Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ketakutan Raina.


__ADS_3

Malam ini, adalah malam yang spesial bagi keluarga Hanggara. Rama dan keluarganya akan melakukan makan malam terakhir bersama Mami Maya dan Papi Angga. Mereka akan melepas kepergian Mami dan Papinya untuk pergi ke Moskow.


Rama dalam satu mobil, karena Kanayya dan Kanakka ikut. Lalu, Mami dan Papi, bersama Raina dan juga Fadli. Fadli yang mengemudi. Mereka akan malam di restoran terkenal dan mewah, dengan fasilitas yang lengkap.


Mereka semua telah tiba. Fadli dan Raina tak saling banyak bicara karena ciuman Fadli tadi siang. Keduanya terlihat serius dan tak banyak bicara.


Makanan dengan menu western siap dihidangkan di meja keluarga Hanggara. Semuanya terlihat bahagia. Rona wajah mereka benar-benar penuh dengan kehangatan.


Makan malam pun dimulai. Mereka mulai menyantap hidangan mewah yang disediakan oleh restoran nomor 1 ini. Rama memesan makanan yang benar-benar bukan main harga dan rasanya.


"Karena ini malam terakhir kita, Mami ingin berpesan pada kalian, Rama dan Raina tetap akur ya, kalian saling menjaga dan saling menghormati. Mami dan Papi hanya punya kalian berdua. Jangan sampai kalian berselisih, Mami gak mau. Raina, kamu harus patuh pada Kakakmu, dia yang menjadi pengganti kita selama jauh. Jangan pernah membuat Kakakmu marah lagi. Sudah cukup semua drama yang kamu buat" Mami Maya tersenyum pada putri cantiknya.


"Iya, Mami. Sedih banget aku. Aku pasti bakal kangen sama Mami, deh." jawab Raina.


"Untuk Gita, menantu Mami yang sangat Mami sayangi, kamu tetap jaga dan sayangi anak laki-laki Mami satu-satunya ya! Hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat Rama luluh. Dengan begitu berat perjuangan cinta kalian, sampai kalian bisa bersama seperti ini. Mami ingat sekali, saat pertemuan pertama kita, sayang. Mami menculik mu, berkata padamu bahwa kamu harus menjauhi Rama, tapi ternyata Rama sendiri-lah yang mencari-cari kamu. Kamu adalah kebahagiaannya, Gita. Mami menaruh semua harapan padamu. Juga untuk cucu-cucuku yang lucu ini, terima kasih, telah memberiku kebahagiaan yang sempurna, menantuku." Mami mengusap-usap punggung Gita.


"Aku yang berterima kasih pada Mami dan juga Papi, karena kalian lah, lahir seorang laki-laki yang kini menemani hidupku, yang aku cintai sejak aku masih duduk di bangku SMA, cinta pertamaku, yang aku nantikan, yang aku banggakan, hingga akhirnya aku bisa bersamanya setelah melewati masa-masa perjuangan kita. Suka dan duka ku, aku lewati bersamanya. Hingga kebahagiaan menyelimuti kita, mengarungi bahtera dan liku rumah tangga bersamaku, hingga lahirlah putri dan putra ku yang sangat aku sayangi." Gita selalu menganggap Nakka adalah anak kandungnya.


"Terima kasih, sayang. Mami dan Papi adalah saksi perjalanan panjang kisah kita. Aku tak akan melupakan sedikitpun masa-masa sulit kita, untuk kita bisa bersatu sampai saat ini. Aku benar-benar mencintai kamu, untuk hidup dan mati ku, hanya kamu wanita satu-satunya, Gita-ku istriku." Rama merangkul lengan Gita.


"Papi yakin, kamu bisa menjadi pemimpin yang hebat, karena di samping kamu juga ada wanita yang hebat, Rama. Kalian juga bisa menggantikan kami menjadi orang tua untuk Raina dan Fadli." Papi Rama angkat bicara.


"Mungkin, Papi dan Mami-lah saksi bisu perjuangan cintaku dengan Gita. Kini, aku yang akan menjadi saksi bisu, percintaan adik kecilku dengan suaminya. Aku menantikan saat-saat kalian jatuh cinta, pasti akan sangat menggelitik. Percayakan semua pada Rama Mi, Pi, aku akan menjaga adik-adikku dengan baik." Rama tersenyum jahil pada Raina.


Raina melotot pada Rama, pertanda ia keberatan dengan ucapan Rama. Tapi, Rama dan Gita malah tertawa kecil saat menggoda kedua adiknya itu. Papi Angga tersenyum, lalu ia melihat kearah Fadli.


"Fadli, aku memang baru mengenalmu. Aku percaya, kamu bisa menjaga dan melindungi Raina, anak perempuanku satu-satunya. Kuharap, kamu bisa memahami sifat manja Raina, dan mencoba mengerti kan dirinya. Aku menaruh simpati padamu, semoga kamu dan Raina suatu saat akan saling mencintai. Ingat kata-kataku, jangan salahkan perjodohan ini, karena ini bukanlah suatu kesalahan, ini adalah takdir. Takdir cinta kalian harus dipertemukan dengan cara seperti ini. Untuk itu, kalian paham kan maksudku? Jangan terbebani dengan perjodohan ini, belajarlah saling mencintai dan menyayangi, karena kalian memang ditakdirkan untuk bersama." Papi Angga menguatkan.


"Baik, Papi. Saya akan menjaga dan menyayangi Raina setulus hati saya." jawab Fadli mantap.


Raina hanya bisa terdiam mendengar jawaban Fadli. Entah akan bagaimana hubungan dirinya dan Fadli kedepannya. Raina tak mau memikirkannya terlalu jauh.


"Rai, jangan galak-galak sama Fadli. Dia baik banget loh sama kamu. Dia bukan laki-laki sembarangan, Mami percaya itu. Awas aja kalau kamu macam-macam, apalagi buat Fadli sakit hati. Fadli, kalau Raina macam-macam, laporkan saja pada Kak Rama ya," perintah Mama Maya.


"Ih Mami kok gitu sih sama aku!" Raina cemberut.


"Iya, Mam, makasih." Fadli tersenyum.


Makan malam yang diakhiri dengan salam perpisahan antara anak dan orang tua. Sedih, sangat sedih, bahagia, tentu saja. Gita dan Rama yang benar-benar akan merasa kehilangan sosok Mami Maya dan Papi Angga, karena kisah mereka benar-benar berkaitan dengan kedua orang tua Rama dan mendiang Kakek Prima.


Acara telah selesai. keluarga Hanggara pun pulang ke rumah besar. Lelah, sudah pasti. Rama dan Gita tentu saja masuk ke kamar mereka dengan bahagia, berbeda dengan Fadli dan Raina, yang sama-sama gugup dan tak mau berada satu kamar bersama.


Fadli dan Raina memang sudah berada di kamar. Mereka bergantian saling membersihkan diri masing-masing, dan mengganti pakaian tidur. Raina benar-benar tak nyaman berada satu kamar dengan Fadli. Raina mencari cara untuk menyibukkan dirinya.

__ADS_1


Aku bener-bener gak nyaman disini. Aku harus keluar dari kamar. Tapi, aku harus ngapain? Ah, iya! Aku ke kamar Kak Gita aja, pura-pura pinjam catokan. Eh, tapi? Ngapain catok rambut malem-malem? Lah, apa aja lah gimana nanti di sana. Yang penting aku jangan ada di kamar ini sebelum waktunya tidur. Batin Raina.


Raina beranjak dari duduknya. Fadli keheranan melihat tingkah Raina yang gelagapan.


"Mau kemana?" tanya Fadli.


"Ke kamar Kak Rama, mau ambil catokan."


"Catokan malam-malam? Mau kemana?"


"Biar pas tidur rambut aku terlihat cantik, terus ada pangeran yang jatuh cinta sama aku! Puas kamu!"


"Kan aku pangerannya." balas Fadli.


"Huekkssss! Mimpi."


Raina berlalu meninggalkan Fadli. Bukan tanpa alasan, sebenarnya Raina tersipu malu ketika Fadli mengatakan pangerannya, benar-benar memerah wajah Raina, makanya ia segera meninggalkan Fadli keluar kamarnya.


***


Kamar Rama dan Gita.


Rama dan Gita sedang berbaring di ranjang sambil menonton televisi. Rama terlihat nakal lagi, ucapan romantisnya ketika di restoran masih terbayang-bayang. Sehingga, suasana romantis masih melekat pada diri mereka berdua sampai saat ini.


"Iya, sayang?" balas Gita.


"Kita buat adek untuk Nayya dan Nakka, aku kangen!" Rama menggoda.


"Ssstttt! Ini masih belum terlalu malam, gimana kalau tiba-tiba anak-anak masuk?" cegah Gita.


"Gak akan, mereka pasti kelelahan dan sudah istirahat sekarang. Sekarang yuk? Aku sudah ingin bertemu little Gita." Rama mulai mencium lembut leher Gita, diikuti dengan desahan yang refleks keluar dari mulut Gita.


"Aaaaaah, sayang. Geli aku," Gita melenguh keenakan.


"Aku di atas ya?"


"Berat dong." jawab Gita.


"Enggak kok, aku mau pemanasan dulu, sayang."


Rama naik keatas tubuh Gita. Rama perlahan mulai menciumi tubuh mulus Gita dengan lembut. Rama mulai larut dalam buaiannya. Gita melenguh keenakan ketika Rama bermain-main di telinganya.


Tangannya mulai nakal, Rama membuka kancing piyama Gita satu-persatu. Setelah terbuka, tangannya mulai meremas-remas gundukan kenyal milik Gita. Erangan dan desahan tak bisa terhindarkan, Gita mulai larut dalam hasratnya.

__ADS_1


Rama keasyikan bermain-main dengan tubuh Gita, sehingga Rama lupa mengunci pintu. Kini, Raina telah berada di depan kamar Rama. Dasar Raina si anak slebor, ia tak mengetuk pintu dahulu, ia langsung membuka pintu kamar Rama dan mengatakan keinginannya.


Klekkkk, pintu dibuka oleh Raina.


"Kak Gita aku pinjam catokan dong!!!"


Raina melihat kearah ranjang,


"ASTAGA! APA YANG AKU LIHAT. MAAF, MAAF! AKU TAK SENGAJA! MAAFKAN AKU, AKU PERGI. MAAAAAF BANGET!!!!!"


Raina menutup wajahnya dan segera berlari keluar dari kamar Rama. Rama dan Gita benar-benar kaget, melihat Raina menyelonong masuk kedalam kamar mereka.


"Sayang!!! Kamu malu-maluin! Kenapa pintunya belum dikunci? Kan jadi ketahuan sama Raina. Aku malu. Udah ah, gak jadi." Gita menutup tubuhnya kembali dengan piyama yang telah terbuka.


"Dasar anak kecil itu! Berani-beraninya dia masuk kamar tanpa mengetuk pintu." Rama mendengus kesal.


"Udah, turun kamu. Berat! Aku mau tidur." jawab Gita.


"Kok turun sih? Juniorku sudah bereaksi, jangan gitu dong sayang!"


"Aku udah terlanjur malas. Aku malu!" Gita cemberut.


"Eh, eh, jangan gitu. Biarin aja Raina kan sudah gede, udah nikah juga. Dia juga mungkin saja sudah mengalaminya bersama Fadli. Jangan ngambekan gitu dong sayang." ucap Rama.


"Hasrat bercintaku udah ilang!" Gita kekeh.


"Baiklah, jika kamu ingin aku melakukan ini sama seperti kita melakukannya saat pertama kali. Kamu ingin dipaksa ya? Oke, akan kulakukan."


Rama mulai beraksi lagi. Gita kaget, ia menahan tubuh Rama.


"Eh, eh, kok kamu maksa sih! Aaaaaahhhh, geli sayang! Udah, aahhh, kamu bener-bener ya!" Gita kegelian karena Rama mulai menciuminya lagi.


***


Perasaan Raina semakin menggila setelah melihat adegan kedua kakaknya sedang bercinta. Pikirannya selalu terbayang-bayang akan nasib dirinya.


Apa bercinta memang seperti itu? Kenapa aku jadi takut ya? Kak Rama, Kak Gita! Aku telah melihat kalian bermesraan, aku jadi takut hal itu terjadi padaku. Bagaimana ini? Aku benar-benar tak menginginkannya. Aku tak ingin Fadli melakukan hal itu padaku, Oh tidak! Bagaimana kalau Fadli juga melakukan hal yang sama seperti yang Kak Rama lakukan pada Kak Gita? Aku takut! Haruskah aku menyediakan senjata, jaga-jaga kalau Fadli akan berbuat seperti Kak Rama? Aduh, bagaimana aku masuk kamar ini. Aku benar-benar takut. Heh? Apa maksudnya ini? Kenapa aku malah membicarakan si Fadli? Astaga, otak dan pikiranku telah tercemar! Batin Raina dalam hati.


*Bersambung*


Jangan lupa like dan komentarnya.


Yang berkenan, berikan vote-nya juga 😍

__ADS_1


__ADS_2