
Pagi ini Gita sangat sibuk sekali. Andin memberi tahu Gita bahwa hari ini ia harus bertemu clien dari perusahaan Globalindo grup. Rama meminta Gita untuk membatalkannya, tetapi Gita bersikeras tetap ingin bertemu clien Rama. Gita beralasan, kalau mengundur janji dan membatalkan secara pihak, anak membuat performa perusahaan menurun.
Pagi-pagi sekali, ketika Gita masih bersiap-siap, Rama sudah meneleponnya. Rama tahu, istrinya itu pasti kesal karena semalam tak mengangkat teleponnya berkali-kali.
"Apa?" ucap Gita ketus
"Maaf ya sayang, semalam aku bener-bener gak tau kalo kamu nelepon! Aku capek banget." ucap Rama lembut
"Aku tuh kangen sama kamu! Aku gak bisa tidur semalaman, tapi kamu malah enak-enakan tidur. Huft!" Gita terdengar kesal
"Maaf, maafkan aku. Aku benar-benar kelelahan. Aku juga sangat merindukanmu, sayang! Aku janji, nanti malam aku takkan tidur sebelum kamu tidur terlebih dahulu. Jangan sedih ya peri cantikku yang baik hati." Rama menggoda
"Gak kok, aku gak apa-apa. Aku hanya kesepian disini." ucap Gita
"Tiga hari lagi aku kan pulang sayang, lalu kita segera bersiap untuk bulan madu ke Malaysia. Ya? Jangan sedih lagi ya kekasih halal ku?" Rama merayu Gita
"Tapi aku maunya kamu ada disini sekarang. Aku rindu, Kak! Aku gak mau kamu pergi, pokoknya lain kali aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Aku tersiksa menahan rindu ini." Gita benar-benar merindukan Rama.
"Kamu sudah tak malu-malu lagi ya sekarang, bikin tambah gemes aja. Kalau dekat, pasti kamu sudah ku cium." ucap Rama
"Aku juga ingin mencium mu." Gita malu-malu
"Aaaaaah, aku jadi ingin segera terbang ke Bandung. Apa aku batalkan saja pertemuan hari ini dan langsung menemui istriku." Rama berpikir
"Eh, jangan dong sayang! Nanti kerjaan kamu gak ada hasilnya kalau pulang sekarang. Aku akan tunggu tiga hari lagi. Aku akan sabar menantimu. Kamu fokus saja dengan pekerjaan. Ingat aku! Ada aku yang merindukanmu!" ucap Gita
"Tentu sayang, aku jadi tak sabar ingin segera pulang. Apalagi istriku jadi agresif begini, bikin aku tambah gak tahan ingin segera pulang. Aku ingin segera melakukan malam keempat kita sayang!"
"Sebenarnya bukan malam keempat lagi, entah berapa puluh kali kamu melakukannya!"
"Malamnya tetap malam yang keempat dong, tapi dalam satu malam kita melakukan beberapa episode. Hehhehe" ucap Rama
"Dasar kamu otak mes*m melulu deh! Yasudah, aku akan berangkat ke kantor sekarang. Hari ini aku akan bertemu clien mu!"
"HAH? Kenapa kamu menyetujuinya? Aku kan sudah menunda pertemuan itu dengan putra dari Globalindo." Rama terdengar tak suka
"Aku yang menghubunginya kembali lewat Andin. Aku sudah tahu kerja sama antar perusahaan kita dengan mereka, dan itu cukup menguntungkan. Kenapa harus ditunda, Sekarang pun lebih baik." jelas Gita
"Bukan begitu maksudku! Aku tak mau kamu bertemu putra dari Globalindo."
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Gita heran
"Aku tak suka." jawab Rama
"Kenapa harus tak suka? Ini kan demi kemajuan perusahaan kita juga!" jawab Gita
"Aku tak suka kamu dan direktur Globalindo saling menatap!" Rama kesal
"Ya masa aku harus memejamkan mataku ketika aku sedang meeting dengannya?" Gita pusing
"Karena aku cemburu! Puas kamu!"
"Kenapa harus cemburu? Aku kan hanya melakukan pekerjaanku." jawab Gita
"Aku saja yang suamimu tak bisa menatap dan berada di sisimu sekarang. Bisa-bisanya orang lain yang duduk bersamamu. Itu membuatku kepanasan! Apalagi kalau nanti putra pemilik perusahaan itu menyukaimu. Aku tak sudi kamu bertemu clien hari ini."
"Kamu jangan berpikir aneh-aneh. Aku tak akan melakukan hal gila itu. Aku hanya akan fokus pada hubungan kerjasama antar perusahaan! Sudah, kamu makin ngaco aja deh. Aku berangkat ya! Nanti telepon lagi. Bye Sayang!"
"Tunggu, dengarkan.." ucapan Rama terputus
Tutt...Tutt..Tutttt.. Telepon di matikan.
Gita merasa sikap Rama berlebihan. Ia tak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh. Ia hanya akan fokus pada perusahaan. Gita tak suka kalau Rama terlalu cemburu, apalagi cemburunya tak mendasar seperti itu
***.
Rumah Vina
Vina ketiduran dengan laptop di atas tubuhnya. Handphonenya berbunyi pertanda alarm yang harus terpaksa membuat Vina bangun. Vina menggeliat, ia membuka matanya perlahan. Memindahkan laptopnya ke pinggir ranjang. Ternyata sudah pukul 07.00 WIB.
Vina bergegas ke kamar mandi, dan segera menyegarkan tubuhnya dengan shower. Hari ini ia akan bekerja kembali. Sudah beberapa hari ia izin kerja, malu dengan rekan kerja dan bosnya.
Vina mengganti bajunya, Ia mengenakan baju cafe kebanggaannya. Ia harus tetap bangkit, ia tak boleh lemah. Ia tak boleh putus asa, biarpun hatinya rapuh, ia harus menata kembali semuanya serapi mungkin.
Vina sarapan bersama keluarganya. Tenang dan nyaman yang Vina rasakan saat ini. Vina tak mau larut dalam kesedihan. Vina selesai makan, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan handphone nya.
Vina teringat, semalam ia akan membuka pesan masuk di handphonenya. Tetapi, ia lupa karena handphonenya juga mati. Vina duduk di ranjangnya, mengambil handphonenya dan membuka pesan masuk yang dari kemarin tak ia baca.
Betapa kagetnya Vina membaca pesan yang masuk. Pesan yang sangat ia nantikan dari kemarin-kemarin. Pesan yang membuat hatinya sangat teriris. Pesan dari orang yang sangat ia benci tapi juga ia rindukan.
__ADS_1
"*Vina, apa kabarmu? Maafkan aku baru memiliki keberanian untuk ini. Aku sungguh menyesal atas perbuatan yang telah aku lakukan. Maafkan kebodohan ku yang kemarin. Aku tahu, kamu pasti sangat marah dan membenciku. Tetapi, hatiku pun tak tenang jika seperti ini. Aku, pria yang membayar mu karena telah menyetubuhi mu. Maafkan aku, aku menyesal telah lari dari tanggung jawabku."
"Kenapa kamu tak mengangkat teleponku? Sebegitu benci kah dirimu padaku? Aku ingin meminta maaf padamu dengan tulus. Aku sungguh menyesal. Aku benar-benar ingin mengulang kisan kita. Aku sudah meyakinkan hatiku untukmu. Hatiku sudah tak goyah, aku memang mencintaimu."
"Kuharap, ketika kau membaca pesanku ini, masih ada sedikit harapan untukku. Biarpun kamu tak membalasnya, setidaknya kamu telah membacanya. Aku benar-benar menyesal. Sungguh, maafkan kekhilafan diriku ini. Aku benar-benar merindukanmu, aku benar-benar menaruh hati padamu, meskipun belum sepenuhnya."
"Pergi darimu, menjauh darimu membuat ku mengerti artinya kehilangan. Aku kehilanganmu. Aku memang tak percaya diri, tetapi kini aku telah mantapkan hatiku untukmu. Kuharap kamu tak membenciku, karena aku ingin bertanggung jawab atas kelakuanku."
"Apakah tak ada kesempatan untukku? Kenapa kau membiarkanku, Vin? Apa aku memang sudah tak pantas untuk bisa hidup denganmu? Aku telah menyesal, aku merasa bahwa aku aku adalah lelaki bodoh yang membiarkan mutiara hanyut di lautan. Aku ingin mengejar mutiaraku lagi. Aku ingin kamu, ingin dirimu, Davina melania!"
"Kumohon maafkan ketidaksiapan ku saat itu. Aku masih harus berpikir jernih. Aku harus bisa menata perasaanku. Kini, aku sudah mengerti. Ternyata, aku memang mencintaimu. Aku memang menginginkan dirimu. Kumohon, jawab aku. Beri aku kesempatan."
"Baiklah, aku mengalah. Aku telah mengutarakan isi hatiku padamu. Semoga kamu mengerti, semoga kamu paham akan arti diriku. Aku akan menunggu jawab mu. Aku akan menuruti semua keinginanmu jika itu bisa membuatmu memaafkan aku. Pertimbangkan aku, kumohon maafkan aku! Kumohon, jangan membenci aku. Kumohon, balas pesanku. Aku merindukanmu*...."
Vina menangis. Hatinya teriris membaca pesan itu. Memang dialah orangnya, dialah yang membuat hati Vina sakit. Dialah penyebab Vina seperti ini. Dialah lelaki yang tak bertanggung jawab dan menganggap Vina seperti *******.
Semua pesannya benar-benar membuat Vina tak mampu berucap. Hatinya terlanjur sakit mengingat hari dimana ia kehilangan kesucian dan harga dirinya. Hari dimana Gilvan meninggalkannya, hari dimana Gilvan memberi uang padanya, bak ******* yang telah ditiduri lalu dibayar dan ditinggalkan begitu saja.
Vina tak mampu membalas pesan Gilvan. Ia tak ingin mengingat kisah kelamnya bersama Gilvan. Vina harus tetap hidup, ia tak boleh sedikitpun mengingat Gilvan lagi. Vina membuka pengaturan kontak di handphonenya.
Anda ingin memblokir nomor ini?
Ya? Tidak?
Ya?
Vina memencet tombol ya. Vina memblokir nomor Gilvan. Vina tak mau lagi berhubungan dengan Gilvan. Ia harus membuang jauh-jauh semua tentang Gilvan. Tak ada lagi Gilvan di hatinya. Ia bangkit, ia berdiri dan segera berangkat menuju cafe tempatnya bekerja.
*Bersambung*
Kenapa cinta sangat menyakitkan? Apa yang akan kalian lakukan kalau orang yang kalian cintai tapi menyakiti hati kalian? Apa kalian akan bertahan, atau memilih pergi?
Cinta itu menyakitkan, cinta itu tak semudah yang kita bayangkan. Pilihannya hanya dua, bertahan atau tinggalkan. Tapi, menjalani tak semudah berucap. Bener gak?
Semangat mengejar cinta kalian ya, yang sudah punya cinta, cintanya dijaga dengan sepenuh hati kalian 😘😘😘
Happy reading..
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya..
__ADS_1
Yang baca setiap hari banyak, tapi yang komen gak pernah lebih dari 20 orang. Huhu, potek hatikuuuu. ðŸ˜
Tapi, terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan membaca ya. I love u Full readers setia Gita dan Rama 😘😘😘