
Gilvan mengajak Vina masuk kedalam mobilnya. Vina lega, hatinya kini tenang. Tak akan lagi merasa bersalah pada Andra. Kini, ia tinggal menata lagi kehidupan barunya.
Gilvan melajukan mobilnya menuju sebuah restoran. Gilvan tahu, Vina pasti lelah. Ia harus mengajak Vina untuk makan.
"Van, makasih." ucap Vina
"Sama-sama, Vin. Sudah kewajiban ku untuk menolong kamu." Gilvan tersenyum
"Van, kita mau kemana?" tanya Vina
"Kita ke resto saja. Kita makan." ajak Gilvan
"Eh, jangan." cegah Vina
"Loh, emangnya kenapa?" tanya Gilvan
"Papaku memintamu untuk datang ke rumah. Kita makan malam di sana." ucap Vina
"HAH? Kamu serius?" Gilvan kaget
"Iya, makanya kita tak usah makan di restoran. Makan di rumahku saja. Ya?" pinta Vina
"Aku gugup, aku takut." jawab Gilvan
"Papaku tidak akan memarahi mu, kita hanya akan makan malam saja. Tenanglah, percaya padaku." Vina tersenyum
"Baiklah, tapi aku tak enak jika tak membawa apa-apa. Bagaimana kalau kita mampir ke supermarket dulu? Aku ingin membelikan Givia makanan ringan." usul Gilvan
Vina tersenyum. Gilvan memang lelaki yang hangat. Penilaian Vina dahulu, sangat tak berdasar. Ternyata, Gilvan adalah lelaki yang hangat dan penuh cinta.
Mereka sampai di supermarket yang tak jauh dari kantor Vina. Gilvan mengajak Vina untuk belanja. Membeli semua makanan apapun yang dia inginkan. Vina sebenarnya sungkan, namun Gilvan tetap memaksa.
"Oh ya, aku akan membeli cheese cake saja sebagai oleh-oleh.Vin, tolong pilihkan snack yang Givia sukai, agar aku juga bisa belajar mengetahui apa yang disukai anakku."
"Iya, Van."
Kamu hangat, sangat hangat. Pantas saja, dulu aku menyukaimu saat kamu masih bersama Gita. Kamu orang yang tulus. Ternyata, cintaku berhenti di kamu. Semoga, setelah badai ini, aku dan kamu bisa bahagia seperti sedia kala.
Vina dan Gilvan telah selesai belanja. Gilvan memutuskan untuk menuju rumah Vina, karena hari sudah petang. Gilvan tak mau terlalu malam, karena ia pun harus mengurus restorannya.
Dengan perasaan gugup, Gilvan melajukan rumahnya menuju rumah Vina. Dalam hatinya, ia sangat tak siap jika Ayahnya Vina akan memarahinya. Gilvan berharap, semuanya akan baik-baik saja.
Selang setengah jam berlalu. Gilvan dan Vina telah sampai di rumah. Givia menyambut mereka, karena Givia tahu, Gilvan akan datang hari ini.
__ADS_1
"Ayaaaaaaah.." Givia tersenyum senang berlari memeluk Gilvan
"Sayang, Ayah kangen sama Givia." ucap Gilvan membalas pelukan Givia
"Givi juga kangen Ayah! Ayo, masuk ke rumah Ayah! Oma udah nyiapin makan malam untuk Ayah."
"Eh, i-iya sayang, Ayah masuk sekarang."
Gilvan gugup, hatinya benar-benar berdegup kencang. Ia masih takut menghadapi kedua orang tua Vina. Sambil membawa jinjingan, Gilvan masuk ke rumah Vina dan menyapa kedua orang tuanya.
"Selamat malam, Om, Tante!" Gilvan tersenyum
"Malam, silahkan duduk, Nak." ucap Mama Vina
"Terima kasih. Oh iya, ini sedikit buah tangan dari saya, dan ini makanan ringan untuk Givia, Tante."
"Baik, terima kasih."
Gilvan dan Vina duduk berhadapan dengan orang tua Vina. Papa Vina terlihat serius, entah apa yang sedang beliau pikirkan. Gilvan sangat takut akan kemungkinan yang terjadi.
"Aku akan bicara setelah kita makan malam. Nikmati dulu makananmu, selamat menikmati hidangannya." ucap Papa Vina tegas
"Terima kasih, Om." jawab Gilvan
"Tunggu aku di ruang keluarga."
Papa Vina beranjak pergi menuju kamarnya. Ucapannya benar-benar tajam, membuat nyali Gilvan menciut. Givia diajak oleh pembantu keluarga Vina untuk menonton televisi di kamar, agar Givia tak mendengar obrolan tersebut.
Gilvan masih menunggu Papa Vina. Gilvan menatap Vina, mengisyaratkan bahwa dirinya takut, namun Vina tetap menguatkannya.
Tak lama, Papa dan Mama Vina datang, kemudian mereka duduk di kursi berhadapan lagi dengan Vina dan Gilvan.
"Aku akan bicara langsung dan terus terang. Vina, kumohon kamu jangan menjawab. Aku hanya ingin mendengar jawaban Gilvan."
"Ba-baik, Pa." jawab Gilvan
Vina hanya terdiam. Dirinya sedikit takut, padahal kemarin malam Papanya berkata akan menyetujui dirinya dengan Gilvan, namun kenapa sekarang malah jadi tegang dan terlihat menakutkan.
"Gilvan, kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu bodoh sekali?" ucap Papa Vina
"Saya hilang ingatan Om, saya menjalani pengobatan di USA, namun ketika saya sembuh, saya tak langsung kembali kesini, karena saya malu, saya tak mempunyai apa-apa."
"Kenapa kamu tak mengabari Vina saja dulu? Kalau kamu mengabarinya, kamu pasti tahu, kalau Vina sedang hamil kan?" tanya Papa Vina
__ADS_1
"Itulah yang saya sesalkan. Saya terlalu mementingkan uang daripada Vina. Saya benar-benar menyesal. Saya kira, ketika saya kembali ke Indonesia, Vina masih seperti dulu. Jika saya mengingat kejadian itu, ingin rasanya membunuh diri saya sendiri karena kebodohan yang telah saya perbuat." jelas Gilvan
Papa Vina terdiam. Ia tahu, pasti banyak hal yang dilalui oleh Gilvan hingga dia menghilang selama 5 tahun ini.
"Apa kamu tahu, kesulitan anakku ketika melahirkan anakmu?" tanya Papa Vina
"Aku benar-benar tak tahu Om, aku benar-benar tak mengira kalau Vina tengah hamil. Dan aku tahu, ini kekhilafan kita. Kumohon, Om jangan terus menyalahkan Vina, apalagi Givia. Ini semua jelas-jelas kesalahan saya, Om. Pukul saja saya, karena saya yang telah membuat Vina sampai hamil begitu." ucap Gilvan
"Sudah basi. Terlalu lama. Aku tak mau memukulmu lagi. Jika kejadiannya baru terjadi, mungkin kau akan habis dimaki-maki dan disiksa olehku!"
"Saya benar-benar menyesal, telah bertindak tanpa mengabari Vina. Om dan keluarga pasti benar-benar membenci saya." ucap Gilvan
"Aku memang sangat membencimu. Karena apa? Kamu yang telah membuat anak semata wayang ku hancur berantakan! Karena kamu, anakku tak bisa mengejar cita-citanya."
"Maaf Om, silahkan lakukan sesuka hati Om, lakukan apapun yang Om inginkan pada saya, agar hati Om sedikit tenang. Saya ikhlas menerima konsekuensi dari semua ini." jawab Gilvan
"Kamu hanya bisa meminta maaf, iya? Apa tak ada kata-kata lain yang bisa membuat hatiku sedikit lebih tenang. Kenapa hanya maaf yang bisa keluar dari mulutmu?" tanya Papa Vina
"Maafkan aku, Om. Aku rela menebus semua dosaku. Bagaimanapun caranya, aku akan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah saya lakukan." ujar Gilvan
"Baiklah! Bertanggung jawablah pada anakku dan cucuku!" ucap Papa Vina
Mata Gilvan berbinar. Apa maksudnya ini?
"Maksud Om?" tanya Gilvan
"Katamu, bukankah kamu ingin bertanggung jawab pada anakku dan cucuku? Ya, lakukanlah! Tanggung jawab mu sebagai seorang suami untuk anakku, dan seorang Ayah untuk cucuku!" ucap Ayah Vina
"Om, benarkah? Alhamdulillah. Usahaku tak sia-sia, terima kasih atas kebaikan hati Om pada saya. Saya akan benar-benar menjaga amanah ini dengan baik, saya tak akan mengecewakan kalian lagi." Mata Gilvan berkaca-kaca, benar-benar tsk menyangka
"Papa? Terima kasih!" Vina menghambur menuju Ayahnya, lalu Vina memeluk Ayah dan Ibunya bersamaan
"Dekat lah dengan anakku, buatlah dia bahagia. Tak perlu terburu-buru, jalani saja dahulu, kalian pasti sudah sangat lama menahan rasa rindu itu. Perbaiki dahulu hubungan kalian sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih serius!"
"Alhamdulillah.. Inilah jawaban atas doaku selama ini.."
*Bersambung*
Selamat siang..
Jangan lupa LIKE DAN KOMENTARnya ya 🥰
Yang mau kasih vote, monggo.. 🥰
__ADS_1