
Masalah antara Ara dan Raina telah selesai. Gilvan menenangkan Raina, karena Gilvan tahu, dahulu Raina adalah anak yang manis dan baik, sangat mudah untuk menenangkan Raina.
Gilvan tak menyangka jika Raina akan menjadi wanita arogan seperti ini. Ia benar-benar heran, kenapa wanita yang baik seperti adiknya Rama, bisa berubah dengan sedemikian rupa? Jawaban dari pertanyaan Gilvan, bisa Gilvan ketahui dari Rama, sang Kakak.
Raina terlihat biasa saja, dia dan teman-temannya tetap melanjutkan makan siangnya. Keadaan kembali kondusif ketika Gilvan melerai mereka.
"Pak, jadi?" Fadli tak sanggup melanjutkan ucapannya
Gilvan mengangguk. Gilvan tahu, maksud dari ucapan Fadli yang tertahan itu. Gilvan tersenyum, sambil menepuk-nepuk pundak Fadli.
"Pak Rama mungkin sudah melupakan perjodohan itu kan?" tanya Fadli
"Tidak, Rama akan tetap pada ucapannya. Namun, saat ini dia masih sibuk dengan perusahaannya." ucap Gilvan
"Tapi, saya menolak. Tak ada lagi alasan Pak Rama untuk memaksa saya, karena saya sudah menolak." ucap Fadli
"Kamu harus tahu, Raina bukan seperti tadi. Raina adalah wanita yang baik dan ramah, Fad. Itu bukan Raina, aku tahu siapa adiknya Rama itu." jelas Gilvan
"Tapi, Pak Gilvan lihat sendiri kan? Bagaimana sikapnya? Rasanya, saya gak akan sanggup hidup bersama wanita seperti itu." ucap Fadli
"Fad, sepertinya kamu tak bisa menolak perjodohan itu." ucap Gilvan
"Apa maksud bapak?" Fadli terlihat tak suka
"Sudahlah, lupakan. Ayo, kembali bekerja." Gilvan berlalu meninggalkan Fadli
"Pak, Pak Bos! Kita belum selesai bicara. Mau kemana?"
Gilvan berlalu meninggalkan rasa penasaran pada diri Fadli. Fadli melihat Ara yang sedang berdiri didekat pintu menuju pantry, karena pelanggan sedikit lenggang, Fadli dan Ara bisa bersantai sejenak. Fadli mendekat kearah Ara.
"Ra, kamu gak apa-apa kan?" tanya Fadli
"Gak apa-apa, Fad. Aku cuma kesel aja, sama orang kaya yang sombong seperti dia. Sakit rasanya, jadi orang miskin kayak aku gini." Ara terlihat sedih
Fadli tahu, perasaan Giara. Raina memang keterlaluan. Padahal, Giara tak sengaja, tapi Raina malah membesar-besarkan masalah. Fadli menepuk pundak Giara. Giara kaget, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan dimasukan ke hati, kamu harus sabar. Bekerja itu tak ada yang mudah, kita harus siap dengan segala resikonya. Yang kuat ya, kan ada aku yang siap membantu kamu, Ra." Fadli tersenyum
"Makasih, Fad. Kalau tadi gak ada kamu sama Pak Gilvan, mungkin aku akan habis dimaki-maki oleh mereka." keluh Ara
"Tenang aja, Ra. Hal itu gak akan terjadi, selama kita bersama." ucap Fadli
"Maksudnya?" Ara tak mengerti
"Maksudnya, selama kita bekerja bersama, kamu gak mungkin tersiksa terus, aku akan terus membantu kamu, kamu kan junior aku di restoran ini." Fadli salah tingkah
"Sekali lagi, makasih banget ya Fad. Aku seneng, punya sahabat yang baik seperti kamu." Ara mulai bisa tersenyum
"Nah, gitu dong Ra. Senyum, jangan ditekuk terus mukanya. Kan kelihatan tuh," Fadli tak melanjutkan ucapannya
"Cantiknya ya?"
"Jeleknya! Hahahhaha, kabooooooor!" Fadli berlari menuju lantai dua.
"Haish! Dasar Fadli kurang ajar!"
..._______________...
Malam ini, sesuai janjinya, Gilvan akan mengajak Vina untuk Dinner di salah satu cafe terbaik di Bandung. Vina sudah bersiap menunggu Gilvan menjemputnya. Dengan balutan Dress berwarna rose gold selutut, dan dengan model bahu sabrina, atau bahu terbuka.
__ADS_1
Vina tampak mempesona malam ini. Ia tahu, malam ini adalah malam yang indah untuk dirinya dan Gilvan.
Tak lama, Gilvan sudah berada di depan rumahnya. Namun, Gilvan tak masuk kedalam rumah, karena kasihan Givia kalau dia ingin ikut, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu malam jika Givia ikut Bunda dan Ayahnya.
Vina segera masuk kedalam mobil Gilvan. Gilvan pun sangat tampan. Gilvan memakai setelah Jas warna biru tua dengan dasi abu-abu. Walaupun terlihat sering memakai jas, namun kali ini Gilvan terlihat lebih tampan dan segar.
"Pakai seat beltnya. Kita berangkat sekarang." ucap Gilvan
"Eh, i-iya." Vina gugup
Perasaan aneh pada diri Gilvan dan Vina muncul begitu saja. Tak biasanya, mereka canggung seperti ini. Mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta lagi?
Vina tersenyum menatap Gilvan yang sedang fokus menyetir mobilnya. Lelaki yang sekian lama ia rindukan ternyata ada di sampingnya. Jika mengingat kisahnya dengan Gilvan, tak ada kisah romantis sedikitpun diantara mereka berdua.
Cinta yang terjadi karena ketidaksengajaan membuat Gilvan makin terikat dengan Vina, mau sejauh mana pun ia pergi. Tetapi, hatinya tetap kembali lagi.
Gilvan membawa Vina menuju cafe yang romantis. Cafe yang bernuansa ala eropa dan banyak sekali lampu-lampu kecil di sekitar cafe, Membuat suasananya terlihat makin hangat.
Gilvan sudah membuat reservasi di cafe ini. Gilvan mengajak Vina untuk duduk di meja VIP pilihannya. Gilvan menggeser kan kursinya kebelakang, dan mempersilahkan Vina duduk.
"Silahkan duduk, Tuan puteri." Gilvan tersenyum tulus
"Terima kasih, Van."
Gilvan kemudian duduk didepan Vina. Ia meminta pelayan untuk datang dan membuatkan pesanan untuk mereka berdua. Suasananya benar-benar romantis, sangat romantis.
"Aku suka tempatnya. Terima kasih, telah meluangkan waktu untuk dinner yang romantis ini."
"Sama-sama. Semua ini untukmu, wanita yang menjadi penyemangat ku selama ini, wanita yang telah membuat aku bangkit dari keterpurukan ku selama ini. Aku bahagia, bisa melihat senyum manis mu lagi."
"Aku tidak seperti itu, kamu berlebihan." Vina tersipu malu
Hidangan dari cafe tersebut telah ada di atas meja. Vina dan Gilvan mulai menyantap makanan yang telah disediakan. Gilvan dan Vina memesan beef steak ala cafe tersebut.
Gilvan dengan telaten memotong kecil-kecil bagian steak yang masih utuh. Setelah ia selesai memotong steak menjadi bagian kecil, ia memberikannya pada Vina. Ia menukar piringnya dengan piring Vina, membuat Vina semakin gugup dan jantungnya berdegup sangat cepat.
"Sulit untuk memotong steak seperti ini." Gilvan tersenyum
"Eh, terima kasih, kamu gak perlu repot-repot, Van."
"Dengan senang hati, aku melakukannya untukmu."
Vina hanya membalas dengan senyuman. Malam ini, Gilvan sangat hangat dan romantis. Gilvan benar-benar mengabulkan permintaan Vina. Mereka menyantap hidangan sambil ditemani musik oleh beberapa penyanyi. Terdapat mini stage di cafe ini, agar lebih membuat suasana cafe semakin romantis.
Gilvan telah selesai makan. Ia memang MC dan ingin naik keatas mini stage cafe tersebut. Vina kaget, kenapa Gilvan harus meminta naik keatas panggung. Vina menolak, namun Gilvan tetap memaksa ingin naik keatas mini stage bersama Vina.
Akhirnya, Vina terpaksa mengikuti keinginan Gilvan untuk naik ke panggung. Dengan perasaan malu dan gugup, Vina memegang tangan Gilvan. Vina tak biasa melakukan hal-hal seperti ini.
Gilvan meminta menyanyikan sebuah lagu pada pemain piano. Gilvan akan menyanyi, khusus untuk Vina. Lagu yang menyatakan perasaan Gilvan yang sesungguhnya pada Vina. Lagu yang berjudul A thousand Years - Christina Perri
...🎶Heart beats fast...
...Colors and promises...
...How to be brave...
...How can I love when I'm afraid to fall...
...But watching you stand alone...
__ADS_1
...All of my doubt, suddenly goes away somehow...
...One step closer...
...I have died everyday, waiting for you...
...Darling, don't be afraid, I have loved you for a thousand years...
...I'll love you for a thousand more...
...Time stands still...
...Beauty in all she is...
...I will be brave...
...I will not let anything, take away...
...What's standing in front of me...
...Every breath, every hour has come to this🎶...
Lantunan lagu yang sangat indah, yang Gilvan nyanyikan dengan tulus dan penuh kasih sayang. Lagu yang mengisahkan tentang seseorang yang sedang dimabuk cinta, yang sangat begitu mencintai pasangannya, seperti Gilvan yang kini sangat mencintai Vina.
"Kita pernah terpuruk dan pernah terluka saat cinta kita akan bersatu. Cinta kita membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Tak mudah bagi kita, untuk bisa berdiri dan berada disini. Semua ini memang karena kekuatan cinta. Aku mencoba meyakinkan hatiku, bahwa hanya kamu yang akan aku perjuangkan. Aku yakin dengan pilihan hatiku. Sejauh manapun aku pergi, ternyata tetap kamulah yang menetap di hatiku."
Vina menggigit bibirnya. Vina tak menyangka, Gilvan akan membuatnya malu, Vina tak tahu kenapa dirinya menjadi gugup dan kelu, sulit sekali untuk bicara.
"Vina, maafkan semua kesalahanku, aku akan memperbaikinya dan memulai lagi dari awal bersamamu. Apakah kamu akan mempertimbangkan diriku?"
Vina terdiam. Semua penonton menyoraki Vina dan Gilvan. Mereka menyebut Vina dan Gilvan pasangan teromantis saat ini. Vina tak menjawab ucapan Gilvan, ia hanya tersenyum, tersipu malu.
"Kita pernah terpuruk dan pernah terluka saat cinta kita akan bersatu. Cinta kita membutuhkan perjuangan yang sangat panjang. Tak mudah bagi kita, untuk bisa berdiri dan berada disini. Semua ini memang karena kekuatan cinta. Aku mencoba meyakinkan hatiku, bahwa hanya kamu yang akan aku perjuangkan. Aku yakin dengan pilihan hatiku. Sejauh manapun aku pergi, ternyata tetap kamulah yang menetap di hatiku."
Vina menggigit bibirnya. Vina tak menyangka, Gilvan akan membuatnya malu, Vina tak tahu kenapa dirinya menjadi gugup dan kelu, sulit sekali untuk bicara.
"Vina, maafkan semua kesalahanku, aku akan memperbaikinya dan memulai lagi dari awal bersamamu. Apakah kamu akan mempertimbangkan diriku?"
Vina terdiam. Semua penonton menyoraki Vina dan Gilvan. Mereka menyebut Vina dan Gilvan pasangan teromantis saat ini. Vina tak menjawab ucapan Gilvan, ia hanya tersenyum, tersipu malu.
Gilvan menurunkan badannya, hingga lututnya menempel pada mini stage. Ia menatap Vina dengan lembut. Ia memegang tangan Vina dan mengusap-usap perlahan.
"I love you so much. All this time, only you there in my heart. Look at me and listen what I will say now. DAVINA MELANIA, WILL YOU MARRY ME?"
(Aku sangat mencintaimu. Selama ini, hanya kamu yang ada dalam hatiku. Lihat aku, dan dengarkan apa yang akan aku katakan sekarang. Davina Melania, maukah kau menikah denganku?)
Semua bersorak sorai. Gilvan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari sakunya. Kotak kecil yang akan membuat wanita bahagia ketika diberikan oleh sang pujaan hati. Vina diminta menjawab dengan cepat. Vina benar-benar malu, Vina harus segera menjawab, karena penonton terus meneriakinya.
"Gilvan Ardian.. Yes, I want to marry you!"
(Ya, aku mau menikah denganmu)
Semua bertepuk tangan melihat keromantisan Gilvan dan Vina. Baru kali ini, Vina bisa merasakan cinta Gilvan yang sangat luar biasa. Gilvan berdiri, ia membuka kotak kecil tersebut dengan penuh cinta.
Ia mengambil tangan kiri Vina. Memegang jari manisnya, dan perlahan-lahan, ia memasukkan cincinnya ke jari manis Vina. Sangat pas, dan sangat cantik.
Vina sangat bahagia. Sebentar lagi, dirinya dan Gilvan akan menempuh hidup baru. Satu lagi yang harus mereka hadapi, yaitu keluarga Gilvan. Tapi, kini Vina dan Gilvan tak takut lagi, karena cinta mereka sangat kuat dan nyata. Gilvan yakin, bisa meyakinkan keluarganya, bahwa ia akan memilih Vina sebagai pasangan hidupnya, untuk hari ini, esok, dan selamanya.
*Bersambung*
__ADS_1