
Ara telah diperiksa oleh Dokter. Ara kelelahan, dan asam lambungnya pun naik. Sepertinya, Ara sering terlambat makan dan kurang istirahat.
"Pak, jaga pola makannya, dan juga perbanyak istirahat. Pasien dehidrasi, tak lupa juga untuk banyak minum dan memakan buah-buahan kaya mineral. Untung saja Bapak tak terlambat membawanya, pasien sudah sangat dehidrasi. Setelah diberi obat, insyaAllah kondisinya akan segera membaik. Saya tinggal dulu, ya" ucap sang Dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Fadli menatap Ara. Semua penyebab sakitnya karena pola makan dan pola istirahat Ara yang kacau.
"Udah tahu punya Maag, kenapa kamu sering telat makan? Udah tahu sakit, kenapa gak ngabarin aku, Ra? Kenapa kamu gak anggap aku sekarang?" Fadli terus bertanya.
"Aku gak sakit parah, kok. Kamu aja yang lebay." ucap Ara.
"Ara, please! Kita udah lama kenal. Kita udah lama dekat, kamu gak biasanya kayak gini. Aku udah kenal kamu, kalau ada apa-apa, kamu selalu bilang sama aku, kenapa kamu gak ngabarin aku kalau kamu sakit?" tanya Fadli.
"Handphone-ku low battery Fad. Aku gak bisa hubungin kamu!" jelas Ara.
"Kamu kan bisa cepet-cepet charge handphone kamu! Aku tahu, kamu gak kuat bangun kan? Kamu gak kuat ngapa-ngapain kan? Bahkan, mengambil air minum saja gelas mu malah tumpah! Iya kan?" Fadi terus mendesak Ara.
Ara hanya terdiam. Ia tak mampu menjawab ucapan Fadli. Ia punya alasan untuk hal itu. Ia tak mungkin dengan mudah, mengabari Fadli, dan membuatnya khawatir.
"Ara! Jawab aku. Kenapa kamu gak nganggap aku lagi? Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sakit! Please, be honest Ra! Kamu harus jujur. Jawab pertanyaan ku. Jangan begini terus." ucap Fadli.
"Kamu mau tahu alasannya?" tanya Ara.
"Tentu saja, aku harus tahu. Kenapa kamu membiarkan dirimu kesakitan, dan tak mengabari ku sama sekali, ARA? Kumohon jawab dengan jujur." pinta Gilvan.
"Perlu kamu tahu satu hal, Fadli. Dulu, aku memang sering meminta bantuan mu dan mengabari kamu. Tapi, kini aku tak mungkin melakukan semua itu!" ucap Ara.
"Tapi, kenapa? Apa yang membuatmu enggan mengabari aku, Ra?" Fadli sedih.
"Karena kamu telah menikah! Aku tak mau mengganggu hubunganmu dengan Raina. Kalian pasti sedang berdua, menikmati hari, tak mungkin aku menggangu teman lelakiku yang sudah beristri." jawab Raina.
"Tapi, mengabari ku bukanlah suatu kejahatan Ara. Apa susahnya kamu menghubungi aku? Hubungi saja aku, beritahu saja aku. Aku tak mungkin mengabaikan kamu, walaupun aku sudah menikah!" ucap Fadli.
"Aku tak mungkin selancang itu. Kini, kita sudah berbeda dan sudah tak bisa seperti dulu lagi. Aku tak mau membuat istrimu marah, Fad. Aku sudah tak mau menjadi benalu bagi kamu, ataupun Raina." jawab Ara.
"Kamu tahu kan? Hubunganku dengan dia hanya sebatas surat nikah saja! Aku SAH menikah dengannya, tapi aku tak pernah mendapatkan hatinya. Aku dan dia hanya sementara. Aku menikah dengannya hanya untuk waktu enam bulan. Apa kamu tak bisa menungguku sebentar lagi saja? Sabarlah, Ara. Ini takkan lama. Aku akan menjemput kamu, jika saatnya telah tiba." jelas Fadli.
"Hentikan omong kosong itu, Fadli. Aku sudah ingin mendengarnya lagi. Aku sudah muak, lupakan saja kisah kita. Aku dan kamu takkan bersatu. Kita hanya teman, aku hanya rekan kerjamu!" tegas Ara.
"Tapi, aku peduli padamu Ara! Kita sudah lama saling mengenal, aku dsn kamu dari dulu berteman. Kita tak mungkin saling melepaskan dan saling tak peduli satu sama lain. Aku tak bisa membiarkan kaku sendirian begitu saja, Ara." ucap Fadli.
"Fad, kamu tak bisa membuatku bingung. Kamu sudah menikah dengan Raina. Kejarlah wanita mu, dapatkan cintanya. Jangan terus terpaku padaku. Aku tahu, kita tak mungkin bisa bersama. Aku sadar, kamu dan istrimu bisa saja saling mencintai. Jangan pernah mengira waktu enam bulan tak akan ada perubahan pada hubungan kalian, aku yakin, kalian akan saling mencintai pada waktunya. Aku mengerti, perasaanmu Fadli, tapi aku pun tak mungkin egois ingin selalu mendapat perhatianmu. Sudah, jalani kehidupanmu bersama istrimu. Aku tak apa, aku pun bukan siapa-siapa bagimu." ucap Ara.
"Tapi, kamu berarti untukku, Ara! Raina memang istriku, tapi yang selama ini menemani hari-hariku adalah kamu, yang selama ini selalu mendengar keluh kesah ku adalah kamu, yang selalu membuat aku nyaman adalah kamu. Aku punya banyak kenangan bersamamu! Bukan bersama Raina. Lagipula, istriku itu tak benar-benar mencintai aku, Ara. Lambat laun, dia akan melepaskan aku, aku sudah siap akan kemungkinan yang terjadi." ucap Fadli.
__ADS_1
"Kurasa tidak, Fad." jawab Ara.
"Maksudmu?" tanya Fadli.
"Istrimu ada disini. Dia sedang memperhatikanmu. Dia mendengar semua pembicaraan kita, Fadli."
Fadli celingukan, ia mencari ke sana kemari, tapi ia tak menemukan Raina.
"Mana? Dia gak ada. Kamu jangan ngarang."
"Lihat, wanita menggunakan topi pink di sana. Dia adalah istrimu. Kejarlah dia, dia yang sudah berhak atas dirimu, bukan aku. Terima kasih, telah membawaku ke Rumah sakit. Aku akan menghubungimu kalau aku sudah diperbolehkan pulang. Aku akan mengabari mu, asalkan kamu kejar istrimu sekarang. Aku tak mau, gara-gara aku, kalian jadi berantakan." ucap Ara.
"Raina?" Fadli melihat wanita menggunakan topi pink.
"Ara, nanti aku temui kamu lagi ketika urusanku telah selesai. Aku harus menemui dia. Jaga dirimu baik-baik ya, aku janji, akan kembali lagi padamu." ucap Ara.
Benar, memang benar. Raina ada di balik gorden pasien UGD lain. Ia memperhatikan Fadli sejak tadi. Ia penasaran, dengan apa yang dikatakan oleh Diska. Benar saja, Fadli memang membawa seorang wanita, dan wanita itu ternyata sangat berarti bagi Fadli.
Aku mendengar semuanya dengan jelas. Kini aku tahu, dia memang mencintai wanita itu. Baguslah, jadi aku tak perlu susah payah untuk membuat dia pergi dari hidupku nanti. Tapi, tapi kenapa aku menangis? Kenapa air mataku harus berlinang? Kenapa aku memalukan sekali. Raina, buka matamu! Kamu tak mencintainya, dia hanya sandiwara mu. Lupakan, lupakan, lupakan! Batin Raina.
Raina terdiam di taman Rumah sakit Ia berdiri dekat tanaman-tanaman indah disekitar taman. Ia terdiam. Ia tak mengerti, apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa ia malah terus-terusan memikirkan perkataan Fadli pada Ara.
"Kenapa kamu gak bilang mau kesini?" suara Fadli mengagetkan Raina yang sedang melamun.
"Ka-kamu? Kenapa tahu aku disini?" Raina gugup.
"Aku tanya, ngapain kamu kesini?" tanya Fadli.
"A-aku, a-ku, Aku baru saja menjenguk paman Diska yang sedang sakit! Iya, benar. Lalu, aku sedang menunggu supir untuk menjemput ku. Aku tak tahu kamu ada disini. Kenapa kamu bisa menemukan aku disini? Ka-kamu, kamu lagi ngapain disini?" Raina pura-pura tak tahu.
"Benarkah begitu?" Fadli tersenyum.
"Benar! Memangnya, untuk apa aku kesini jika hanya membuang-buang waktu saja." jawab Raina jutek.
"Kamu kesini, bukankah untuk bertemu aku?" tanya Fadli.
"Dih, ngapain aku ketemu kamu! Gak penting banget tahu gak!" Raina mengelak.
"Supir mu jemput gak nih? Makan siang yuk, aku lapar. Kamu udah makan?" Fadli mengalihkan pembicaraan.
"Gak tahu. Dia gak balas. Belum, aku langsung kesini begitu aku dengar kabar kalau kamu, Ehhh" Raina keceplosan.
"Kalau apa?" tanya Fadli.
"Eh, enggak kok enggak. Aku salah bicara. Aku lupa mau ngomong apa." ucap Raina.
__ADS_1
"Kamu kenapa gugup sih deket aku? Gak biasanya kamu kayak gini." ucap Fadli.
"Enggak! Siapa yang gugup coba!"
"Ya sudah, makan yuk? Aku lapar. Kamu mau makan dimana? Kita makan siang bareng." ucap Fadli.
"Di Resto ayam goreng aja." ucap Raina.
"Baik, ayo, ke parkiran."
"Ya."
Raina dan Fadli jalan bersama menuju parkiran. Fadli tahu, Raina berbohong. Raina memang datang ke Rumah sakit untuk melihat dirinya.
Aku tahu, kamu memang malu mengakuinya. Aku tahu, kamu belum siap. Kamu belum merasakan apa artinya cinta pada diri kita. Aku pun begitu. Aku tak merasa aku mencintai dirimu. Aku tak mengerti perasaanku padamu ini, adalah perasaan apa? Raina, jika kamu masih gengsi, aku pun sama. Aku gengsi dekat denganmu. Hubungan kita ini benar-benar mendadak. Kita berdua sama-sama belum siap. Entah suatu hari nanti, aku akan siap atau tidak.
Raina dan Fadli masih berjalan menuju parkiran. Fadli ingin mengetes dirinya. Ia ingin tahu reaksi tubuhnya, jika memegang Raina dengan tulus akan bagaimana dan seperti apa.
"Raina?" tanya Fadli.
"Ya?"
"Bolehkah aku meminta izin padamu?" tanya Fadli lagi.
"Izin? Izin apa?" Raina tak mengerti.
"Izinkan aku memegang tanganmu. Aku ingin tahu, bagaimana perasaanku ketika aku memegang tanganmu. Apakah aku berdebar, ataukah aku biasa saja. Aku hanya ingin memastikan perasaan ini." ucap Fadli memberanikan diri.
"Terserahlah."
Fadli meraih tangan lembut Raina perlahan. Fadli memegang tangan mungil itu. Hangat, dan nyaman, itulah yang dirasakan Fadli.
Raina? Raina? Jangan ditanya bagaimana reaksi Raina. Hatinya mendidih bagaikan air yang direbus. Ia suka, tapi ia gengsi. Entah sampai kapan ia akan berani mengutarakan perasaan yang sesungguhnya.
Sampai lebaran monyet kah, Raina?
*Bersambung*
Selamat malam..
Tahan ya tahan, semua butuh proses. Pengakuan cinta itu gak mudah. Apalagi, bagi dua insan yang tak saling mengenal lalu di satukan dalam ikatan pernikahan.. Jadi, gak mungkin bucin buru-buru. Ada prosesnya dulu ya, coming soon di episode selanjutnya.
Ingat LIKE DAN KOMENTAR setelah membaca.
Bagi yang baim hati, bagi VOTEnya untuk dukung cerita ini.
__ADS_1