Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
restoran


__ADS_3

"Gue gak mau ketahuan, Git." ucap Vina


"Itu kan salah lo sendiri. Kalau pun Gilvan tahu, berarti lu sama dia memang ditakdirkan untuk bersatu."


"Gue ingin menjauh dari dia. Gue gak mau dia hadir di kehidupan gue lagi."


"Kenapa sih lu gak bisa memaafkan kesalahan Gilvan?" ucap Gita


"Gue harus ketemu dia sekarang." Vina kekeh


"Emang lu tahu, dimana keberadaan Gilvan?"


Gilvan dimana? Vina tak tahu keberadaan Gilvan. Vina terlalu marah sehingga tak sempat bertanya Gilvan dimana. Apa Gilvan telah kembali ke Jakarta? Apa Gilvan pergi dan tak akan kembali?


"Git, gue gak sempet nanya keberadaan Gilvan. Lu tolongin gue dong! Gue pengen banget nemuin dia." Vina kekeh


"Vina, gue mohon sama lu. Untuk kali ini, tolong dengarkan gue. Tolong ikuti apa kata gue." Gita mencoba menenangkan Vina


"Apa?" Vina cemas


"Jangan ambil surat didalam uang itu. Biarkan Gilvan tahu, biarkan dia bersikap. Givia, memang anak Gilvan. Lo gak boleh menyembunyikan identitas Givia. Tapi, lo pun berhak mencari kebahagiaan lo sendiri. Lo boleh gak mau lagi sama Gilvan! Tapi, jangan biarkan Givia jauh dari Gilvan."


"Jadi, lu dukung Gilvan untuk ngambil Givia, gitu maksud lu Git?"


"No, Vina. No! Bukan seperti itu. Lu boleh menikah dengan pria lain, lu boleh punya Ayah baru untuk Givia, namun Givia tetap harus tahu, bahwa Gilvan itu Ayahnya. Dan Gilvan pun harus tahu, kalo Givia itu anaknya. Gilvan gak berhak ngambil Givia dari elu, karena dia gak berperan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya. Lu tetap harus punya hak asuh anak lu, lu tetap bisa bersama laki-laki lain, tapi jangan jauhkan Givia dari Ayahnya." Gita menerangkan


"Jadi, sekarang gue harus gimana?" tanya Vina


"Lu terima nasib, biarkan waktu yang menjawab. Gue yakin, Gilvan juga gak akan fokus sama isi di amplop itu, karena dia udah tahu, bahwa itu isinya cuma cek dan uang aja kan? Gue rasa, dia gak akan ngecek itu sekarang-sekarang ini. Keep calm, Vin. Jangan takut, biarkan Gilvan tahu, namun jangan biarkan Gilvan mengambil Givia. Just it!"


"Kalo dia tahu Givia ini anaknya, gue yakin Git, Gilvan pasti ngambil anak gue. Dia pasti rebut Givia dari gue."


"Nggak, gak mungkin itu terjadi. Dia gak akan sejahat itu. Tenang ya, semuanya akan baik-baik saja. Kalo sampai Gilvan gugat Givia, gue boyong pengacara Hotman Paris buat menangin hak asuh anak lu." ucap Gita berapi-api


"Thanks Git, lu udah bikin hati gue tenang." Vina memeluk Gita


Dalam kondisi bingung, Vina tetap tersenyum. Vina berharap, Gilvan tak membuka uang tersebut. Atau lebih baim lagi, Gilvan membakarnya tanpa membuka amplop itu.


Givia sedang asyik bermain bersama Nayya dan Nakka. Tak lama, Givia datang ke pangkuan Bundanya.


"Bunda, bunda! Ayah Andra udah jemput belum?" tanya Givia polos


"Givi, bukan Ayah Andra, tapi Om Andra." tegas Vina


"Tapi, kata Ayah Andra juga boleh kok manggil dia apa aja sesuka Givi." balas Givia


Gita tertawa, "Gak apa-apa Bunda Vina, biarin aja Givi manggil Ayah Andra, cuma manggil aja kok, gak beneran! Iya kan, Giv?" tanya Gita


"Tuh kan, tante Gita aja ngerti. Masa Bunda enggak ngerti sih?" tanya Givia


"Iya-iyalah, terserah kamu aja, Giv." jawab Vina bete


"Mana dong Ayah Andra nya? Givi kan pengen makan chicken ditempat yang tadi Bunda." rengek Givia


"Iya bentar, bunda coba tanya dulu Om Andra nya." jawab Vina


"Givi tunggu saja ya, nanti Bunda Vina pasti ajak Givi makan kok." tambah Gita


"Bener ya tante, soalnya kalo bunda suka bohong." ucap Givia

__ADS_1


"Iya sayang, gih sana main lagi sama Nayya." titah Gita


"Oke Tante."


Givia kembali lagi bermain bersama Nayya. Givia melupakan keinginannya untuk makan ayam goreng.


"Vin kenapa sih, si Givi terobsesi sama si Andra?" tanya Gita


"Gak tahu deh, awal ketemu aja tuh anak langsung nanya si Andra baik apa kagak, kalau baik cocok jadi Ayah untuk Givia, dia malah bilang gitu. Dasar bocah." umpat Vin


"Hahaha, lucu juga anak lu. Gak apa-apa kalau lakinya gak keberatan mah, Vin."


"Nggak sih, syukurnya Andra baik, gak marah sama Givia sedikitpun."


Ketika Vina dan Gita sedang selonjoran di ruang keluarga rumah Rama, handphone Vina berdering. Ternyata, Andra meneleponnya.


"Git, Andra nelepon gue.' ucap Vina


"Angkat, buruan."


Vina segera mengangkat telepon dari Andra. Dengan gugup, ia berbicara lewat gawai nya.


"Halo, Ndra?"


"Hallo Vin, kamu lagi apa? Udah belum mainnya?" tanya Andra


"Lagi nemenin Givia main, Ndra. Emang kenapa?" tanya Vina


"Kalo udah selesai, bilang ya. Aku akan jemput kamu. Bukannya tadi Givia bilang, pengen makan chicken di restoran baru itu?" tanya Andra


"Mm, oya Ndra. Aku lupa. Jemput sekarang aja, aku mau pulang kok." jawab Vina


"Eh, iya-iya Ndra. Aku tunggu."


Tut..tut..tuttt


Telepon dimatikan. Andra akan segera menemui Vina dan Givia. Andra masih saja ingat bahwa Givia ingin makan ayam di restoran baru.


"Givi, sayang. Sini." ucap Vina


Givi berlari menuju Bundanya. Nakka dan Nayya terlihat mengikuti dari belakang.


"Apa Bun?" tanya Givia.


"Om Andra mau jemput kita, dia mau ajak kamu ke restoran yang tadi kamu inginkan." ucap Vina


"Waaaaah, Ayah Andra baik sekali. Yeayyy! Givi mau makan ayam goreng Givi. Eh, Nayy, kamu ikut yuk? Kita makan ayam goreng sama-sama?" ajak Givia pada Nayya


Nayya melirik Gita. Terlihat pancaran keinginan di wajah Nayya.


"Mami, Nayya mau ikut Givi makan ayam goreng juga!" pinta Nayya


"Nakka juga mau ikut Givia, Mi." tambah Nakka


"Nayya, Nakka! Papi kalian lagi sibuk. Gak bisa diganggu. Nanti aja kita kapan-kapan ke sana nya ya?" bujuk Gita


"Yahhh, Mami. Pelit deh." Nayya kesal


"Iya nih, Mami. Nyebelin." Nakka ikut kesal

__ADS_1


"Nayya, Nakka, ini acara Givi sama Om Andra. Kalian gak kenal kan Om Andra, jadi jangan ikut. Nanti aja, minta alamatnya sama Givi, kita pergi sama Papi. Okeee?" rayu Gita pada Nayya


"Baiklah." Nayya dan Nakka kecewa


Tak lama, terdengar suara klakson di depan rumah Gita. Pertanda bahwa Andra telah datang untuk menjemput Vina dan Givia.


"Git, itu sepertinya Andra. Gue pamit dulu ya? Eh, Rama mana? Gue mau pamit." ucap Vina


"Dia lagi sibuk sama Papi mertua gue, gak bisa diganggu Vin. Ayo, gue antar ke depan." ucap Gita


Mereka semua berjalan menuju pintu utama, untuk mengantarkan Givia pulang. Andra keluar dari mobil ketika melihat Gita dan Vina keluar dari rumah. Vina melambaikan tangan pada Gita, Vina segera masuk kedalam mobil.


"Bu, saya duluan." ucap Andra pada Gita


"Iya, hati-hati ya!" Gita melambai-lambaikan tangannya pada mobil yang perlahan berlalu.


Andra mengemudikan mobilnya menuju restoran baru Givi's Chicken. Givia tak henti-hentinya berbicara, karena dia sangat senang sekali, akan makan ayam goreng di restoran yang sama dengan namanya.


Lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di restoran tersebut. Vina tak mengetahui, bahwa ini adalah restoran milik Gilvan. Mereka bertiga segera masuk kedalam restoran. Restoran Gilvan masih mengadakan promo opening.


"Selamat datang, silahkan masuk." sapa pelayan ramah


"Terima kasih."


Vina segera mencari tempat duduk yang nyaman. Restorannya sangat klasik, kesan Amerika yang kental, dan ayam goreng khas Amerika seperti yang terpampang dalam menu.


Restoran cukup ramai pengunjung, karena ini hari libur, pelayan sedikit kewalahan melayani pengunjung, karena hanya ada 5 pelayan saja yang bekerja di restoran ini.


Fadli naik ke lantai atas. Memberi tahu Bos nya, bahwa di restoran sangat ramai. Fadli dan pelayan lainnya kesulitan.


"Pak, dibawah ramai sekali. Bagaimana ini? Kita kesulitan, sepertinya Bapak harus menambah karyawan lagi." usul Fadli


"Begitu ya? Aku belum turun sejak tadi. Baiklah, nanti aku akan buka lowongan lagi. Sekarang, mari aku bantu pekerjaanmu." ucap Gilvan


Gilvan dan Fadli turun ke bawah, Gilvan akan membantu pelayan memesankan makanan pengunjung restoran.


Gilvan melihat-lihat sekitar. Restorannya sangat ramai pengunjung. Ia bersyukur, walaupun restorannya baru seminggu, banyak sekali pelanggan yang datang.


"Pak, ini daftar menu. Kalau Bapak mau bantu kami, dua meja diujung sana belum memesan makanan."


"Baiklah, aku yang akan melayani mereka." ucap Gilvan


Gilvan mendekati meja diujung dekat hiasan ala-ala Amerika yang Gilvan rancang. Ia dengan ramah menyapa pelanggan.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu? Silahkan, ini daftar menunya." Gilvan membungkukkan badannya seraya memberikan daftar menu pada meja tersebut


Vina tak asing mendengar suara itu, karena posisinya Vina membelakangi Gilvan. Dan karena Gilvan sibuk melihat pelanggan yang lain, Gilvan pun tak mengenai Givia dan Andra. Padahal, Gilvan pernah melihat mereka.


"Terima kasih, Mas."


Vina mengambil buku daftar menunya. Berbalik kearah Gilvan, tak disadari, Vina melihat sekilas wajah pelayan yang melayaninya. Buku menu yang barusan Vina pegang, jatuh kebawah lantai.


"GILVAN?"


*BERSAMBUNG*


Halo.. selamat siang. Setelah membaca, jangan lupa like, komen dan vote juga ya 😘😘


Makasih atas dukungannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2