
Rumah besar Rama.
Raina dan Fadli baru sampai di rumah, namun suasana rumah tetap ramai dan berisik. Ternyata, Kanayya dan Kanakka belum juga terlelap. Mereka sedang asyik bermain-main, bersama Rama dan Gita. Ternyata, mereka mempunyai mainan baru, yang dibeli Rama. Mereka terlihat antusias sekali.
"Hai, ponakan aunty.. Kalian lagi apa sih? Seru sekali," Raina mendekati kedua ponakannya.
Fadli menyalami kedua Kakak iparnya, dan ikut duduk di sofa bersama Rama.
"Aku dibeliin Tobot Giva Seven sama Hot Wheels city Onty, ini semua Papi yang belikan." ucap Nakka.
"Kalau aku dibeliin rumah barbie lengkap dengan baju dan peralatannya Onty. Main bareng Nayya yuk Onty, sini.." ajak Nayya.
"Boleh, boleh sayang." Raina mendekati kedua keponakannya.
Fadli terlihat canggung berada di dekat Rama dan Gita, bukan main, ia tak biasanya berkumpul bersama keluarga ini. Masih saja ada perasaan tak biasa dan gugup. Padahal, hampir satu bulan Fadli berada di rumah ini.
"Kalian habis dari mana?" tanya Rama pada Fadli.
"Abis makan malam, Kak. Tadi sengaja mampir dulu ke restoran." jawab Fadli.
"Lagi dinner itu mereka, menikmati pacaran setelah menikah!" Gita tertawa.
"Apaan sih Kak Gita!" Raina sewot.
"Hanya makan malam biasa kok, Kak." Fadli tersenyum.
"Fad, temanku akan menikah, hari rabu nanti. Kamu datang ya sama Raina. Acaranya malam kok, jadi tak mengganggu waktu kerja mu." ucap Rama.
"Baik, Kak." jawab Fadli sopan.
"Siapa yang nikah?" tanya Raina.
"Dimas sama Intan." jawab Rama.
"Wah, akhirnya! Mereka menikah juga, setelah sekian lama, kenapa baru sekarang mereka menikah?" tanya Raina.
"Dimas tak punya siapa-siapa. Ia membiayai dirinya sendiri. Menikah itu bukan perkara mudah, ia mengumpulkan uang untuk menikah baru terkumpul tahun ini. Perjuangannya besar sekali, untungnya Intan tetap sabar menanti." jelas Rama.
"Kok rasanya aku ingin sekali diperjuangkan seperti itu! Tapi, Kakak malah menjodohkan aku, dan Fadli jadi tak memperjuangkan aku!" ucap Raina.
"Ciyeee, yang pengen di perjuangkan sama Fadli." Lagi-lagi, Gita menggoda Raina."
"Hahaha! Lu udah nyaman ya sama suami lu, Rai. Fad, dia ingin kamu berjuang katanya. Sudahlah, tak perlu ingin seperti orang lain. Perjuangan Fadli itu lebih besar buat kamu! Ia merelakan dirinya untuk menikah dengan wanita berisik seperti kamu, untungnya Fadli sabar dan tak pernah menyesali semua ini." jawab Rama.
"Kak Rama nyebelin banget sih! Males tahu enggak ngomong sama Kakak!!!" Raina kesal.
"Sayang, jangan godain Raina terus. Kamu ini sih!" ucap Gita.
__ADS_1
"Abisnya, pengen di perjuangin segala macem, lagian Fadli aja udah berjuang melawan emosinya, dia juga berjuang untuk sanggup melakukan perjodohan ini." timpal Rama.
"Aku dengan senang hati melakukannya. Kini, kita sudah SAH, tak ada yang perlu di perdebatkan lagi." ucap Fadli.
"Iya, iya sayang. Aku ngerti kok!" jawab Raina.
Sontak Rama dan Gita tertawa bersama mendengar Raina mengatakan sayang pada Fadli.
"Acieeeee, Raina. Ciyeee, udah bilang sayang nih! Biasanya juga Fad, atau Fadli kan? Asik nih pasti, udah ada perubahan lu ya!" goda Rama.
"Aduh, Raina. Kamu manis sekali, gitu dong sama suami." Gita tersenyum.
Astaga, malu banget aku! Kenapa aku harus keceplosan bilang sayang sama Fadli? Didepan Kakak lagi? Aaarrgghhh, ini gara-gara si Fadli yang maksa pengen dipanggil sayang, aku jadi kebiasaan kan! Hih, memalukan sekali. Batin Raina.
"Aaah, udah ah! Kak Rama sama Kak Gita nyebelin. Aku mau istirahat aja, bye!" Raina berdiri, dan pergi meninggalkan mereka.
"Eh, Kak, aku juga ke atas dulu ya," ucap Fadli.
"Ya Fad, hati-hati tuh, kucing anggora lagi jadi singa, kamu harus pinter rayu dia, jangan sampe marah-marah terus!" ucap Rama.
"Baik, Kak. Selamat malam ya semuanya," Fadli berlalu mengejar Raina.
Raina cemberut. Ia kesal. Ia sudah berada di kamarnya. Ia benar-benar malu dan tak mengerti kenapa Kakaknya senang sekali menggodanya. Raina duduk di ujung ranjang. Ia masih cemberut dan kesal.
"Sudah, jangan di pikirkan." ucap Fadli.
"Ya memangnya kenapa? Gak apa-apa dong. Kamu gak usah malu, kita memang sudah saling menerima satu sama lain, kan?" ucap Fadli.
"Tapi kamu tahu kan, Kak Rama itu orangnya kayak gimana! Dia itu nyebelin nya tingkat kuadrat! Bikin malesin aja," ucap Raina.
Fadli ikut duduk di ranjang sebelah Raina. Ia mencoba mengerti kan perasaan Raina. Ia memeluk Raina, dan mengusap lembut rambut sang istri.
"Sudah, jangan kesal terus. Kak Rama hanya becanda, sayang. Enjoy saja, lambat laun juga kita akan terbiasa dengan hubungan ini." jawab Fadli.
"Tapi aku malu,...." Raina menutup wajahnya.
"Tak usah malu, mereka juga nanti tahu, kalau kita benar-benar saling serius menjalani pernikahan ini. Sudah, ganti bajumu, bukankah malam ini kita akan mencobanya?" ucap Fadli.
"Apa? Ke-kenapa, harus sekarang?" Raina menggigit bibirnya.
"Memangnya kapan? Sekarang waktu yang tepat, apa kamu tidak mau?" tanya Fadli,
"Ah, iya? Apa? Hmm, aku ke kamar mandi dulu!" Raina mengalihkan pembicaraan dan berlalu mengambil beberapa pakaiannya.
"Kamu memang lucu dan menggemaskan, istriku." Fadli tersenyum.
***
__ADS_1
Malam yang hangat untuk Fadli dan Raina. Mereka sama-sama malu ketika berada di satu ranjang yang sama. Jantung Raina berdebar tak karuan lagi, ketika Fadli mendekatinya.
"Fad, aku masih takut," Raina menggigit bibirnya lagi.
"Tidak akan, aku janji sekarang kamu tak akan menangis lagi, Rai." Fadli membenarkan poni Raina.
"Fad, aku..."
Fadli membalas perkataan Raina dengan bibirnya. Ia mendekatkan bibirnya dan mulai mengecup bibir merekah Raina. Ia sudah tak bisa menahan gejolak hasrat dalam dadanya. Diciuminya Raina, sampai Raina terlihat melenguh. Fadli menidurkan Raina perlahan-lahan, sambil terus menciuminya.
Mencoba memainkan ritme yang santai, Fadli mencium leher dan telinga Raina, membuat Raina merasa geli dan bergetar seluruh tubuhnya. Fadli menciuminya, dan sesekali mencium bibir Raina lagi. Mengusap rambut Raina, sambil tersenyum padanya.
"Apa kamu menikmatinya, sayang?" tanya Fadli, sambil tangannya memegang gundukan kenyal milik istrinya itu.
Raina tak menjawab, ia hanya melenguh sambil memejamkan matanya. Tangan Fadli mulai lihai membuka kancing baju Raina. Ia membukanya dan gundukan itu terlihat menyembul. Fadli memegangnya dan memainkannya. Raina mendesah, merasakan kenikmatan yang benar-benar baru bisa ia rasakan sekarang.
Fadli terus memeganginya, hingga ia memberanikan diri menghisap bola dunia milik Raina. Fadli terus bergumul dengan dada Raina, membuat Raina benar-benar merasakan kenikmatan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Fadli mulai turun ke bawah, ia membuka semuanya. Hingga terpampang nyata kemolekan tubuh sang istri. Fadli pun menanggalkan pakaiannya. Pelan-pelan, ia mulai mendekati bagian paling sensitif dari tubuh Raina.
"Fad, jangan," Raina menahan lagi.
"Sayang, aku akan pelan-pelan. Tenang sedikit ya, milikmu kehujanan, jadi tak akan terlalu sulit untukku. Siap ya, tahan," Fadli mengarahkan pedangnya menuju Raina.
"Mmmppphhh, Aahhh, Fad," hanya itu yang keluar dari mulut Raina ketika Fadli berhasil menerobos gawangnya untuk yang kedua kalinya.
"Aku akan mengimbanginya, aku akan menikmati setiap hentakannya, sayang. Terima kasih, telah memberikan kebahagiaan batin untukku." Fadli mengecup kening Raina dengan lembut sambil tubuhnya terus berolahraga.
Kenikmatan itu berakhir di menit ke sepuluh. Fadli dan Raina telah sampai pada puncaknya secara bersamaan. Fadli dan Raina mengejang hebat. Inilah yang dinamakan bercinta dengan cinta. Raina terlihat lelah, namun tak menangis seperti awal mula mereka melakukannya.
"Sayang, aku mencintaimu.." ucap Fadli sambil mengelus pipi Raina.
"Kumohon, jangan tinggalkan aku, aku telah menyerahkan semuanya padamu," ucap Raina.
"Aku suamimu, tentu saja aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia padamu, dan aku berharap, semoga secepatnya Fadli junior hadir di perutmu," Fadli mengusap lembut perut Raina.
"Ah, geli, jangan pegang-pegang lagi." ucap Raina.
"Kamu geli, apa mau lagi?" Fadli tersenyum nakal,
"Fad, kamu belum merasakan pukulan ku, ya? Apa kamu mau, perut buncit mu itu aku pukul?" Raina melotot.
"Aah, ampun-ampun sayang. Baik, baik, aku akan segera ke kamar mandi sekarang. Sudah cukup untuk malam ini, yang penting aku bisa menagihnya lagi setiap malam, ya?" Fadli menggoda Raina lagi.
"Mbuh lah! Sabodo teuing!" logat Bandung Raina keluar.
Sabodo teuing \= Bodo amat
__ADS_1
*Bersambung*