
-Keesokan harinya.-
Rey membawa Rama dan Gita menuju rumah sakit. Mereka akan membawa Gilvan untuk istirahat di apartemen milik Rama. Beberapa hari lagi, mereka akan pergi ke AS.
"Rey, kalo lu nggak sanggup liat Gilvan sama Vina, nanti lu tunggu di mobil aja. Ya?" pinta Rama
"Gak apa-apa, Bos. Gue baik-baik aja kok! Gue pasti menemani Gilvan sampai kedalam." ucap Rey santai
"Sayang, dia udah move on! Gak akan sedih lagi, kan udah ada Mia sekarang!" jawab Gita
"Oh, iya juga ya. Gue lupa, Rey." jawab Rama
"Nona apaan sih, buat saya malu aja!" ucap Rey
"Sayang, besok kan Rey pergi ke Jakarta. Dia akan ditemani Mia." ucap Gita
"Pantesan kamu ngajak aku jalan-jalan bawa Nayya, ternyata baby sitternya mau pacaran ya!" ledek Rama
"Bos, apaan sih lu!" Rey protes
"Lah, kenapa elu yang sewot? Gue kan lagi ngomongin Mia." jawab Rama
"Mia kan pacarnya saynag, pasti sewot lah! Hahaha." Gita tertawa
"Non, udah dong! Tapi, terima kasih ya Bos dan Nona. Kalian gak pernah ngekang sama gue! Gue juga dikasih kebebasan, dan dipertemukan sama wanita yang gue cari." ucap Rey
"Lu harus berterima kasih sama istri gue, dia yang membuat kebijakan-kebijakan itu buat lo! Kalau gue sih, gak kepikiran sama sekali buat kencan. Udah lama banget gue gak kencan sama istri gue. Giliran besok mau kencan, malah bawa anak. Ini juga gara-gara elu." Rama curhat
"Sorry Bos, sorry! Gue gak maksud begitu, cuma gimana ya, gue juga udah terima uang dari Nona,gue gak bisa nolak lagi." ucap Rey
"Sayang, biarin aja Rey menikmati waktunya. Kan aku sudah memberinya gaji, kenapa kamu memberinya uang?" tanya Rama
"Hm, karena kupikir dia akan ajak jalan-jalan sama Mia. Jadi, ada baiknya dia punya uang tambahan. Antisipasi kalau Mia ingin sesuatu. Hehe!" Gita menjelaskan
"Lagian Bos, tiga hari lagi kan Bos sama Nona berangkat ke New York. Bukankah di sana tempat yang sangat indah? Bos bisa kencan sepuasnya sama Nona!" saran Rey
"Tentu saja, Rey. Kalau itu gak perlu elu bilang. Gue akan bulan madu yang kedua bersama istri gue yang cantik. Setelah gue selesai mengurus Gilvan, gue akan berikan surprise untuk istri gue, Rey." jelas Rama
"Surprise apa sih sayang? Kok aku jadi penasaran!" ucap Gita
"Tunggu saja nanti, kamu pasti bahagia." ucap Rama
__ADS_1
"Seperti ini saja, aku sudah bahagia, sayang! Aku tak perlu apapun lagi darimu. Cukup berada di sampingku, itu sudah hal yang paling bahagia dalam hidupku." Gita menyandarkan kepalanya dipundak Rama
"Karena aku akan selalu membuatmu bahagia didalam hari-harimu. Bahagia versi kamu itu berbeda dengan versi ku. Lihat saja nanti, aku sudah membuay rencana untuk kita." Rama mengelus-elus rambut Gita.
"Yah, yah! Bos sama Nona emang gak tahu waktu deh. Gue sendirian nih, masa gue pacaran sama stir mobil?" Rey iri dengan Rama dan Gita
"Hahahah, kasihan lu Rey. Sabar-sabar! Besok juga lu bisa berduaan seharian kan sama cewek lu?"
"Iya sih Bos, hehe!"
Gita dan Rama telah sampai di rumah sakit. Rama menyelesaikan administrasi. Setelah selesai, Rama membawa Gilvan masuk ke mobil. Rey yang mendorong kursi roda Gilvan.
"Git, ini siapa sih?" Gilvan menunjuk Rey
"Ini pengawal Rey, Van! Dia pengawal sekaligus supir pribadi untuk kita." jawab Gita
"Kenapa kau tak suka melihat wajahnya ya?" tanya Gilvan
Gita terdiam. Mungkinkah sedikit-sedikit ingatan Gilvan mulai membaik? Dia teringat wajah Rey, ketika bersama Vina. Maka dari itu, Gilvan tak suka melihat Rey. Semoga ini membawa pengaruh yang baik untuk ingatannya Gilvan.
Mereka semua sudah berada di dalam mobil. Gilvan duduk didepan, sedang Gita dan Rama tetap dibelakang. Orang tua Gilvan dan Vina, sudah menunggu Gilvan di apartemen.
"Kenapa orang tuaku tak ikut menjemput ku?" tanya Gilvan
"Si Vina itu?" Gilvan mengernyitkan dahinya
"Iya, dia menyiapkan makanan untukmu di sana." ucap Gita
"Dia yang akan melayaniku?" tanya Gilvan lagi
"Tentu saja! Kamu tak keberatan kan?" tanya Gita
"Terpaksa aku terima dia. Biarlah, kasihan juga wanita itu kalau jadi pengangguran." jawab Gilvan
"Kamu jangan galak-galak pads pembantu barumu ya, Van." saran Gita
"Tergantung! Tergantung pelayanannya padaku." ucap Gilvan
"Semoga saja dia bisa memahami apa yang kamu inginkan." kata Gita.
Rey dan Rama hanya mendengarkan. Biarlah, Gilvan sedang dalam masa penyembuhan. Pertolongan Gita dan Rama sangat dibutuhkan Gilvan saat ini.
__ADS_1
Perjalanan memakan waktu kurang lebih 40 menit. Akhirnya Mereka berempat sampai di apartemen Rama. Rey mengambil kursi roda di belakang mobil.
"Tuan, duduklah." ucap Rey ramah
"Kenapa ya, gue setiap lihat wajah lu males banget gitu rasanya? Ram, lu yang bawa gue. Gue gak mau dia yang dorong roda gue." jawab Gilvan
"Baik, Van. Mungkin Rey mengingatkan ku pada sesuatu yang bikin lu marah. Apa lu ingat?" tanya Rama
"Entahlah, tapi wajahnya memang ngeselin sih."
Rama dan Gilvan telah berlalu. Rey dan Gita jalan terakhir.
"Rey, yang sabar ya! Sepertinya dia tahu ketika kamu dan Vina di Malaysia bersama."
"Apa dia ingat hal itu? Saya tidak apa-apa, Nona. Saya akan bangga seperti Vina. Itu tandanya, Gilvan memang mengingat kita berdua, hanya saja memorinya belum sepenuhnya kembali." jelas Rey
"Syukurlah kalau kamu mengerti." Gila lega
Gilvan telah disambut oleh Ibu dan Kakaknya juga Vina. Gilvan diajak makan bersama-sama. Mereka pun makan bersama sambil sesekali berbincang kecil.
Rasanya hangat sekali. Gilvan merasakan dirinya diperhatikan oleh mereka semua. Gilvan bersyukur, orang-orang itu sangat dekat dengannya. Meskipun dalam benak Gilvan, orang-orang itu adalah yang menyakitinya, tetapi Gilvan bahagia.
Gilvan kemudian ditemani Vina. Gilvan ingin mengganti bajunya. Vina menyiapkan beberapa stel baju Gilvan yang dulu dibawa Ibunya ketika mendengar Gilvan kecelakaan.
"Tuan, pakailah ini untukmu!" ucap Vina ramah
"Pakaikan baju itu untukku. Aku hanya ingin mengganti bajuku." ucap Gilvan
"Ba, baiklah." ucap Vina
Dengan perasaan gelisah tak karuan, Vina membuka perlahan kancing baju Gilvan. Ia melihat dada bidang Gilvan. Dada yang dulu menempel pada tubuhnya. Tangan yang dulu menjamahnya. Vina teringat betapa mesranya ia dan Gilvan bak seorang suami dan istri.
"Kenapa ini?" tanya Gilvan ketika Vina akan memakaikan baju ke tubuhnya
"Ada apa, Tuan?" tanya Vina
"Kenapa aku merasa kau pernah memegang tubuhku? Apa kau juga berpikiran seperti itu ya? Berpikiran yang aneh-aneh tentangku?" Gilvan menuduh Vina
"Tidak, Tuan. Saya tidak memikirkan apapun. Hanya saja, wajah dan tubuh anda sangat mirip sekali dengan seseorang yang sudah lama saya rindukan. Pakailah bajumu, Tuan. Maafkan saya, jika ucapan saya tak berkenan untukmu."
*Bersambung*
__ADS_1
Kawan-kawan, jangan lupa LIKE setelah membaca ya. 🥰😘