
Garut, adalah kota tempat Mia tinggal. Rama dan Gita akan datang menemui Mia. Raina ikut, namun Fadli tak ikut, karena Fadli harus fokus pada restoran. Rey yang menyetir merasa deg-degan sekali akan bertemu dengan Mia. Rey tahu, walaupun dirinya tak bisa bersama dengan Mia, namun ia tetap bahagia akan melihat Mia lagi.
Perjalanan tak memakan waktu lama, kurang lebih dua jam mereka telah sampai di Garut. Rey tahu kediaman Mia, untungnya pada saat itu Rey memaksa mengantar Mia sampai depan rumahnya. Rumah Mia sangat asri, dekat dengan sawah dan sungai. Membuat siapapun yang tinggal disini akan benar-benar merasa nyaman.
"Masih jauh gak Rey?" tanya Rama.
"Bentar lagi, Bos. Soalnya emang pedalaman rumahnya," jawab Rey.
"Hati lu gimana, Rey? Aman?" tanya Rama.
"Aman dong Bos, tertata rapi disini." Rey menunjuk dadanya.
"Alah, Kak Rama. Sekarang aja bisa ngisengin orang. Kayak dulu sendirinya gak pernah ngalamin kayak gini aja. Inget gak lu, waktu hari pernikahan Kak Gita? Kita kejebak macet, karena ada yang nikahan, dan dengan isengnya Kak Dimas bilang itu Gita kak Rama, tapi dia sewot aja gak percaya! Haha, padahal kenyataannya bener kan! Sumpah ya, aku ngakak banget kalo inget kejadian itu. Kalo sampe ngeliat Kak Gita di pelaminan, bisa pingsan kali Kak Rama!" Raina tertawa puas.
"Ya ampun, Raina. Kamu masih inget aja. Apa memang kalian melewati jalan itu? Kenapa gak mampir aja ya," Gita ikut tertawa.
"Sayang, kalau aku mampir ke resepsi pernikahan kamu itu, nanti bisa kacau acara mu, biar saja ku buat dramanya seperti itu! Padahal aku sudah tahu, di bisikin sama author nya, katanya harus gitu dulu!" Rama tergelak.
"Bisa aja kamu," Gita ikut tertawa.
"Naaah, kita sampai pemirsa. Ayo, kita jalan ke sana. Jaraknya sekitar seratus meter dari sini. Mobil gak bisa kedalem," jelas Rey.
"Oh gitu ya? Ya sudah, nanti lu bawa aja ini bolak-balik sama gue ya, makanan sama sembakonya banyak bener. Istri gue kayak mau pindahan aja deh!" Rama sewot.
"Ya kapan lagi kita kesini? Mungkin untuk yang terakhir kalinya, makanya ku bawakan sebanyak itu." Gita melihat ke bagasi mobil.
"Mami, kita mau ketemu Mbak Mia kan, Mbak Mia nya mana, kok gak kelihatan sih." ucap Nayya tak sabar.
"Iya nih, apa jangan-jangan Mbak Mia gak mau ketemu kita ya Nay?" tambah Nakka.
"Eh, bukan begitu. Rumahnya kan masih ke sana lagi, masuk jalan kecil, kita gak bisa bawa mobil kedalam." jawab Gita.
"Oh, begitu ya."
Mereka semua jalan kaki menuju rumah Mia. Dari kejauhan, terlihat Mia yang sedang menyapu halamannya. Nayya dan Nakka yang melihat Mia, refleks berlari mengejar Mia.
"Mbak Miaaaaaaaaa," teriak Nayya dan Nakka.
Refleks Mia menoleh, teringat suara dua anak yang selalu ia ingat. Mia terharu, melihat Nayya dan Nakka berlari mengejarnya. Sapu yang ia pegang tak sengaja terjatuh. Air matanya tak tertahan, Mia pun sangat sangat merindukan mereka berdua.
"Ya ampun, Nayya... Nakka..." Mia memeluk mereka berdua.
Gita dan Rama mengikuti dari belakang. Betapa bahagianya melihat mereka berpelukan. Rey dan Raina mengikuti dari belakang.
"Nona, Tuan, kenapa kalian kesini? Kenapa harus repot-repot seperti ini? Ya ampun, aku benar-benar tak menyangka. Mari, masuk ke rumah ku yang kecil." ajak Mia.
"Syukurlah kamu sehat, Mia." ucap Gita.
Mereka semua masuk kedalam rumah mungil Mia. Rama melihat, rumahnya luas namun sudah tua dan usang. Mungkin ini memang rumah keluarga Mia. Sampai didalam, mereka di sambut oleh kedua orang tua Mia. Ibu Mia terlihat sedang sakit, karena terlihat lemah sekali.
"Silahkan di minum, Nona, Tuan."
Rey membawa masuk bingkisan dan oleh-oleh untuk Mia. Mia sangat berterima kasih, Ibunya pun terlihat sangat bahagia, beliau menitikkan air mata. Ibunya Mia terkena penyakit diabetes, dan penyakitnya terlihat cukup parah.
Mereka berbincang saling menumpahkan rasa rindu satu sama lain, hingga Raina bosan dan mengajak Gita untuk berjalan-jalan sekitar rumah Mia. Gita menyetujuinya, dan Mia mengajak mereka jalan-jalan ke sungai dekat rumahnya.
Mia dan Rey duduk di tepi sungai berdua. Gita dan Rama mempersilahkan Rey untuk berbicara dengan Mia berdua. Rama mengajak kedua anaknya untuk bermain air di sungai. Gita melarangnya, namun kedua anak mereka lebih patuh pada Rama.
__ADS_1
"Ternyata, alasan kamu tak kembali itu adalah Ibumu, iya?" tanya Rey.
"Maaf, aku menghindar dari kalian semua. Aku tak ada alasan lagi untuk meninggalkan Ibuku."
"Mia, itu yang terbaik. Kamu memang harus menjaga Ibumu. Tapi kenapa kamu tak mengabari ku? Kenapa kamu memblokir akses untukku menghubungimu?" tanya Rey.
"Aku tak mau kamu terus berharap, Rey. Karena aku tak akan memberikan harapan itu padamu." jawab Mia.
"Tapi, kenapa? Apa aku terlalu hina di matamu? Sehingga kamu tak mau mempertimbangkan aku sedikitpun?" tanya Rey.
"Maaf, bukan seperti itu, Rey. Aku tak mau jatuh cinta lagi. Sudah cukup bagiku,"
Rey memegang tangan Mia, "Mia, dengarkan aku. Aku serius padamu, aku dan kamu sudah beberapa tahun bersama di rumah Bos Rama. Kita sangat dekat, walaupun aku tak ada ikatan denganmu. Tapi, selama itu terjadi, apa aku memiliki kekasih? Apa aku mencintai wanita lain? Aku hanya memilihmu, walaupun kamu tak memilihku sama sekali. Apa benar-benar tak ada aku, sedikitpun di hatimu?" tanya Rey.
"Tentu ada! Kamu yang menghiasi hari-hariku. Tapi, lukaku di masa lalu, membuatku enggan menerima dirimu, Rey. Sungguh, maafkan aku." Mia menunduk.
"Aku mencintaimu, Mia. Aku bukan mantan suamimu, aku adalah Rey. Aku bisa mencintaimu dengan segala kekuranganmu, kenapa kamu begini, Mi? Lihat aku, tatap aku, pertimbangkan aku."
Mia sudah tak bisa menahan perasaannya lagi. Air matanya jatuh tak tertahan, secepat kilat, ia memeluk Rey sambil menangis. Rey tercengang dengan apa yang Mia lakukan. Namun, Rey tahu, banyak beban pada diri Mia. Rey membalas pelukan Mia, menepuk-nepuk pundaknya dan tersenyum padanya.
"Maafkan aku, Rey. Aku sulit sekali berdamai dengan hatiku sendiri." ucap Mia sambil menangis.
"Apa kamu tak bisa percaya padaku sedikitpun? Kumohon, beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh padamu."
Mia tak menjawab. Ia tetap memeluk Rey sambil menangis. Hatinya terlalu bingung untuk menjawabnya. Selama ini, hanya Rey yang mengisi hari-hari Mia. Sejak Mia memutuskan untuk berhenti, sejak saat itu juga itu menutup nama Rey dalam hatinya. Ia terlalu takut untuk memulai kisah kembali.
"Mia, percaya padaku, aku akan menjagamu. Aku akan menikahi mu, jika itu keinginanmu. Apa kamu bisa mempertimbangkan aku, sekarang?" ucap Rey.
Tiba-tiba, Gita, Rama dan kedua anak mereka sudah berada di belakang Mia dan Rey.
Mia kaget, dan segera melepaskan pelukannya pada Rey. Rey dan Mia terlihat canggung, ketika tahu bahwa kedua Bos nya sedang memperhatikan mereka.
"Terima saja, Mia. Coba dulu, jangan menyerah, dan jangan takut untuk mencoba." ucap Gita.
"Rey, lu hebat. Gentle lu! Mia, pertimbangkan Rey, tak ada salahnya untuk kamu." jawab Rama.
Mia terharu, ia tetap menangis. Ternyata, mereka sangat peduli pada dirinya, hingga terlihat sebuah anggukan dari wajah Mia, yang menandakan bahwa ia menerima Rey.
"Aaaaaaaaah, yeeeeee, selamat ya Rey. Perjuangan kita kesini tak sia-sia." ucap Gita.
"Akhirnya, Mia. Aku sangat bahagia, terima kasih banyak, aku terharu." Rey kembali memeluk Mia.
Rama dan Gita refleks menutup kedua mata anak mereka,
"Rey, anak gue lihat nih!" Rama kesal.
"Ya ampun, maaf Bos, gue terbawa suasana."
Mereka semua tertawa bersama, dan ikut larut dalam kebahagiaan Rey dan Mia yang pada akhirnya, Rey bisa meluluhkan hati Mia yang keras. Semua ini berkat Rama, berkat idenya, yang meminta mereka semua mengunjungi kediaman Mia.
Berbeda dengan Raina, ia hanya seorang diri. Ia kesal karena tak bisa bersama Fadli, dan ia memutuskan untuk melakukan video call pada Fadli, karena Raina tak bisa berbohong, ia merindukan Fadli. Tak lama, Fadli mengangkat, dan melihat Raina yang seperti kesal berdiam sendiri.
[Halo, sayang, waaah, kamu lagi di desa ya, indah sekali pemandangannya.]
[Kok pemandangannya sih, bukan aku nya yang indah!]
[Kalau kamu sudah tak perlu dibicarakan lagi, kamu yang terindah di hatiku, Raina.]
__ADS_1
[Aku bete! Karena gak ada kamu!]
[Jangan cemberut gitu dong, sayang. Kan kita masih bisa video call-an seperti ini,]
[Tapi aku cemburu lihat Kak Rama sama Kak Rey. Mereka bersama pasangannya, tapi aku enggak!]
[Maaf, kan aku kerja sayang. Kamu kapan pulang?]
[Malem ini sepertinya pulang. Aku gak mau nginep disini, rumah Mbak Mia kurang nyaman.]
[Ya sudah, hati-hati dijalan ya, nanti pulang kerja, aku akan belikan sesuatu untuk kamu. Aku gajian hari ini, hehehe]
[Wah, kamu mau belikan aku apa? Aku jadi penasaran sayang, Hehe.] Raina senang sekali.
[Ya surprise dong, nanti aku belinya sepulang kerja. Makanya, cepat pulang ya.]
[Oke, hunny. Malam aku pulang. Eh, sudah dulu ya, sepertinya mereka mau kembali ke rumah mbak Mia tuh.]
[Baik, hati-hati ya, jalanan sawah kan licin. Nanti kalau kamu jatoh, aku gak bisa nolongin!]
[Kamu ngedoain aku jatuh, gitu?]
[Enggak, dong. Ya udah, hati-hati ya. I love you, Raina. I miss you,]
[Too, abang Fadli-ku.]
***
Hari sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang. Mereka semua pamit pada orang tua Mia. Karena kini Mia dan Rey telah menjalin hubungan, mungkin di hari libur, Rey akan sering mengunjungi Mia.
"Udah terlalu malam kalau pulang ke Bandung. Kita cari hotel saja!" ajak Rama.
"Iya sayang, kasihan anak-anak." Gita menyetujuinya.
"Rey, carikan hotel nyaman dekat sini."
"Hah? Ngapain ke hotel! Bukannya kita mau pulang!" Raina tak mendengarkan.
"Udah kemaleman pulang ke Bandung. Takut di jalannya, Kasihan Nayya dan Nakka Rai." ucap Gita.
"Ih, kok gitu sih! Pokoknya aku mau pulang!" Raina kesal.
"Ini udah malem, kenapa sih lu maksa banget?" tanya Rama.
"Kan Fadli udah gajian, dia mau ngasih sesuatu sama aku! Masa aku gak pulang malam ini." Raina selalu mudah keceplosan jika ia kesal.
"Ya ampun, romantis banget sih! Sayang, adikmu ini keceplosan lagi kayaknya. Rai, tapi ini sudah malam, kasihan keponakan mu, bilang saja pada Fadli, ditunda besok hadiahnya. Dia pasti mengerti kok." Gita tersenyum.
"Bodo amat deh udah keceplosan juga! Biar kalian semua tahu, kalau sekarang aku udah sayang sama Fadli, suamiku!" Raina kesal.
"Ah, sial. Harusnya gue video ucapan dia barusan. Lu ngomong gitu karena rindu sama si Fadli aja, kalau udah deket sama orangnya pasti di maki-maki lagi." Rama tertawa puas.
"Kak Rama, NYEBELIN!" Raina menjewer kuping Rama yang duduk didepan.
"Awww, sakit bocah! Rese!" Rama memegangi kupingnya.
*Bersambung*
__ADS_1