
Pak Gilvan harus tahu apa yang terjadi. Bukankah menurut Pak Gilvan, lelaki ini adalah suami dari wanita yang beliau cintai? Aku harus menemui Pak Gilvan sekarang.
Fadli akan menemui Gilvan di lantai atas. Ia ingin tahu jawaban dari semua ini. Dirinya kasihan pada atasannya, ia tak mungkin membiarkan hal ini terjadi begitu saja.
Sementara itu, Andra dan seorang wanita tengah duduk santai dan berbincang dengan seksama. Sang wanita menunjukkan ekspresi yang serius.
"Jadi, kapan?" tanya wanita yang bernama Evelyn.
"Sabar dong, Lyn. Aku masih sibuk, kamu harus tetap sabar. Ya?"
"Aku kesel nunggu kamu, sabar terus, sabar lagi, kenapa aku merasa kayam digantung gini sih hubunganku?" tanya Evelyn
"Maaf, aku masih butuh waktu juga untuk berpikir. Kamu jangan terus-terusan seperti ini dong. Menikah itu bukan prahara yang mudah, Lyn!" sambar Andra
"Andra, kita sudah tunangan selama 2 tahun, mau dibawa kemana hubungan kita ini? Aku sudah lelah dengan hubungan yang tak pasti, aku ingin segera menikah denganmu." ucap Evelyn
"Velyn, tunggulah sebentar lagi. Sabar sedikit lagi, Toh, aku nggak kemana-mana kan? Aku tetep ada disisi kamu." tambah Andra
"Tapi, sebagai wanita aku butuh kepastian! Aku malu, Mama dan Papaku selalu menanyakan kabar tentangmu. Kapan kamu akan menikahi ku?" tanya gadis itu
Gilvan yang baru saja hadir membawakan pesanan mereka, tak sengaja mendengar percakapan yang di ucapkan oleh sang wanita. Gilvan kaget, namun ia tetap bersikap profesional melayani tamunya.
Andra sama sekali tak mengenali Gilvan. Andra sepertinya lupa. Mungkin, Andra mengira, Vina tak ada hubungannya dengan pemilik restoran ini, sehingga Andra bebas datang kemari bersama wanita lain.
Gilvan telah memberikan pesanan yang diminta oleh Andra dan wanitanya. Gilvan segera kembali ke pantry, dan segera menemui Fadli, yang telah memberi tahu padanya bahwa suami Vina ada disini.
"Fad, gawat."
"Kenapa, Pak?" tanya Fadli
"Aku mendengar sedikit pembicaraan mereka."
"Apa itu?" tanya Fadli
"Aku mendengar wanita itu berkata, kapan kamu akan menikahi ku? Bagaimana menurutmu, Fad?" tanya Gilvan
"Berarti, suami Mbak Vina itu, selingkuh sama wanita ini. Begitu?" tanya Fadli
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Aku harus memberi tahu Vina secepatnya." ucap Gilvan
Gilvan berlari keatas kamarnya, ia akan mengambil kunci mobil dan tas nya. Ia benar-benar tak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia tak ingin, Vina sakit hati lagi karena lelaki yang telah dipilihnya.
Disisi lain, percakapan antara Andra dan Evelyn semakin memanas. Evelyn merasa, Andra mempermainkannya.
"Andra, aku gak mau tahu. Siap atau enggak, bulan depan kamu harus nikahin aku!" ucap Evelyn
"HAH? Bulan depan? Kamu gila apa? Kamu pikir, menikah itu mudah? Banyak hal yang harus kita pertimbangkan, Lyn! Jangan bertindak gegabah. Jangan mempermainkan pernikahan." ucap Andra
"Aku tidak mempermainkannya. Aku ingin kita melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Kenapa kamu seakan tak mau menikahi aku? Apa telah ada wanita lain yang menetap di sisimu? Iya?" tanya Evelyn
"Kenapa kamu malah menuduhku seperti itu? Kamu tak percaya padaku? Iya?" tanya Andra kesal
"Aku percaya padamu, maka dari itu, ayo kita menikah. Aku ingin menikah denganmu, Ndra. Aku mencintaimu." ucap Evelyn
"Aku akan menikahi mu, tapi kamu harus sabar."
"Sabar? Sampai kapan aku harus sabar, Ndra? Aku terlalu sabar selama ini. Kamu yang terlihat santai dengan pernikahan kita!" keluh Evelyn
"Aku ingin kita menikah! Kalau kamu tak ada niat baik untuk melamar ku, kita sudahi saja hubungan ini. Aku tunggu, dalam jangka waktu dua minggu, kamu harus sudah memutuskan, akan dibawa kemana pernikahan kita! Maaf, aku harus pergi." Evelyn pergi meninggalkan Andra seorang diri
"Velyn, tunggu! Lyn, jangan pergi."
Andra terlihat biasa saja, ia tak mengejar Velyn sama sekali, ia tetap duduk di kursinya, dan menghabiskan makanannya.
Masa bodoh dengan Velyn, sepertinya aku mulai tertarik dengan Vina. Awalnya, aku hanya tertarik dengan wajahnya. Ternyata, wanita itu juga punya kuasa di perusahaan, dia dekat sekali dengan direktur di perusahaan. Aku harus bisa mendapatkan Vina, agar aku bisa dengan mudah naik jabatan. Biar Velyn aku tinggalkan, karena Vina lebih mempunyai segalanya. Batin Andra
Gilvan telah selesai merapikan baju dan rambutnya. Gilvan bergegas, kemudian ia turun lagi dari kamarnya. Fadli terlihat sibuk, sedang membantu pelayan lain, Gilvan berpamitan pada Fadli. Tak lama, Fadli keluar dari pantry.
"Pak Gilvan serius, mau menemui Mbak Vina?" tanya Fadli
"Serius, aku harus memberitahunya."
"Pak, jangan lupakan bukti. Bapak foto dulu suami Mbak Vina bersama wanitanya." saran Fadli
"Bener juga kamu, ya sudah, aku harus ke meja tamu sekarang, aku akan memotretnya perlahan. kamu ikuti aku." ucap Gilvan
__ADS_1
Gilvan dan Fadli keluar dari ruang khusus karyawan, mereka melihat meja tamu dan fokus kearah Andra. Namun, mereka kaget. Andra hanya sendiri. Andra tak bersama wanitanya. Gilvan dan Fadli sangat heran dan kaget. Jelas-jelas, tadi mereka melihat Andra bersama wanita.
"Kemana wanita itu?" tanya Gilvan
"Mungkin saja ke toilet, Pak." jawab Fadli
"Kurasa tidak, karena tas dan blazer nya sudah tak ada. Tadi, ketika aku melayani mereka, ada blazer yang menggantung di kursi dan tas yang tergeletak di atas meja." ucap Gilvan
"Jadi, kemungkinan wanita itu telah pergi? Begitu?" tanya Fadli
"Coba cek toilet wanita, apa memang wanita itu sedang di toilet." ucap Gilvan
"Baik, Pak."
Fadli pergi ke toilet. Ia ingin memastikan keberadaan wanita yang bersama Andra. Gilvan mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia tetap memotret Andra seorang diri.
Gilvan memang telat sekali memotret Andra dan wanitanya. Sehingga, momentum yang cocok untuk dijadikan bukti itu sudah lenyap.
Namun, Gilvan berharap, Vina akan tetap memercayainya, karena Fadli pun saksinya. Sayangnya, Gilvan belum memasang CCTV di restorannya, kalau saja ada CCTV, mungkin Gilvan akan sedikit lega, karena ada bukti yang bisa ia berikan pada Vina.
Fadli pun kembali dengan membawa lap pel dan ember, agar tak terlihat mencurigakan. Ia berkari kecil menuju tempat Gilvan berdiri didekat kasir.
"Gimana, Fad?" tanya Gilvan
"Gak ada, Pak. Di toilet wanita tiga-tiganya kosong, di wastafel pun hanya ada satu wanita, tapi bukan wanita yang kita lihat barusan." ucap Fadli
Gilvan menghela nafas. Bodohnya ia tak segera mengabadikan foto saat Andra masih bersama seorang wanita. Ia terlalu bersemangat untuk memberi tahu Vina, sehingga hal yang penting seperti bukti foto pun lupa ia lakukan.
Gilvan akan tetap memberi tahu Vina, dengan bukti foto Andra yang sendiri, namun dengan makanan dua porsi yang tertata di meja. Semoga saja, Vina akan mempercayainya.
"Tetap awasi lelaki itu. Aku berangkat ya, Fad." ucap Gilvan
"Iya, Pak! Siap. Hati-hati dijalan. Semoga Mbak Vina memberikan respon yang baik."
"Amin, terima kasih Fad. Aku pergi."
*Bersambung*
__ADS_1