Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
New York 3


__ADS_3

Mereka berempat sudah berada di Central Park. Tempat wisata yang benar-benar indah dan mewah. Apapun bisa kita temukan disini.


Gita dan Rama tak lupa berfoto-foto sambil membuat video blog di akun mereka. Berbeda dengan Gilvan dan Vina, yang terlihat dingin dan biasa saja. Momen yang seharusnya indah bagi Vina, ternyata harus lenyap biasa saja.


"Ini tempat cocok untuk mereka yang berpasangan." celetuk Gilvan


"Iya, tetapi banyak juga kok yang datang bersama teman, ataupun keluarganya." jawab Vina


"Andaikan aku punya pasangan, pasti akan bahagia sekali." jawab Gilvan


"Anggap saja aku pasanganmu, Tuan. Agar Tuan tak merasa kesepian lagi." ujar Vina


"Kamu bukan pasanganku. Kamu tak bisa berpura-pura untuk seperti itu." kata Gilvan


"Ya sudah, kita jangan berpura-pura." jawab Vina enteng


"Maksud kamu?"


"Entahlah, aku hanya bergurau saja. Percuma bicara sama Tuan, kalau Tuan masih tidak ingat dan tidak mengerti." jawab Vina


"Ngomong apa sih kamu, gak jelas banget deh!"


Gilvan dan Vina hanya berjalan-jalan santai. Tak ada hal-hal yang romantis diantara mereka. Berbeda hal nya dengan Rama dan Gita, mereka sangat menikmati momentum ini dengan romantis dan hangat sekali.


"Sayang, Gilvan sama Vina lagi ngapain ya?" tanya Gita tiba-tiba


"Sepertinya mereka sedang jalan-jalan juga, namun masih kaku seperti biasanya." jawab Rama


"Aku sudah tak sabar, ingin Gilvan segera pulih. Kasihan Vina, hatinya pasti sangat sedih." ucap Gita


"Aku pun berharap begitu." jawab Rama


Hari yang indah, membuat Gita dan Rama sangat bahagia berada ditempat ini berlama-lama. Tak lama kemudian, Gita teringat sesuatu.


"Sayang?"


"Apa?"


"Kita ke Madison Avenue, yuk?"


"Ngapain?" tanya Rama


"Kita beli apa yang Mami inginkan." jawab Gita sedikit takut


"GAK MAU!" tolak Rama


"Eh, kok kamu gitu sih?" Gita kecewa


"Aku kan sudah bilang, Mami tak boleh menghambur-hamburkan uang lagi. Mami sudah terlalu sering belanja tas-tas dan sepatu." keluh Rama


"Tapi, aku tak enak sama Mami dan juga Raina. Aku harus bisa merayu mu, aku harus membelikannya untuk mereka." Gita sedih

__ADS_1


"Kalau kamu mengiyakan permintaan Mami, seterusnya dia akan kebiasaan dan terus menerus menyuruhmu untuk membelikan apa yang dia inginkan." jelas Rama


"Aku tak pernah membelikan sesuatu pada Ibu mertuaku dan Adik Ipar ku. Kumohon, sekali ini saja. Aku ingin membelikan oleh-oleh untuk mereka." Gita terus merayu Rama


"Memangnya kamu punya uang?" tanya Rama


"Aku punya kok. Uang yang setiap hari kamu beri, tak pernah aku pakai."


"Ada berapa uangmu?" tanya Rama


"Aku menikah denganmu sudah lebih dari lima bulan, dan uang yang kamu berikan sehari 10 juta kan, kali saja sepuluh juta dengan 5 bulan."


"Apa kamu tak pernah memakai uangku?" tanya Rama


"Aku pakai uangmu, tetapi sehari hanya habis sejuta atau dua juta saja." jawab Gita


"Apa kamu tak pernah belanja sekali pun? Kamu benar-benar istri yang irit ya! Aku beri uang untukmu, agar kamu belanja kebutuhanmu dan menikmati hidup. Habiskan lah uangku, aku mencari uang hanya untuk kamu!" ujar Rama


"Aku tak butuh itu sayang, aku hanya ingin hidup sederhana. Kekayaanmu membuat aku tak nyaman." balas Gita


"Kamu ini, yasudah kita pergi ke Madison Avenue sekarang. Akan ku ajarkan padamu caranya menikmati hidup. Akan ku beritahu padamu, bagaimana caranya menjadi istri seorang Direktur! Kamu belum tahu, bagaimana rasanya menunggu barang-barang keluaran terbaru, apalagi barang yang limited edition, aku harus mengajarimu." celetuk Rama


"Kamu memang tak konsisten sama sekali ya!" ucap Gita


"Memangnya kenapa? Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Rama


"Kamu sendiri yang bilang, agar aku tak seperti Mami, Papi kan juga pusing melihat kelakuan Mami. Kenapa sekarang kamu malah mengajariku untuk hidup seperti Mami?" pertanyaan Gita membuat Rama melongo


"Maksud aku itu gini lho sayang, kamu memang tak boleh terlalu boros seperti Mami, tapi kamu juga sesekali belanja saja barang apa yang kamu suka. Intinya, aku membolehkan mu membeli barang-barang yang kamu inginkan, kamu tak perlu sungkan padaku, hanya kamu harus tahu batasan saja, begitu maksudku." ucap Rama


"Aku tahu, kamu menyebalkan seperti ini agar aku mengalah padamu, iyakan? Agar aku mau membelikan tas untuk Mami dan juga Raina? Iya?" selidik Rama


"Iya, karena aku ingin memberi oleh-oleh untuk mereka. Aku tak membeli apapun, aku tidak apa-apa. Asal aku bisa membelikan oleh-oleh untuk Mami dan Raina." ucap Gita


"Aku pusing, ya sudah! Ayo berangkat ke sana, dengan syarat kamu juga harus membeli tas branded yang kamu mau. Aku tak sudi kalau hanya membelikan untuk Mami dan Raina saja. Aku ingin istriku menikmati uang hasil jerih payahku." jelas Rama


"Iya, iya. Akan aku beli semuanya! Aku beli semua Madison Avenue beserta isi-isinya. Puas kamu?"


"Ya nggak gitu juga dong sayang." ucap Rama


"Abisnya kamu itu plin-plan banget."


"Punya suami baik gini, malah gak di manfaatin." jawab Rama


"Oke, aku manfaatin kamu. Lihat saja nanti ketika aku sudah sampai di Madison Avenue!“ balas Gita


"Beritahu Vina, kita akan pergi." titah Rama


"YA!" jawab Gita ketus


Gita telah memberi tahu Vina, bahwa Gita akan membeli oleh-oleh untuk keluarganya di Bandung. Vina mengiyakan. Itu berarti, Vina dan Gilvan harus menikmati jalan-jalan di New York berdua.

__ADS_1


Rama sudah memesan dua mobil. Mobil pertama untuk dia dan Gita, mobil kedua untuk Vina dan Gilvan. Jadi, agar mereka mau kemana-mana tak sulit.


Gita menganga, ketika dirinya sudah sampai di Madison Avenue. Semua barang-barang mewah terpampang di depan store tersebut. Mulai dari accessories, perlengkapan wanita, tas sepatu baju, syal, topi, kacamata dan sebagainya, hingga semua perlengkapan lelaki bisa ditemui disini.


Gita bingung harus dimana ia membeli tas branded untuk mertua dan adik iparnya.


"Tokonya gede banget sayang! Pusing aku." ujar Gita


"Kalau biasanya, Mami membeli tas branded itu di sebelah sana. Ayo, kita ke sana." ajak Rama


"Kok kamu tahu sih?" tanya Gita


Rama tak menjawab perkataan Gita. Rama terus berjalan menuju toko tas branded tempat favorit Maminya belanja.


"Nih, pilih tas yang kamu mau. Tunjukkan lewat gambar pun pada mereka, mereka pasti mengetahuinya." jelas Rama


"Kenapa kamu bisa tahu tempat ini?" tanya Gita


"Dulu, aku kuliah disini." jawab Rama


"Memang, selama kuliah, kamu pernah belanja ke sini juga ya?" tanya Gita


"Aku beberapa kali mengantar Mami ke tempat ini." jelas Rama


"Jadi, dulu kamu kuliah disini?" tanya Gita


"Iya, sayang." jawab Rama


"Berarti, Siska juga dulu kuliah disini?" tanya Gita lagi


"Iya, aku kuliah bareng Siska disini." jawab Rama pelan


"Kalau gitu, kamu pernah ke tempat ini juga bersama Siska?" tanya Gita lagi


"Iya, beberapa kali aku kesini bersama Siska, karena dia senang belanja." jelas Rama


"Kenapa aku cemburu ya?" Gita cemberut


"Kenapa harus cemburu? Itu sudah lama sekali, sayang. Kamu tak usah memikirkan hal yang sudah lalu." jawab Rama


"Bukan begitu, ketika kamu lulus sekolah, aku mencari-cari keberadaan mu, tetapi tak pernah ketemu. Ternyata, kamu sedang asyik-asyiknya pacaran disini. Padahal, di sana aku sedang merindukanmu."


"Kamu tak perlu cemburu, sekarang aku milikmu, tak ada yang lain." jelas Rama


Rama mencium bibir Gita didepan umum. Gita kaget, Gita malu setengah mati mendapati Rama mencium bibirnya.


"Kamu! Apa-apaan sih! Malu-maluin tahu nggak!!!" Gita marah


"Kamu gak perlu marah. Disini, berciuman dan berpelukan didepan umum itu sudah menjadi hal yang lumrah. Makanya, aku berani mencium mu."


"AKU NGGAK SUKA, AKU BUKAN BULE, JADI JANGAN CIUM AKU DI SEMBARANG TEMPAT."

__ADS_1


"Baik, sayang. Maafkan aku! Nanti malam, aku akan mencium mu ditempat yang benar ya. Hehehe." Rama tersenyum nakal


*Bersambung*


__ADS_2