Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
melihat buaya


__ADS_3

Rama tak gegabah. Ia akan berpikir matang-matang. 5 tahun lalu, dirinya memang mencari keberadaan pemuda yang di wasiatkan oleh Kakeknya. Namun, rumah di kawasan tersebut telah sepi dan kosong, karena akan segera dijual.


Raina amat bahagia, karena perjodohan itu tak akan terjadi, karena lelaki yang diamanatkan oleh Kakeknya Rama sudah tak ada disekitar perumahan. Informasi mengenai lelaki itu pun tak ada.


Kali ini, Tuhan baru menjawabnya. Pemuda itu ternyata berada dekat di lingkungan Rama. Bahkan berada dibawah naungan Gilvan.


Mereka semua sudah berada di restoran. Kanayya dan Kanakka sedang asyik bermain-main dengan Rey dan Mia. Mereka berdua sesekali mengerjai Rey dengan berbagai cara, hingga terdengar gelak tawa Mia, Nayya dan Nakka.


Rama belum beranjak pulang. Rama meminta Fadli untuk berbincang-bincang dengannya. Sekedar mencari tahu informasi yang sebenarnya. Karena, Rama ingin melakukan wasiat Kakek Rama yang sebenar-benarnya.


"Fad, aku mengganggu waktumu sebentar, boleh?" ucap Rama


"Tidak apa-apa, Pak. Lagipula, saya tidak sibuk. Resto sedang lenggang." kelas Fadli


"Apa kamu memang tukang kebun Pak Samudra?"


"Betul, Pak." jawab Fadli


"Aku akan langsung saja, apa kamu yang menyelamatkan Kakekku, kakek prima?" tanya Rama


"Pak Rama tahu darimana?" Fadli sedikit kaget


"Berarti, benar itu kamu?"


"Iya, Pak. Saya yang menyelamatkan Kakek Prima."


Rama lega, akhirnya bisa menemukan orang yang ia cari-cari selama ini. Dirinya tak akan bertindak lebih jauh, ia akan mencari cara dan waktu yang tepat untuk menyatukan Raina dan Fadli.


Rama hanya meminta kontak Fadli, dengan alasan agar tak susah jika akan menghubungi Gilvan. Fadli pun memberikannya dengan senang hati.


***


Rey dan Mia sedang menyuapi Nayya dan Nakka. Mereka berbincang sambil sesekali bercanda. Nayya dan Nakka terlihat sangat senang sekali, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.


"Nayya dan Nakka memang anak-anak yang baik ya, Mi?" tanya Rey pada Mia


"Iya, mereka memang baik. Aku sangat menyayangi mereka. Mereka sudah ku anggap sebagai anakku sendiri."


"Karena kamu yang menjaganya setiap hari dan setiap malam, feel mu pada mereka pasti lebih dapat dibanding Nona Gita." jelas Rey

__ADS_1


"Iya, tapi aku tak pernah membuat mereka terlalu dekat denganku, mereka biasa saja padaku, karena Nona Gita lah yang berhak atas semuanya." ucap Mia


"Mungkinkah, aku akan mempunyai yang seperti ini nantinya.." ucap Rey tiba-tiba


"Tentu saja, Rey. Nanti, kamu pasti menemukan kebahagiaanmu. "


"Apa mungkin, aku bisa bahagia bersamamu?" tanya Rey


"Bersamaku? Becanda mu sangat lucu." Mia tertawa kecil


"Bagaimana jika aku tak bercanda?" tanya Rey


"Aku sudah tak memikirkan mengenai cinta itu lagi." ucap Mia


"Mau sampai kapan, kamu menutup hatimu?" tanya Rey


"Aku tak tahu, rasanya aku sudah tak ingin jatuh cinta lagi." tegas Mia


"Sudah 5 tahun lebih, sejak kamu menolak ku, apa kamu tetap tak pernah menganggap ku ada?" tanya Rey


"Kamu selalu hadir, menemani hari-hariku. Hanya saja, aku tak pernah menganggap kamu memberiku cinta. Aku hanya nyaman ada di sisimu. Bagiku, semua itu sudah cukup dibanding kisah cinta yang pasti akan sangat menyulitkan kita." ucap Mia


"Ya, karena cinta selalu saja membuat kita bingung dan terus-menerus memikirkan cinta itu sendiri. Hanya membuang-buang waktu." ucap Mia


"Kurasa, hatimu telah mati. Apa kamu benar-benar tak ingin membangunkan rasa cinta di hatimu?" tanya Rey


"Aku sudah puas. Aku tak mau memaksakan cinta itu lagi. Sudah cukup merasakan kegagalan untuk cinta, dan aku tak mau itu terulang kembali." ucap Mia


"Aku bukanlah mantan suamimu. Aku adalah Rey, aku tak akan sama seperti mantanmu yang lalu. Apa kamu harus seperti ini terus? Tak pernah memberikan kesempatan untukku menjadi milikmu?" ucap Rey


Hatimu sulit sekali dicairkan, Mi. Aku sudah beberapa kali mencoba meyakinkanmu, tapi kamu tetap pada keputusanmu, untuk tetap hidup sendiri tanpa cinta. Padahal, aku akan mencintaimu dengan hatiku. Tak sedikitpun terbesit rasa di hatiku untuk menyakitimu. Harusnya, kamu mempedulikan aku, yang mencoba mencintaimu sepenuh hati. Batin Rey


"Mbak Mia sama Om Rey kok berantem sih?" ucap Nayya tiba-tiba


"Eh, Nayya sayang. Mbak Mia tidak berantem kok, Mbak Mia sama Om Rey baik-baik aja." Mia tersenyum ramah


"Mbak Mia, apa Mbak Mia gak cinta sama Om Rey?" tanya Nakka


"Sshhhttt! Kenapa Nakka berbicara seperti itu? Jangan berbicara yang aneh-aneh. Mbak tak apa-apa kok."

__ADS_1


"Sepertinya Om Rey jatuh cinta pada Mbak Mia. Bener gak Nayy?" tanya Nakka


"Sepertinya begitu, hanya saja Mbak Mia menolak Om Rey. Padahal, Om Rey itu tampan dan baik ya. Harusnya Mbak Mia jangan menolaknya. Kalau nanti Om Rey sudah punya kekasih baru, nanti Mbak Mia baru nyesel, Ayoooooo!" goda Nayya


"Eeh, Nayya! Kamu masih kecil kok tahu masalah percintaan sih?" tanya Mia


"Nayya tahu, karena jatuh cinta itu memang indah. Coba deh, Mbak Mia mencoba jatuh cinta lagi, pasti akan sangat indah." jawab Nayya asal


Bukan aku tak mau jatuh cinta lagi. Tapi, aku sudah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta, aku sudah tahu rasa sakitnya mencintai. Itu sudah cukup untukku. Karena, tak akan ada jatuh cinta yang abadi kekal selamanya.


Mia menatap lembut pada Nayya dan Nakka. Ia tersenyum melihat betapa pintarnya kedua anak majikannya itu. Rey malu, ia mengakhiri pembicaraannya. Kerena, semakin lama, akan smakin menyakitkan.


Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Sudah waktunya makan siang, beberapa pegawai dan karyawan memenuhi restoran Gilvan. Gilvan mukai sibuk dengan beberapa pelanggan.


"Van, gue pulang aja deh! Lo pasti sibuk, banyak pelanggan gini." ucap Rama


"Baik, Ram. Makasih ya udah mampir ke restoran kecil gue ini." ucap Gilvan


"Sama-sama, Van. Nanti, gue akan kembali lagi kesini ya."


"Siap, Ram. Gue tunggu. Thanks ya."


Rama mengajak semua anak-anaknya untuk segera pulang. Sebelum pulang, Rama meminta membungkus beberapa paket ayam untuk keluarganya di rumah.


Gilvan menolak pembayaran uang dari Rama. Namun, Rama tetap memaksa. Rama tak mau makan tanpa membayar di resto Gilvan, Rama dan Gilvan sesekali terlihat saling sungkan. Namun, pada akhirnya Gilvan mengalah, ia menerima uang yang diberikan Rama.


***


Sore hari menjelang malam, restoran terlihat cukup ramai. Suatu ketika, datanglah seorang wanita dan laki-laki, yang langsung membuat Fadli tercengang melihatnya.


Fadli kaget, sampai beberapa kali Fadli mengucek matanya, memastikan apa yang ia lihat. Namun, itu memang benar terjadi. Seorang laki-laki yang saat itu pernah datang bersama wanita yang Bos nya cintai. Dengan perasaan berat hati, Fadli mendekati mereka, dan menulis menu yang akan mereka pesan.


"Sayang, kamu mau pesan apa? Di restoran ini makanannya enak-enak. Pesanlah sesukamu, aku akan membayarkan semuanya untukmu."


"Makasih, sayang. Kamu memang terbaik."


Fadli melotot bingung. Apakah ia harus memberi tahukan hal ini pada Bos nya? Apa, dia harus menutup mulut saja? Kenapa lelaki ini tak menyadari hal ini? Datang lagi ke tempat ini, dengan wanita yang berbeda. Apa maksud dari semua ini? Bos Gilvan, apa yang harus aku lakukan?


*Bersambung*

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya say 😍🥰


__ADS_2