Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Bonus Chapter 3, TAMAT.


__ADS_3

MOSKOW, RUSIA.


Perpisahan, bukanlah akhir. Perpisahan adalah suatu awal untuk memulai kembali kisah yang indah. Tanpa perpisahan, hidup akan hambar, karena adanya perpisahan, kerinduan itu alam sangatlah nyata.


Tahun demi tahun, telah mereka lewati. Rama dan Gita, tengah berbahagia, menanti anak ketiga mereka. Sebenarnya, kedua, namun Gita sudah memutuskan untuk tetap menganggap Nakka adalah kembaran Nayya, jadi mereka akan melahirkan anak ketiga.


Rama dan Gita sudah berada di Moskow beberapa hari ini, karena Ayah dan Ibu Rama meminta cucu mereka untuk liburan akhir semester di Moskow. Tentu saja Nayya dan Nakka sangat bahagia sekali, karena bisa berlibur di luar negeri dan bertemu dengan Kakek dan Neneknya.


"Kamu mau jemput Raina sekarang?" tanya Mami Maya.


"Iya, sekarang aja. Aku sekalian mau beli obat untuk Gita." ucap Rama.


"Memang Gita kenapa? Kehamilannya gak kenapa-napa kan Ram?" tanya Mami Maya.


"Enggak kok, kandungannya baik-baik aja Mi, dia sepertinya kelelahan, sekarang juga dia ." ucap Rama.


"Baiklah, kamu hati-hati dijalan. Kamu gak biarin supir aja yang jemput Raina? Tanya Mami Maya.


Raina dan Fadli, kini mereka tengah memiliki bayi perempuan yang sudah berusia 18 bulan. Bayi yang diberi nama Faira Agnia Hanggara ini, sedang dalam face lucu-lucunya. Faira baru saja berjalan dan mulai berbicara, ia hanya pernah bertemu dengan Kakek dan Neneknya sekali, pada saat Faira dilahirkan saja.


Fadli dan Raina hari ini terbang ke Moskow, mereka akan menyusul kedua Kakaknya. Raina sudah konsultasi dengan dokter anak pribadinya, bahwa Faira boleh pergi naik pesawat, karena kondisi tubuh bayi kecil itu sangat sehat.


" Halo, cantiknya Ayah.. Gimana rasanya naik pesawat? Kamu memang anak yang pintar," Fadli melihat anaknya yang sedang dalam pangkuan Raina.


"Ya iya dong yah, anak kita kan memang gak rewel, dia persis seperti aku." Raina memuji dirinya sendiri.


"Sayang, kamu itu rewel dan berisik sekali loh, kamu berbanding terbalik dengan Fai, dia sangat anteng dan jarang menangis, dia jelas-jelas mirip seperti aku!" Fadli tak mau kalah.


"Ah, kamu! Sembarangan aja kalau ngomong. Siapa bilang aku rewel, siapa bilang aku berisik. Berani-beraninya kamu ngatain istri sendiri. Kamu itu nyebelin ya! Akhir-akhir ini, kamu itu menjengkelkan sekali, aku males sama kamu. Kamu itu gak pernah jaga perasaan aku, yah!" Raina cemberut.


"Kamu memang rewel dan berisik, tapi aku suka sifat rewel mu, manja mu padaku, aku sangat menyukainya." Fadli merayu Raina.


"Ah, gombal. Dahlah, aku mau tidur. Perjalanan masih lama. Kalau Fai pengen mimi, kamu kasih dia, botol susunya ada di tas ini!" Raina memejamkan mata.


"Ya ampun, gitu aja ngambek. Baby sayang, ini nih yang Ayah suka dari Bunda-mu, dia lucu dan menggemaskan." Fadli tertawa kecil.


Dasar suami nyebelin. Awas aja, gak akan aku kasih jatah nanti. Enak aja, dia bilang aku rewel. Aku kalem gini, dibilang rewel. Gerutu Raina dalam hati.


Fadli hanya tersenyum melihat Raina kesal padanya. Walaupun mereka sudah mempunyai anak, Fadli masih saja selalu merayu Raina. Fadli selalu menyukai tingkah Raina yang masih terlihat manja walaupun statusnya kini sudah menjadi seorang Ibu.

__ADS_1


...***...


Akhirnya, Raina dan Fadli telah sampai di kediaman kedua orang tuanya. Mereka disambut oleh Gita dan yang lainnya. Raina sangat bahagia, ia merindukan kedua orang tuanya. Sudah hampir satu tahun lamanya, mereka tak bersua.


Mereka semua saling menyapa dan meluapkan kerinduan satu sama lain. Kehadiran baby Faira menambah suasana baru pada keluarga besar Hanggara. Semuanya terlihat sangat bahagia, begitu pun juga Gita. Di kehamilannya yang kedua ini, ia benar-benar merasa mual dan muntah yang berlebihan. Berbeda sekali dengan kehamilannya yang pertamanya.


"Git, kamu masih gak enak badan, sayang?" tanya Mami Maya.


"Sedikit, Mi. Kepala masih pusing, dan badanku gak enak." ucap Gita.


"Kamu gak nurut sih sama aku.Tempo hari kan aku bilang, kita nanti aja ke Moskow nya, kamu kan lagi hamil, aku takut kamu kenapa-napa." ucap Rama.


"Dokter kan mengizinkan aku naik pesawat. Lagipula, anak-anak ingin segera pergi berlibur, aku gak mau mereka kecewa. Aku cuma kecapean aja sepertinya." ucap Gita.


"Baiklah, lebih baik kamu istirahat sayang. Biar badannya juga enakan. Raina, bawa Faira ke kamar, biarkan dia istirahat juga, Mami gak mau cucu mami kelelahan setelah perjalanan jauh." ucap Mami Maya.


Rama mengajak Gita pergi ke kamar. Badan Gita sudah mulai baikan, karena ia telah meminum obat yang Rama beli. Kehamilan kedua ini, membuat Rama sangat bahagia menjadi seorang Ayah. Karena, Rama bisa selalu ada dan siaga dalam fase-fase kehamilan Gita yang kedua.


"Sayang, gimana sekarang?" tanya Rama.


"Udah enakan kok. Aku kok sekarang gampang lelah ya, padahal hamil yang pertama biasa aja. Aku juga kerja pas awal-awal kehamilan. Dulu juga aku pas trimester pertama langsung kerja di pabrik konveksi loh, tapi gak pernah merasa lemah seperti sekarang ini." ucap Gita.


"Aku bahagia. Kini, kehamilanku yang kedua, benar-benar sempurna. Ada kamu, yang menemani aku." Gita tersenyum lembut.


"Sudah sewajarnya aku membuat kalian bahagia. Hidupku adalah untuk bersamamu dan anak-anak kita, apapun akan ku perjuangkan untuk kalian. Tak ada kebahagiaan yang sempurna, selain kalian. Aku akan berusaha semampu diriku, membuat kalian tersenyum bahagia." jawab Rama.


"Terima kasih, sayang. Aku bahagia menjadi pendamping didalam hidupmu." Gita menyenderkan kepalanya ke pundak Rama.


"Aku yang lebih bahagia bisa mendapatkan dirimu juga cintamu." Rama mengusap lembut rambut Gita.


"I love u, Rama Hanggara."


"I love u too, Anggita Nindya."


...***...


Keesokan harinya.


Keluarga Hanggara tengah berkumpul bersama di halaman belakang rumah besar Mami dan Papi Rama. Kanayya dan Kanakka tengah berenang bersama Fadli dan Raina. Faira sedang dalam pangkuan Mami Maya, serta Gita dan Rama sedang bersantai duduk bersama kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ram, nanti anak kedua cowok ya!" Mami Maya tersenyum kecil.


"Kok cowok sih, Mi? Ya gimana dikasihnya aja sih kalau aku." ucap Rama.


"Kan biar Nakka ada temennya, Ram. Mami punyanya cucu cewek terus dari kalian. Mami belum punya cucu cowok dari kalian. Semoga saja, anak keduamu nanti cowok deh." Mami tertawa.


"Yang penting sehat Mi, mau cewek mau cowok asalkan mereka sehat lahir sempurna tanpa kurang apapun." ucap Papi Angga.


"Iya sih Pih, cuma pengen aja kok. Apapun jenis kelamin anak kalian, Mami akan tetap menyayanginya. Hidup keluarga kita sudah sempurna, anak-anak kalian adalah harta yang paling berharga untuk kami, Kakek dan Neneknya." Mami Maya tersenyum.


"Benar sekali, keluarga kita semakin hangat dan bahagia dengan kehadiran Nayya, Nakka, sekarang ada Faira yang sangat menggemaskan. Nanti kita juga akan menanti kehadiran cucu keempat kita. Semoga kamu selalu sehat ya, Git. Papi mendoakan yang terbaik untuk kamu." ucap Papi Angga.


"Amin, terima kasih atas doanya Pih. InsyaAllah, aku akan selalu sehat." Gita tersenyum.


"Tenang saja, Pih. Ada aku yang selalu siaga mendampingi kehamilannya." Rama bangga.


Nayya dan Nakka yang sedang belajar renang bersama Fadli memanggil Rama dan Gita, lalu melambaikan tangannya dengan senyuman merekah khas kedua anak riang itu. Kebahagiaan keluarga Rama lengkaplah sudah, kehadiran Nayya dan Nakka merupakan sebuah anugerah yang dimiliki Rama dan Gita.


"Mami.... Papi....." sapa Nakka dari kolam renang.


"Kakek..... Nenekk...." Nayya memanggil kakek dan neneknya.


"Hai..... senang-senang ya..." ucap Gita dan Mami sambil melambaikan tangan mereka.


Kanakka, aku mencintaimu. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Nayya. Aku berharap, kamu akan selalu bahagia bersama aku dan Papimu. Aku tak pernah sedikitpun menganggap kamu anak Siska. Aku hanya menganggap mu anakku sendiri. Aku bahagia memiliki kamu, walaupun jika kamu tahu aku bukanlah orang tuamu, entah kamu akan tetap bahagia, atau tidak. Semoga saja, hal itu tak akan pernah terjadi, dan kamu akan tetap menjadi anakku, dan menjadi saudara kembar Kanayya. Berbahagialah, Kanayya, Kanakka. Kalian adalah alasanku tersenyum. Batin Gita.


TAMAT.


Alhamdulillah, akhirnya cerita ini TAMAT ya.


Makasih, yang sudah rela membaca dari awal hingga akhir. Kalian luar biasa, aku bahagia, punya pembaca setia yang mau meluangkan waktunya untuk membaca ceritaku dari awal hingga akhir. Walaupun aku sadar, ceritaku hanyalah cerita receh. Makasih banyak pokoknya. ❤😘


Man teman, jangan batalkan favorit cerita ini ya, karena nanti akan ada pengumuman jika sekuel KANAYYA & KANAKKA telah rilis.


Seputar cerita Kanayya dan Kanakka, aku beri tahu blurb nya dulu ya :


Kisahnya bermula saat mereka kuliah, masa-masa ABG Nayya dan Nakka. Hingga suatu hari, Nakka mempunyai seorang kekasih, dan ternyata kekasihnya itu adalah anaknya Jordy. Nah, siapakah Jordy? Mungkin masih ada yang ingat? Jordy adalah Ayah Kanakka, bukan begitu?. Tak mungkin kan mereka bersatu, karena sedarah. Nanti juga akan terbongkar, kenyataan yang sesungguhnya. Semoga aku bisa membuat cerita ini bagus dan sekeren mungkin.


Penasaran kisahnya? Tetap jadikan favorit cerita ini ya, nanti aku beritahu pengumuman disini. Aku gak bisa pastikan kapannya, insyaAllah secepatnya aja deh hehe..

__ADS_1


I love you kalian ❤❤❤


__ADS_2