
Didalam mobil.
"Bunda, kita mau kemana?" tanya Givia
"Bunda mau ajak Givi jenguk seseorang di Rumah sakit." jawab Vina
"Ada yang sakit?" tanyanya
"Iya, makanya kita jenguk."
"Siapa yang sakit bunda?" tanya Givia lagi
Ayahmu terluka, Givia. Ayahmu menolongku, tapi ia tak bisa menolong dirinya sendiri. Bagaimana aku mengatakannya padamu? Gumam Vina dalam hati.
"Ayah Givi sakit." ucap Vina gugup
"Ayah Andra? Kenapa Ayah Andra bunda?" tanya Givia
"Bukan Ayah Andra, Givi. Tapi, ayah Gilvan." jawab Vina
"Siapa itu Ayah Gilvan? Kenapa Givi harus memanggilnya Ayah?" Givia bingung
"Ayah Gilvan, adalah Ayah Givi. Bukankah dulu Givi selalu menanyakan keberadaan Ayah Givi sama Bunda? Sekarang, kita ketemu Ayah Givi." ucap Vina mencoba menjelaskan agar Givia mengerti
Givi mengernyitkan dahinya. Dia tak mengerti, kenapa tiba-tiba bundanya malah mengajak dirinya bertemu dengan sang Ayah. Padahal, selama ini, Givia berpikir, bahwa Ayahnya telah tiada.
"Ayah Givi masih ada bunda?" tanya Givia dengan polosnya.
Vina menghentikan mobilnya. Ia benar-benar tak bisa menahan air mata yang ingin mengalir dari pelupuk matanya. Anaknya yang polos itu, pasti sangat berharap keberadaan sang Ayah yang sesungguhnya.
"Kenapa berhenti buna?" tanya Givia
Vina menghela nafas panjang, Vina harus memberi tahu Givia. Agar ketika nanti di rumah sakit Givia tak kaget melihat sosok Ayahnya.
"Givia sayang, selama ini Ayah Givi sakit. Jadi, dia tak pernah menemui Givi." jawab Vina
"Ayah Givi gak sayang sama Givi, makanya dia gak pernah nemuin Givi. Givi maunya Ayah Andra aja!" jawab Givi
"Bukan begitu sayang, Ayah Givi punya alasan kenapa dia tak menemui Givi. Nanti, Givi jangan marah ya sama Ayah?" tanya Vina
"Givi gak kenal Ayah Givi, Bunda! Givi kenalnya sama Ayah Andra."
Givia, kenapa kamu malah mengingat Andra?
Andra? Kemana lelaki itu? Kenapa ia tak mengabari ku? Kenapa ia malah tak bisa dihubungi juga? Kenapa Andra menghindar? Apa semua itu benar adanya? Batin Vina.
__ADS_1
"Iya, makanya sekarang kita bertemu Ayah Gilvan, Ayah Givi yang sesungguhnya."
"Apa Ayah Givi orang baik?" tanya Givia polos
"Tentu saja, Nak. Ayah Givia adalah orang yang baik, dan juga hebat. Tentunya, Ayah Givi juga seorang pekerja keras. Givi patut bangga padanya." ucap Vina
"Kenapa Ayah tak tinggal bersama kita saja? Walaupun Ayah sakit, Bunda kan bisa merawat Ayah di rumah!"
DEG. Ucapan Givia benar-benar menusuk relung hati Vina. Anak sepolos dan sekecil itu, bisa menanggapi sesuatu dengan sangat teliti. Bagaimana Vina harus menjawabnya?
"I-itu, Itu karena Ayah sibuk bekerja di luar negeri, jadi Bunda tak bisa merawat Ayah, Ayah terlalu jauh, sayang." jawab Vina asal
"Sekarang kan Ayah ada disini, jadi Bunda bisa merawat Ayah yang sedang sakit kan? Ajak Ayah pulang ke rumah ya Bun!" Givia sumringah
...*Givia, kenapa hatiku teriris ketika kamu mengucapkan kata-kata polos mu itu? Bagaimana aku bisa membawa Ayahmu pulang, kita tak pernah terikat sebuah pernikahan, kita tak pernah saling mengucapkan kata cinta, kita tak pernah bersama, kita tak pernah menikmati kisah cinta yang indah. Kisah Aku dan Ayahmu terlalu pahit untuk dikenang. ...
...Aku, Bunda mu, sering kali menangis karena ulah Ayahmu. Aku sakit hati, Givia. Aku kecewa dengan Ayahmu, hatiku masih menggebu penuh emosi. Tapi, aku pun sadar, walau bagaimanapun, ia tetaplah Ayahmu, seburuk apapun perilakunya, dia tetap darah daging mu....
...Aku bisa menyadarkan dirimu, agar memaafkan kesalahan Ayahmu, tapi kenapa aku tak bisa menyadarkan diriku sendiri? Kenapa aku terlalu egois? Hai kamu, Ayah dari Anakku, kenapa kisah kita tak bisa berjalan dengan indah? Kenapa hati ini masih saja terasa rasa sakit itu?...
...Berkali-kali kamu meninggalkan aku, saat meniduri ku, kamu menganggap aku seperti *******, ketika aku memberimu kesempatan kedua, kamu malah tak kembali, hingga batas kesabaran ku habis. Kenapa kamu begitu menguji diriku? Gumam Vina dalam hati*....
Vina melajukan kembali mobilnya. Berharap, pertemuan Givia dengan Ayahnya, akan berjalan dengan indah. Pertama bertemu Givia, Gilvan tak menyadari bahwa Givia adalah anaknya, Givia pun sama. Namun, pertemuan kali ini, mereka sudah tahu, bahwa mereka adalah Ayah dan Anak. Semoga saja, Givia bisa menerima Gilvan sebagai Ayah kandungnya yang SAH.
***
.
.
Gilvan sedang berbaring, menahan rasa sakit di semua tubuhnya. Di sana, sudah ada Fadli, Rama dan Gita yang baru sampai. Rama menyimpan bukti tersebut di handphonenya.
"Dasar Andra baj*ngan! Aku harus memecatnya!" ucap Rama
"Jangan, Ram. Itu masalah pribadi, bukan masalah pekerjaan." ucap Gilvan
"Tapi, dia benar-benar sudah diluar batas, Van. Aku rasa, dia memang sengaja mendekati Vina." jawab Rama
Gilvan teringat Vina. Gilvan sangat berharap, Vina akan datang menemuinya. Tetapi, nyatanya Gita hanya sendiri, tak datang bersama Vina.
"Vina tak mau datang ya?" tanya Gilvan pada Gita
Gita terdiam. Disaat seperti ini, Vina malah membiarkan Gilvan tambah terluka. Gita bingung, harus bagaimana menjelaskannya pada Gilvan.
"Vina masih sakit, Van." ucap Gita berbohong
__ADS_1
"Sakit? Bagaimana kondisinya? Aku tak mau dia kenapa-napa Git." ucap Gilvan
"Van, sudahlah. Jangan terlalu mempedulikan Vina, dia juga tak mempedulikan dirimu. Biarkan dia!" Gita benar-benar kesal
Rama menoleh istrinya. Tak pernah Gita se emosi ini pada Vina. Gita biasanya selalu sabar menghadapi Vina, tapi kenapa sekarang Gita mudah tersulut emosi?
"Aku tahu, Vina tak akan mempedulikan aku. Tapi, aku harus bisa menjaga dan melindunginya. Karena apa? Karena, dia yang menjaga anakku. Dia yang merawatnya. Vina tak boleh kenapa-napa. Ada anakku, yang pasti sangat sedih, jika terjadi sesuatu pada Ibunya. Anakku harus bahagia, di samping Vina." ucap Gilvan
"Van, sudah! Carilah kebahagiaan lain untuk hidupmu. Aku tak tega, melihatmu begini. Biarkan, Vina. Ikhlaskan dia, kamu juga harus bahagia." saran Rama
"Aku sudah bahagia, Ram. Aku senang, melihat Anakku hidup bahagia bersama Ibunya. Sudah cukup, itu kebahagiaan lu yang sesungguhnya."
Vina, dia ada di pintu kamar rumah sakit. Dia mendengarkan perkataan memilukan itu. Vina menahan Givia masuk ke dalam ruangan Gilvan.
Vina terus mendengarkan dengan sedih. Berat hati, untuk Vina masuk kedalam ruangan Gilvan. Rasanya, Vina benar-benar sedih. Tak menyangka, setulus itukah hati Gilvan untuknya?
Gita yang melihat kearah luar pintu. Melihat Vina dan anaknya berdiri dibalik pintu yang sebelahnya tertutup.
"VINA?" Gita kaget tak percaya
Semua yang ada di ruangan, tak terkecuali Gilvan, menoleh kearah pintu. Melihat Vina yang berlinang air mata. Dengan tatapan sendu, Vina masuk kedalam ruangan tempat Gilvan di rawat, sambil memegang tangan Givia.
"Vina?" Gilvan kaget tak percaya
Vina mendekat kearah Gilvan. Rama dan Gita memberikan jalan untuk Vina. Fadli membenarkan posisi Gilvan, jadi terduduk. Givia tetap berada di samping Vina. Givia tak mengerti, perasaan aneh macam apa ini.
"Maafkan, aku.." Vina menangis didepan Gilvan
Gilvan tersenyum. Ia senang, melihat Vina membawa Givia padanya. Rasanya, Gilvan sudah sehat lagi seperti sedia kala, tatkala melihat peri cantik yang lucu berada di hadapannya.
"Jangan menangis, aku tak apa-apa. Apa kamu membawa putri kecilku? Terima kasih, kamu sudah mempertemukan aku dengannya. Aku bahagia, bisa melihatnya."
Givia maju tiga langkah dari tempatnya berdiri. Ia menatap Gilvan dengan tatapan imutnya. Ia tersenyum, sangat cantik seperti Vina.
"Ayah... Aku merindukanmu." ucap Givia menatap Gilvan tak berkedip
Ucapan Givia sontak membuat air mata Gilvan tak terbendung lagi. Ia menangis, hatinya bergetar, rasanya benar-benar tak bisa dijabarkan lagi. Inikah rasanya hidup kembali?
*Bersambung*
Selamat pagi..
Bacanya yang slow ya. Aku yang nulisnya sedih lo iniš
Jangan lupa like dan komentarnya ya guys..
__ADS_1
Selamat beraktifitas ā¤