
Konflik keluarga Rama dan Gita.
Papi dan Mami Rama meminta Rama dan Raina duduk di ruang keluarga. Papi akan memberi tahu sesuatu hal yang sangat penting. Rama sudah mengetahui hal ini. Rama tak memberi tahu Gita, dan juga Maminya. Hanya Papi dan Rama yang mengetahui hal ini.
"Ada apa sih sebenernya? Ribet banget harus kumpul-kumpul segala! Aku sibuk, banyak tugas!" umpat Raina
"Rai, kamu harus sabar. Ini penting. Kamu harus mendengarkannya." ucap Papi
"Raina, lu harus dengar ini. Ini semua demi masa depan elu." ucap Rama
Mami Rama dan Gita bingung dengan apa yang diucapkan oleh Rama. Entah ada apa semua ibi, hingga mereka harus berkumpul seperti ini.
"Papi mengajak kalian duduk bersama disini, karena ada hal penting yang ingin Papi beritahu pada kalian semua." ucap Papi
"Hal penting apa, Pi?" tanya Mami Maya
"Rama, sebaiknya kamu yang bicara." pinta Papi Rama
"Baiklah, kalian semua dengarkan aku! Aku mengumpulkan kalian semua disini, karena ada sesuatu yang penting untuk aku bicarakan pada kalian. Ini mengenai surat wasiat yang kakek tulis sebelum dirinya meninggal dunia." jelas Rama
Mami, Gita dan Raina baru teringat akan surat wasiat itu, karena Rama mengingatkannya. Mereka semua memang penasaran akan isi dalam wasiat tersebut.
"Iya, Ram. Mami baru ingat. Apa isi suratnya?" tanya Mami
"Iya, sayang. Aku juga penasaran. Kakek menulis apa?" tanya Gita
Hanya Raina yang tidak tertarik dengan obrolan tersebut. Raina merasa kalau obrolan Kakaknya dan Papinya itu sangat tidak penting. Raina terus sibuk dengan handphonenya.
"Raina, dengarkan aku!" bentak Rama
"Ah, iya Kak. Maaf! ucap Raina gugup
Raina memasukan handphonenya kedalam sakunya. Ia takut akan bentakan Rama. Raina mendengarkan dengan seksama apa yang kakak sulungnya bicarakan.
"Jadi, aku akan membacakan surat wasiat yang telah kakek tulis. Aku mohon, dengarkan dengan seksama agar kalian semua paham akan isinya." tegas Rama
Rama membuka kertas selembar yang sedikit kusam. Kakek Prima, dalam keadaan setengah sadar, masih sempat menulis beberapa keta sebelum dirinya tutup usia.
Untuk kalian, anak dan cucuku.
Aku, Prima Hanggara, Ayah dan Kakek untuk kalian
Aku minta maaf atas semua kesalahanku selama aku hidup bersama kalian
Kini, hidupku sudah tak lama lagi,
__ADS_1
Aku ingin meminta pesan terakhir pada kalian, agar kalian mewujudkannya
Sebagai rasa terima kasihku, semua aset dan perusahaan, jatuh ke tangan Angga dan Rama. Kalian kelola aset dan perusahaan kita dengan baik.
Aku sudah susah payah untuk mendirikannya.
Kembali lagi pada permintaan terakhirku,
Aku ingin Raina hidup bahagia bukan karena harta dan tahta
Namun, dengan kasih sayang yang tulus oleh seorang lelaki
Aku mohon, kalian temui pemuda yang telah menyelamatkanku ketika aku ditabrak, aku masih ingat dia laki-laki yang tulus dan baik, sepertinya dia bukan dari kalangan atas seperti kita
Tapi, aku merasa dia sangat tulus
Aku ingin pemuda itu untuk Raina
Aku ingin Raina menikah dengannya
Dia pemuda yang baik dan tulus
Dia tak akan mungkin melihat harta kita
Dia pasti akan mencintai Raina dengan tulus
Buat dia dekat dengan Raina
Jodohkan pemuda itu untuk cucu perempuanku
Aku mohon, ini permintaan terakhirku.
Salam,
Prima Hanggara
Raina terbelalak. Ia sungguh tak menerima dengan surat wasiat yang ditulis kakeknya khusus untuk Raina. Raina tak mempercayainya, ia benar-benar marah mendengar surat wasiat itu.
"Kenapa harus aku? Bualan macam apa ini? Aku tak percaya! Aku tak sudi kalau harus dijodohkan, aku tak mau!" tolak Raina
"Ram, apa benar itu yang ditulis oleh kakek mu? Mana mungkin beliau mau menjodohkan Raina kalau bukan dengan lelaki yang setara dengan kita." jelas Mami Rama
"Mi, ini benar. Lihatlah, ini tulisan Ayah. Ayah yang meminta hal ini. Kalau sudah begini, kita harus bagaimana?" tanya Papi
"Mau tak mau, kita harus kabulkan permintaan terakhir kakek." ucap Rama
__ADS_1
"NGGAK BISA! Kalian jangan seenaknya begitu! Ada aku, lihat hatiku, aku menolak keras perjodohan itu." jawab Raina
"Raina, dengarkan Papi. Kakek tak mungkin salah memilih. Ini permintaan terakhirnya, kenapa kamu harus menolak? Papi sangat menghormati permintaan terakhir kakek. Kamu harus siap, Rai." ucap Papa Rama
"Aku gak mau! Sekali gak mau tetap gak mau!" tolak Raina habis-habisan
Gita hanya terdiam. Ia tahu, rasanya dijodohkan itu akan sangat menyakitkan. Namun, jika itu adalah sebuah permintaan terakhir kakek Prima, apa boleh buat, Raina tak seharusnya menolak, karena surat wasiat ini benar-benar dari kakek Prima untum Raina.
"Rai, tenangkan dirimu. Jujur, Mami pun kaget mendengar wasiat yang kakek tulis untukmu. Mami bingung, kenapa kakek harus memilih lelaki yang berbeda kasta dengan kita? Namun, permintaan tetaplah permintaan. Kakek telah melakukan segalanya untuk kita, ini saatnya kita membalas jasa kebaikan kakek, Rain." jelas Mami Maya
Raina menangis. Ia kesal, ia marah, ia tak suka dengan surat wasiat yang ditulis oleh kakeknya. Gita menepuk-nepuk pundak Raina, mencoba menenangkan adik iparnya itu.
"Sabar, kadang hidup memang tak pernah sejalan dengan apa yang kita inginkan, Rai. Namun, percayalah, ketika Tuhan memberi jalan lain untuk kita, mungkin saja itu adalah satu petunjuk untuk menuju kebahagiaan." ucap Gita menenangkan Raina
"Ini NGGAK ADIL buat aku! Benar-benar mengecewakan. Aku gak mau, Mami. Aku nggak mau. Lebih baik aku pergi saja dari rumah ini kalau kalian tetap memaksa akan mengikuti surat wasiat kakek!" ancam Raina
"Raina, jangan bicara macam-macam. Memangnya apa yang salah dengan perjodohan? Semoga saja, lelaki yang kakek pilihkan untukmu, adalah yang terbaik untuk hidupmu kelak!" tegas Rama
"Jelas-jelas perjodohan adalah sebuah kesalahan! Apa kakak tak berkaca pada diri kakak sendiri HAH?" bentak Raina pada Rama
"Apa maksudmu?" tanya Rama
"Dahulu, Mami dan Papi menjodohkan mu dengan Kak Siska kan? Lalu, apa yang terjadi? Apa perjodohan itu berjalan mulus? Apa kakak dan Siska benar-benar bahagia? tentu saja jawabannya TIDAK! Kalian menyakiti hati kakak ipar ku, kak Gita yang menjadi korban atas perjodohan kalian. Apa kakak benar-benar lupa akan hal yang terjadi pada diri kakak HAH? Apa kakak lupa, bahwa kakak pernah dijodohkan juga? Sudah aku ingatkan kakak kembali mengenai perjodohan! Semoga kakak bisa mengerti! Bagaimana kalau hal itu terjadi pada aku? Adikmu!!!" Raina mengungkapkan kekesalannya
Rama terdiam. Rama seperti mendapat tamparan keras untuk dirinya. Namun, ini adalah permintaan terakhir kakeknya, Rama tak mungkin mengabaikan pesan terakhir kakek yang telah berjasa bagi kelanjutan hidupnya dimasa depan.
"Raina, jaga ucapan mu pada kakakmu! Se-marah apapun kamu, kamu harus tetap sopan padanya. Papi tak suka kamu seperti ini." ucap Papi
"Tapi, semua ini gara-gara kalian! Kalian yang membuat aku begini. Batalkan perjodohan ini, atau aku akan pergi dari rumah ini."
"Aku tak akan mendengarkan ucapan mu, aku akan melihat pemuda yang kakek mu pilih untukmu. Aku akan menilainya sendiri. Aku tak akan bergerak cepat demi mengabulkan permintaan terakhir kakek, aku harus mengintrogasi laki-laki itu. Kamu tak perlu berlebihan, kalau pun laki-laki itu tidak benar, aku tak akan memberikannya untukmu. Namun, kalau ternyata dia layak untukmu, mau tidak mau kamu harus menerimanya. Aku tak mau mendengar alasan apapun lagi. Semua ini aku lakukan untukmu. Jangan membantah, Raina. Ini bukan keinginanku, tapi keinginan kakek mu." tegas Papi Rama dan Raina
"PAPI.. AKU TAK SETUJU DENGAN PERJODOHAN INI, AKU MOHON, JANGAN BIARKAN AKU HARUS MENCINTAI LAKI-LAKI YANG TAK AKU CINTAI."
*Bersambung*
Hai.. Hai..
Selamat membaca episode 1 di season 2 ini ya 😙
Selesai membaca kan? Segera klik LIKE nya ya 😘😗
Oh iya, di season 2 ini aku fokus untuk perjodohan Raina serta Gilvan dan Vina ya.. Namun, prioritas utama tetap pada Vina dan Gilvan. Episode selanjutnya, aku akan fokus Vina dulu, perjalanan hidupnya ya
Untuk Mia dan Rey, sepertinya gak aku lanjutkan dulu, soalnya aku gak punya ide bagaimana menyatukan mereka, karena belum saatnya sih hehe
__ADS_1
Makasih yah sudah setia membaca, yang berkenan boleh memberikan Like, komen dan juga Votenya untuk aku.. Makasih 😘🤗