
Dimas dan Intan asyik berbincang dan bercanda, mereka memang telah dekat akhir-akhir ini. Mereka tak memperhatikan kepergian Rama yang dari tadi belum kembali. Gita pergi kebelakang mencari keberadaan Rama.
Rama tak ada di toilet. Ia mencari kemana Rama pergi, Gita khawatir Rama akan kabur, pergi dari rumahnya. Gita keluar melalui pintu belakang, tapi ternyata ia melihat Ibunya dan Rama sedang berbicara berdua. Gita mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Apa kau masih menyayanginya? Apa kau ingin mengulang kisahmu dengannya?" Tanya Ibu serius.
"Hah? maksud ibu?" Rama tak mengerti.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, Ibu melihat Gita hidup dengan Gilvan dengan keadaan hati yang tak bahagia. Ia mengandung anak Gilvan, tetapi seperti tak ada semangat. Ibu melihat mereka tidak bahagia." Ucap Ibu
"Gita pasti bahagia, Bu! Rama yakin!" Ucap Rama
"Seandainya saja Gita mengandung anak kamu, dan menikah denganmu! Dia pasti bahagia sekali. Semuanya sudah terlambat." Ucap Ibu
Itu memang anakku, Bu! Apa Ibu akan tetap baik padaku kalau ternyata Ibu tahu aku menghamili anakmu? Aku tak yakin akan hal itu. Maaf, aku belum bisa memberitahumu sekarang perihal anakku, aku masih belun siap, Bu! -Rama dalam hati-
"Gita pasti bahagia, Bu! Saya yakin, Gilvan akan menjadi suami yang baik untuk Gita." Ucap Rama
"Ibu bahagia kalau kamu yang jadi suami Gita!" Ucap Ibu kekeh
Gita yang merasa tak nyaman mendengar pembicaraan itu langsung menghampiri Ibunya dan Rama.
"Ehhmmmmm" Gita mengagetkan Ibunya dan Rama
"Ehhh, Gita! Ini lho, Rama kasihan sendirian. Kamu temenin ya. Ibu harus ngangetin sayur untuk kalian makan malam. Ibu permisi dulu ya Nak!" Ucap Ibu malu
"Eh, iya Bu!" Rama gugup
Ketika Ibu Gita sudah masuk kedalam rumah, Rama pun berdiri, akan beranjak pergi, tapi Gita menahannya.
"Kak, tunggu! Mau kemana?" Ucap Gita
"Mau kedalem, sama anak-anak." Ucap Rama dingin
"Kak, tunggu dulu! Kumohon!" Gita memegang tangan Rama
"Ada apa?" Tanya Rama
"Apa kita akan seperti ini terus?" Tanya Gita
"Seperti ini bagaimana?" Tanya Rama terus
"Kita dulu tak seperti ini, Kau baik padaku, kau lembut padaku, tapi sekarang kau sangat acuh padaku!" Ucap Gita
"Aku menghargai lelaki yang telah menjadi suamimu!" Ucap Rama.
"Tapi aku tak nyaman seperti ini. Aku ingin hubungan kita baik-baik saja, Kak!" Jawab Gita
"Hubungan seperti apa yang kau mau?" Ucap Rama dingin
"Apa kita tak bisa menjadi sahabat?" Ucap Gita
'Baiklah, aku akan menjadi sahabatmu." Ucap Rama
"Kak, jangan mengabaikan aku seperti ini." Gita sedih
"Tidak, aku tak akan mengabaikanmu sampai anakku lahir. Kau tak perlu khawatir!" Ucap Rama
__ADS_1
"Kak.." Gita masih terdiam
Rama tak menjawabnya, ia pergi meninggalkan Gita sendirian. Hati Rama sungguh sakit mengacuhkan Gita seperti itu, tapi kalau ia mengutarakan semua kerinduan yang membuncah dihatinya, ia takut Gita menjadi goyah, ia tak mau menghancurkan pernikahan Gita yang SAH. Ia hanya masalalu nya, Rama harus sadar diri, Gita tak boleh tahu kalau Rama sedang berpura-pura.
Ibunya Gita telah menyiapkan makan malam bersama untuk mereka berempat. Untungnya, Ayah Rama sedang ada urusan diluar kota, jadi mereka tak perlu canggung berada dirumah itu sampai malampun juga.
"Sabtu besok kalian libur tidak?" Tanya Ibu membuka suara
"Libur dong tante!" Jawab Dimas
"Kalau begitu, kalian menginap saja disini. Pasti seru!" Ucap Ibu
"Maaf Bu! Rama tak bisa, Besok harus mengantar Mami pergi ke suatu tempat. Setelah ini, Rama akan pulang saja!" Ucap Rama
"Saya juga tidak bisa tante, lain kali saja deh kita nginepnya. Oke?" Ucap Dimas
"Oke" Jawab Intan
Mereka menghabiskan makanan yang telah disediakan oleh Ibunya Gita. Makanan rumahan yang sangat enak. Mereka sangat menikmati memakan makanan yang dimasakkan Ibunya Gita. Setelah mereka selesai makan, mereka pamit pulang kepada Gita dan Ibunya.
Gita mengantar mereka keluar, Dimas dan Intan telah lebih dulu keluar, Rama berjalan paling belakang. Gita ingin sekali menyapa dan memeluknya seperti dahulu, tetapi ia sungguh tak bisa. Ia malu dengan statusnya sebagai istri orang lain. Hati tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia memanggil Rama.
"Kak?" Panggil Gita
Rama menoleh kearah Gita,
"Kenapa?" Jawabnya
Gita mendekat, ia tak mampu membendung perasaan rindu yang sudah tak tertahan lagi.
Gita memeluk Rama dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, hatinya ingin sekali memeluk tubuh Rama, ia sudah lama sekali menyimpan perasaan itu. Rama kaget, ia tak menyangka Gita akan memeluknya seperti ini.
"Kau ini kenapa? Lepaskan! Malu kalau dilihat Ibumu!" Ujar Rama tak nyaman
"Aku sungguh merindukanmu!" Gita tak melepaskan pelukannya
"Kau harus merindukan suamimu, jangan merindukan orang yang salah." Rama melepaskan Gita
"Kak......." Gita mundur
"Jaga bayimu baik-baik. Kamu jangan banyak pikiran, aku tak mau bayiku stress karena Ibunya seperti ini. Aku pergi.." Rama turun dari Rumah Gita, dan segera masuk ke mobil.
Kenapa kak? Kenapa hatiku terus saja ingin bersamamu? Kenapa kehadiran Gilvan tak bisa membuatku melupakanmu? Aku sungguh merindukanmu, sekarang aku sadar, memaksakan kehendak akan berujung menyakiti diriku sendiri. Kukira aku akan bahagia, tapi ternyata tidak. Kukira aku bisa melupakanmu, tapi ternyata salah. Aku justru sangat merindukanmu ketika kau jauh dariku. Kini, semuanya terbalik. Dulu, aku mengabaikanmu, aku ingin kau melupakan aku. Sekarang, kau yang mengabaikanku, dan membuatku terus merasa semakin bersalah. Apakah ini karma buatku? -Gita dalam hati-
Dimas dan Intan terdiam. Ia tahu, hati Bosnya sedang kacau. Kali ini, Rama yang mengemudikan mobilnya. Dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Dimas dan Intan sangat takut, Dimas mencoba menenangkan Rama
"Bro, gue aja yang nyetir." Ucap Dimas
"Gak usah" Jawab Rama datar
"Hati-hati, Bos!" Ucap Intan
Rama tak menjawab, hati dan pikirannya begitu kosong. Ia heran, mengapa sekarang Gita berubah menjadi lembut padanya. Ia takut terbuai lagi dengannya. Hati yang sudah ia obati, kini terluka lagi.
Aku berusaha sekuat tenagaku mencoba ikhlas menerima kenyataan kau telah menikah. Aku dengan segala kesulitanku melawan rasa menyakitkan ini. Hingga akhirnya aku telah berhasil melupakanmu sedikit demi sedikit, mencoba mengerti lika-liku jalan hidup ini, tetapi kau buat semuanya hancur lagi. Kenapa kau buat hatiku makin tersiksa? Aku harus bagaimana? Aku sudah lelah memaksamu kembali kepangkuan ku, aku tak mau kalau harus bersiteru dengan suamimu. Sesungguhnya, hatimu untuk siapa? Untukku apa untuk suamimu? Dulu, aku memaksa agar kau kembali kepadaku, kini hatiku mencoba untuk mengerti, disaat aku telah mengerti, kau datang padaku dengan segala kerinduanmu. Apa aku harus membalas kerinduan itu? Akan bagaimana nanti hubunganmu dan suami br*ngsek mu itu? -Rama dalam hati-
Suasana hati Rama sedang kacau. Hari sudah mulai malam. Rama enggan pulang kerumahnya. Ia mengajak Dimas untuk pergi lagi.
__ADS_1
"Lo ikut gue, Dim!" Ucap Rama
"Kemana? Tapi anterin Intan pulang dulu." Uca Dimas
"Gue tahu!" Rama dingin
Dimas dan Rama pergi ke diskotik berdua. Dimas sudah tahu bahwa Rama pasti ingin minum lagi. Ia sudah mengerti akan bagaimana nantinya jika Rama minum-minuman lagi.
"Lo jangan banyak minum. Lo harus inget kejadian lo sama Siska waktu itu." Ucap Dimas
"Gue gak akan minum. Gue cuma pengen menikmarti dunia malam ini. Gue pengen saran dari lo." Ucap Rama
"Soal Gita?" Dimas menebak
"Siapa lagi!" Ucap Rama
"Kenapa?" Tanya Dimas
"Apa dia masih sayang sama gue?" Tanya Rama
"Sepertinya begitu. Dulu juga dia pergi terpaksa kan? Bukan berarti dia udah gak sayang sama lo!" Jawab Dimas
"Tapi dia udah punya suami." Jawab Rama
"Perasaan lo ke Gita sekarang gimana?" Tanya Dimas
"Gak ada yang berubah, tetap sama seperti dulu!" Jawab Rama
"Kenapa lo cuek sama dia kalo gitu?" Tanya Rama
"Gue juga gak ngerti kenapa gue harus acuh sama dia. Mungkin karena dia udah punya suami hati gue terlanjur sakit." Jawab Rama
"Lo mau ngejar dia lagi gak?" Tanya Dimas lagi
"Gue akan tunggu waktunya sampai semuanya telah berpihak kepada diri gue lagi. Gue hanya akan mengambil anak yang dia kandung. Selebihnya, terserah dia." Jawab Rama
"Anak lo juga butuh Ibunya, Ram! Lo gak bisa egois gitu!" Timpal Dimas
"Ibunya? Ibunya sudah menikah lagi!" Ucap Rama
"Menikah ketika seorang wanita sedang mengandung itu haram hukumnya Bro! Pernikahan mereka tidak SAH sama sekali." Jawab Dimas
"Terus menurut lo gue harus gimana?" Tanya Rama
"Ya lo nikahin dia setelah bayinya lahir lah, Gimana sih lo?" Jawab Dimas Asal
"Gila lo ya? Dia kan udah nikah. Meskipun pernikahan mereka tidak SAH secara agama, mereka SAH secara hukum" Ucap Rama
"Lo buat Gita semakin tersiksa, buat dia mencintai lo, buat dia meninggalkan suaminya itu. Gitu aja gak ngerti lo. Gimana sih, Bos kok pikirannya dangkal banget!" Ucap Dimas asal.
"Sialan lo!" Rama menggeplak kepala Dimas
"Aww.. Sakit dong Bos! Maenannya kekerasan mulu!" Ujar Dimas
Apakah harus seperti itu membuatnya kembali kepelukanku lagi? Bukankah itu terlihat jahat sekali? Gita, mengapa cinta kita sesulit ini? Haruskah aku berjuang lagi? Atau cukup saja sampai disini? Haruskah aku benar-benar menyerah? -Rama-
*Bersambung**
__ADS_1