahan kalian." jelas Gita.


"Apa? Serius kamu? Masa sih? Kenapa secepat ini?" tanya Vina.


"Memangnya kenapa?" Gita tak mengerti.


"Gilvan bilang sama aku, kalau si Fadli kayaknya menyukai salah satu pelayan yang ada di restonya juga." ucap Vina.

__ADS_1


"Nah, itu dia. Aku dan Mas Rama tak mau, kalau Fadli akan jatuh cinta pada wanita lain. Makanya, lebih cepat lebih baik mereka menikah, agar mereka bisa saling dekat dan saling mencintai. Agar tak ada ruang untuk Fadli maupun Raina mencari-cari pasangan lain." ucap Gita.


"Kalau aku mendengar kata 'perjodohan' kesannya kejam sekali ya, tapi entah kenapa, melihat Raina dan Fadli yang akan dijodohkan, aku malah senang. Aku malah mengira mereka pasangan yang cocok. Aku suka dengan mereka berdua." jelas Vina.


"Aku pun berpikir begitu, Vin. Perjodohan kali ini beda, aku tak menemukan kejanggalan pada diri Fadli. Dia lelaki yang baik dan sopan. Asal-usul keluarganya pun aku tahu, asisten Rama telah memberikan data-data Fadli. Aku melihatnya dan aku yakin, Fadli yang terbaik untuk Raina. Ya, meskipun Raina kurang baik untuk Fadli. Tapi, aku tetap berharap, kalau Raina akan menjadi wanita yang lebih baik dan bisa membahagiakan Fadli." ucap Gita.


"Tentu saja, semoga saja Fadli bisa merubah Raina menjadi wanita yang baik."


"Amin, semoga saja. Oh iya, itu juga berlaku buat kehidupan kamu sama Gilvan ya. Semoga, hari esok acara pernikahanmu lancar dan bahagia." jawab Gita.


"Amin, terima kasih banyak, Gita. Aku deg-degan ini. Aku rasanya belum siap menikah. Ini kali pertama bagiku." ucap Vina.


"Tentu saja. Tapi, kalau malam pertama, kamu pernah merasakannya, iya kan? Ngaku! Hahaha." Gita tertawa.


"Sssttt! Apaan sih Gita! Kamu juga dulu, pernah melakukannya kan sebelum akhirnya menikah?" Vina menyerang Gita balik.


"Haish! Kalau waktu dulu itu, aku di perk*sa sama Mas Rama. Aku dipaksa, padahal aku jelas-jelas gak mau! Lah kamu, kamu mau pada mau kan melakukannya? Kamu dan Gilvan pasti melakukannya dengan penuh cinta saat itu. Iya kan? Ngaku aja deh, gak usah malu-malu. Besok malam juga kamu pasti akan melakukan hal itu bersama Gilvan. Terbuka aja deh!" ucap Gita.


"Heh, berisik! Mulut kamu lemes banget Git! Iya sih, aku dengan sadar melakukan dosa termanis itu. Aku tahu, diriku salah, diriku khilaf. Aku merasa menjadi wanita yang kotor saat itu. Aku malu pada diriku, aku benar-benar menyesal telah memberikan mahkotaku pada Gilvan . Tapi, jika membayangkan besok, malam pertamaku setelah menikah, dengan Gilvan? Kok aku jadi geli ya membayangkannya? Akan gimana nanti? Oh, tidak Gita! Kenapa aku jadi ingin membayangkannya? No, no! Jangan membayangkannya. Pasti akan sangat tak nyaman. Ugghhhh!" Vina memejamkan matanya berkali-kali.


"Hahahaha! Aku tahu, kamu juga sudah merindukan sentuhan dari Gilvan kan? Ayo ngaku! Kamu pasti ngefly deh ketika disentuh! Aku juga merasa begitu, geli, malu, dan gugup bercampur menjadi satu. Silahkan bayangkan saja dulu untuk saat ini. Sebelum besok hari, kamu dan Gilvan akan belah duren lagi. Hahaha." Gita puas sekali.


"Apaan sih Git! Tapi, aku sudah lupa rasanya. Bayangin aja kamu, 7 tahun, aku tak pernah merasakan hal itu lagi." jawab Vina.


"Wah, rapet lagi dong punyamu? Pasti Gilvan merasa, kamu perawan lagi deh besok malem. Siap-siap aja deh ya. Gilvan pasti ketagihan sama kamu. Suamiku aja gitu, ya ampun, gak ada capeknya deh Vin, laki-laki itu emang kebangetan deh." keluh Gita.


"Haih, ngomongnya ngelantur aja kamu. Kamu kangen disentuh kak Rama ya? Kalau nanti dia jemput kamu, aku akan bilang padanya, kalau kamu rindu disentuh, biar kamu gak ngelantur kayak gini ngomongnya!" celetuk Vina.


"Eh, jangan dong. Gila aja kamu, harga diri aku mau ditaruh dimana kalo kamu bilang gitu sama dia? Jangan ya Vina, kumohon." tegas Gita.


"Baik, baik. Aku becanda sayangku. Kamu gengsian banget deh." Vina tertawa.


"Ah, pokoknya aku menantikan kamu besok deh! Cieeeeee, SAH. Cieeeeee, bakal belah duren lagi, Cieeeeeee, bakal banyak tanda cinta, Cieeeee, ah Cieeeee Cieeeee deh pokoknya. Xixixi. Selamat menjelang hari pernikahan ya sahabatku. Semoga kamu selalu bahagia selamanya bersama Gilvan dan juga Givia. Amin."


"Amin, sayang. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. You're my bestfriend forever and ever."


"You too, Davina."

__ADS_1


*Bersambung.*


__ADS_2