Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Makan malam


__ADS_3

Dengan perasaan hati yang membuncah penuh rasa penasaran, Gilvan terus mengikuti mobil Vina. Niat hati ingin segera menemui Vina, namun Gilvan mengurungkan niatnyabkembali, setelah melihat anak kecil di sisi Vina.


Selama 5 tahun ini, mungkinkah Vina telah menikah? Selama 5 tahun ini, mungkinkah Vina telah melupakan Gilvan? Juga, Gilvan bekerja keras, agar bisa mendapat pekerjaan di Amerika, agar bisa hidup kembali di Indonesia.


Semua usaha dan kerja keras Gilvan jelas untuk Vina, dan semua orang terdekatnya. Gilvan tak mau pulang ke Indonesia dengan tangan kosong setelah merepotkan semua orang.


Apa itu anakmu? Kamu telah hidup bahagia sekarang. Aku tidak menyesali keputusanku, aku hanya berniat bertanggung jawab sebelum aku kembali ke hadapan kamu dan juga Rama. Aku berhutang budi pada kalian, tapi waktu telah mengubah semuanya. Wanita yang aku rindukan telah memiliki seorang anak. Vina, kapan kamu menikah? Secepat itukah kamu melupakanku? Aku harus bagaimana sekarang? Ingin sekali aku menemui mu, tapi setelah melihat kebahagiaanmu sekarang, sanggupkah aku menemui mu?


Gilvan terus memperhatikan Vina dari jauh. Gilvan tahu, dirinya memang terlambat datang untuk Vina, namun Gilvan tak mau jika secepatnya ia datang kesini, yang ada Gilvan malah tambah membebani keluarganya dan juga Vina.


Gilvan mengikuti Vina hingga restoran. Vina makan bersama anak kecil yang cantik. Gilvan sedih melihat pemandangan itu. Ingin sekali rasanya Gilvan berada disisi Vina dan anak itu saat ini.


Gilvan kalang kabut, anak yang bersama Vina ternyata melihat gerak-geriknya yang sedang memperhatikan mereka. Anak kecil itu menunjuk Gilvan. Gilvan segera memalingkan wajahnya lalu bersembunyi, ia takut ketahuan Vina.


Ini bukan saat yang tepat untuk mereka bertemu. Gilvan ingin mengetahui dulu bagaimana Vina dan keluarganya saat ini.


Gilvan memutuskan untuk kembali ke rukonya. Ia harus mempersiapkan pembukaan restoran khas Amerika yang sudah ia impi-impikan. Kini, Gilvan mempunya 3 orang karyawan yang akan membantu membenahi ruko tersebut.


Flashback OFF


***


Vina diantar oleh Andra sampai masuk gerbang rumahnya. Via mempersilahkan Andra masuk dulu, namun sepertinya Andra bingung.


"Gak apa-apa, Ndra. Masuk dulu. Makan sama Nyokap gue. Itung-itung tanda terima kasih gue sama elu!" ucap Vina


"Gak usah Vin, itu ngerepotin banget. Lagian, gue juga cuma nganterin elu aja kan?"


"Justru karena itu, gue berterima kasih dama lo. Udah, ayo! Masuk dulu aja."


Vina refleks memegang tangan Andra. Andra kaget, namun rasanya hangat sekali tangan Vina.


"Eh, so-sorry Ndra. Gue refleks! Makanya, ayo masuk dulu aja. Ya?" pinta Vina


"Boleh deh! Elu yang maksa nih ya? Bukan gue!"


"Iya-iya. Ini ucapan terima kasih gue buat lu!" jawab Vina


Vina dan Andra keluar bersamaan dari mobil. Lalu, mereka segera masuk kedalam rumah dan berlalu.


***

__ADS_1


Ada hati yang sakit melihat kejadian itu. Gilvan sore itu berada diseberang jalan rumah Vina. Ia sedang mengamati aktifitas Vina. Terlihat beberapa kali, anak kecil cantik itu keluar dan jajan membeli makanan pedagang yang lewat, bersama Ibu Vina.


Saat itu pula, Gilvan yakin kalau anak itu adalah anak Vina. Gilvan tersenyum, anak kecil itu sangat mirip dengan Ibunya yang cantik. Gilvan belum melihat tanda-tanda Vina.


Betapa sedihnya Gilvan, ketika sebuah mobil masuk ke rumah itu, dan keluarlah Vina bersama seorang lelaki. Terlihat, merek tertawa bersama, dan berjalan bersama masuk kedalam rumah tersebut.


Apa mungkin lelaki itu adalah suami Vina? Vin, kamu benar-benar sudah menikah dan mempunyai anak! Kamu telah hidup bahagia. Aku tahu, aku datang terlambat! Aku menyesali keterlambatan ku ini, namun aku juga tak bisa datang ketika waktu itu, banyak yang harus aku pertimbangkan, terutama dalam masalah ekonomi, Vina. Maafkan aku.


Kini, aku harus apa dan bagaimana? Aku tak mungkin menerobos hidupmu yang telah sempurna itu! Aku harus kemana sekarang? Hatiku hancur, jiwaku pilu melihat kebahagiaan keluarga kecilmu. Kenapa kamu tak menunggu aku sama sekali? Dulu, aku tak mungkin memberikan kabar padamu, aku ingin hidup mandiri dan menghasilkan uang. Semua itu untukmu! Tapi, kini hanya sia-sia. Sesal yang aku dapat, ketika kulihat kamu telah bahagia bersama suami dan anakmu. Gumam Gilvan.


Tak terasa air mata Gilvan mengalir. Dirinya hancur, benar-benar tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Di satu sisi, Gilvan menyesal karena baru kembali, disisi lain, ia tak mungkin kembali dengan tangan kosong, ia sudah tak mempunyai pekerjaan, dulu ia tak mungkin kembali dengan keadaan merepotkan semuanya.


Kini, entah akan bagaimana kehidupan Gilvan selanjutnya. Hatinya hancur. Dengan perasaan sedih, ia melajukan mobilnya lalu kembali pulang. Ia tak mau mengingat kejadian tadi, sakit sekali rasanya.


***


Vina mempersilahkan Andra duduk diruang tamu. Andra malu, namun Ibu dan Anak Vina sangat baik dan ramah padanya. Ibu Vina membawakan teh dan cemilan untuk Andra.


"Ma, mobil Vina mogok! Mobilnya dibawa ke bengkel. Jadi, Vina diantar temen kantor Vina. Kenalin Ma, ini Andra. Andra, kenalin ini Mamaku!" ucap Vina


"Oh, iya. Tapi, kamu gak apa-apa kan? Mama sempet khawatir, karena kamu terlambat satu jam sampai di rumah." ucap Mama Vina


"Iya, saya Ibunya Vina, panggil aja Tante Sinta."


"Iya,Tante." Andra tersenyum


Syukurlah, Nak. Di tahun ke lima ini, kamu sudah mau membawa laki-laki ke rumah. Aku berharap, semoga kamu mendapat kebahagiaanmu yang sesungguhnya! Aku berharap, laki-laki ini bisa menjadi Ayah Givi, aku kasihan kamu selalu bekerja keras sampai pulang selarut ini, hanya untuk bekerja menghidupi anakmu seorang diri. Gumam Ibu Vina dalam hati.


"Silahkan, Nak. Diminum teh dan cemilannya. Maaf, cuma segini adanya." ucap Ibu Vina


"Oh, terima kasih Tante. Ini sudah lebih dari cukup."


"Ibu hangatkan dulu ya sayur dan lauknya. Nanti, kita makan malam bersama." ucap Ibu Vina


"Tidak usah repot-repot, Tante. Sebentar lagi saya juga pulang, kok." Andra sedikit gugup


"Tidak apa-apa! Nanti kita makan bersama. Lauk pauknya banyak. Tante kira, Papa Vina akan pulang, taunya dia gak pulang malam ini, jadi kita makan bersama, agar lauk pauk Tante cepat habis."


"Ba-baik Tante! Terima kasih banyak."


Ibu Vina berlalu, meninggalkan Vina dan Andra yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Vin, gue malu. Ngerepotin banget ini." ucap Andra


"Nggak kok, tenang aja! Nyokap gue baik orangnya. Lagipula, dia pasti masak banyak!"


Tak lama, putri kecil Vina keluar dari kamarnya. Givia senang sekali melihat Bundanya telah pulang ke rumah.


"Bundaaaaaaaaaa!" teriak Givia ketika melihat Ibunya telah berada di rumah


"Givi sayaaaaaaang! Sini Nak, Bunda belum peluk cium Givi.." Vina melebarkan tangannya


Givia menghampiri Vina, ia memeluk erat Bundanya yang sejak pagi ia rindukan. Ketika Vina sibuk bekerja, Givia hanya bisa bertemu malam hari saja.


"Bunda, kenapa baru pulang?" tanya Givi


"Mobil Bunda mogok tadi, jadi bunda dianterin sama temen Bunda." ucap Vina


"Om ini teman bunda?" tanya Givi


"Iya, Givi.. Kenalin, namanya Om Andra! Om Andra, kenalin, ini Givia! Anak Bunda Vina yang paling cantik." ucap Vina tersenyum senang melihat Givia


"Halo, Givia! Kenalin, ini Om Andra. Teman kerja Bunda Givia di kantor." sapa Andra sopan


Anakmu, secantik dirimu, Vin! Dia persis wajahmu, pasti kamu sangat menyayanginya. Aku heran, kenapa Ayahnya tega meninggalkan peri kecil secantik ini? Kalau aku memiliki putri kecil yang cantik, aku pasti akan menjaganya dan takkan pernah aku tinggalkan. Batin Andra.


"Halo, Om! Senang bertemu dengan Om Andra. Oh iya, Om Andra baik gak?" tanya Givia


"Tentu saja dong! Om Andra memang baik, Givi." ucap Vina


"Om Andra baik kok, nggak gigit Givi. Hehe." jawab Andra


"Kalau Om Andra baik, berarti Om Andra bisa jadi Ayahnya Givi dong?" tanya Givi dengan polosnya membuat Vina dan Andra kaget


"GIVIA!!! Jangan bicara seperti itu! Om Andra ini hanya teman bunda." Vina malu sekaligus kaget dengan ucapan anaknya


"Vin, jangan begitu, biarkan saja! Dia masih anak kecil. Givi cantik, kenapa Givi berkata begitu?" tanya Andra


"Soalnya, Givi pengen punya Ayah kayak temen-temen Givi, Om! Bunda suka bilang sama Givi, kalau nanti Bunda akan carikan Ayah yang baik untuk Givi. Makanya Givi nanya, Om baik apa enggak, kalau Om baik, Om pasti jadi Ayahnya Givi." ucap Givia polos


"Givi. Cukup!"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2