
"Itu lelaki yang menghamili kamu?" tanya Papa Vina tiba-tiba
"Pa, jangan emosi. Vina, duduklah dulu." ucap Mama Vina
Vina tahu, apa yang akan Papanya bicarakan. Semua ini pasti menyangkut tentang Gilvan. Vina pasrah, apapun yang akan dikatakan oleh orang tuanya. Vina kemudian duduk di depan kedua orang tuanya.
"Jawab!" ucap Papa Vina
"Iya, dia orangnya." jawab Vina sok tegar
"Kapan dia kembali?"
"Sekitar sebulan yang lalu." jawab Vina jujur
"Untuk apa dia menemui mu lagi?" tanya Papa Vina tegas
"Dia ingin menemui aku. Karena, yang dia tunggu selama ini adalah aku." Vina tak mau kalah
"Kamu yang menunggunya atau dia yang menunggumu? Jangan jadi wanita yang bodoh!" nada bicara Papa Vina semakin meninggi
"Aku yang menunggunya. Namun, dia juga menunggu waktunya untuk bertemu denganku. Bukan berarti, dia pergi melepaskan semuanya. Ada alasan yang membuatnya tertahan untuk menemui ku saat itu." jawab Vina
"Kamu telah memaafkan lelaki itu rupanya. Mudah sekali kamu jadi wanita, hanya dia peluk saja sudah mau memaafkannya!"
"Papa!" Mama Vina tak suka
"Maaf, Pa. Ucapan mu salah, aku memaafkannya bukan karena dia hanya memelukku saja. Aku tidak serendah itu! Papa harus tahu, yang telah dia lakukan untukku."
"Apa? Bukankah dia hanya lelaki yang mau enaknya saja! Apa yang telah dia lakukan untukmu?" tantang Papa Vina
"Dia bekerja keras selama 5 tahun ini, dia pergi tanpa kabar karena ingin mengumpulkan pundi-pundi untuk hidup bersamaku nanti. Namun, dia tak tahu kalau aku hamil dan mempunyai anak. Restorannya, yang kini dia rintis, itu adalah untukku, nama restorannya sama seperti nama cucu Papa, walaupun pada saat itu dia tak tahu Givia, namanya saja hanya kebetulan sama. Jelas-jelas yang dia lakukan semuanya adalah untukku!" Vina menjelaskan
"Sudah kubilang padamu bukan? Jangan pernah berhubungan lagi dengannya!" jawab Papa Vina.
__ADS_1
"Sampai saat ini, aku tak berhubungan dengannya. Dia terus mendekati aku, namun aku belum mau mengulang kisah ku lagi dengannya. Karena aku tahu, ada Papa dan Mama yang menjadi orang tuaku. Yang bisa merestui atau tidaknya aku dengan Gilvan lagi. Aku tak akan melawan kalian. Apapun yang kalian katakan, aku akan patuh." jawab Vina
Papa Vina terdiam. Seperti mendapat tamparan dari anaknya. Bukannya malah membantah perkataan orang tuanya, Vina malah akan menyetujui apapun keputusan orang tua Vina.
"Apa dia mengetahui soal Givia?" tanya Papa Vina lagi
"Dia sudah tahu."
"Kenapa dia bisa tahu?" tanya Papa Vina lagi
"Aku pernah menulis surat untuknya, dan kukira surat itu telah terbuang, nyatanya dia membacanya. Dia jadi tahu, kalau Givia adalah anaknya." jawab Vina
"Givia sudah bertemu dengan dia?"
"Sudah, tadi pagi."
"Kenapa kamu mempertemukan Givia dengannya?" Papa Vina terlihat sinis
"Dia sedang terluka, dan dirawat di rumah sakit. Aku harus menjenguknya."
"Mama yang memintaku membawa Givia. Aku tak berniat membawa anakku bertemu dengannya. Kalau Mama tak meminta Givia ikut, aku akan berangkat sendiri." jawab Vina
"Tapi, kulihat dia baik-baik saja. Dia berjalan seperti orang sehat." ujar Papa Vina
"Apa Papa tak melihat, wajahnya memar dan biru? Banyak luka lebam di tubuhnya. Papa pasti tak akan tahu, karena tak bertemu dengannya. Dia memaksa keluar dari Rumah sakit, karena khawatir padaku dan pada Givia, dia ingin mengantarku pulang dengan selamat. Walaupun Papa tak merestuinya, kumohon jangan membencinya. Dia juga tetap Ayah dari Anakku, dia pantas mendapat perlakuan baik dari Papa. Kumohon, jangan membencinya, walaupun aku tahu, aku tak akan mungkin bisa lagi bersamanya." pinta Vina
"Apa kamu masih mencintainya?"
Deg. Vina terdiam. Kenapa pertanyaan itu malah keluar dari mulut Papanya. Vina tak tahu, hatinya bagaimana sekarang, Vina benar-benar bingung. Entah, Papanya akan marah atau tidak, jika Vina jujur berkata yang sebenarnya.
"Kenapa harus bertanya hal prinadi yang bersifat sensitif? Itu privasi, Papa tak berhak menanyakannya."
"Jawab saja. Aku adalah Papamu, tak ada privasi diantara kita. Yang harus kau lakukan adalah jujur padaku."
__ADS_1
"Ya, aku masih mencintainya!" jawab Vina sambil lmenahan air matanya yang ingin terjatuh
"Dasar anak tak tahu diri." umpat Papa Vina
"Maksud Papa apa?" Vina kecewa
"Bawa dia besok malam untuk bertemu denganku. Kalau memang Givia menginginkan Ayahnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Perbaiki kesalahan masa lalu mu, dan bersiaplah untuk masa depan kalian yang akan datang. Buatlah cucuku bahagia, karena hanya dia yang membuat aku tetap bahagia menjalani hidup ini."
Papa Vina meninggalkan Vina dan Mamanya. Beliau langsung masuk ke kamarnya. Vina berkaca-kaca, ia tak menyangka Ayahnya bisa lunak juga hati dan perasaannya. Vina mengira, Papanya akan membuat Gilvan dan dirinya jauh. Ternyata, dia malah sebaliknya, menyetujui dirinya dengan Gilvan untuk kembali bersatu.
"Ma, kenapa Papa bisa berubah seperti itu? Awalnya, aku benar-benar takut." tanya Vina
"Papa mu tadi berbincang dengan Givia, ketika kamu dan Gilvan masih diluar."
"Oh, ya? Apa yang Givia bicarakan?" tanya Vina penasaran
"Dia bercerita pada Papamu, bahwa dia bertemu Ayahnya. Begini ucapan Givia yang Mama ingat,"
......"Opa, tadi Givi bertemu dengan Ayah. Kata bunda, itu adalah Ayah Givi. Givi bahagia, ternyata Givi juga punya seorang Ayah, seperti Bunda yang mempunyai Ayahnya, yaitu Opa. Givi ingin sekali mengajak Ayah pulang ke rumah, dan tidur bersama Givi, tapi kenapa Ayah malah bilang tidak bisa? Opa, apa Givi bisa membawa Ayah pulang ke rumah? Givi ingin tidur dengannya. Givi sayang Ayah, Ayah sangat baik pada Givi dan Bunda."......
"Begitulah yang Givia ucapkan. Hingga wajah Papamu berubah, dia tak mungkin menjauhkan Gilvan dari Givia, karena keinginan Givia sendiri yang berharap bahwa Gilvan akan bisa pulang ke rumahnya."
Tak terasa air mata Vina mengalir, anak yang polos dan belum mengerti apa-apa, ternyata sangat mengharapkan kehadiran Ayahnya. Rasanya, Vina ingin memeluk Givia saat ini juga.
"Ma, aku harus bagaimana sekarang?" Vina menghamburkan pelukannya pada Ibunya
"Vina, ajak Gilvan ke rumah besok, untuk makan malam bersama Ayahmu. Biarkan Ayahmu menilai Gilvan. Semua ini kita lakukan hanya untuk kamu dan Givia. Kamu harus bahagia bersama orang-orang yang kamu cintai."
"Terima kasih, Ma. Ternyata, jika aku menjalani semua ini dengan ikhlas, aku akan mendapatkan hasilnya. Ternyata, Gilvan juga akan kembali padaku. Semoga, tak ada halangan lagi bagiku untuk bisa bersama Gilvan. Aku menyadarinya, aku memang masih sangat-sangat mencintai Gilvan, Ma. Hatiku masih untuknya, meskipun aku mencari pelampiasan ku pada saat itu."
"Cinta itu tak bisa kita prediksi. Sejauh manapun kamu menghindar, jika hatimu masih berpijak padanya, kamu akan sulit untuk menerima cinta yang lain."
*Bersambung*
__ADS_1
Selamat pagi.
Jangan lupa LIKE dan KOMENTARNYA setelah membaca ya 🥰