
POV Siska
Dikamar mewah ini Siska tinggal. Siska khawatir sekaligus was-was kalau rencananya gagal. Sebisa mungkin ia harus bersikap lugu dirumah ini. Ia bisa saja bersikap manis dirumah ini, tapi ia sangat takut kalau Rama mengetahui kebusukannya. Ia bingung harus bagaimana, apalagi kalau benar-benar ia tidak hamil. Tetapi Siska tetap positif thinking karena sepertinya 90% rencananya sudah berhasil.
Kini ia serasa menjadi nona muda dirumah besar ini. Siska serasa menjadi istri Rama. Kali ini, Siska melakukan makan malam pertama dengan keluarga Rama. Tetapi, Rama tak ada dirumah, Siska tak tahu Rama pergi kemana. Hatinya sungguh tak karuan ketika berada berdekatan dengan Raina dan Maminya Rama.
"Dulu kau dan aku sangat akrab, kenapa sekarang kau seperti takut padaku? Apa kau melakukan sesuatu kesalahan?" Selidik Maya, Ibu Rama
"Ti..tidak tante.. Aku hanya belum terbiasa berada dirumah ini. Jadi, aku gugup" Siska merasa aneh terhadap sikap Ibu Rama sekarang.
Aku masih tak percaya. Apa mungkin Rama telah tidur dengannya? Tapi Rama akhir-akhir ini seperti sudah melupakan Siska. Mana mungkin Rama mau menidurinya, bukankah yang Rama sukai adalah Gita?
GITA? Bagaimana nasib wanita itu? Apakah Ia tahu Rama tidur dengan Siska? dan Rama? Kemana ia sekarang? Apa ia menemui Gita? Kenapa sekarang aku malah ingin bertemu dengan gadis itu. Gadis yang dulu pernah aku ancam dan aku culik. -Mami Rama dalam hati-
"Kau tak perlu canggung dirumah ini. Anggap saja seperti rumahmu sendiri. Rumah ini pasti dua kali lipat lebih besar daripada rumahmu kan? Kau pasti sangat suka tinggal disini!" Sindir Ibu Rama
"Kak Siska, ku tahu dari raut wajahmu. Kau menyimpan seribu kecemasan, bukan begitu?" Sindir Raina
"Maaf, maafkan aku. Kalian pasti merasa risih aku berada dirumah ini. Aku bisa pergi dari tempat ini kalau kalian tak bisa menerimaku." Siska menunduk
"Keenakan kak Siska dong, ya nggak mi? Ntar dia begituan sama lelaki lain, kan bahaya" Sindir Raina lagi.
"Iya, betul itu Rai. Kau disini saja sampai waktu yang menjawab" Maya terlihat sinis
Sialan, Raina brengsek. Berani-beraninya kau mengataiku seperti itu. Tak ingatkah kau dulu sering meminta bantuanku agar kau bisa mengikuti jejak langkahku di dunia modelling? Kenapa sekarang kau bertingkah seperti ini? -Siska dalam hati-
Mereka menyantap makanan dengan penuh ketegangan. Ayah dan kakek Rama tak berbicara sepatah kata pun. Mereka hanya memikirkan nasib Rama, akan bagaimana ia kedepannya.
***
-Dirumah Gita-
Mereka masih mematung. Melihat kenyataan bahwa mereka memang benar-benar melakukan hal tak senonoh itu. Gita tak tahu harus berbuat apa, masa depannya telah redup. Hatinya terasa mati. Rama pun menyesali perbuatannya. Tak menyangka dirinya akan seberani itu merenggut mahkota Gita.
Rama menyesal. Tetapi menyesali hal yang sudah terjadi adalah percuma. Kini mereka harus menghadapi kenyataan dan membenahi diri masing-masing.
"Ayo kita pergi." Ajak Rama
"Aku tak mau. Kau pergi saja." Gita masih menangis menutupi wajah dengan tangannya
"Ayo kita mengaku kepada orang tuaku bahwa kau dan aku telah berhubungan badan. Aku telah memperkosamu dan aku ingin orang tuaku segera menikahkan kau dan aku." Ujar Rama
"Memangnya siapa yang akan menikah denganmu? Kau fikir, dengan kau rebut mahkotaku seperti ini, aku akan takluk padamu dan menurut padamu, begitu? Kau salah besar Rama. Hatiku sudah mati untukmu. Aku tak akan pernah mau berhubungan dengan orang yang sudah menghancurkan masa depanku. Lebih baik kau bunuh saja aku, daripada hidup pun aku tak berguna. Aaaarrggghhhhh" Gita frustasi, hatinya amat hancur.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Aku sudah meminta maaf dan meminta kau agar mau menikah denganku." Ucap Rama
"Apa kau bisa pergi sekarang? Aku ingin sendiri. Aku tak akan melakukan apapun. Tapi ini kan sudah malam, kau sebaiknya pulang saja. Besok kita bicarakan lagi hal ini." Gita pura-pura tersenyum
"Kau yakin? Aku tak percaya padamu. Aku ingin disini semalam bersamamu. Sampai besok kita pergi kerumahku." Rama tegas
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya ingin merenung. Kau percayalah padaku, kumohon? Aku benar-benar ingin sendiri." Gita memohon.
"Baiklah, aku akan pulang. Kau benar-benar akan memaafkan ku kan?" Tanya Rama
"Ya. Aku memaafkanmu." Gita tersenyum
Rama pun berlalu. Meninggalkan Gita sendiri. Kini Gita memang tinggal sendiri, karena Ibunya pergi ke Malaysia untuk menyusul ayah Gita, Ibunya disana akan cukup lama karena ayah Gita sedang tidak sehat. Tak ia sangka, mengapa jadi seperti ini? Mungkin kalau ada Ibunya disini Gita tak akan kehilangan mahkotanya kan? Mengapa Ibu pergi tak mengajakku, kalau ibu mengajakku mungkin Aku tak akan menerima hal menjijikan itu, batin Gita.
Gita sungguh tak ingin menerima kenyataan ini. Tetapi apa boleh buat, semuanya sudah dilakukan Rama dengan begitu gagahnya. Ia menarik Gita dan memaksa masuk kedalam mahkotanya, sungguh Gita sangat sakit kalau mengingat hal itu. Tapi, Gita tak mengerti mengapa tadi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rama telah ada dirumah Gita. Rama takut kalau Gita berbuat macam-macam. Rama akan membawa Gita segera menuju rumah kakeknya, ia ingin mengenalkan Gita pada mereka semua.
"Kau siap?" Tanya Rama hati-hati
"Iya, aku siap. Tapi, aku sakit."Ucap Gita
"Kau sakit apa?" Tanya Rama
"Ah tidak, aku tak apa" Gita memasuki mobil Rama.
"Kalau aku tak diterima oleh keluargamu, tolong jangan kau tahan aku. Aku akan pergi secara sukarela." Gita tegas
"Kau tidak bisa seperti itu. Aku harus tetap meyakinkan orang tuaku." Rama bersikeras
"Aku tak apa, aku akan mencari kehidupanku sendiri. Kau tak perlu mengkhawatirkan ku." Pinta Gita
"Kau telah berhubungan denganku! Bagaimana kalau kau hamil hah? Kau tak boleh berbicara seenaknya seperti itu." Rama kesal.
"Aku belum tentu hamil kan? Dan aku tak ingin hamil." Gita meyakinkan dirinya
"Jadi maksudmu kalau kau hamil kau akan menggugurkannya begitu hah?" Rama marah
"Belum tentu. Lihat saja nanti. Aku lelah, aku tak mau berdebat. Sudahh, cukup, kumohon!!." Gita memejamkan matanya
Gita berusaha kuat dan berusaha tegar didepan Rama. Ia tak mau benteng pertahanan yang ia buat hancur, ia harus kuat menghadapi keluarga Rama. Ia tak boleh menangis sedikitpun. Kalau ia ditendang jauh-jauh pun ia pasti akan siap. Ia bersikap sok kuat agar mampu melawan orang tua Rama ketika Gita dikata-katai.
Rama dan Gita telah sampai dirumah besar kakek Prima. Rama memegang erat tangan Gita. Rama gugup tapi ia harus kuat. Gita pun gugup tapi ia tak boleh terlihat gugup dihadapan keluarga Rama. Ia harus siap akan kemungkinan dirinya di caci maki oleh keluarga Rama.
__ADS_1
Rama masuk kerumah itu. Semua pelayan membungkukkan badannya ketika ia pulang. Semalam Rama tak pulang kerumah, ternyata Rama hanya tidur di mobil. Ia takut Gita melakukan hal yang tidak-tidak. Untungnya hal yang dikhawatirkan Rama tidak terjadi.
Keluarga Rama dan Siska baru saja selesai makan. Mereka masih terduduk dimeja makan. Mereka kaget melihat Rama membawa pulang seorang wanita. Terutama Ibu Rama, sangat shock melihat kedatangan Gita kemari. Ia takut hal yang dulu ia lakukan pada Gita akan diketahui oleh Rama.
"Kemana saja kau? Siapa wanita ini?" Tanya kakek Prima.
"Ini adalah wanitaku yang sesungguhnya. Bukan wanita brengsek yang duduk disebelah kalian." Tegas Rama
Gita membungkukkan badannya. Sejujurnya ia takut menghadapi situasi ini. Keadaannya sangat mencekam, suasana diruangan ini seperti es yang beku. Dingin sekali.
"Kau gila? Mau kau kemana kan wanita yang kau tiduri dihotel kemarin hah? Ini sudah ada lagi wanita. Kenapa kau membuatku pusing saja Rama!!! " Ayah Rama membuka suara
"Papiiiii..." Ibu Rama menenangkan Suaminya.
"Diam Angga. Kita dengarkan dulu apa penjelasannya kali ini." Kakek Prima menengahi.
Rama mengeluarkan handphonenya. Mengetik dan mengirim videonya melalui WA kepada Kakek, Ayah, dan Ibunya serta Siska juga. Rama memvideokan perbuatannya dengan Gita semalam tanpa sepengetahuan Gita.
"Raina, kau masuklah ke kamarmu." Pinta Maya
"Ba..baik Mi." Raina pun pergi karena tahu ini sangat menakutkan.
Gita tercengang, ia tak mengetahui bahwa Rama memvideokan perbuatan mereka diam-diam. Kalau ia tahu hal ini sebelumnya, mungkin Gita tak mau dibawa kesini. Tapi sekarang sudah terlanjur, Gita hanya bisa pasrah, semoga secepatnya ia di usir dari rumah itu.
Betapa terkejutnya mereka melihat adegan panas itu. Siska yang baru saja melihatnya langsung pingsan tak sadarkan diri. Siska segera digotong oleh pelayan rumah itu dan dibawa menuju kamarnya. Ibu dan Ayahnya pun sama kagetnya dengan perbuatan Rama.
"Apa maksudmu ********? Kau bangga suka bermain-main dengan banyak wanita HAH? Angga murka.
"Papi. Tutup mulutmu." Maya membela Rama
"Jelaskanlah maksud dari video ini." Prima tak ambil pusing.
"Aku memperkosa wanita ini semalam. Aku merusak masa depan dan harga dirinya. Aku merenggut mahkotanya. Aku melakukan ini dengan kesadaran penuh. Aku ingin kalian percaya kalau aku tak melakukan apapun pada Siska. Aku hanya melakukan hal itu pada wanita ini, wanita yang kucintai. Wanita yang akan pergi meninggalkanku karena tahu jebakan Siska yang brengsek itu. Wanita yang percaya kalau aku melakukan hal keji itu pada Siska, wanita yang menyudahi hatinya untukku. Aku tak tahan mendengarnya, jadilah malam itu aku memperkosanya. Kalian lihat kan? Betapa dia menolakku habis-habisan didalam video itu. Aku sudah gila kan? Aku memang sudah gila, gila karena perjodohan memuakkan kalian." Rama sinis
"Mengapa kau merusaknya kalau kau mencintainya?" Tanya Kakek Rama
"Aku harua bagaimana lagi? Aku tak punya bukti apa-apa. Ia percaya dengan perbuatan si Siska itu. Dan aku disini sebagai korban. Aku tak melakukan apapun dimalam itu. Dia sangat marah dan mempercayai kiriman foto itu. Aku tak tahan, sungguh tak tahan. Aku akan buktikan pada kalian kalau aku berani mengakui perbuatanku kan? Tapi tidak dengan Siska. Karena aku tak melakukan apapun padanya." Rama menjelaskan, dia tetap memegang erat tangan Gita.
"Siapa namamu? Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah" Kakek bertanya pada Gita.
"Aku sadar diriku siapa. Aku sadar kalian siapa. Aku ingin segera lari dari masalah ini kalau aku bisa. Tapi aku bisa apa? Dia, lelaki bejad yang menghancurkan hidupku. Aku tak sudi berada disisinya. Aku sudah terlanjur sakit hati. Kumohon, kalian lepaskan aku dan biarkan aku hidup bebas. Aku ingin menemukan kebahagiaanku sendiri. Kumohon? Kalian dengarkan aku sekali saja. Jangan libatkan aku dalam masalah ini. Tak apa bila ini sudah terjadi, tak apa bila hatiku sakit dan harga diriku hilang. Tapi, kumohon lanjutkan hidup kalian tanpa membebaniku. Dan kau, Rama!!! kumohon kembalilah pada Siska, kasihanilah dia yang sangat mencintaimu, maafkanlah kesalahannya yang dulu. Belajarlah untuk mencintainya sedikit demi sedikit. Aku ikhlas kalau kalian bisa bersatu karena cinta. Aku akan bahagia melihatnya, kumohon hanya lepaskan aku saja. Aku tak ingin terbawa masalah ini." Gita menangis
"CUKUP. KENAPA KAU LANCANG SEKALI HAH? INI YANG MEMBUATKU TAK TAHAN DENGANMU. INGIN SEKALI RASANYA MEMBUATMU DIAM DAN TETAP BERTAHAN DENGANKU. KUMOHON GITA." Rama pun menangis
__ADS_1
"RAMA....." Orang tua Gita tak tega melihat anaknya seperti itu.
*Bersambung*