Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Tas branded


__ADS_3

Vina tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka kalau Gilvan menganggapnya sebagai pembantu. Tetapi, Vina amat senang kalau Gilvan masih mau dekat dengannya.


"Lo hari ini bakal bilang resign kan ke cafe?" tanya Gita


"Iya, gue bakal resign. Gue besok bakal jadi pembantu Git!" Vina terlihat senang


"Kenapa lo antusias banget jadi pembantu?" tanya Gita


"Gue bukan hanya sekedar pembantu, tetapi gue pembantu hati untuk Tuan Gilvan. Hahahaha!" Vina seperti orang kesurupan


"Parah lo, Vin. Ya sudah, besok lu harus sudah stay di apartemen ya!" pinta Gita


"Siap, Gita sayang." ucap Vina


***


Gita dan Rey berpamitan pada Vina. Mereka akan segera pulang. Di perjalanan, Gita berbincang santai dengan Rey.


"Rey, lusa kamu mengantar orang tua Gilvan pulang kan?" tanya Gita


"Iya, Nona!" ucap Rey


"Sebelum mengantarkan orang tua dan kakaknya, kita antar dulu Gilvan ke apartemen suamiku. Ya?"


"Kapan, nona?" tanya Rey


"Besok, Rey. Aku akan menyuruh Vina untuk menjaga Gilvan."


"Apa kita akan menjemput Vina dulu?" tanya Rey


"Tidak, dia sudah ku beri tahu untuk datang sendiri ke apartemen. Sudah kuberi akses masuk juga." jawab Gita


"Baiklah kalau begitu." ucap Rey


Gita melirik kearah Rey lagi, karena Gita duduk didepan.


"Rey?" panggil Gita


"Iya, nona?" jawab Rey


"Apa kamu perlu pendamping untuk pergi ke Jakarta?" tanya Gita lagi


"Tidak Nona, tidak usah. Biar saya sendiri aja!" tolak Rey halus


Gita tersenyum, "Kalau Mia yang mendampingi mu, apa kamu mau?" Gita terlihat menggoda Rey


"HAH? Maksud Nona? Aku tak mengerti." Rey kaget


"Kalau Mia ku suruh menemanimu pergi ke Jakarta, apa kamu akan menolaknya?" Gita menjelaskan


Rey kaget dengan apa yang di ucapkan oleh Gita.


"Kenapa nona harus menyuruh Mia untuk menemani saya?" tanya Rey


"Biar kamu ada teman saja, tapi kalau kamu mau sendiri yasudah, tidak apa-apa." ucap Gita


"Eh, jangan gitu dong Non, saya mau kok ditemani Mia, mau banget malah." Rey merayu Gita

__ADS_1


"Tadi bilangnya bisa sendiri aja!" Gita tertawa


"Saya kira bukan bersama Mia. Tetapi, apa boleh saya pergi bersamanya?" tanya Rey


"Kenapa tidak?" tanya Gita lagi


"Mia kan harus menjaga Nayya. Kalau dia pergi sama saya, Nayya bagaimana?" tanya Rey


"Ya ampun, Rey. Gue nanya deh, Nayya anak siapa?"


"Anak nyonya sama Bos!" jawab Rey


"Ya makanya, kalau Mia pergi sama kamu, Nayya aku yang urus. Biar kamu sama Mia lebih dekat."


"Kenapa Nona harus sebaik ini sama saya?" Rey gugup


"Hati kamu sedang sakit karena Vina, untuk itu harus ada yang mengobati."


Rey terdiam, Gita mengeluarkan uang sebanyak 3 juta dari dompetnya,


"Nih, uang ini untuk kamu. Pakai untuk sekedar makan-makan atau membelikan Mia pakaian dan kebutuhannya."


Rey menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang sedikit lenggang.


"Kenapa Nona harus memberi saya uang, tidak usah Nona, tidak apa-apa! Saya malu, kalau harus menerima semua kebaikan Bos dan Nona, kalian terlalu baik pada saya." Rey menunduk


"Gak apa-apa! Kamu terima uang ini, belikan apa yang kamu dan Mia inginkan. Setelah mengantar keluarga Gilvan, kalian jalan-jalan lah dulu." ucap Gita


"Kenapa Nona harus begini? Nona pasti repot kalau Mia ikut dengan saya." Rey sedikit keberatan


"Baiklah, terima kasih atas semua kebaikan Nona. Saya benar-benar bahagia memiliki Bos dan Nona yang perhatian seperti kalian." Rey tersenyum


"Ayo, jalan lagi Rey." pinta Gita


Rey amat beruntung memiliki Bos seperti Gita dan Rama. Mereka berdua benar-benar baik. Rey tak boleh mengecewakan Gita dan Rama sedikitpun.


"Rey?" tanya Gita


"Ya, nyonya?" jawab Rey


"Bagaimana perasaanmu pada Mia?" tanya Gita


"Aku memang tertarik padanya, tetapi belum sepenuhnya." jawab Rey


"Apa karena status Mia yang janda?"


"Tidak, Nona. Saya tidak masalah akan hal itu. Tetapi, saya takut sakit hati lagi. Saya belum siap kalau harus sakit hati lagi." jawab Rey


"Yakinkan hatimu untuk Mia, Mia adalah wanita yang baik, Rey. Dia menginginkan seorang pendamping hidup yang baik, seorang lelaki yang bisa menjaganya." jelas Gita


"Dia sudah lama menjanda?"


"Sudah lama, pernikahannya hanya sebentar. Dia sangat terluka, dia sedih, kasihan dia Rey. Setahuku, Mia wanita yang tegar dan kuat. Aku berharap banyak padamu, semoga kamu mau menjaga Mia." pinta Gita tulus


Rey terdiam. Merenungkan perkataan Gita tentang Mia. Rey memang pada awalnya sedikit terganggu dengan status jandanya Mia, tetapi Mia adalah janda yang tak diharapkan. Dia bertemu dengan lelaki yang salah. Kalau lelakinya baik-baik, mungkin Mia tak akan jadi janda seperti ini.


Rey mencoba untuk menerima Mia perlahan-lahan. Karena, Mia memang baik. Selain itu juga, Mia memiliki wajah cantik yang natural.

__ADS_1


Gita dan Rey telah sampai di rumah besar keluarga Rama. Gita duduk di kursi tamu rumah itu. Kemudian, Mami Rama mendekatinya.


"Git, nanti kamu di New York berapa lama?" tanya Mami Rama


"Gak lama, Mi. Paling lama seminggu. Memangnya kenapa?" tanya Mami


"Kalau Mami nitip beliin barang ke kamu boleh gak?" pinta Mami


"Barang apa Mi? Boleh aja, kalau Gita tahu store nya dimana." ujar Gita


"Mami pengen beli tas Hermes keluaran terbaru, Git! Nanti Mami bisikin ya harganya. Tempatnya kalau gak salah di Madison Avenue, nanti kamu tanya Rama aja!" pinta Mami


Raina yang mendengar bisikan Maminya segera menghampiri mereka. Kehadiran Raina membuat Maminya kaget.


"Nah loh, Mami lagi ngapain bisik-bisik sama Kak Gita? Mami pasti ada maunya ya?" Raina meledek


"Sssstt! Raina, kamu jangan berisik. Nanti kedengaran Papi kamu! Sini, kalau mau ikutan." ajak Mami


"Lagi ngomongin apaan sih?"


"Rai, kak Gita kan lusa mau nganterin Kak Gilvan Ke AS, tepatnya di New York. Nah, Mami udah lama banget pengen ke Madison, tapi Papi ngelarang terus, alasannya karena tas dan sepatu Mami sudah terlalu banyak, tapi kan model terbaru tetep keluar terus. Itu buat Mami ngiler deh Rai." ucap Mami


"What? Madison Avenue maksudnya? Waaaah, senangnya kak Gita bisa pergi ke sana. Ya sudah, Rai juga titip dong kak, boleh ya boleh?" Raina memohon


"Boleh, Rai. Memangnya kamu mau apa?" tanya Gita


"Aku udah lama banget pengen tas Louis Vuitton, kak! Tas gendong sih kak, namanya New Age Traveller Backpack. Pokoknya, nanti tasnya pasti dipajang paling depan deh!" ucap Raina


"Iya, iya. Sudah aku tulis di handphoneku. Ngomong-ngomong, bayarnya gimana? Aku gak punya uang banyak Mi, Rai. Karena tas branded ORI kan harganya mahal banget!" ucap Gita


"Kamu kan bisa minta belikan sama Rama, Mami sudah dilarang membeli tas branded lagi, kalau ketahuan Mami pasti dimarahi Rama dan Papi mu! Jadi, kamu pura-pura aja bilang tasnya untuk kamu. Ya, ya?" Mami merayu Gita


"Kalo Rai pasti dibolehin kak, Rai gak pernah hobi shopping kayak Mami. Bilang kak Rama, kalau Rai pengen tas backpack LV. Ya kak? Please?" Raina memohon


"Iya, iya. Tetapi, bukannya Rama gak suka sama barang-barang mahal ya? Dia gak mau menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tak terlalu penting. Gimana aku bilangnya?" Gita bingung


"Kamu kan istrinya, kamu pasti bisa merayu hatinya! Dia pasti luluh sama kamu, kamu juga beli aja apa yang kamu mau, dia pasti menyetujuinya." Mami mengajari Gita


Tanpa mereka sadari, Rama sudah berada dibelakang mereka. Wajah Rama tak enak dipandang.


"Mami, jangan ajarkan istriku untuk hidup berfoya-foya seperti Mami! Mami ini ya, istriku yang lugu dan sederhana mau Mami apakan? Sayang, jangan dengarkan apa kata Mami, itu hanya menghamburkan uang!" ucap Rama


"Yaaaaah, ketahuan deh! Ram, Mami kan ngajarin istrimu buat menikmati hidup! Kita banyak uang, boleh dong mami kepingin sesuatu! Buat apa susah-susah mencari uang, kalau tidak untuk dihamburkan? Bener gak Rai?" ucap Mami


"Bener banget Mami, Rai setuju!" Raina mendukung Maminya


Pokoknya gak bisa! Istriku jangan seperti Mami yang glamour, aku gak suka. Kalau Mami mau beli barang branded, pergi saja ke AS sendiri kalau bisa! Sayang, ayo pergi." Rama menarik tangan Gita


Gita terpaksa pergi karena tarikan tangan Rama begitu kuat.


"Ram, eh kamu mau kemana? Gak asik banget deh kamu! Jangan jadi suami pelit dong, Ram!" Mami berteriak


"Aku nggak pelit kalau untuk istriku, tapi Mami jangan mengajarkannya untuk seperti itu. Nanti aku yang pusing kayak Papi kalau istriku kelakuannya seperti Mami." Rama berlalu


"Ramaaaaaaaaa! Kamu benar-benar ya! Awas kamu yaaa!"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2