
Kenapa perasaan ini harus menyakitkan? Ketika aku akan melupakan semua, kenapa aku harus mengingatnya kembali? Kini, ketika hatiku telah membaik, kenapa dia malah membuatku sakit hati? Sesulit inikah untuk mencintai? Apa aku harus benar-benar menyerah saja?
Vina larut dalam kesedihan. Lelaki yang ia cintai kini malah membuatnya sakit hati. Vina telah melupakannya dengan Rey, tetapi Gilvan seperti memanggilnya kembali dengan tragedi kecelakaan itu.
Apa yang harus Vina lakukan sekarang? Gilvan malah membencinya. Vina mencoba melupakan Gilvan dengan Rey, tetapi Gilvan malah membuat Vina tak tega dan kembali padanya.
Di koridor Rumah sakit, Vina duduk menangis ditemani Gita dan Rama.
"Vin, ini sudah jalannya. Kamu harus bisa melewati ini semua!" ucap Gita
"Git, aku sudah mencoba melupakannya dengan Rey! Tetapi, dia malah kecelakaan ketika aku akan memutuskan semua hubungan dengannya, ketika aku akan mengembalikan uang yang pernah ia beri untukku. Sekarang, dia malah lupa denganku. Aku harus bagaimana lagi? Sakit hatiku, Git!"
"Aku tahu, ini berat buatmu. Tapi, kamu harus kuat. Gilvan sedang dalam proses pemulihan. Kalau ingatannya sudah pulih, ia tak mungkin seperti ini kan?"
"Dia telah merenggut kesucian ku! Dia juga yang telah menghancurkan perasaanku!" Vina terus menangis
"Sudah kubilang, apa kamu mau menikah dengan Gilvan? Ibunya sudah berkata padaku, kalau benar kamu mencintainya, menikahlah dengan Gilvan. Buatlah ingatannya kembali."
"Mereka tak menganggap ku, Git!"
"Vin, Ibu Gilvan sangat shock ketika kamu bicara Gilvan telah tidur denganmu! Dia sempat meneleponku malam itu, aku menjelaskannya, aku menceritakan semua kisah mu dengannya."
"Kenapa kamu menceritakannya?" tanya Vina
"Agar keluarga Gilvan tahu, Gilvan telah merusak masa depanmu. Gilvan harus tanggung jawab! Kamu harus tetap berada disisi Gilvan."
"Git, aku.."
"Kenapa, Vin?" Gita memegang bahu Vina
"Gilvan bilang padaku, dia memakai pengaman, tapi...."
"Kenapa? Kamu telat?" Gita kaget
Rama menatap Vina, Rama mendengarkan apa perkataan sahabat istrinya itu.
"Aku sudah sebulan tidak menstruasi." Vina menunduk
"Vina, kamu harus segera memeriksakannya. Ini tak bisa dibiarkan. Gilvan dan keluarganya harus mengetahui hal ini." ucap Gita
"Jangan gegabah! Kamu harus memikirkan betul-betul." ucap Rama
"Dengan keadaan seperti ini, tak mungkin Gilvan akan mempercayainya." tambah Rama
"Menurutku, harus bagaimana?" tanya Gita
"Periksa dulu kondisi Vina, kalau dia memang hamil, bicarakan dengan kepala dingin pada keluarga Gilvan. Mereka pun akan bersikap nantinya kalau sudah tau mengenai hal ini. Sembunyikan dulu dari Gilvan." Rama menjelaskan
"Benar juga, kamu pinter deh!" Gita menggoda Rama
"Coba kalau dulu kamu berpikir jernih! Pasti tidak akan membuat masalah! Mungkin kejadiannya tak akan serumit ini." sindir Rama
"Jadi, kamu nuduh aku gitu? Kamu nuduh aku yang jadi biang masalah dari semua ini? Iya? HAH?
__ADS_1
Buset.. Salah ngomong deh gue jadinya! Waduh, peri gue berubah jadi singa galak. Bahaya kalau udah gini. Batin Rama.
"Eh, kamu jangan marah sayang! Bukan gitu maksud aku, aku cuma.." ucapan Rama terpotong
"Diem kamu! Semua ini juga berawal dari kamu kan? Kamu penyebab bermula nya kisah rumit ini. Kamu dan mendiang Siska yang jadi penyebab aku bertindak brutal!" Gita tak terima Rama menyalahkannya
"Iya, iya. Maaf, sayang. Bukan maksud aku nyalahin kamu, aku gak berniat sedikitpun.."
"Tapi ucapan kamu itu terus mojokin aku, TAU!!!" Gita kesal
"Git, udah dong! Kak Rama kan udah minta maaf sama lu. Kalian berdua malah berantem, bukannya bantuin gue cari jalan keluar. Huft." Vina terdengar kecewa
"Iya, sorry deh sorry! Habisnya kak Rama buat gue kesel terus." Gita sensi
"Sekarang lebih baik kamu bawa Vina periksa ke dokter. Nanti, kita akan tahu jawabannya." ucap Rama
"Iya." ucap Gita jutek
"Thanks ya, kalian berdua mau bantuin gue." ucap Vina
"Gue juga thanks banget sama lo, Vin. Berkat tespeck lo dulu itu, gue ngira istri gue gak hamil."
"Hahahah, maaf ya Kak."
Gita dan Vina pergi ke dokter kandungan. Sementara itu, Rama pergi kembali ke ruangan Gilvan. Di kursi pintu masuknya, Ibu Gilvan sedang duduk merenung.
"Tante!" sapa Rama
"Terima kasih." jawab Rama sopan
"Tante, sudah dengar kan penjelasan Gita mengenai Vina dan Gilvan?" tanya Rama
"Sudah, tapi aku tak bisa mempercayai wanita itu. Gilvan tidak ingat apa-apa. Aku tak bisa memastikan kebenarannya."
"Ada satu hal yang harus Tante tahu!" ucap Rama
"Apa itu?" Ibu Gilvan penasaran
"Bagaimana kalau Vina hamil anak Gilvan?"
"Tidak mungkin."
"Kemungkinan itu bisa saja terjadi."
"Sandiwara apa yang telah kalian perbuat?" Ibu Gilvan terlihat kesal
"Aku tidak bersandiwara, anakmu memang melakukannya pada Vina. Memang, sampai saat ini belum bisa dibuktikan kehamilannya, tetapi apakah dengan merenggut masa depan Vina, kalian bisa tanggung jawab?"
"Lalu, aku harus bagaimana menurutmu?" Ibu Gilvan meminta pendapat Rama
"Terima Vina, dia wanita yang baik. Percayakan Gilvan pada Vina. Biarkan Vina yang menyembuhkan Gilvan." ucap Rama
"Apakah itu akan berakhir baik?" tanya Ibu Gilvan lagi
__ADS_1
"Semoga saja. Karena, yang terakhir yang sangat Gilvan tunggu-tunggu adalah Vina. Yang sangat Gilvan cintai adalah Vina. Istriku, Gita hanyalah kekecewaannya. Dia terlalu mengingat rasa kecewa dan sakit hatinya, sehingga hanya istriku yang membekas kuat didalam pikirannya."
"Aku tak akan menyalahkan takdir. Aku sudah lelah."
"Jangan terlalu dipikirkan, biarkan aku dan Gita yang bertanggung jawab atas hal ini."
"Terima kasih." ucap Ibu Gilvan sambil tersenyum
"Apa aku boleh menemui Gilvan?"
"Silahkan, tetapi jangan bangunkan dia."
"Baik, Tante."
Rama segera masuk kedalam ruang rawat Gilvan. Ternyata Gilvan tak tidur, ia melihat Rama masuk mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Gilvan
"Aku ingin menunggumu." jawab Rama
"Apa kau tak tahu malu? Sudah selingkuh dengan istriku, malah ingin menungguku disini."
"Sejak kapan aku jadi selingkuhan istrimu?" tanya Rama
"Sejak kemarin, benarkan?" Gilvan terlihat santai
"Tidak, aku sudah lama bersama istrimu, dan itupun kamu yang memintaku." ucap Rama
"Aku? Memintamu?" Gilvan tak mengerti
"Coba rileks, dan tarik nafas. Ingat-ingat lagi, apa yang telah kamu lakukan untuk kita?"
"Kenapa untuk kalian? Kenapa aku baik sekali pada kalian?" tanya Gilvan
"Karena hatimu memang seperti malaikat. Kamu harus mencoba mengingat kembali. Kamu adalah pahlawan untukku."
"Apa aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?Aku rasa, tidak." jawab Gilvan
"Tentu saja, apa kamu ingat wajahku ini?" tanya Rama
"Aku tak heran melihatmu, sepertinya aku sudah sering bertemu denganmu." jawab Gilvan
"Apa kau ingat apa yang kamu katakan padaku saat kita bertemu?" tanya Rama
"Aku tak ingat. Hanya saja, kenapa ketika melihat wajahmu, aku ingat dalam pikiranku pernah memohon padamu. Tetapi, aku lupa. Permohonan apa yang aku buat untukmu." Gilvan mengingat sedikit demi sedikit
"Kamu ingat?" tanya Rama
"Tapi aku lupa, apa yang aku mohon inginkan darimu!" ucap Gilvan
"Aku akan membantumu mengingat semuanya, Van. Kamu adalah penolongku, maka dari itu, aku akan menolong mu juga. Percayalah padaku!"
*Bersambung*
__ADS_1