Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Itu cucuku


__ADS_3

Vina berjalan-jalan di halaman belakang bersama Ibunya Gilvan setelah ucapan serius tadi. Vina merasa, Ibu Gilvan sangat hangat dan baik. Awalnya, Vina mengira mereka akan acuh pada Vina dan Givia, tetapi ternyata pikiran Vina salah.


"Itukah cucuku? Cucu yang pada saat itu masih berada di rahimmu, Vina?" tanya Ibu Gilvan


Vina mengangguk lembut, "Iya, Bu. Dialah alasanku tetap tegar menjalani hidup ini. Givia, namanya." jawab Vina


"Dulu, kenapa kamu tak mengabari ku sama sekali setelah Gilvan pergi ke USA?" tanya Ibu Gilvan


"Maafkan aku, aku takut kalian tidak menganggap ku. Aku takut hanya menjadi beban dalam hidup kalian, Bu. Karena itu, lebih baik aku menjalani hidupku sendiri, sampai Gilvan datang menjemput ku. Tapi, Ibu tahu sendiri, bahwa Gilvan sedikit terlambat." ucap Vina


"Maafkan anakku, dia memang pekerja keras. Sejak dulu, sejak ia lulus SMA, ia ingin bekerja, ia rela pergi ke Malaysia, karena ia ingin bekerja. Bahkan, untuk kuliah pun dia berusaha sendiri. Dia tak mau menyulitkan aku, karena sejak Ayahnya meninggal, dia tahu, bahwa aku hanya mengandalkan uang pemberian Kakaknya. Aku paham, jika Gilvan pergi tanpa kabar sampai begitu lama, karena sifatnya yang memang ingin bekerja keras, walaupun sifatnya itu membuat kamu tersiksa. Selama itu, bagaimana kamu menjalani hidup, mengurus anakmu, Vina?" tanya Ibu Gilvan


Vina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menarik nafasnya, lalu membuang perlahan. Jika diceritakan, cukup berat, dan sangat berat bagi Vina.


"Ketika aku yakin bahwa aku hamil, kedua orang tuaku marah besar, mereka mengungsikan aku ke kampung halaman Ayahku, karena mereka malu mempunyai anak seperti aku. Aku akui, aku dan Gilvan memang ceroboh dan tak berpikir panjang. Aku pun menyesal telah melakukan itu dengannya, hingga akhirnya anakku lah yang harus menjadi korbannya." jelas Vina


"Aku melahirkan di kampung. Aku dan bayiku selamat walaupun tanpa sosok seorang Ayah di sampingnya, walaupun Ayahnya tak tahu bahwa aku sedang hamil dan melahirkan. Saat itu, Gita dan Rama yang menolongku dari keterpurukan. Aku, bekerja di perusahaan Rama untuk menghidupi anakku. Anakku dirawat oleh Mama, karena Mama pun sangat menyayangi cucunya, bayiku tak bersalah, ia hanya korban. Aku berusaha sekuat tenagaku untuk menghidupinya. Aku bertekad, tanpa lelaki pun aku bisa mengurus dan membiayai anakku sendiri." jawab Vina


Ibu Gilvan menitikkan air mata mendengar penjelasan Vina. Dirinya terenyuh, hatinya sakit, melihat betapa besarnya perjuangan Vina untuk merawat dan membiayai anaknya tanpa sosok seorang suami yang bertanggung jawab.


"Maafkan aku, aku tak bisa menolong mu dan mengabari mu. Disini pun aku serba kekurangan setelah menjual beberapa barang berharga kami untuk biaya pengobatan Gilvan. Maafkan aku, menelantarkan kamu dan cucuku. Terima kasih, Vina.. Kamu telah memberi kesempatan kedua untuk anakku. Semoga, kedepannya hidup kalian akan selalu bahagia. Aku bahagia, jika anakku juga bahagia." ucap Ibu Gilvan


"Makasih, Bu. Amin, semoga saja semuanya lancar dan tak ada halangan apapun." ucap Vina


"Tentu saja, aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Aku lupa bertanya, kedua orang tuamu sudah bertemu dengan anakku?" tanyanya


"Sudah, dan mereka memaafkan kesalahan Gilvan, karena Givia yang sangat menginginkan sosok seorang Ayah. Kedua orang tuaku tak bisa menuntut banyak, hanya berharap Gilvan bisa menjadi Ayah yang baik untuk Givia." ucap Vina


"Terima kasih, kamu dan keluargamu memang keluarga yang baik dan penuh pengampunan. Aku harap, semoga kamu dan anakku akan selalu bahagia. Aku terlalu malu untuk menatap kamu, maafkan aku." ucap Ibu Gilvan


"Tak apa-apa, Bu. Ibu gak salah, jangan menyalahkan diri sendiri. Aku juga salah, maafkan aku tak mengabari mu."

__ADS_1


Tiba-tiba, Givia datang menghampiri Vina dan neneknya.


"Bundaaaaaaa, Givi seneng deh, di rumah Ayah banyak mainannya." ucap Givia riang


"Wah, bagus dong. Givi sayang, ini Nenek. Givi belum peluk dan cium Nenek, bukan?" tanya Vina


"Oh iya, ini nenek ya? Nenek ini berarti bundanya Ayah Gilvan. Iya kan, Nek?" Givia dengan polosnya


"Iya, sayang. Kamu memang anak yang pintar. Sini, izinkan Nenek memeluk dan mencium kamu, cucuku." Ibu Gilvan melebarkan tangannya


Givia mendekat kearah Ibu Gilvan. Givia memang anak yang ramah, ia tak pernah merasa asing pada siapapun. Ia anak yang mudah bergaul dan mudah akrab sekalipun itu orang yang baru dikenalnya.


"Nenekk.." Givia membalas pelukan Ibu Gilvan


"Sayang, sini. Aku tak tahu kamu telah hadir ke dunia menjadi putri yang sangat cantik. Maafkan aku, yang tak mengetahui keberadaan mu. Aku benar-benar merasa bersalah. Nenek janji, nenek akan selalu menjaga Givia dan menyayangi Givia. Semoga, Givia selalu bahagia hidup bersama Ayah dan Bunda Givia. Oke?" Ibu Gilvan tersenyum pada Givia


"Tentu saja, Nenek. Givia akan menyayangi semua orang yang juga menyayangi Givi."


Gilvan bersama Kakaknya melihat adegan saat Givia dipeluk oleh Ibunya. Gilvan refleks berjalan mendekati Ibunya dan juga Vina.


"Eh, Givi. Udah kenal kan sama Nenek?" tanya Gilvan


"Udah dong, Ayah. Nenek juga kayak Oma, baik orangnya."


"Iya sayang, semua orang pasti baik sama Givi."


"Ya sudah, ayah Givi mau main lagi sama Kaka Diva dan dedek Davi, ya!" ucap Givia


"Iya, sayang. Hati-hati."


Givia berlalu. Tertinggal Gilvan dan kakaknya bersama Vina dengan Ibu Gilvan. Mereka mulai terlibat obrolan serius lagi.

__ADS_1


"Jadi, kapan Van?" tanya Kakaknya


"Aku ingin secepatnya, Bang. Apa kamu ada waktu?" tanya Gilvan


"Tentu saja, sebelum menentukan tanggal pernikahan, aku harus bertemu dulu dengan kedua orang tua Vina. Mungkin, tiga hari lagi aku akan bersilaturahmi ke rumah orang tua Vina. Apakah orang tuamu tak sibuk, Vin?"


"Enggak kok, Bang. InsyaAllah aku usahakan Mama dan Papaku ada di rumah." jawab Vina


"Tiga hari lagi, kita lakukan seserahan pada keluarga Vina. Kira-kira, menikahnya kapan?" tanya Kakak Gilvan lagi


"Aku ingin secepatnya, Bang. Bila perlu, minggu depan aku ingin segera menikah." jawab Gilvan


"Sembarangan kamu. Ngebet sekali ingin menikah! Kalau ingin cepat, aku usahakan sekitar dua atau tiga minggu lagi. Bagaimana?" tanya Kakak Gilvan


"Baiklah, aku setuju. Semoga semuanya lancar dan tak ada halangan apapun." jawab Gilvan


"Amin.." mereka menjawab bersamaan


"Bu, Gilvan ini ngebet banget pengen nikah! Kayaknya dia gak sabar nunggu lama. Udah gak tahan kali ya!" ucap Kakak Gilvan


"Sembarangan lu, Bang. Enak aja. Bukan begitu, karena anakku selalu ingin tidur denganku, aku kasihan dia terus memohon-mohon agar aku tetap di rumahnya dan tak pulang. Dia ingin aku tetap di sampingnya sampai ia terlelap." ucap Gilvan


"Iya, Nak. Kamu patut bersyukur. Ternyata, Vina masih memberimu kesempatan kedua. Ingat, jangan sampai mengecewakannya lagi. Jangan pernah buat hatinya sakit, jangan pernah membuat Vina menangis lagi. Sudah cukup dia mengalami semua penderitaan itu sendirian. Kini, waktunya kamu membahagiakan dan menyayangi Vina sepenuh hatimu. Apalagi, ada cucuku yang cantik dan harus selalu kamu lindungi. Aku berharap yang terbaik untuk kalian." ucap Ibu Gilvan


"Tentu saja, Bu. Terima kasih, aku pasti menjaga Vina dan Givia dengan baik. Aku tak akan mengecewakan mereka yang telah memberiku kesempatan kedua. Aku ucapkan terima kasih, pada Vina, dan juga Givia. Kalian yang mewarnai hari-hariku selama ini." jawab Gilvan


*Bersambung*


Selamat membaca


Jangan lupakan LIKE nya ya.

__ADS_1


__ADS_2