
POV Gilvan
Hari-hari Gilvan disibukkan dengan pekerjaan yang tak ada habisnya setiap hari. Gilvan kini sudah naik jabatan, dari pengawas ia menjadi Manager. Pekerjaannya semakin berat saja. Waktu beristirahat pun kadang ia gunakan untuk bekerja.
Malam ini, dia sangat lelah sekali. Pekerjaannya sungguh menguras tenaganya. Hanya Vina yang selalu memberinya semangat lewat aplikasi chatting Whatsapp. Tetapi, Gilvan tak menggubris Vina. Entah kenapa, kepada Gita dia sangat mudah jatuh, tetapi kepada Vina, sulit sekali rasanya. Mungkin, karena Vina adalah sahabat Gita.
Gilvan sedang berkutat dengan laptopnya. Ya, apalagi kalau bukan mengerjakan laporan produksi. Gilvan selalu disibukkan dengan hal itu. Tak lama, notifikasi email di laptop Gilvan berbunyi. Dia kaget, Gita mengiriminya pesan.
Gilvan membaca dengan seksama, ia sudah menduganya dari awal. Untuk apalagi Gita mengabarinya kalau bukan antara hubungannya dengan Rama. Sesak rasanya dada Gilvan, tapi ia tak boleh menunjukkan kekesalannya. Ia harus terlihat baik-baik saja. Ia tak mau membebani Gita.
Kau telah menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Hanya dia yang mampu membuatmu jatuh cinta, aku hanya kau anggap sebagai malaikat. Malaikat penolong mu ketika kau terpuruk. Hati yang kuberikan, tak pernah kau terima dengan hatimu lagi. Mungkin pelabuhan mu memang dia, lelaki yang dulu kau cintai. Tak ada ruang di hatimu untukku, mungkinkah aku bisa menemukan cinta yang lain? -Gilvan-
Gilvan jenuh. Dia mengotak-atik handphonenya. Ia melihat story kontak Whatsapp nya. Ia melihat story Vina, karena Gilvan dan Vina sempat bertukar No Whatsapp ketika Gilvan akan pergi. Gilvan melihat foto dan video ketika Gita berulang tahun. Gilvan tersenyum. Seandainya dia yang berada disana, mungkin dia bahagia.
Gilvan mengomentari story Vina. baru kali ini dia chatting duluan kepada Vina. Biasanya kalau Vina chat kepada Gilvan, dia tak pernah membalasnya.
Gilvan Ardian : Wah, seru sekali...
Vina kaget. Baru pertama kalinya Gilvan chat duluan padanya. Vina segera membalasnya.
Davina Melania : Iya dong, pulang sini Van!
Gilvan Ardian : Belum waktunya!
Davina Melania : Van, Gita udah kasih tahu kamu belum?
Gilvan Ardian : Sudah.
Cuek sekali sih kamu, Van! Kapan kamu bisa ramah padaku? -Vina-
Davina Melania : Datang ya?
Gilvan Ardian : Sepertinya aku tidak bisa.
Davina Melania : Kenapa? Resepsinya diadakan dua kali kok. tanggal 4 dan tanggal 9.
Gilvan Ardian : Kenapa dua kali?
Davina Melania : Tanggal 4 itu akad dan resepsi besar-besaran, sedangkan tanggal 9 hanya rekan kerja dan teman sejawat. Acaranya juga outdoor. Kamu harusnya bisa datang.
Gilvan Ardian : Aku masih sibuk. Aku tak bisa datang. Tolong sampaikan pada Gita dan Rama
Davina Melania : Baiklah, akan ku sampaikan.
Gilvan Ardian : Kamu datang dengan siapa nanti?
__ADS_1
Davina Melania : Sendiri aja, mau sama siapa lagi.
Gilvan Ardian : Sayangnya aku jauh.
Davina Melania : Eh, begitu ya?
Gilvan Ardian : Iya, sudah lupakan.
Davina Melani : Baiklah.
Gilvan tak lagi membalasnya. Padahal, Vina sangat berharap Gilvan melanjutkan chat dengannya. Tapi, sudah tak ada pembicaraan yang harus dibahas. Untuk apa lagi saling chat.
Gilvan ternyata ketiduran. Ia sangat lelah, hingga handphonenya masih dia genggam. Ia terlalu ngantuk untuk sekedar membalas chat dari Vina. Vina berharap, tetapi Gilvan tetap tak membalasnya.
POV Davina Melania
Gilvan itu orang yang misterius. Orang yang susah ditebak apa maksud hatinya. Kenapa aku harus jatuh hati padanya? Padahal dia adalah mantan suami sahabatku sendiri. Kalau Gita tahu aku mencintainya, apa dia akan marah padaku? Tapi, Gita kan sudah memiliki Rama. Aku masih terlalu malu untuk berbicara pada Gita mengenai perasaanku. -Vina-
Vina melihat lagi chatting singkatnya dengan Gilvan. Ia tersenyum bahagia ketika Gilvan berkata dirinya akan datang dengan siapa, spontan Vina menjawab sendiri, dan jawaban Gilvan membuatnya tercengang, ketika berkata sayangnya aku jauh. Berarti Gilvan pun berharap ingin datang ke pesta pernikahan itu dengan Vina.
Vina sangat senang sekali. Meskipun hanya sekedar chat biasa. Hatinya melayang. Biarlah kali ini dia merasa kepedean, merasa terlalu percaya diri, yang penting hatinya sedang bahagia. Vina terlelap dengan senyuman manis dibibirnya.
Pagi ini, Gita menelepon Vina, meminta agar Vina mengantar Gita pergi menuju wedding organizer pilihan Maminya Rama. Mereka semua sibuk sehingga tak bisa mengantar Gita pergi. Untuk itu, Gita memutuskan mengajak Vina. Dan Vina pun menyetujuinya, karena hari ini ia libur bekerja.
Gita diantar Rey menuju rumah Vina. Sesampainya di rumah Vina, mereka semua pamit kepada orang tua Vina. Mereka segera pergi menuju butik tempat WO itu menyediakan baju pengantinnya.
"Git, gila sih! Ini bener-bener keren banget. Baju-baju disini sepertinya limited edition, gak akan lu nemuin orang yang pake baju pengantin sama kayak lu!" Vina takjub
"Bener banget, Vin! Maminya Rama gak salah milih tempat. Yaudah kita liat-liat lagi yuk!" Ajak Gita
Gita dan Vina sangat takjub melihat kemewahan butik disini. Rey pun sama halnya dengan mereka, tetapi Rey tak terlalu menunjukan kekagumannya.
"Rey, kalo kamu nikah, suruh cewekmu pake WO disini aja. Ini recomended banget loh!" Ucap Gita
"Saya belum memikirkan kesitu, nona! Wanita pun saya belum punya." Jawab Rey
"Ga peka banget sih lu jadi cowok. Nih, Rey! Disebelah gue ini cewek cantik. Kurang apalagi dia? Gebet napa gebet!" Gita tertawa
"Gita lu apaan sih! Mulai deh lu, jodoh-jodohin gue!" Jawab Vina
"Kalau teman baik Nona berkenan, saya akan mempertimbangkannya!" Jawab Rey asal
"Hah? Apa! Gila lo emang pengawal macam apa sih. Centil banget deh! Ogah gue sama lu. Masa gue pacaran sama orang yang kek termos es sih. Dingin benerrrrrrr!" Vina menertawai Rey
"Kalau teman Nona nanti jatuh cinta sama saya, jangan salahkan saya ya!" Rey sok keren
__ADS_1
"HAHAHAHHAHA, Git? Lo denger dia ngomong apa barusan? Sumpah, ngakak banget dah! Eh, Pengawal Rey yang terhormat! Gue gak bakalan jatuh cinta sama elu ya! Gue udah punya tambatan hati gue sendiri." Tegas Vina
"Kalian tuh kalau berantem gini, lucu tau gak! Awas aja nanti benci jadi cinta! Tapi, ngomong-ngomong, Emang tambatan hati lu siapa vin? Kok gue gak tahu sih!" Tanya Gita
"Eh, itu. Anu.. Gue, gue cuma gak mau harga diri gue jatoh didepan dia, Git! Gue asal aja. hehe" Vina ngeles
Maafin gue, Git. Gue belum siap ngasih tahu lo kalau sebenernya gue suka sama Gilvan. Harusnya, lo gak usah jodoh-jodohin gue sama Rey! Gue gak tertarik sama sekali sama dia. Gue pengen Gilvan, Git! Tapi, gimana caranya gue ngasih tau ke elu? Gue masih belum siap. -Vina dalam hati-
"Teman baik nona ternyata banyak alasan sekali ya. Permisi, Tuan Rama menelepon saya." Rey pergi melengos
"Heh, dasar pengawal rese lu!" Vina geram
"Sudah, Vin sudah. Jangan terlalu membencinya. Kalo kena karma, bahaya lu! Kita liat baju ini. Lo mau pesan disini gak? Biar Gue yang bayarin." Tanya Gita
"Hah? serius lu Git? Mau banget dong gue. Makasih ya sahabat baikku!!!" Vina memeluk Gita
"Iya sama-sama. Oh iya Vin, gue udah ngundang Gilvan kemarin." Ucap Gita
"Terus, dia jawab apa?" Vina pura-pura
"Sayangnya, dia sibuk. Dia gak bisa hadir di acara pernikahan gue." Jawab Gita
"Dia juga bilang gitu sama gue." Vina keceplosan
"Lah, emangnya lu kontekan apa sama dia? Kok lu gak ngasih tahu gue sih?" Gita penasaran
Eh, ya ampun. Kenapa gue bisa keceplosan begini? Kan ketahuan gue, jadinya. Gue harus jawab apa coba? Gimana kalau Gita marah sama gue? Semoga aja Gita gak marah. -Vina dalam hati-
"Eh, itu.. itu.. Jadi gue sempat bertukar no whatsapp sama dia. Semalem dia chat gue, gitu. Maafin gue ya Git." Vina menunduk
"Pantes aja, tau gitu gue suruh lu aja ngabarin dia. Gue gak perlu susah-susah nyari email dia segala. Lagian, lu kenapa musti minta maaf sih?" Tanya Gita
"Iya, gue takut lu marah kalau tau gue masih ada kontak sama Gilvan." Ujar Vina merasa bersalah
"Ya ampun, Vin! Kenapa pikiran lu gitu sih? Gak apa-apa lagi. Gue seneng banget kalau lu bisa deket sama Gilvan. Itu berarti Gilvan gak akan kesepian lagi." Gita menjelaskan
"Jadi, lu gak akan marah kalau gue deket sama dia?" Tanya Vina
"Ya enggak lah! Gue seneng banget malah!" Jawab Gita
"Jadi, gue boleh dong suka sama dia?" Vina keceplosan lagi
Eh, mulut s*alan. Kenapa harus lemes banget sih lu? Mulut macam apa lu mesti keceplosan mulu? Lu jatohin harga diri gue terus tau gak. Mulut oh mulut. malu gue!!!!!! -Vina dalam hati-
"Hah? Apa? Apa gue gak salah denger Vin? Serius lo? Hahahahaha" Gita menertawakannya..
__ADS_1
*Bersambung*