
Didalam mobil.
"Ara, maafin saya. Saya gak bermaksud marahin kamu tadi."
"Gak apa-apa, Pak Gilvan. Ara sadar, Ara telah melakukan kesalahan. Tapi, aku bersyukur banget, Bapak-bapak di penampungan sampah tadi sangat baik dan ramah. Aku dibantu mencarikan surat itu oleh mereka."
"Kamu pasti lelah mencarinya, saya mohon maaf sekali lagi." ucap Gilvan
"Iya, Pak. Sudah, tidak apa-apa. Bagaimana Pak? Bapak sudah membacanya?" tanya Ara polos
"Hmm, sudah. Sudah, lupakan. Kalau mengingat surat itu, saya jadi merasa bersalah terus sama kamu. Gara-gara amarah saya, kamu harus bergumul dengan sampah-sampah. Kamu pasti membenci saya. Ya kan?"
"Nggak kok, Pak. Kesal sih memang, tapi aku tahu, dunia bekerja itu keras, kita tak boleh lembek, kita harus tetap semangat." jawab Ara sambil mengulum senyumnya
"Saya janji, tak akan membuat kamu tersiksa seperti itu lagi." ucap Gilvan
"Iya, Pak. Bapak tak perlu merasa bersalah seperti itu."
Gilvan mengemudikan mobilnya. Namun, ketika dijalan ia melihat Rama sedang berada di depan sebuah salon mewah. Ia berdiri di depan mobilnya sambil memainkan gawai miliknya.
Gilvan melihat lagi dengan jelas, takut kalau ia salah orang. Ternyata, itu benar adalah Rama. Karena mengingat surat yang ditulis Vina, Gilvan memutuskan untuk menemui Rama. Kebetulan melihatnya dijalan, Gilvan harus memastikan semua ini.
Gilvan memarkirkan mobilnya dibelakang mobil Rama. Rama belum menyadarinya, Gilvan meminta izin dulu pada Ara, karena ada Ara yang pasti kesal jika menunggu lama.
"Ara, saya ada perlu sebentar. Apa kamu mau beli makanan atau apa dulu gitu? Atau mau tunggu disini? Itu teman saya, ada hal penting yang harus saya bicarakan dengannya." ucap Gilvan
"Baik Pak Gilvan. Silahkan, Ara tunggu didalam mobil saja." jawab Ara tersenyum
"Baik, terima kasih."
Gilvan segera keluar dari mobilnya. Ia mendekati Rama yang sedang berdiri di pinggir mobilnya. Gilvan memanggil Rama, Rama kaget, karena tak menyangka bisa bertemu Gilvan disini.
"Ram, Rama!" sapa Gilvan
"Gilvan? Kebetulan ketemu disini. Dari mana kamu?"
"Itu abis keliling-keliling tadi, pas lihat arah sini, ada kamu lagi sendiri. Lagi ngapain disini, Ram?"
"Biasa, Nyonya Gita pulang kerja uring-uringan rambutnya kusam dan kusut, ingin pergi ke salon dulu katanya. Sudah lama, dia tak memanjakan rambutnya." jawab Rama
"Oh pantas saja kalau begitu. Ram, ada yang ingin aku bicarakan padamu."
"Apa itu Van?"
"Ini tentang Vina, apa nanti kita bisa bertemu? Aku tak bisa membicarakannya sekarang, ada pelayan ku yang tak mungkin menunggu lama didalam mobil. Apa setelah ini aku bisa datang ke rumahmu?" tanya Gilvan
__ADS_1
"Tentu saja, Van. Dengan senang hati jika kamu mau ke rumahku. Sepertinya, Gita juga sebentar lagi selesai. Memangnya, kamu abis dari mana Van? Jalan-jalan sama pelayan cewek? Mulai move on ni yeee?" goda Rama yang kemudian melihat kearah mobil Gilvan, ada wanita yang sedang menunggu
"Bukan, nanti deh aku ceritakan ketika kita sudah berada di rumahmu." ucap Gilvan
"Baiklah, nanti kuberi tahu padamu, jika aku sudah berada di rumah." ucap Rama
"Baik, Ram. Terima kasih ya. Aku pergi dulu." ucap Gilvan
"Ya, Van. Hati-hati."
Dari dalam mobil, Ara melihat Rama dengan pandangan tak biasa. Wajah Rama yang tampan seakan menghipnotis Ara untuk terus memandangnya. Hingga Ara tak sadar, bahwa Gilvan sudah membuka pintu mobilnya kemudian duduk di kemudinya.
Gilvan menatap Ara yang terus memperhatikan Rama, Gilvan ingin mengagetkan Ara, namun Ara terlanjur sadar akan kehadiran Gilvan.
"Loh, Pak Gilvan udah ada didalam mobil aja. Kapan masuknya?" Ara bingung
"Kamu terlalu fokus liatin temen saya ya? Jadi kamu gak tahu kalau saya udah ada didalam mobil." ucap Gilvan
"Eh, Pak Gilvan apaan sih, enggak kok! Aku gak lihatin Om ganteng itu. Ehhhh ya ampun. Mulut aku kenapa sih?" Ara keceplosan
"Jangan macem-macem kamu, jangan suka sama suami orang!"
"HAH? Suami orang Pak? Aduh, dia itu terlalu ganteng kalau untuk lelaki yang sudah beristri." Ara mulai kebablasan
"Dia memang tampan, dan sempurna. Pantas saja mantan istriku begitu mencintainya." ucap Gilvan pelan
"Sudah, lupakan. Ayo kita ke resto. Kasihan Fadli sendirian." ucap Gilvan
Ara bingung dengan ucapan Bos nya. Sepertinya, banyak rahasia yang terjadi pada Bosnya.
Entah apa yang terjadi pada Pak Gilvan. Sepertinya, kehidupannya banyak rahasia. Lagi, karena surat yang usang dan lusuh pun dia bisa se-marah itu padaku. Ada apa sebenarnya? Kenapa Bos ku begitu banyak rahasianya? Kau harus mulai memahami Bos, agar dia tak terus-terusan memarahiku. Batin Ara dalam hati.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Gilvan berpesan pada Fadli agar menjaga restoran dengan baik, dirinya akan pergi ke rumah Rama.
Gilvan mengendarai mobilnya dengan semangat dan antusias. Gilvan ingin bertanya pada Rama, langkah apa yang harus Gilvan ambil mengenai Vina dan anaknya.
Gilvan memang berpikir, bahwa anak Vina itu adalah anaknya, Gilvan juga tahu, bahwa Vina berbohong. Namun, Gilvan ingin bukti yang konkret agar ia menang melawan Vina. Kini, Gilvan sudah berada di rumah Vina.
"Malam, Ram."
"Van, kamu tidak sibuk? Masuklah, aku akan memberimu kopi dan cemilan."
"Diluar saja, Ram. Lebih adem diluar." ucap Gilvan
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyuruh Asisten membawanya kesini. Duduklah dulu!" ucap Rama
Rama mengajak Gilvan untuk duduk bersantai di gazebo rumahnya. Gilvan terlihat serius, sepertinya memang ada hal penting yang ingin Gilvan sampaikan pada Rama, pikirnya.
"Ada apa, Van?" tanya Rama
"Aku yakin, kamu sudah mengetahuinya."
Gilvan mengeluarkan surat lusuh yang telah ia baca tadi sore. Rama mengambilnya dan melihat dengan seksama. Rama melotot tajam, sepertinya itu memang tulisan Vina.
Mata Rama terbelalak melihat kejujuran Vina. Rama membaca dengan seksama. Ini adalah bukti nyata, yang tak bisa disangkal lagi oleh Vina.
"Dimana kamu menemukan surat ini Van?" tanya Rama
"Di amplop yang kuberikan padanya, saat dulu aku menidurinya." jawab Gilvan
"Lalu?"
"Dia mengembalikannya padaku, mungkin dia lupa bahwa dulu dia pernah menulis surat untukku." jawab Gilvan
"Aku memang sudah tahu mengenai hal ini, tapi Vina bersikeras agar aku dan Gita menutup mulut perihal Givia. Kemarin pun, aku akan mengatakannya padamu, namun Gita terlanjur datang dan meminta aku turun ke bawah. Maafkan aku, Van." ucap Rama
"Tidak apa-apa, Ram. Lalu, aku harus bagaimana menurutmu?"
"Berikan saja bukti ini pada Vina, agar ia tahu, dan agar ia tak bisa mengelak lagi padamu. Aku akan mendukung dan membantumu, Van." jawab Rama
"Apa mungkin Vina mau menerimaku lagi, Ram?" tanya Gilvan
"Coba saja, tak ada yang tak mungkin. Kamu adalah Ayah kandung Givia, seharusnya Vina tak boleh egois, ia harusnya mendekatkan kamu pada Givia, namun Vina terlalu keras kepala, Vina sulit sekali diberi tahu." jawab Rama
"Aku takut, dia terlanjur menjalin hubungan dengan Andra." ucap Gilvan
"Memang itu masalahnya sekarang. Gita bilang padaku, Andra dan Vina sudah menjalin hubungan. Itu yang jadi masalah terberat kita." ucap Rama
"Benarkah, Ram?" Gilvan tak percaya
"Iya, Gita bilang begitu. Vina yang mengatakannya pada istriku. Sekarang, kamu harus benar-benar meyakinkan Vina, jangan sampai kamu kalah dengan Andra. Aku akan membantumu menyelesaikan masalah ini." jawab Rama
"Bantu aku, kumohon." Gilvan memohon
"Aku akan membantumu, seperti kamu membantu aku untuk mendapatkan Gita. Apapun yang ingin kamu katakan, katakanlah. Aku siap membantumu dalam keadaan apapun." ucap Rama tegas
"Terima kasih, Ram. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu." Gilvan tersenyum lalu meminum kopi yang berada di atas meja
"Semoga kamu bisa mendapatkan cintamu kembali, Van."
__ADS_1
*Bersambung*