
Fadli sudah membawa Raina ke rumahnya. Rama tidak ada, karena Rama bersama Rey sedang mencari Raina juga. Gita segera menghubungi Rama, agar ia segera pulang, karena Raina sudah ditemukan.
"Fadli, tolong jangan bocorkan hal ini. Kami benar-benar malu dengan kelakuan Raina yang seperti ini. Orang tua Raina tak boleh mengetahui hal ini, mereka pasti sangat kecewa. Untungnya, mereka sedang di Jakarta, sedang mengurus kepindahan ke Moskow." ucap Gita.
"Baik Mbak. Saya gak akan membocorkan hal ini." jawab Fadli.
"Fadli?" tanya Gita.
"Iya, Mbak?"
"Apa kamu benar-benar mau melakukan perjodohan ini?" tanya Gita.
"Saya tak ada pilihan lain, Mbak. Kalau saya menolak pun, rasanya tak enak pada Pak Rama."
"Kamu tak bisa menolaknya. Yang aku tanyakan, kamu benar-benar mau menjalin hubungan dengan Raina?" tanya Gita.
"Apapun yang terjadi, saya akan menjalaninya, Mbak. Saya akan mengikuti apapun." ucap Fadli.
"Apa kamu akan mencoba mencintai Raina?" tanya Gita.
Fadli terdiam sesaat. Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Fadli menghela nafas, lalu ia tersenyum pada Gita.
"Tidak, karena Raina meminta perjanjian untuk pernikahan kita. Dia akan menceraikan aku, ketika satu tahun kita bersama."
"Kenapa harus begitu?" tanya Gita.
"Raina tak mau melakukan perjodohan ini. Ia ingin segera lepas dariku, dan menunggu waktu sampai 1 tahun. Agar Raina bisa meyakinkan Pak Rama kalau kita tidak cocok dan tidak berjodoh. Tapi, apa Mbak bisa merahasiakan ini dari Pak Rama? Karena, saya tak mau mengecewakannya." ucap Fadli.
"Fadli, aku tak akan membicarakannya pada suamiku, kamu tenang saja. Tapi, kenapa aku malah berpikir bahwa kalian berdua itu cocok ya? Kamu lelaki yang baik Fadli, aku yakin, seiring berjalannya waktu, Raina pasti akan mencintaimu." jelas Gita.
"Terima kasih, Mbak."
"Aku mau tanya, kalau Raina mulai mencintaimu, apa kamu mau mencintainya juga?" tanya Gita.
Pertanyaan Gita benar-benar membuat Fadli merasa tersudutkan. Ia bingung harus menjawab apa. Jika ditanya tentang cinta, Fadli tak bisa berbuat apa-apa.
"Mungkin, saya juga akan belajar mencintainya." jawab Fadli.
"Terima kasih, Fadli. Aku harap, kamu bisa merubah Raina." ucap Fadli.
__ADS_1
"Semoga saja, Kak. Aku berharap yang terbaik untuk Raina."
"Fadli, tolong bawa Raina ke kamarnya. Aku tak mau, jika suamiku pulang, dia akan memarah-marahi Raina." pinta Gita.
"Baik, Mbak. Akan saya pindahkan sekarang."
Dengan perasaan campur aduk, Fadli memangku Raina menuju kamarnya. Berbeda dengan tadi, saat Fadli datang, yang membawa Raina adalah satpam yang berjaga didepan. Kini, Fadli harus membawa Raina seorang diri. Ada getaran aneh pada dada Fadli ketika ia memangku Raina. Namun, Fadli terus menampik perasaan itu. Ia dengan cepat membawa Raina ke kamarnya.
Gita menutup Raina dengan selimut. Ia harus istirahat, agar Rama tak marah-marah padanya. Sesampainya kembali ke ruang tamu, Tak lama, Rama dan sekretaris Rey datang. Niat hati Fadli ingin segera pulang, namun tertahan karena Rama sudah tiba diambang pintu.
"Malam, Pak." sapa Fadli pada Rama.
"Mana anak gila itu?" Rama emosi.
"Mas, tenanglah dulu! Raina sedang tak sadar. Dia benar-benar mabuk. Percuma kamu meluapkan emosimu. Duduklah dulu." Gita menenangkan Rama.
"Fadli, kenapa kamu bisa tahu dia ada di tempat seperti itu?" tanya Rama.
"Aku mencari kemana-mana tapi tidak ketemu. Feeling-ku mengatakan, ada baiknya aku mencoba memasuki tempat itu, jadi aku masuk saja ke sana." ucap Fadli.
"Feelingnya memang kuat, Bos. Dia hebat." tambah sekretaris Rey.
"Fadli, aku tanya kamu. Apa kamu siap, jika besok menikah dengan Raina?" tanya Rama.
"A-apa? Besok, Pak? Kenapa mendadak sekali?" Fadli kaget.
Bukan hanya Fadli yang kaget, Gita dan Rey juga benar-benar kaget dengan perkataan Rama.
"Sayang, kenapa besok?" Gita heran.
"Aku ingin Fadli menjaga Raina. Aku ingin Raina dilindungi oleh Fadli. Ternyata, aku tahu, Fadli mampu melindungi Raina. Fadli bisa menjaganya. Lihat saja, aku yang Kakaknya, kalah dengannya. Dia bisa menemukan Raina lebih cepat daripada aku."
"Mas, tapi Fadli belum meminta izin pada keluarganya, Papi dan Mami juga masih di Jakarta. Kurasa menikah besok sangat tak mungkin." cegah Gita.
"Betul, Bos. Jangan karena emosi Bos jadi begini." tambah Rey.
"Baiklah, lusa. Fadli dan Raina harus menikah lusa. Tak usah ada perayaan apa-apa. Menikah di rumah saja. Fadli, aku percaya padamu." ucap Rama.
"Mas, apa kamu yakin?" Gita mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Aku sangat yakin. Fadli, kamu bisa menghubungi keluargamu dahulu. Apa kamu keberatan menikah lusa?" tanya Rama.
"Tidak, Pak. Saya akan mengikutinya." ucap Fadli.
"Fad, kamu yakin?" Gita merasa kasihan pada Fadli.
"Yakin, Mbak. Saya harus siap, besok saya akan mengabari keluarga saya." jawab Fadli.
"Baguslah. Aku tak akan marah pada Raina, kalau Raina dan Fadli akan menikah lusa nanti."
Rama pergi meninggalkan semuanya. Hanya tertinggal Gita dan Fadli, karena Rey mengikuti Rama dari belakang.
"Fadli, kamu tertekan ya?" tanya Gita.
"Nggak kok, Mbak. Saya siap."
"Jujur saja, Fad. Tak mungkin kamu mau menerima semua ini, kalau bukan karena terpaksa." tegas Gita.
"Awalnya, aku terpaksa. Tapi, sekarang aku ikhlas menjalaninya. Mungkin semua ini memang takdirku, Mbak. Aku tak bisa membantahnya." Fadli tersenyum.
"Fadli, jika kamu keberatan, katakan saja padaku, pernikahan mu tinggal dua hari lagi, aku tak bisa banyak membantu kalau sudah hari H."
"Tentu, Mbak. InsyaAllah, saya siap. Kalau begitu, saya pulang dulu ya?"
"Baiklah, Fadli. Kabari keluargamu, jangan lupa, ajak keluargamu kesini, walaupun ini hanya pernikahan biasa, keluarga kamu harus hadir."
"Baik, Mbak. Saya usahakan."
"Ya sudah, hati-hati ya Fad."
"Iya, Mbak."
Fadli keluar rumah Raina dengan perasaan sedih dan sakit. Fadli benar-benar tak menyangka, kisah cintanya akan tragis seperti ini. Namun, Fadli tak pernah bisa berkata tidak, pada orang lain. Fadli selalu menyerahkan semuanya pada yang di atas. Walaupun Fadli sebenarnya tak mau, namun ia tetap meyakinkan hatinya, agar ia bisa melewati ini semua.
*Aku tahu, Raina itu wanita yang baik. Dia tak seperti sekarang ini. Aku memang tak berharap akan cinta pada Raina, tapi aku berharap bisa merubah Raina menjadi lebih baik lagi. Aku tak akan memaksakan hati ini untuk jatuh cinta. Jika cinta tak bisa aku paksakan, aku akan segera pergi. Pak Rama pun pasti tak akan menahan ku. Raina, tenang saja. Aku tak akan menodai kamu. Aku akan membiarkanmu sesuka hatimu. Aku akan tetap sabar, aku akan menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban ku. Aku akan tetap menjadi suamimu kelak, walaupun kamu menolak. Aku akan pergi, jika kamu yang memintaku pergi. Tapi, jika kamu memintaku untuk tetap tinggal, aku akan tinggal dan belajar mencintaimu.
*Bersambung**
__ADS_1