
"Kenapa harus melirik kearah mereka? Aku gak suka, kak!" Gita berjalan sambil mengeluarkan kekesalannya
"Aku melirik karena Rey berkata ada yang melihat kearah ku. Aku spontan melirik, dan aku berkata padanya aku tak peduli dengan wanita-wanita yang melirikku, aku hanya ingin istriku yang melihatku. Karena, mendapatkan wanita sepertimu itu tak mudah bagiku!" jawab Rama jujur
"Benarkah kau berkata begitu?" Gita masih tak percaya
"Aku sudah jujur padamu. Terserah akan bagaimana kau menyikapinya. Yang jelas, aku tak berniat membohongimu sedikitpun." ujar Rama
"Maafkan aku!" gita memegang tangan Rama
"Tak apa. Aku hanya ingin kau percaya padaku!" Rama mengusap lembut rambut Gita
Gita lega, kekesalannya pada Rama telah memudar. Ia mengerti, Rama tak seperti yang ia bayangkan. Rama jujur padanya, Rama memang melihat wanita-wanita itu, tapi ia tetap menyebut nama Gita, ia tak tertarik pada wanita-wanita selain Gita.
Gita dan Rama menaiki mobil mereka, setelah urusannya selesai dengan pihak butik. Mereka akan segera pulang. Gita merasa lapar, ia ingin ke cafe tempat Vina bekerja. Ia ingin makan disitu sambil bertemu dengan Vina.
Rama melajukan mobilnya menuju cafe tersebut. Jaraknya hanya 10 km dari Mall tadi. Gita melihat Rama yang sedang fokus menyetir. Menatapnya, melihat wajah lelaki dihadapannya, lelaki yang menjadi teman hidupnya. Lelaki yang menjadi suaminya. Rama memang tampan, Gita enggan berkedip menatapnya.
Gita tersenyum, Rama kini SAH menjadi suaminya. Wajah tampannya, dada bidangnya, bahu bidangnya, senyum manisnya, lesung pipi indahnya, semua milik Gita. Ketika melihat suaminya seperti itu, hatinya berdebar. Rasanya ingin mencium bibir manis Rama.
"Kenapa liatin terus? Aku jadi nggak fokus loh!" ucap Rama
"Gapapa kok, aku lagi pengen aja mandangin kamu." jawab Gita
"Aku ganteng ya?" Rama tersenyum
"Jangan GR deh kamu!." jawab Gita
"Kamu jujur aja. Aku emang ganteng kan!" Rama memegang dagu Gita
"Iya, iya. Suamiku memang ganteng." Gita terpaksa
"Kamu juga cantik. Aku beruntung menjadi suamimu." ucap Rama
"Aku juga."
"Aku juga apa? Yang jelas dong." pancing Rama
"Aku juga beruntung memiliki suami sepertimu. Suami yang tampan, baik, dan tulus mencintaiku apa adanya." Gita tersenyum tulus
Rama menghentikan mobilnya. Dia sungguh tak tahan dengan ucapan Gita. Bibirnya yang manis terus saja bicara, Rama sungguh tak tahan.
"Kenapa berhenti?" tanya Gita
"Aku bener-bener nggak tahan sama kamu!" ucap Rama
"Kamu jangan macem-macem ya! Ini di mobil loh! Aku juga masih menstruasi." Gita sedikit takut
Rama tak menjawab perkataan Gita. Semakin Gita berbicara, semakin Rama tak tahan ingin melahap habis mulut manis Gita. Rama menciumnya. Rama tak memberi kesempatan Gita untuk berbicara. Nafasnya berderu, hasratnya sangat mendalam pada Gita. Ia terus mencium Gita, Gita menerima ciuman Rama. Mereka berpagut cukup lama. Gita mulai kehabisan nafasnya.
"Kamu jangan menggodaku! Aku jadi tak tahan!" Ucap Rama
__ADS_1
"Aku nggak godain kamu kok!" jawab Gita
"Tadi itu apa? Kamu ngeliatin aku terus kan? Kamu pengen aku cium kan? Iya? Ngaku aja!" Rama menebak
Kenapa dia bisa menebaknya? Bibirmu sangat manis, sayangku. Aku benar-benar ingin mencium mu, tapi tanpa aku memulai, kau sudah berinisiatif memulai lebih dulu padaku. Aku malu. Gita dalam hati.
"Aku cuma liatin aja kok! Gak ada maksud lain." Gita mengelak
"Kamu jangan godain aku terus. Aku gak tahan kalau diliatin kamu terus." Rama gugup
"Iya deh iya. Maafkan aku!"
"Aku benar-benar sudah terlalu jatuh dalam cintamu!" ucap Rama
"Gombal kamu, kak!" ucap Gita
"Kenapa kamu masih manggil aku dengan sebutan 'Kak' sih? Sekarang kan aku suamimu!" ucap Rama
"Maaf, baiklah aku akan memanggilmu dengan sebutan suamiku, ataupun sayangku." jawab Gita
"Sayangku?" Rama mengetes Gita
"Iya, suamiku?" Gita sedikit geli
"Nah, gitu dong." ucap Rama
Rama dan Gita telah sampai di cafe tempat Vina bekerja. Gita melihat Vina, ternyata ia sedang melayani pelanggan yang lain. Gita duduk di kursi yang kosong. Vina menuju kursi Gita, ia kaget bahwa sahabatnya lah yang duduk di kursi itu.
"Apaan sih lu! Berisik." Gita menginjak kaki Vina
"Aww, sakit dong Git!" Vina mengaduh
"Kita belum malam pertama, Vin!" jawab Rama bete
"Hah? Kok bisa sih?" Vina heran
"Tanya aja sama temen lu sendiri." Rama dingin
"Gue lagi dapet. Puas lu! Udah sana pergi, gue pesen rice bowl ayam teriyaki sama jus mangga!"
"Sorry, sorry Git! Sensi banget lu! Kalo Kak Rama pesan apa?" tanya Vina
"Samain aja kayak istri gue." jawab Rama santai
"Oke baiklah, pengantin baru. Tunggu sebentar yaaa!" Vina segera berlalu.
Gita malu. Rama kenapa harus membongkar alasannya pada Vina. Rama memang lelaki yang tak bisa menjaga rahasia.
Rama dan Gita memakan makanan yang telah di hidangkan. Makanan di cafe tempat Vina bekerja memang enak. Gita tak pernah bosan datang kesini.
"Kamu gak pernah tahu ya, dulu seperti apa perjuanganku untuk bisa menemukanmu!" ucap Rama membuka pembicaraan
__ADS_1
"Aku tahu, maafkan aku." Gita menunduk
"Dulu, aku datang ke cafe ini bersama Dimas, mencari keberadaan Vina. Karena aku tahu, Vina pasti mengetahui keberadaan mu." ucap Rama
"Lalu, kenapa kamu bisa menemukan tespack milikku?" tanya Gita
"Aku memaksa masuk ke rumahmu, aku memberikan sejumlah uang pada penjaga rumahmu. Kalau aku menemukan bukti tentangmu, akan pasti mengejar mu. Ternyata benar aku menemukan tespack di laci kamarmu!" jelas Rama
"Lalu?"
"Awalnya aku tak berniat pergi ke Malaysia menemui Vina. Tetapi, karena bukti testpack yang aku punya, aku ingin segera bertemu Vina, karena aku yakin Vina mengetahui tentang dirimu."
"Maafkan aku, aku mengecewakanmu." Gita menunduk lagi.
"Tahukah kamu? Ketika aku di Malaysia, aku terjebak kemacetan. Anak-anak mengumpati aku habis-habisan." ujar Rama
"Kenapa mengumpati mu?" tanya Gita
"Ada pernikahan di sana. Namanya Gita and Gilvan with love!"
"Hah? Kamu serius? Kamu melewati jalan itu?" Gita terkejut
"Iya, mereka mengira bahwa itu Gita dirimu! Tapi, aku mengelak. Tak mungkin itu Gitaku yang sedang aku cari."
"Itu memang aku. Maafkan aku!" Gita merasa bersalah
"Kalau saja aku tahu itu dirimu, atau ada fotomu dan Gilvan berdua di depan pintu masuknya, mungkin saja saat itu aku akan menggagalkan pernikahanmu!" ucap Rama
"Aku merasa bersalah padamu. Aku memang wanita kejam. Aku frustasi saat itu, aku tak bisa berpikir jernih. Sungguh, maafkan aku!" ucap Gita
"Untungnya, cinta berpihak pada kita saat ini. Aku bahagia bisa mendapatkan mu. Perjuangan dan pengorbananku tak sia-sia. Kini, kau bisa hidup denganku." Rama memegang tangan Gita
"Masa lalu kita begitu kelam. Semoga saja aku dan kamu akan bahagia selamanya. Aku janji, tak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun." Gita tersenyum
"Terimakasih kamu telah mengizinkanku untuk mencintaiku. Terimakasih kamu telah memberiku kesempatan untuk merasakan cinta itu lagi. Hatiku hidup kembali ketika kau datang." Rama mengelus lembut tangan Gita.
"Karena cintaku akan hidup jika bersamamu! Hatiku akan merasakan cinta ketika dekat denganmu. Tanpamu, hatiku hampa. Aku, tak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Ragaku bersama orang lain, tetapi hatiku tertinggal di hatimu." jelas Gita
"Ternyata, cinta akan menemukan jalannya sendiri. Jika kita yakin, jika kita berusaha, inilah hasilnya. Kita bisa bersama dan merajut cinta kembali." ucap Rama
"Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Kumohon, jangan pernah sakiti hatiku lagi." Gita tersenyum bahagia
"Aku janji. Aku tak akan menyakitimu! Aku tak akan membuatmu terluka, kau bisa pegang perkataan ku!" jawab Rama mantap
"Aku percaya padamu." Gita tersenyum tulus
Semoga saja kebahagiaan ini akan kekal abadi selamanya. Semoga tak ada aral melintang lagi dalam hubungan kita. Aku ingin bahagia menikmati hidup denganmu. Aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padamu. Kuharap kau tak menyakitiku. -Gita-
Rama dan Gita pamit pulang kepada Vina setelah mereka telah selesai makan. Gita dan Rama segera pulang, karena kasihan bayi mereka ditinggalkan terlalu lama.
*Bersambung*
__ADS_1