Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ada apa denganmu, Raina?


__ADS_3

Pagi ini, Vina benar-benar kesakitan. Ia merintih, tubuhnya remuk, rasanya sulit untuk berjalan. Namun, Vina tak mau mengecewakan Gilvan, ia tetap beranjak ke dapur untuk membuat sarapan.


Semalam, Gilvan benar-benar liar. Tak disangka, lelaki berwajah kalem itu sangat ganas ketika di kasur. Vina sampai kewalahan, dan tak menyangka Gilvan akan melahap habis dirinya, sampai semalam Vina tak berdaya.


Gilvan bangun, ia beranjak dari kamarnya, melihat Vina yang sedang sibuk di dapur. Vina terlihat tak nyaman, Gilvan melihat Vina berjalan pelan-pelan, seperti sedang menahan rasa sakit.


Gilvan segera mendekati Vina, melingkarkan tangannya di pinggang Vina dengan lembut. Vina kaget, ia menoleh kebelakang, ternyata Gilvan sudah bangun dan tersenyum padanya.


"Eh, sayang. Udah bangun," ucap Vina


"Kamu kenapa?" tanya Gilvan.


"Nggak apa-apa, kok." jawab Vina.


"Kamu sakit?" tanya Gilvan lagi.


"Enggak, aku baik-baik aja." Vina tersenyum sedikit terpaksa.


"Itu-mu sakit ya? Maaf ya, mungkin semalam aku terlalu kasar padamu." jelas Gilvan.


"Eh? Ehmm, i-itu, iya, eh enggak apa-apa kok." Vina benar-benar malu.


"Aku tahu kok, kamu sakit ketika berjalan, mungkin aku terlalu menikmati malam kita. Aku janji, lain kali aku akan bermain dengan lembut." ucap Gilvan.


Gilvan mengecup halus leher Vina, hingga membuat ia kegelian.


"Yang, geli.." Vina menggeliat.


"Aroma tubuhmu benar-benar wangi, sayang. Aku jadi ingin menciumi kamu terus."


"Van, cukup. Kita gak boleh leha-leha lagi, kita harus segera menjemput Givia," ucap Vina.


"Oh iya, sayang. Aku melupakan anakku. Baiklah, aku akan mandi dulu sekarang."


"Ya sudah, sana." ucap Vina.


"Apa kamu mau mandi bareng aku?" Gilvan jahil.


"Ih, apaan sih kamu!"


"Becanda sayang, sensi amat." Gilvan segera melepaskan Vina.


Hari ini, restorannya masih libur, dan Gilvan akan mengunjungi rumah Vina, untuk menjemput Givia menuju rumah baru mereka.


Bahagia Gilvan lengkap sudah. Dia telah memiliki istri dan anak yang membuat dirinya semakin semangat menjalani hidup.


Vina dan Gilvan segera berangkat menuju rumahnya, karena sudah sangat merindukan Givia. Givia pun pasti akan sangat merindukan kedua orang tuanya.


"Nanti, kita bilang apa? Aku takut, Givia akan marah padaku," ucap Vina.


"Bilang saja, kita habis membersihkan rumah baru. Makanya, sekarang kita jemput dia, untuk mengajaknya menuju rumah baru. Masuk akal bukan?" tanya Gilvan.


"Bener juga, kamu! Aku gak nyangka, kamu pintar mencari alasan juga." ucap Vina.


"Sayang, kita belikan Givia mainan dulu, atau makanan kesukaannya. Aku gak biasa kalo kemana-mana dengan tangan kosong." ajak Gilvan.


"Boleh, mau kemana?" tanya Vina.


"Ke Mall puri aja, deket kan dari sini." ucap Gilvan.


Gilvan melajukan mobilnya menuju Mall yang ia tuju. Gilvan segera memarkirkan mobilnya ditempat parkir depan Mall, karena ia tak akan lama-lama.


Gilvan dan Vina masuk kedalam pelataran Mall, Vina seperti melihat Raina dengan seseorang, namun bukan Fadli. Raina terlihat sangat mesra sekali dengan laki-laki itu. Laki-laki itu merangkul Raima, dan berjalan sambil sesekali sang lelaki mencium dan mengecup leher Raina. Sungguh menjijikkan!


"Benarkan dia Raina? Adik Rama? Kelewatan sekali dia." ucap Vina.


"Benar, itu Raina. Yang, foto dia sekarang. Lalu, kirimkan pada Rama. Kenapa Raina malah seperti itu? Apa ia tak malu? Didepan umum seperti itu. Apa itu suatu pemberontakan untuk Rama? Agar ia menghindari perjodohan ini. Tapi, bukankah Fadli bilang, Raina telah menyetujuinya? Ah, aku tak mengerti dengan anak itu." Gilvan berpikir.


"Aku akan foto sekaligus video. Raina malu-maluin banget. Aku kira, dia gak akan berani seperti itu, tapi ternyata, dia tak malu mesra-mesraan seperti itu." Vina mengeluarkan handphonenya, lalu segera memotret dan merekam Raina.


"Kirimkan foto dan videonya pada Rama. Agar Rama bisa bersikap, sepertinya Raina memang tak bisa dibiarkan lagi." ucap Gilvan.


"Betul, aku sangat menyayangkan hal ini terjadi." ucap Vina.


Vina segera mengirimkan foto dan video itu pada Rama dan Gita. Vina berharap, Rama segera menindak Raina yang sudah kelewatan.


...***...


Rama yang sedang berada di kantor, sangat kaget melihat foto dan video yang dikirimkan oleh Vina. Rama benar-benar tak bisa lagi mentoleransi Raina, Rama benar-benar marah. Tanpa basa-basi, ia segera menelepon adiknya itu.


[Halo, dimana kamu?]

__ADS_1


[Di Mall, kenapa Kak?]


[Pulang sekarang juga! Aku akan menemui kamu di rumah.]


[Loh, ada apa? Gak bisa gitu dong. Lewat telepon aja kan bisa!]


[PULANG SEKARANG!]


Tutt.. tut.. tut..


Rama mematikan teleponnya. Ia segera meminta Rey untuk mengantarnya pulang. Rama sudah meminta izin pada Gita, untuk pulang lebih dulu. Gita mengiyakan, itu berarti tanggung jawab perusahaan ada padanya hari ini.


Rama benar-benar marah dan kecewa. Ia berterima kasih pada Vina yang telah memberinya bukti mengenai perlakuan Raina, sang adik. Kenapa Raina harus berperilaku menakutkan seperti ini? Kenapa Raina malah menyalahi aturan?


Sesampainya di rumah, Rama sudah melihat Raina duduk di sofa pintu utama. Rama segera menghampirinya, wajah Raina terlihat sangat kesal dan penuh amarah.


"Apa yang kamu lakukan hari ini?" tanya Rama tiba-tiba.


"Jalan-jalan sama pacar. Emang kenapa?" tantang Raina.


"Kamu punya pacar sekarang?"


"Tentu saja, aku dan dia baru pacaran kemarin. Sekarang, aku menolak keras perjodohan ini, karena aku telah mempunyai kekasih, dan kekasihku pasti akan menikahi aku!" bentak Raina.


"Kekasih? Kekasih yang merusak dirimu seperti ini, maksudmu?"


Rama memutar video Raina yang sedang dicium oleh lelaki tersebut, Raina dicium pipinya dan juga lehernya beberapa kali. Rama benar-benar marah kali ini.


"KAKAK! Apa maksudmu membuntuti aku HAH?" Raina membentak Rama.


"Jangan membentak ku! Jelaskan maksud dari video ini. Jadi, ini pacarmu? Bukankah kemarin kamu bilang bahwa kamu menyetujui perjodohan ini, Raina? Kenapa sekarang kamu malah membuat masalah?" tanya Rama.


"Aku sudah berpikir, aku tak mau menyetujui perjodohan yang Kakak buat! Aku akan memilih jalanku sendiri, aku akan menikah dengan orang pilihanku sendiri. Puas!!" Raina tak mau kalah.


PLAKKKK


Rama menampar Raina dengan keras, sehingga Raina meringis kesakitan. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka, bahwa Rama tega melakukannya pada Raina.


"Kakak kurang ajar! Kenapa Kakak berani menamparku HAH? Mentang-mentang Mami dan Papi gak ada, Kakak jadi berani sama aku!"


"Kamu yang keterlaluan! Aku takkan berbuat seperti ini kalau kamu bisa diajak kerja sama. Kamu melawanku sekarang, Raina! Kamu tak sopan sama sekali. Kamu memalukan keluarga, kamu mencoreng nama baik kita! Pokoknya, aku akan segera menikahkan kamu dengan Fadli sebelum kamu bertindak terlalu jauh dengan lelaki bajing*n itu!!!" tegas Rama.


"Kakak egois! Aku benar-benar membenci Kak Rama!!!"


Rama bermain-main dengan Nayya dan Nakka, karena mereka baru pulang sekolah. Rama juga berharap, Raina segera kembali, karena Rama ingin meminta maaf padanya, karena Rama terlalu keras padanya, bahkan sampai memukul Raina.


Enam jam berlalu, tapi Raina tak kunjung kembali, hingga Gita telah pulang bekerja, dan Raina masih tetap tak kembali. Rama mulai khawatir, ia merasa bersalah telah menampar Raina. Baru kali ini, Rama berani menampar adiknya itu.


"Jadi Raina pergi, Mas?" tanya Gita.


"Ya, dia marah padaku."


"Tapi, foto itu sudah keterlaluan, menurutku." jawab Gita.


"Memang, makanya aku benar-benar marah besar. Tapi, jika dia tak kunjung pulang juga, aku jadi khawatir padanya." ucap Rama.


"Kamu terlalu emosi, Mas. Kamu terlalu kejam jika sampai menampar Raina, harusnya kamu minta maaf padanya, dan peluk dia, bukan malah membiarkan dia pergi. Gimana sih!"


"Aku tak berpikir kearah sana, aku benar- benar marah tadi. Aku tak bisa mengontrol emosiku. Apa aku harus mengerahkan semua pengawal untuk menemukan Raina?" tanya Rama.


"Jangan sayang! Minta bantuan Fadli saja untuk mencari Raina, karena Fadli pun yang nantinya akan jadi suami Raina, Fadli harus bisa diajak kerja sama. Kamu jangan apa-apa pada pengawal, biarkan Fadli yang berkorban untuk cintanya, biarkan Raina dan Fadli sama-sama menemukan cinta untuk mereka berdua."


"Kamu benar juga, baiklah kalau begitu. Aku akan segera menelepon Fadli sekarang."


...***...


Restoran Gilvan.


Sore ini, Fadli hanya seorang diri di ruko. Restoran tutup, ia benar-benar kesepian. Ia tak tahu harus kemana, ingin rasanya pulang kampung dan bertemu dengan semua keluarganya. Namun, tiba-tiba handphonenya berdering.


Rama memanggilnya, dengan sigap Fadli segera mengangkat telepon Rama.


"Halo, Pak. Ada apa?" tanya Fadli.


"Fad, kamu dimana?" tanya Rama.


"Saya sedang di ruko, ada apa Pak?"


"Apa kamu bisa menolongku?"


"Tentu saja, memangnya kenapa Pak?" tanya Fadli.

__ADS_1


"Aku dan Raina habis bertengkar. Dia memarahi aku, dan memaki-maki aku. Penyakit menolaknya kambuh lagi. Aku tak sengaja menamparnya, karena aku sangat kesal pada tingkahnya. Akhirnya dia pergi. Kukira dia tak pergi lama, ternyata sudah enam jam tak kunjung pulang ke rumah. Aku sedang mencarinya, apa kamu bisa membantuku mencari Raina?" pinta Rama.


"Baiklah, Pak. Saya akan membantu Pak Rama mencari Raina. Apa ada tempat yang sering Raina tuju?" tanya Fadli.


"Nanti ku kirim lewat pesan, kamu datangi satu-satu. Aku juga akan menanyakan pada semua teman-temannya." ucap Rama.


"Baik, Pak. Saya akan mencarinya sekarang." jawab Fadli.


"Terima kasih, Pak. Semoga Raina segera ketemu."


"Amin, Fad. Terima kasih."


Rama menutup teleponnya. Ada apalagi dengan Raina? Kenapa tiba-tiba ia marah pada Pak Rama? Bukankah ia telah menyetujui perjodohan ini? Kenapa dia harus bertengkar pula dengan Pak Rama? Batin Fadli dalam hati..


Fadli segera naik ke mobilnya dan berniat mencari Raina. Walau bagaimanapun, ia harus tetap mencari Raina, karena ini adalah amanat yang diberikan langsung oleh Rama.


Fadli mencari kesana-kemari, menuju tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Raina, namun hasilnya nihil. Tak ada tanda-tanda Raina.


Fadli terus mencari, berharap Raina ada di suatu tempat, namun tetap saja Raina tak ada. Hingga hari sudah gelap, Fadli tetap tak menemukan Raina. Fadli bertanya pun pada Rama, Rama berkata, ia masih belum menemukan Raina.


Hingga Fadli berhenti disebuah diskotik, ia ragu, apakah Raina ada di sana atau tidak, tapi rasanya tak mungkin kalau Raina harus berada ditempat seperti itu. Namun, rasa penasaran mengatakan, bahwa Fadli harus masuk kedalam diskotik itu.


Fadli sedikit gamang, ia takut dan tak siap. Bagaimana tidak, ia tak pernah masuk ke tempat seperti itu. Apalagi, baru saja Fadli masuk kedalam diskotik, banyak sekali wanita-wanita nakal yang menawarkan tubuhnya pada Fadli, dan mengelus-ngelus tubuh Fadli. Sungguh hal itu membuat Fadli sangat resah.


"Halo, baby. Mau ke belakang? Atau aku temani kamu minum malam ini, kita bisa have fun semalaman, sayang.." ucap si wanita malam tersebut.


"Maaf, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya sedang mencari seseorang disini." ucap Fadli.


"Oh, baby! Masa sih, kamu gak tertarik dengan ini?" wanita itu menyodorkan buah dadanya yang besar mendekati dada Fadli.


Fadli menolak dengan halus, ia benar-benar risih pada wanita yang sangat murahan itu. Ia segera menolak dengan tegas dan segera mencari Raina, apakah Raina ada atau tidak di diskotik ini.


Satu persatu meja, baik meja di bawah sana maupun didekat bartender, Fadli tetap mencari Raina. Kini, Fadli menuju sofa VIP tempat berkumpulnya orang-orang kaya berduit.


Fadli tercengang, ternyata Raina benar-benar ada ditempat ini. Raina sedang minum bersama teman-temannya. Fadli melihat, Raina sudah dalam kondisi mabuk berat. Namun, yang paling mengagetkan Fadli adalah, Raina sedang bersama laki-laki.


Ada seorang laki-laki yang sedang merangkul Raina. Laki-laki itu sama-sama dalam keadaan mabuk seperti Raina, Fadli melihat hal yang menjijikkan. Buah dada Raina beberapa kali dicium oleh lelaki itu.


Ingin marah? Tentu saja! Kesal? Sangat! Itulah yang dirasakan Fadli. Sebagai calon suami Raina, ia marah melihat Raina diperlakukan seperti itu. Namun, Fadli juga tahu diri, Raina tak menganggapnya, ia tak sepantasnya marah melihat Raina seperti itu.


Fadli mendekati mereka semua. Dengan sopan dan perlahan, Fadli berharap, Raina tak memarahinya.


"Selamat malam semuanya. Maaf, saya harus menjemput Raina." ucap Fadli.


"Siapa lo?" lelaki yang bersama Raina, angkat bicara.


Fadli terdiam. Ia bingung, harus menjawab apa dan bagaimana. Namun, Fadli harus tetap tenang, agar bisa membawa Raina pulang. Raina dalam kondisi mabuk berat, ia sudah tak sadar, ia tak memperhatikan sekitar, matanya teler, rasanya pengaruh alkohol benar-benar telah menghantui dirinya. Ia hanya cengengesan, sambil matanya melihat tak menentu.


"Saya asisten dari Nona Raina. Saya diperintahkan untuk membawa Nona Raina pulang sekarang juga. Maaf, apa saya bisa membawanya sekarang?" Fadli berpura-pura.


"Oh, elu suruhan si Rama brengs*k itu ya?" ucap laki-laki itu.


"Iya kali Bay! Dia orang suruhannya Kakak si Raina. Udah, lepasin aja! Bahaya lo nahan-nahan dia, nanti lo bisa habis sama Kakaknya dia." ucap salah satu teman wanita Raina.


"Yasudah yasudah! Nih, lo bawa aja. Gue gak mau urusan sama Kakaknya dia. Ribet nanti bisa mampus gue."


Fadli tak menjawab. Dengan sigap, Fadli segera membawa Raina dari kerumunan orang-orang yang sedang mabuk itu. Fadli merangkul Raina, membopong badannya yang sudah sangat tak seimbang. Raina benar-benar mabuk. Ia tak sadar, bahwa Fadli yang datang, dan membawanya pulang.


Fadli membawa Raina keluar dari diskotik tersebut. Fadli segera membawa Raina masuk kedalam mobil. Raina benar-benar mabuk, ia meraba-raba tubuh Fadli, benar-benar membuat Fadli takut dan jengah mendapat perlakuan dari Raina.


Fadli segera menaikkan Raina kedalam mobil. Raina melenguh, ia masih bisa berbicara, namun ucapannya meracau kemana-mana.


Fadli akan melajukan mobilnya, namun tiba-tiba, tangannya dipegang Raina dari jok belakang. Fadli kaget, ada apalagi ini.


"Bay, Bayuuuuuuuu!" Raina meracau.


Fadli tetap tak menjawab. Ia tetap mendengarkan ocehan Raina yang tak jelas. Raina duduk dengan mata yang teler, ia mendekati Fadli, ia melingkarkan tangannya ke tangan Fadli. Sambil memejamkan mata, ia berkata lagi,


"Bay, Bayu... Tiduri aku malam ini, buat saja aku hamil, agar aku tak dijodohkan dengan si Fadli yang kaku itu! Aku tak suka dengannya, karena dia tak menyukai aku! Kalau saja dia menyukai aku, mungkin aku akan mencoba menerima dia sebagai calon suamiku. Dia menyukai si pelayan tengil itu! Aku tak mau, Bayyy!!!!! Aku tak mau menikah dengannya. Tiduri aku, Bayu! Hamili aku, agar aku bisa menikah denganmu, Aarrgghhhh, aku benci Kakakku!! Aarrghhhh."


Raina terus meracau. Fadli benar-benar kaget, ia tak tahu harus berbuat apa. Ucapan Raina benar-benar membuat Fadli shock. Dengan sigap, Fadli melepaskan tangan Raina, dan membenarkan posisi Raina, agar ia tidur lagi di kursi jok belakang.


Fadli melajukan mobilnya dengan perasaan aneh dan bingung. Ia tak mengerti dengan jalan pikiran Raina. Semua ini karena Rama, adiknya jadi seperti ini.


"Raina, Maafkan aku. Aku tak bermaksud merusak mu, atau menghancurkan masa depanmu. Semua keinginan keluargamu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Harus bagaimana aku? Raina, kenapa kamu tak mencoba saja denganku? Kenapa kamu harus seperti ini?"


*Bersambung*


Hai..


Pagi..

__ADS_1


Kemarin gak UP ya, jadi sekarang aku buat panjang 2ribu kata lebih ini.


Hargai cerita ini hanya dengan Like, komentar, dan vote juga ya 🥰😘


__ADS_2