
Rey sudah mulai menerima permintaan maaf Vina. Rey tak menaruh kekecewaan pada Vina. Rey bisa mengendalikan hatinya. Vina lega, ia merasa bahwa Rey memang lelaki yang hebat. Rey patut dapat wanita pengganti yang lebih baik darinya.
Sepasang mata yang sedang memperhatikan Rey dan Vina, terlihat kesal sekali melihat kedekatan yang terjadi diantara mereka. Aneh memang, bukan siapa-siapa, tetapi merasa cemburu.
Mia, dialah wanita yang memperhatikan Rey dan Vina. Janda muda cantik yang sedikit terganggu dengan kehadiran Vina, si gadis menggoda. Vina memang cantik dan menggoda, Mia iri dengan kecantikan Vina, apalagi ia terlihat sangat akrab dengan Rey.
"Cieeeeeee, yang lagi ngintip. Cemburu yaaaa! Hahahahah" Raina mengagetkan Mia
"Aduh, Non Rai. Ngagetin aja. Enggak, kok! Saya gak cemburu. Ada-ada aja, Nona ngagetin saya tau gak!" ucap Mia
"Tuh, tuh! Muka Mbak Mia merah tuh! Cie, jujur aja deh! Bilang aja kalau cemburu." Raina terus menggoda Mia
"Nggak, Nona! Beneran deh. Saya cuma lagi lihat pemandangan aja." Mia ngeles
"Alasan aja deh Mbak Mia. Jujur aja, ayo ngaku!"
Raina terus mendesak Mia. Gita mendengar Raina yang sedang menggoda Mia. Gita mendekati mereka berdua.
"Rai, kamu ini. Malah godain Mbak Mia!" ucap Gita
"Eh, Nona." Mia malu
"Abisnya, Mbak Mia kelihatan banget cemburu sama Kak Rey." ucap Raina
"Tenang aja, Mi. Vina itu nggak cinta sama Rey. Vina sudah punya calonnya sendiri."
"Serius, nona? Syukurlah kalau begitu." Mia antusias sekali
"Tuh kan, Mbak Mia kelihatan banget deh! Hahahah, lucu ya Mbak Mia kalau lagi jatuh cinta." ucap Raina
"Eh, Nona. Apaan sih, enggak kok enggak. Duh, saya jadi malu." muka Mia memerah
"Gak apa-apa Mi, jatuh cinta itu wajar. Rey orang yang baik kok! Nanti, aku suruh dia deketin kamu!" ucap Gita tertawa
"Eh, jangan Non, jangan! Saya nggak berharap kok. Mana ada perjaka yang mau sama janda kayak saya." Mia menunduk
"Kamu gak boleh pesimis gitu, Mi! Memang, apa yang salah dengan predikat janda?"
"Tidak ada, nona! Hanya saja janda itu selalu dipandang sebelah mata oleh siapapun"." ucap Mia
"Jangan berpikiran seperti itu, Mi. Tidak semua lelaki memandang rendah seorang janda. Contohnya aku, aku juga janda. Tetapi, Rama tetap mau menikahi ku. Hahaha" Gita tertawa
"Kalau kak Gita kan janda rasa perawan! Bener gak? ckck" Raina tertawa
"Perawan apaan, sebelum menikah dengan Gilvan aku sudah tak suci lagi. Semua itu karena ulah kakakmu, Rai!" protes Gita
"Benarkah, Nona?" Mia kaget
"Ceritanya panjang, kamu gak akan bayangin deh gimana kisah ku sama Rama. Pokoknya aku juha janda sebelum menikah dengan Rama. Hidup janda!!!" ucap Gita
"Hidup janda!!!!!!“ jawab Mia dan Raina serentak
__ADS_1
"Hahahahahaha." Mereka tertawa bersama
Keakraban Gita, Raina dan asistennya memang tak diragukan lagi. Gita sangat baik, tak pernah membeda-bedakan antara pembantu dan dirinya.
Vina dan Rey telah lama berbincang. Gita mengajak mereka untuk makan siang bersama. Rey malu, tetapi Gita tetap memaksa.
Asisten Gita telah mempersiapkan menu untuk makan siang. Gita mengajak Rey makan bersama Ibu mertuanya. Rey menolak namun Gita tetap memaksa.
"Jangan sungkan, Rey. Baru pertama kali ini kamu makan bersama kita!" ucap Maya, Mami Rama
"Jadi, Vina ini sekarang kekasihnya mantan suamimu? Iya?" tanya Kakek Prima
"Eh, bukan, Kek." Vina malu
"Vina ini orang yang membuat Gilvan tetap hidup, Kek. Dulu, ketika nyawaku terancam dan Gilvan ingin membantuku, Vina ini pontang-panting mencari transplantasi untuk aku. Dia tak ingin Gilvan mengorbankan dirinya." jelas Gita
Ternyata, perjuanganmu untuk Gilvan memang sebesar itu, Vin. Pantas saja kamu benar-benar mencintainya. Aku mengerti sekarang. Batin Rey.
"Kamu harus menjaga cintamu. Kudengar, lelaki itu mengalami kecelakaan, iya?" tanya Kakek Prima lagi
"Iya, Kek. Kini, dia kehilangan ingatannya. Parahnya, dia lupa pada Vina."
"Masa sih Git? Kasihan sekali kamu, Vin." ucap Mami Rama
"Eh, Iya tante." Vina malu
"Harus bagaimana ya agar Gilvan cepat sembuh?" tanya Gita
"Maksud kakek?" Gita tak mengerti
"Aku punya kenalan di New York, dia seorang dokter spesialis saraf yang terkenal di bidangnya, namanya Dokter Frank. Kalau keluarganya setuju, biarkan dia terbang ke New York, biarkan dia menjalani terapi di sana." ucap kakek Prima
"Apa akan sepenuhnya berhasil, kek?" tanya Gita
"Itu, dia. Aku sudah bilang harus ambil resiko. Penyakit seperti itu tak akan mudah sembuh. Dokter hanya tak mau kalian khawatir makanya dia berkata sementara."
"Lalu, kita harus bagaimana?" tanya Gita lagi
"Amnesia itu sulit sembuh. Dokter Frank pun bisa mengalami kegagalan. Ada dua pilihan, berhasil dengan cepat atau tidak sama sekali."
"Kalau kita biarkan?" Vina bersuara
"Sulit untuk sembuh dengan cepat. Bisa sembuh, dalam jangka waktu belasan tahun. Kamu mau menunggu selama itu?" tanya Kakek Prima
"Tidak, Kek. Sekarang saja, dia sepertinya membenciku. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku rasa, sulit untukku masuk ke hatinya lagi." Vina sedih
"Apa kamu setuju kalau Gilvan pergi ke New York?" tanya Gita
"Aku tak tahu, semua keputusan ada ditangan keluarga Gilvan. Namun, itu pasti membutuhkan uang yang tak sedikit kan?"
"Kalau keluarganya setuju, aku yang akan membayarnya. Aku membalas budi kebaikannya ketika itu pada menantuku."
__ADS_1
"Kakek sungguh?" Gita tak percaya
"Untuk apa aku berbohong?" ucap Kakek
"Baiklah, kek. Aku akan memberi tahu Rama dan keluarga Gilvan." ucap Gita
"Tapi, dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Jangan merasa menyesal kalau seandainya terapinya gagal dan dia tak bisa mengingatmu lagi." kakek Prima menunjuk Vina.
Bagaimana ini? Awalnya, aku ingin menunggu Gilvan. menjaganya, dan ada disampingnya. Tetapi, sulit untuk saat ini. Gilvan sepertinya tak menyukaiku. Dia benar-benar lupa padaku. Apa aku setujui saja tawaran kakek Prima? Tapi, itu pun tak luput dari resiko yang besar. Batin Vina.
***
Selesai makan, Vina pun pulang. Mereka akan mendiskusikan ucapan kakek Rama besok hari. Gita sedang tak ada pekerjaan, Gita pun mengajak anak-anaknya bermain di kamarnya. Itu berarti, Mia sang baby sitter memiliki waktu luang.
Mia sedang bersantai di halaman belakang, tiba-tiba Rey mendekatinya. Mia kaget akan kedatangan Rey.
"Enak ya, kalau kerjaan kita santai begini." ucap Rey
"Iya lah, enak banget." jawab Mia
"Kamu ngomong apa sama nona?" tanya Rey
"Maksudnya? Aku gak ngomong apa-apa kok!" Mia gelagapan
Kenapa dia harus bertanya hal konyol itu? Apa Nona Gita memberi tahu Rey untuk mendekatiku? Haduh, habis aku. Mia menggigit bibirnya.
"Jujur aja!" ucap Rey
"Apa yang Nona katakan padamu?" Mia bertanya balik
"Nona tidak mengatakan apa-apa padaku!" ucap Rey
"Kenapa kamu bertanya seperti itu kalau Nona tak mengatakan apa-apa padamu?" tanya Mia
"Aku melihatmu, ketika berbincang bersama Nona Raina dan Nona Gita!" ucap Rey
Dia melihatku? Ku kira dia fokus pada wanita cantik temannya Nona Gita itu. Aduh, aku jadi tersanjung. Batin Mia
"Kamu melihatku?" Mia pura-pura polos
"Ya, aku melihatmu."
"Kenapa kamu melihatku?" tanya Mia
"Kamu menarik perhatianku, meskipun aku sedang berbicara dengan wanita yang aku suka."
*Bersambung*
__ADS_1
Gaes jangan lupa setelah membaca like ceritanya ya ❤❤❤