
Gita dan Rama telah sampai di apartemennya. Mereka langsung masuk karena sebelumnya telah memberi tahu Ibu Gilvan bahwa Gita telah tiba.
Ibu Gilvan terlihat sangat sedih. Raut wajahnya amat lesu. Tetapi, Rama mencoba tetap fokus pada tujuannya.
"Apa ada hal penting yang ingin kalian bicarakan?" tanya kakak Gilvan
"Ada, tetapi sebelumnya saya mohon maaf jika ucapan saya ada yang menyinggung tante dan juga Kakak." ucap Rama
"Katakanlah jika itu demi kebaikan putraku!" ucap Ibu Gilvan
"Kakek saya mempunyai kenalan Dokter saraf yang terkenal di New York, dia menyarankan agar Gilvan bisa dirawat secara pribadi oleh Dokter Frank. Saya minta maaf, apa tante berkenan jika Gilvan saya bawa ke sana?" ucap Rama penuh kelembutan
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi, saya tak sanggup jika harus berobat diluar negeri. Keuangan kami sudah menipis untuk biaya operasi dan rawat inap Gilvan." ucap Ibu Gilvan
"Biarkan Gilvan sembuh dengan sendirinya. Kami sudah tak mampu membiayainya, apalagi jika harus pergi keluar negeri." ucap Kakak Gilvan
"Kalian tak perlu memikirkan masalah biayanya. Biar keluargaku yang akan menanggung semuanya. Hanya, izinkan saja Gilvan pergi bersamaku, aku akan bertanggung jawab penuh untuk kesembuhannya." Rama tersenyum tulus
"Rama benar, Bu. Kami sangat berterima kasih atas jasa Gilvan. Inilah saatnya kita membalasnya. Maafkan kesalahan Gita, maafkan Gita yang dulu menyakiti Gilvan. Semua ini karena Gita, Gita dan Rama akan membantu Gilvan, sampai ia benar-benar sembuh."
Gita menjelaskan sambil menitikkan air mata. Ia menyesali semuanya, Gilvan jadi seperti ini. Berawal karena mengenal Gita.
"Tidak, Gita. Ibu sudah ikhlas akan takdir yang terjadi pada Gilvan. Ibu tidak mau merepotkan kalian, Ibu tak mau menambah beban kalian. Ibu yakin, Gilvan akan sembuh dengan sendirinya." ucap Ibu Gilvan
"Saya mohon jangan tolak permintaan kami, Bu. Kami tak sedikitpun merasa direpotkan. Tolong, izinkan saya untuk membawa Gilvan. Saya ingin Gilvan segera sembuh."
"Ram, apa kamu tak keberatan?" tanya Kakak Gilvan
"Tidak, Kak. Saya benar-benar tulus ingin membawa Gilvan. Kalian tak perlu memikirkan apapun. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Semoga secepatnya Gilvan akan pulih." ucap Rama
"Gita, Rama.. Kalian tak perlu repot-repot seperti itu. Kalian tak bersalah, sudah tak apa-apa. Jangan terbebani dengan Gilvan. Ibu yakin, cepat atau lambat pasti akan sembuh." ucap Ibu Gilvan
"Bu, tak usah khawatir. Jangan berpikiran seperti itu, kita tak sedikitpun keberatan untuk membantu Gilvan. Gita mohon Bu, terima saja permintaan kami, izinkan kami membawa Gilvan. Gita mohon!" Gita memohon
"Tapi, Git.. Ibu.." ucapan Ibu terpotong
"Ibu tak usah memikirkan apapun. Tenangkan hati Ibu, bebaskan. Biar ini menjadi urusan kita. Percayakan semuanya pada kita berdua." ucap Rama
"Bu, mungkin ini jalan terbaik untuk Gilvan, kita percayakan saja semuanya pada Rama dan Gita." ucap Kakak Gilvan
"Ibu percaya pada kalian, tetapi Ibu malu. Uang ibu tak akan cukup, untuk membayar terapi di luar negeri." Ibu Gilvan tertunduk
"Bu, Gita dan Rama sudah bilang pada Ibu. Ibu tak perlu memikirkan masalah biaya. Kita yang akan menanggung semua biayanya, Bu! Percayakan saja pada kita berdua." jelas Rama
"Baiklah, terima kasih banyak. Ibu benar-benar berhutang budi pada kalian." ucap Ibu
__ADS_1
"Terima kasih Ibu telah mempercayai kami. Terima kasih Ibu telah memberi izin pada kami." Rama menundukkan punggungnya.
Ibu Gilvan benar-benar malu pada Rama dan Gita. Ibunya memang ingin Gilvan segera sembuh, tetapi keuangan mereka menipis karena biaya operasi Rumah sakit memakan biaya yang tak sedikit.
Untungnya, Gita dan Gilvan dapat meraih hati keluarga Gilvan. Gita dan Rama segera menyusun cara agar Gilvan bisa ikut dengannya.
***
Rama dan Gita sedang didalam perjalanan menuju Rumah sakit. Mereka akan menemui Dokter yang menangani Gilvan, dan sekalian menjenguk Gilvan.
Rey selalu setia mengantar kemanapun majikannya pergi. Meskipun hatinya ingin tetap berada di rumah, tetapi kini ia tak bisa.
Gita dan Rama memerintahkan pada asisten lain agar segera mengurus keberangkatan Gita dan Rama serta Gilvan ke luar negeri. Gita mempertimbangkan akan membawa Vina. Merek akan beberapa hari di New York sampai Gilvan mukai relaks dengan terapi yang dijalaninya.
Setelah itu, mereka akan pulang kembali ke Indonesia. Mereka akan membiarkan Gilvan tinggal sendiri sampai benar-benar sembuh.
Sesampainya di Rumah sakit, Rama segera menemui Dokter yang mengurus Gilvan.
"Dok, jadi kapan Gilvan bisa pulang?" tanya Rama
"Besok saya rasa dia sudah bisa pulang. Tetapi, jangan memaksakan keras ingatannya untuk kembali dengan cepat. Hal itu bisa merusak saraf-sarafnya lagi." jelas sang Dokter
"Iya, baik dok. Saya tidak akan memaksanya memikirkan ingatannya. Saya akan membawanya ke luar negeri untuk dirawat oleh Dokter saraf kenalan kakek saya." jelas Rama
"Tentu, itu bagus sekali." ucap sang Dokter.
Gita pun berpikir keras. Bagaimana caranya agar Gilvan bisa diajaknya pergi bersama Rama. Gilvan tak menyadari bahwa dirinya kehilangan ingatan.
Tok..tokk..tookk..
"Masuk!" ucap Gilvan
"Van, kita datang." ucap Rama
Gilvan menatap Gita dan Rama. Tak ada sedikitpun rasa sakit hati, Gilvan hanya heran kenapa hatinya semudah itu melepaskan Gita kepada pria lain, dan membiarkan mereka berada disampingnya. Hati Gilvan tak kecewa, Gilvan tak mengerti kenapa ia bisa begitu.
"Ada apa?" tanya Gilvan
"Van, kamu sudah baikan?" tanya Gita
"Sudah, sepertinya besok aku bisa pulang." jawab Gilvan
"Van, apa kamu ingin pergi berlibur ke luar negeri?" tanya Rama
"Tidak."
__ADS_1
"Apa kamu mau ikut bersama kami?" tanya Rama lagi
"Kemana?"
"Ke New York."
"Kenapa kalian harus mengajakku?"
"Karena kita bersalah padamu, kita ingin mengajakmu berlibur sama-sama." ucap Gita
"Semudah itukah kalian meminta maaf?" ucap Gilvan
"Apapun yang kamu inginkan, akan aku lakukan. Asalkan kau mau ikut denganku ke New York." ucap Rama
"Aku baru sembuh, kenapa kalian memaksa?"
"Kamu akan lebih sehat kalau berlibur ke luar negeri." ucap Rama terus merayu
"Kalau kalian berdua, untuk apa aku sendiri?" Gilvan seperti tak mau
Gita berpikir. Bagaimana caranya bisa merayu Gilvan agar ia mau pergi ke New York bersamanya. Gita memutar otaknya.
"Kamu bisa berdua bersama Vina!" ucap Gita
Rama menoleh kearah Gita karena mengucapkan nama Vina.
"Kenapa harus wanita itu? Dia wanita yang mengejar ku itu kan? Dia sahabatmu?"
"Iya, Van. Itu sahabatku. Apa kamu tak mau lebih dekat dengannya? Kumohon, ikutlah dengan kami."
"Kenapa kalian memaksa?" tanya Gilvan
"Ini sebagai bentuk hadiah untukmu, hadiah liburan untukmu karena Gita telah menyakiti hatimu. Maafkan kami ya!" Rama tersenyum
"Kalian mau mendekatkan aku dengan wanita itu, iya?" tanya Gilvan
"Tidak, Vina ikut hanya untuk membantumu, dia tak akan macam-macam padamu." ucap Gita
Gilvan menatap Gita dan Rama. Entah kenapa, melihat mereka berdua, Gilvan tak merasa sakit hati sedikitpun. Ajakan pergi ke luar negeri? Gilvan berpikir, untuk apa, dan kenapa mereka memaksa. Gilvan baru saja sembuh. Tak mungkin pergi jauh. Tetapi, apa boleh buat, diam saja pun tak akan merubah keadaan.
"Baiklah, aku ikut." ucap Gilvan
"Serius Van? Aku seneng banget. Thanks ya, kamu menyelamatkan hidup Vina." Gita keceplosan
"Apa maksudmu?" tanya Gilvan
__ADS_1
*Bersambung*
Selamat membaca ya.. Jangan lupa LIKE oke ❤❤❤