Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Terbongkar


__ADS_3

"JANGAN SENTUH CALON ISTRIKU!"


Gilvan tiba-tiba muncul ditengah keributan Vina dan Evelyn. Gilvan tak bisa tinggal diam ketika melihat Vina dari kejauhan sedang dijambak rambutnya oleh wanita lain. Gilvan kesal, Andra yang berada ditengah kejadian hanya diam membisu tak melerai mereka sedikitpun.


Ya, Gilvan terpaksa hadir ditengah-tengah mereka! Karena, sejak awal pun Gilvan memang memperhatikan Vina dan Andra dari jauh. Gilvan sudah tahu, bahwa Vina akan bertemu disini, karena Gita memberi tahu Gilvan.


Dirinya memantau Vina, takut kalau Andra berbuat sesuatu lagi. Ternyata, kali ini bukan Andra yang membuat Vina terluka, tapi wanitanya Andra.


"Siapa lo? Jangan ikut campur! Wanita jal*ng ini udah rebut tunangan gue! Dia pantas mendapatkannya." umpat Evelyn


Gilvan melepaskan tangan Evelyn secara paksa. Gilvan tak mau Vina terus-terusan terluka. Akhirnya, Evelyn melepaskan tangannya ynag menjambak rambut Vina.


"Lepas, siapa sih lu, HAH?" Vina balik marah


"Dasar PELAKOR gak tahu diri. Wanita brengs*k! Ngapain lo ganggu tunangan gue HAHHHHH!!!" Evelyn benar-benar marah


Gilvan dan Andra hanya diam saja. MJika Andra bingung tak tahu harus bagaimana, Gilvan malah membebaskan keduanya beradu argumen, selagi keadaan aman terkendali. Gilvan pun memantau Andra, jangan sampai Andra kabur.


Vina marah, ia emosi. Ia pun tak sudi mendengar kata pelakor ditujukan pada dirinya. Vina bukan wanita yang lemah, apalagi ia tak merasa merebut Andra dari Evelyn. Dulu, Vina tak tahu, kalau Andra sudah mempunyai tunangan, makanya Vina mau dekat dengan Andra.


"Lu siapa? Lu tahu adab gak? Apa lu gak punya otak? Gue gak sudi lu panggil pelakor! Sebelum lu mulai maen jambak-jambak gue, lu harusnya tanya sama laki lu, bukan seenaknya nyalah-nyalahin gue kayak gini. Gue juga bisa nyakitin lo. Hanya, tangan gue terlalu berharga jika harus menyakiti lo!" umpat Vina


Evelyn emosi dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Vina. Dengan sekuat tenaga, ia akan menampar Vina, ia kesal dengan ucapan Vina. Namun, tangan Evelyn tertahan, Gilvan dengan cepat menahan tangan Evelyn yang akan mendaratkan tamparan pada pipi Vina.

__ADS_1


"Aaarrrrgghhhh! Lepas! Lo siapa sih? Lepas!!! Gue pengen kasih pelajaran sama wanita perusak ini. Gue gak bisa, harga diri gue diinjak-injak oleh pelakor kayak dia!!!"


Gilvan benar-benar tak tahan dengan Andra. Lelaki bajing*n itu malah diam saja, tak melakukan pembelaan atau melerai perselisihan ini. Andra sepertinya takut. Takut kalau mereka berdua meninggalkannya.


"Kamu, siapa namamu? Kumohon, selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Kuharap, sebelum kamu menyalahkan calon istriku, ada baiknya kamu tanyakan dulu pada tunangan mu, semua ini salah tunangan mu!" jelas Gilvan


"Siapa lo HAH? Lo bilang, ini calon istri lo? IYA? Lo bucin banget emang? Kenapa lo bodoh banget sih? Kenapa calon istri lu selingkuh, lu malah belain dia. Apa lu udah gak punya otak?" Evelyn benar-benar tak bisa mengontrol emosinya


"HEH WANITA JALA*NG! Jangan sembarangan lo nilai gue. Kenapa sih mulut lo kayak air comberan? Isinya gak ada faedahnya sama sekali. Pantesan aja si Andra bilang lajang sama gue! Lah, ceweknya kayak gini. Mulutnya KOTOR!"


"Sialan lu ya, berasa di atas angin lu? IYA?"


"Udah, udah. Vin, please stop it! Selesaikan dengan kepala dingin. Sepertinya, hanya pihak tunangan Andra yang belum tahu fakta sebenarnya. Dra, Lu jadi cowok yang gentle dong! Jelasin, ke tunangan lo. Jangan diem gini, sampai kapanpun kalau lu membisu, bakalan Vina yang terus-terusan disalahin. Kalo lo gak mau jelasin, biar gue yang jelasin hal ini ke cewek lo!!" ucap Gilvan


Niat hati ingin merayu Vina dan menjalankan hubungan serius dengan Vina, namun apa? Evelyn datang. Dan habis sudah Andra, entah akan bagaimana nasib percintaannya selanjutnya.


Andra tetap tak mau membuka mulutnya. Ia kaku, lidahnya kelu tak bisa menjelaskan. Akhirnya, Gilvan memutuskan Vina untuk menjelaskan pada Evelyn. Dengan syarat, tak ada saling mengumpat dan bertengkar seperti tadi lagi.


"Lo tunangannya Andra kan? So far, gue minta maaf sama lo! Gue gak tahu, kalo Andra udah punya tunangan. Gue memang menjalani hubungan dengan Andra, dan itu baru terjalin sekitar dua minggu. Gue menjadikan Andra pelampiasan gue, dari lelaki yang saat ini membela gue."


Evelyn tetap terdiam. Ia mencoba menahan emosinya, ia tak ingin terpancing lagi. Ia ingin mendengarkan dengan jelas alasan yang dikatakan oleh Vina.


"Gue bersama Andra, bukan karena cinta. Gue sempat bermasalah dengan laki-laki gue, dan gue pun justru ingin minta maaf sama Andra, karena gue udah mempermainkannya. Walaupun, ada satu hal yang gak perlu tahi tentang perlakuan Andra ke gue. Skip aja, gue rasa. Intinya, gue disini, hari ini, bersama tunangan lu, gue cuma pengen kita udahan. Gue gak mau meneruskan hubungan gue sama Andram Dan yang lo lihat, ketika Andra memegang tangan gue, bukan kita sedang romantis! Tapi, tunangan lu mohon-mohon sama gue, kalau dia ingin berniat serius sama gue. Lo salah kalau lo nyalahin gue dan bilang gue pelakor. Gue gak serendah itu, ya. Laki lo maksa terus, minta maaf pengen hubungan yang lebih baik sama gue!"

__ADS_1


"VINA, CUKUP." Andra sudah tak tahan dirinya dipojokkan terus-menerus


"Apa benar begitu Andra? Tapi, apa yang lu ucapkan itu bisa lu kasih bukti sama gue?" Evelyn tetap penasaran


"Gue gak pernah mau merebut laki-laki lain. Selama hidup gue, gue gak pernah mencintai lelaki lagi, ketika telah bertemu dengannya. Gue hanya tersulit nafsu dan amarah, makanya gue terima Andra ketika dia mencoba mendekati gue. Maaf, gue gak tahu. Gue bener-bener minta maaf, gue harap, lo mau maafin gue, karena hari ini pun, gue emang pengen mutusin hubungan ini sama tunangan lu. Please, forgive me." Vina tersenyum lembut pada Evelyn.


Vina tahu, perasaan wanita mana yang tak kecewa melihat lelaki yang disayanginya berduaan dengan wanita lain dan berpegangan tangan. Tanpa ingin mendengar alasan pun, rasanya jika melihat adegan seperti itu, kita pasti kesal dan tersulut emosi.


"Andra, aku ambil Vina sekarang. Kamu udah gak berhak lagi menahan calon istriku. Aku anggap kita semua selesai. Mohon maaf, jika Vina membuat keributan seperti ini. Aku akan mengurus Vina, dan aku harap, kamu juga mengurus tunangan mu dengan baik. Ayo, Vin! Kita pulang!" ajak Gilvan


"Vin, Vina. Vina!!!" Andra benar-benar terpuruk


Vina dan Gilvan telah berlalu. Hingga, hanya tersisa Evelyn dan Andra. Evelyn menangis. Hatinya hancur, Evelyn benar-benar tak menyangka jika Andra bisa berbuat seperti ini.


Pantas saja, jika Evelyn meminta Andra untuk menikahinya, Andra selalu banyak alasan. Apakah Andra memang sudah bosan padanya? Kenapa Evelyn harus tersiksa seperti ini?


"Lyn, maafkan aku. Aku khilaf."


"Aku hamil, Andra."


"APA?" Andra kaget, sampai tangan dan kakinya bergetar.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2