Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Maafkan kesalahanku


__ADS_3

"Anakku, kamu adalah anakku?" Gilvan mendekati Givia


"Apa benar, ini Ayah givi Bunda?" Givia masih ragu


"Iya, ini Ayah Givi." ucap Vina


Gilvan mengusap rambut Givia. Ia benar-benar bahagia, bisa bertemu dengan malaikat kecilnya yang selama ini ia nanti-nantikan.


"Naiklah, Ayah ingin memelukmu." ucap Gilvan


Fadli membantu Givia naik keatas ranjang Gilvan. Gilvan langsung menghamburkan pelukannya kepada Givia. Perasaan yang tak bisa Gilvan jabarkan dengan kata-kata, namun hatinya sangat bergetar hebat, ketika Givia berada di sampingnya.


"Maafkan Ayah, sayang. Ayah benar-benar melakukan kesalahan fatal." Gilvan menangis ketika memeluk Givia


"Ayah kenapa? Ayah jangan nangis, bukannya Ayah sedang sakit ya? Jadi Ayah tak bisa bertemu Givi." Givia menepuk-nepuk pundak Gilvan dengan lucu


Gilvan melepaskan pelukannya perlahan. Ia memegang lengan Givia. Kemudian Gilvan menciumi Givia, mengusap-usap rambut kuncirnya, memegang halus dan lembut pipi Givia.


Dosa terbesarku adalah mengabaikan kehadiranmu. Aku tak tahu, kau hadir di rahim bunda mu. Aku juga tak tahu kapan bunda mu melahirkan mu. Itulah kesalahanku yang mungkin tak akan pernah bisa bunda mu maafkan. Maafkan aku, anakku.


Aku memang bersalah, aku memang berdosa. Aku tak bisa menemani saat-saat kamu tumbuh didalam rahim Ibumu. Bagaimana kamu tumbuh dan berkembang sampai bisa secantik ini sayang? Semua pasti karena ketulusan dan cinta Bunda mu terhadapmu. Aku malu, pada diriku sendiri. Ayah macam apa aku ini?


Gilvan menangis. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Air matanya tak henti-hentinya membasahi pipi Gilvan. Gilvan memeluk Givia lagi. Ia menyesal, pergi untuk waktu yang lama, padahal disini ada anaknya yang sangat membutuhkannya.


"Maafkan Ayah, Givia."


"Sudah, Ayah. Jangan meminta maaf terus. Givia enggak kenapa-napa kok."


Givia menatap Gilvan dengan seksama. Ada yang heran, Givi melihat Gilvan dengan sangat teliti. Givia mengingat sesuatu, kapan dan dimana ia bertemu dengan Ayah Gilvan-nya ini.


"Sepertinya, Givi pernah bertemu Ayah Gilvan sebelumnya. Tapi dimana ya?"


Vina terdiam. Ia malu jika mengingat saat itu. Givia memang pernah bertemu Gilvan saat itu. Vina dan Andra membawanya menuju restoran Gilvan. Pada saat itu, Vina tak sadar bahwa itu adalah restoran Gilvan.


"Kita memang pernah bertemu, sayang." ucap Gilvan


"Kapan ya Ayah?"


"Givia pernah ke restoran Ayah waktu itu. Apa Givia ingat, pernah menginginkan gantungan kunci dengan nama Givi?" Gilvan mencoba mengingatkan Givia


Mata Givia membulat. Ia sepertinya mengingat kejadian tersebut.


"Ayah, Givi ingat! Bukankah Ayah yang memberikan gantungan kunci itu pada Givi? Nih, Ayah lihat! Givi selalu memakainya di tas Givi. Karena, gantungannya sangat cantik sekali, Givi suka sekali."


"Iya, Givi sayang. Itu Ayah. Maafkan Ayah, Ayah benar-benar bersalah telah mengabaikan kamu, Nak." Gilvan menatap sendu wajah putrinya

__ADS_1


"Tidak apa-apa Ayah, jangan minta maaf terus. Apa Ayah sengaja, memberi nama restoran Ayah dengan nama aku? Apa Ayah begitu mencintaiku?" tanya Givia


"Tentu saja, sayang. Ayah sangat mencintai Givia. Buktinya, nama restoran Ayah pun, nama kamu kan? Putri kecil Ayah yang sangat Ayah cintai." jawab Gilvan


"Lalu, kenapa Ayah pada saat itu tak memeluk Givi? Apa gara-gara ada Ayah Andra, Ayah jadi melupakan Givi? Apa Ayah benar-benar marah saat itu pada Givi?"


"Givi, kamu bicara apa sih?" Vina mulai tak suka jika Givia membahas Andra lagi


"Vin, jangan bentak Anakku. Kumohon." Gilvan tak suka jika Vina marah pada Givia


"Maaf!" jawab Vina ketus


"Givi sayang, maaf ya. Ayah pada saat itu bukan tak mengenal Givi, namun, Givi sepertinya akan punya Ayah baru, jadi Ayah hanya diam saja. Apa Givi mau mempunyai Ayah baru? Ayah Andra itu?" tanya Gilvan


"Enggak mau Ayah, karena Givi tahu, Ayah sangat menyayangi Givi, buktinya, nama restoran Ayah pun menggunakan nama Givi. Givi gak mau punya Ayah Andra, Givi maunya Ayah Gilvan. Ayo Ayah, pulang ke rumah bareng Givi. Givi mau tidur sama Ayah!" rengek Givi


"GIVI. KAMU KENAPA SIH?" Vina kesal


"Vin, sudah! Givia, barusan Nayya telepon Aunty, katanya Nayya kangen sama Givi. Apa Givi mau ikut Aunty ke rumah Nayya? Nanti, biar Bunda jemput Givi kalau sudah waktunya pulang." rayu Gita


"Tapi, Git?" Vina keberatan


"Tak apa, Vin. Selesaikan urusan mu dengan Gikvan." Gita berbisik ke telinga Vina


"Tapi, Ayah bakal sendiri dong onty?" Givia cemberut


"Ayah, apa Givi boleh ikut Onty ke rumah Nayya?" tanya Givia pada Gilvan


"Tentu saja, sayang. Tapi, jangan nakal ya! Givi harus nurut sama Onty dan Om. Oke?"


"Oke, Ayah! Givi sayang Ayah. Eemuuaahhhh!" Givia mengecup pipi Gilvan.


Gita mengajak Givia pergi, karena pembicaraan polos Givia sudah merembet kemana-mana.


"Fad, antar kan aku pulang ya? Aku tidak membawa mobil." ucap Rama


"Baik, Pak. Pak Gilvan, saya permisi dulu ya."


Gita dan Rama benar-benar tak bisa membiarkan pembicaraan itu terus berlanjut. Terpaksa, mereka harus segera membawa Givia pergi. Rama dan Fadli pamit. Karena Rama tahu, ini saat yang tepat untuk Vina dan Gilvan berbicara dengan kepala dingin.


"Git, Kak Rama! Mau kemana kalian?" Vina salah tingkah


Gilvan memahami perasaan canggung yang Vina alami. Namun, Gilvan tak boleh membiarkan Vina merasa tak enak. Gilvan menyuruh Vina duduk di sampingnya. Vina pun duduk di kursi tunggu tepat di sebelah Gilvan.


"Maaf, merepotkan mu." ucap Gilvan lalu menyandarkan tubuhnya ke ranjang rumah sakit

__ADS_1


"Bagaimana kondisimu? Apa lukanya cukup parah?" tanya Vina


"Tidak, lukanya tidak terlalu parah. Hanya, waktu itu aku terlalu mabuk, dan aku benar-benar sudah lemah, jadi aku terluka seperti ini."


"Kenapa kamu harus melakukan hal itu?" tanya Vina


"Aku tak bisa tinggal diam, ketika Ibu dari Anakku dipermainkan dan dinikmati di depan umum. Aku benar-benar marah." ucap Gilvan


"Apa itu benar terjadi?"


"Lihat saja, soft copy yang di kirimkan Rama pada handphonemu." ucap Gilvan


"Rama mengirimkannya padaku?" Vina mengernyitkan dahinya


"Iya, agar kamu tahu, kenyataan yang sebenarnya." ucap Gilvan


"Maafkan aku, Van." air mata Vina tiba-tiba mengalir


Gilvan mendekati Vina. Ia mengusap air mata di pipi Vina dengan tulus dan lembut. Gilvan melakukannya dengan hati yang membuncah penuh kerinduan. Getaran terasa di dada Vina, ketika Gilvan mengusap pipinya.


"Kamu tak salah, aku yang terlanjur membuat hatimu sakit. Aku yang salah, aku memahami kemarahan mu. Karena itulah, aku tetap sabar menghadapi mu."


"Aku terlalu egois untuk bisa memaafkan kesalahanmu. Aku terlalu mengedepankan egoku. Maafkan aku juga."


"Menurutku itu wajar, aku telah menyakiti hatimu. Aku meninggalkan kamu dengan keadaan kamu sedang hamil anak kita. Betapa aku tak bisa membayangkannya, Vin. Kamu adalah wanita yang kuat dan hebat, kamu bisa menjaga kehamilan mu dan melahirkan Givia dengan selamat. Kamu juga bisa mengurus dan merawatnya dengan baik. Kamu juga menyayanginya sepenuh hati. Aku berterima kasih padamu, telah menjaga dan merawat anakku." ucap Gilvan bergetar


"Aku sudah melupakan semuanya. Lupakan saja." ucap Vina


"Kamu akan melupakanku?" tanya Gilvan


"Tidak, lupakan kisah kelam masa lalu kita." jawab Vina


"Aku tahu, maaf tak bisa menebus dosaku padamu. Luka di hatimu pasti sangat besar, aku tak bisa mengobatinya. Aku tahu, kamu sudah tak bisa menerimaku lagi. Iya kan? Tapi, bagaimana dengan anakku? Aku tak bisa jauh darinya, Vina. Bagaimana kalau dia terus memaksaku untuk tinggal bersamanya. Aku harus menjawab apa?" Gilvan khawatir


"Entahlah, aku pun tak tahu harus bagaimana. Aku bingung dengan hati dan keadaan ini." jawab Vina


*Bersambung*


Halo, selamat malam.


Selamat membaca. Jangan lupa like dan komentar ya ❤


Maaf, kalau setiap episode menggantung terus, karena memang aku ingin menciptakan kesan bersambung itu agar selalu diingat kalian. Karena, aku pun up nya gak lama, sehari dua kali, jadi kalau gantung mohon dimengerti ya, aku suka menempatkan kesan mendalam di akhir episode.


Semoga kalian mengerti. Makasih. 🥰

__ADS_1


Selamat beristirahat semuanya. I love u all readers! 😘


__ADS_2