
Air mata Vina mengalir deras dihadapan sahabat terbaiknya, yaitu Gita. Vina menceritakan kedatangan Gilvan padanya.
"Gue nggak ngerti. Disaat gue udah membuka hati buat orang lain, dia malah datang, Git! Gilvan bener-bener br*ngsek."
"Udah, udah. Gue aja yang cuma denger dari elu soal kedatangan Gilvan, bener-bener kaget. Apalagi elu, yang secara langsung berhadapan dengannya."
"Gue bener-bener gak habis pikir. Dia terlalu egois, sampai mementingkan uang daripada gue."
"Gue tahu, dia dilema berat Vin. Gue yakin, dia memang sangat mencintai lo. Tapi, dia juga gak mungkin pulang dengan tangan kosong. Gue tahu, Gilvan itu orang kayak apa. Dan lagi, suami gue kemaren bilang, ada transfer dari orang gak dikenal 50 juta. Kalo sekarang lu ketemu Gilvan, berarti gue yakin, yang TF ke suami gue itu dia."
"Gilvan benar-benar orang yang menjunjung tinggi harga diri. Tapi, dia gak pernah mikirin perasaan orang lain sama sekali."
"Gimana perasaan lo?" tanya Gita
"Perasaan apa?"
"Perasaan lo setelah tahu Gilvan kembali dan menemui mu lo secara langsung?"
"Gue marah, gue sedih, gue emosi dengan keputusan dia yang membuat gue jatuh akan harapan kosong selama ini."
"Jauh didalam lubuk hati lo, gue tahu, Vin! Gue tahu, kalo lo itu masih sangat mencintai Gilvan."
"Mungkin hati kecil gue masih mengiba padanya, tapi gue udah tutup jalannya untuk bisa kembali ke hati gue lagi. Gue gak mau, Git. Gue terlanjur sakit hati. Gue udah buat dia stop gak akan ngejar gue lagi."
"Maksud lo?" Gita tak paham
"Mungkin, sebelum bertemu gue, Gilvan telah memantau gue dari kejauhan. Gue pernah jalan bareng Andra, dan gue rasa Gilvan melihat itu, Git. Dia menyangka, Andra adalah suami gue, yasudah, gue bilang iya aja! Gue udah bahagia sama suami dan anak gue."
Gita kaget. Se-berani itu Vina mengatakannya. Ia benar-benar berbohong pada Gilvan.
"Lu gila apa? Parah lu, Vin. Lu gak ngasih tahu Gilvan, kalau Givia itu anaknya dia?"
"Shuttttt, berisik, Git! Pelan-pelan."
"Sorry, sorry. Gue bener-bener kaget, Vin."
"Iya, gue nggak kasih tahu Gilvan. Percuma, buat apa dia tahu, dia nggak pantes jadi Ayah yang baik buat Givia." ucap Vina
"Vina, Davina Melania! Lu itu harus sadar, Vin. Givia butuh sosok Ayah, buat apa lu cari Ayah yang lain, kalau Ayah Givia yang sesungguhnya ada didepan mata lo?" Gita menegaskan
"Gue gak bisa nerima dia, Git. Gue mohon, jangan paksa gue untuk bersamanya lagi. Hati gue terlanjur pedih dengan sikapnya. Gue ingin bahagia dengan semestinya. Gue gak mau terngiang lagi bayang-bayang Gilvan." ucap Vina menangis
__ADS_1
"Tapi, Givia butuh Ayahnya, Vin!"
"Gue akan cari Ayah yang baik buat Givia, asalkan itu bukan Gilvan!"
"Dengan Andra maksud lo?" tanya Gita
"Mungkin saja, dia baik dan care sama gue. Gue akan buktikan pada Gilvan, kalau gue juga bisa bahagia tanpa dia, gue bisa menemukan kebahagiaan gue yang seutuhnya." jawab Vina sedikit ragu
"Lu yakin?" tanya Gita
"Gue yakin." jawab Vina
"Tapi, gue nggak yakin." timpal Gita
"Kenapa lu harus gak yakin?" tanya Vina
"Gue tahu, lo cuma mau balas dendam sama Gilvan. Lo gak serius sama ucapan lo barusan. Gue bisa lihat, dari raut wajah lo dan ucapan lo itu mengandung keraguan mendalam, Vin." ucap Gita.
"Terserah, lu mau anggap gue kayak gimanapun juga. Yang jelas, gue mau move on dari Gilvan. Gue ingin dia menyesal seumur hidupnya, dan gue akan cari kebahagiaan gue sendiri." tegas Vina
"Vina, yang akan menyesal itu elu apa Gilvan? Elu jangan asal pilih, elu gak tahu Andra itu siapa, elu gak kenal dia. Gue gak jamin, kalo elu sama Andra bisa bahagia. Please, Vin. Jangan terlalu larut dalam emosi. Lu harus berdamai dengan hati lu, lu harus mencoba memaafkan Gilvan. Dia benar-benar cinta sama lu, semua dia lakukan hanya buat lu, Vin! Meskipun dia menghilang cukup lama, tapi itu semua ada alasannya kan?"
"Git, CUKUP. Gue gak mau hati gue goyah lagi. Pilihan gue sudah tetap. Gue akan move on dari Gilvan. Gue cuma minta sama lu, jaga rahasia gue dari Gilvan. Seandainya elu ketemu Gilvan, gue minta sama lu, jaga rahasia Givia, gue mohon. Lu cukup bilang sama Gilvan, Givia adalah anak Andra. Can You say it, Git? Please, for me! U can do it, Git. I will believe you." (Bisakah kamu mengatakan itu Git? Kumohon, untukku! Kamu bisa melakukannya, Git. Aku akan percaya padamu.)
"Makasih lu udah mengerti kondisi gue. Gue bener-bener respect sama lu, udah jadi pendengar setia dalam hidup gue. Gue bersyukur, Git. Makasih banyak." Vina tersenyum pada Gita
"Gue ini sahabat lu, Vin. Gue akan terus dukung lo walaupun keinginan lu dan gue gak sejalan." ucap Gita membalas senyuman Vina
"Semoga saja, gue gak akan salah memilih Git." ucap Vina
"Iya, Amin. Jangan pernah membenci Gilvan, gue minta sama lu. Karena apa? Walau bagaimanapun juga, Gilvan adalah Ayah biologis dari Givia. Suatu saat nanti, anak perempuan pasti mencari Ayahnya." jelas Gita
"Gue mengerti akan hal itu. Mungkin, seiring berjalannya waktu, perasaan benci gue sama dia akan hilang."
"Lu jangan membuat Givia jauh dari Gilvan. Harusnya, walau lu udah bahagia sama laki-laki lain, Gilvan harus tetap tahu, kalau Givia itu anak kandungnya." jelas Gita
"Gue gak bisa membiarkan itu terjadi. Gue gak siap! Kalau Gilvan tahu, dia bisa saja mengambil Givia dari gue. Ini yang gue hindari, Git. Maka dari itu, gue mohon sama lu, bilang gue udah bahagia sama Andra dan juga Givia."
"Baiklah, kalau lu maksa, Vin. Gue ikuti kemauan lu, semoga kebahagiaan senantiasa datang pada lo dan Givia."
"Makasih, Git. Lu emang bener-bener sahabat bagi gue, gue sayang sama lu, makasih Git."
__ADS_1
Vina memeluk Gita. Hatinya lega, setelah mendapat pencerahan dari Gita. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati Vina.
"Git?"
"Iya, Vin?"
"Ada satu hal yang gue masih takutkan." ucap Vina tiba-tiba
"Apa itu?" tanya Gita
"Apa Givia terlihat mirip dengan Gilvan?"
"Givia memang mirip dengan Gilvan. Tapi, dia tetap mengikuti wajah lo. Emang kenapa?"
"Gue khawatir."
"Khawatir kenapa lagi?" tanya Gita penasaran
"Ada satu hal yang gue lupa.."
"Apa itu?"
"Gue mengembalikan uang Gilvan yang 320 juta itu." ucap Vina
"Lalu, apa masalahnya?"
"Ada surat didalamnya, surat yang gue tulis ketika gue akan tinggal di kampung halaman Nenek gue." Vina menggigit bibirnya
"Lah, terus?"
"Didalam surat itu tertulis, bahwa gue sudah hamil, isinya ada tentang kehamilan gue. Gue sengaja nulis, untuk kenang-kenangan nanti saat dia kembali. Gue lupa, gak memeriksa amplop itu lagi."
"Jadi, gimana dong kalo ketahuan?" tanya Gita
"Gue harus menemui Gilvan sekarang juga! Sebelum ia membukanya." ucap Vin
"Vina, jangan nekad lu!"
*Bersambung*
Selamat malam..
__ADS_1
maaf, up nya lama. aku tadi males banget nulis hehe
Jangan lupa, like dan komentarnya ya. Makasih atas dukungannya semuanya.