
Back to Bandung
Mereka berempat telah kembali ke Bandung. Masalah baru dimulai, Gilvan yang terbakar api cemburu karena melihat foto Vina bersama pria, benar-benar sudah tak bisa di toleransi.
Amarah Gilvan tak tertahankan, ia marah bukan kepalang. Hatinya sudah tak bisa berpikir jernih. Gilvan ingin segera menemui Vina, Gilvan ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Vina.
Vina sudah berada di rumahnya. Sebenarnya, Vina ingin segera menemui Gilvan, tetapi ia tak bisa karena tuntutan pekerjaannya. Vina sudah 4 hari tak bekerja, ia harus mulai kembaki ke cafe.
Rey berniat mengantar Vina pergi ke cafe tempatnya bekerja, tetapi Vina menolaknya. Akhirnya Rey mengalah dan Vina berangkat sendiri.
Sesampainya di cafe, Vina sudah disibukkan dengan pelanggan yang mengantri. Vina sibuk hilir mudik melayani pelanggan. 5 jam lamanya Vina belum istirahat sejak masuk kerja. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak.
Di sebrang jalan, terlihat ada pedagang rujak dan buah-buahan. Vina ingin membelinya karena cuacanya benar-benar gerah. Vina segera melintas dan menyebrang jalan.
Vina duduk di kursi depan ruko yang kosong. Diseberang cafe tempat Vina bekerja memang berjejer ruko, salah satunya ada ruko yang kosong. Pedagang rujak buah tersebut diam di sana.
Vina enggan pergi dari situ. Ia ingin menghabiskan rujak buahnya di ruko tersebut. Hingga pedagang rujak telah berlalu, Vina masih duduk di depan ruko tersebut.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu!" Gilvan muncul dihadapan Vina.
Vina terperanjat. Ia benar-benar kaget. Vina tak menyangka bahwa Gilvan akan secepat ini menemuinya.
aa
"Apa yang kamu inginkan?" Vina terlihat emosi
"Maafkan aku, Vin. Aku baru menyadari semuanya." ucap Gilvan
"Semua udah terlambat. Kamu gak bisa membetulkan kaca yang sudah pecah!"
"Aku tahu, aku salah. Aku tahu, aku meninggalkanmu. Tetapi, aku sadar sekarang. Aku mencintaimu!" Gilvan menunduk
__ADS_1
"Cukup, Van! Kamu gak usah bilang cinta di hadapanku. Cintaku sudah hilang padamu!" jawab Vina menitikkan air matanya.
"Kamu harus memberiku kesempatan lagi, Vin. Kumohon." Gilvan memegang tangan Vina
"Gilvan?"
"Ya, Vin?"
"Apa kamu tahu bagaimana aku bertahan ketika kau meninggalkanku?"
"Maaf, itu salahku."
"Aku benar-benar terluka. Aku menangis, tapi tak ada yang mendengar ku, aku sendiri! Aku melewati kesedihanku sendiri. Kau telah merenggut semuanya, Van! Kamu terlalu egois untukku!" ucap Vina
"Maafkan aku! Kala itu aku tak bisa berpikir jernih. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu!"
"Semua sudah terjadi. Tak ada lagi yang perlu kau sesali." jawab Vina
"Tapi aku ingin memulai dari awal lagi, Vin! Aku ingin hidup bersamamu." ucap Gilvan
"Tak ada lagi kata selain maaf yang bisa aku ucapkan padamu, Vin!" Gilvan terus memohon
"Kamu tak tahu betapa rapuhnya diriku, kamu tak tahu betapa aku benar-benar hancur. Aku mencintaimu, hingga ku pasrahkan diriku untukmu, tetapi apa yang ku dapat? Kau hanya bermain-main denganku! Kau meninggalkanku ketika aku telah memberikan mahkota ku padamu! Harga diriku sudah kau injak-injak, Van. Aku sudah seperti wanita malam yang ketika telah selesai dipakai, dibayar lalu dibuang. Aku tak lebih hina dari mereka! Aku sama seperti mereka!" ucap Vina berapi-api
"Aku tak sedikitpun menganggap mu seperti itu. Aku hanya belum meyakinkan diriku, hatiku hanya masih ragu untuk memulai cinta! Tetapi, ternyata cintaku memang untukmu! Hatiku merindukanmu setelah aku pergi meninggalkanmu. Aku benar-benar ingin kembali padamu, Vin! Kumohon." Gilvan terus memohon
"Sudah, cukup. Kumohon, jangan teruskan lagi. Aku sibuk, aku sedang bekerja!" Vina berdiri, tetapi tangan Gilvan menahannya
"Jangan pergi, kumohon jawab pertanyaan ku dengan benar." ucap Gilvan
Vina tak menjawab. Ia melepaskan pegangan Gilvan pada tangannya. Ia tak suka Gilvan berkata semena-mena padanya. Vina benar-benar tak bisa mempertimbangkan Gilvan. Gilvan sudah mati didalam hatinya.
__ADS_1
"Vin? Siapa lelaki yang bersamamu saat di Malaysia?" tanya Gilvan
"Dia asisten pribadi Rama. Tak ada urusannya denganmu!" Vina jujur
"Tentu ada, karena dia dekat denganmu!" ucap Gilvan
"Apa urusanmu jika aku dekat dengan siapapun? Kau bahkan bukan kekasihku. Kenapa kau seolah-olah peduli lagi padaku! Semuanya terlalu terlambat untuk menyesali keputusanmu." Vina berapi-api
"Vin, kumohon.. Pertimbangkan aku sekali lagi." Gilvan memohon
Vina teringat akan uang yang diberikan Gilvan padanya. Uang itu masih tersimpan di laci meja kamarnya. Vina ingin segera mengembalikan uang-uang itu. Itu bukan hak nya, Vina tak mau memakai uang itu sepeserpun.
"Aku melupakan sesuatu!" ucap Vina
"Apa, Vin?" tanya Gilvan
"Aku saat ini harus kembali bekerja. Nanti sore kita bertemu di Mall dekat cafe ini. Kau mau menungguku?" tanya Vina
"Untuk apa?" tanya Gilvan
"Jawab saja, kau mau apa tidak!" Vina terlihat tegas
"Baiklah, jika itu demi cinta kita, aku akan menunggumu." Jawab Gilvan
"Aku pergi."
"Vin? Tunggu!" Gilvan menahan Vina lagi
"Apa?"
"Tolong buka blokir nomor teleponku di handphonemu!"
__ADS_1
"Baiklah." Vina berlalu begitu saja
*Bersambung*